
Suara renyah tubuh menghantam tanah yang mengakibatkan tanah berlubang berbentuk manusia terdengar hingga lima kali, hingga Hu Luo sendiri harus meregang nyawa. Wajah keterkejutan lima senior atau lima saudara yang mengenal Cao Zhen Xin membelakan matanya melihat siksaan yang diberikan pada Hu Luo.
"A-apakah dia masih manusia. " ucap lirih Liu merinding.
"Tidakah kalian sadar, kini aku tak bisa merasakan ranah Kultivasinya." ucap tetua sekte Pedang cahaya.
Begitu juga dengan Ding Yin, dan tetua sekte lainnya. Mereka benar benar merasa ngeri dengan kekejaman yang diperlihatkan Cao Zhen Xin. Setelah membunuh Hu Luo dengan siksaan yang sangat kejam, naga hijau utusan Cao Yuan kemudian mengeluarkan api hijaunya kearah mayat Hu Luo.
Swooooosh! Tubuh Hu Luo terbakar hingga tak tersisa. Setelah itu, Cao Zhen Xin menatap para seniornya dengan matanya yang berwarna kehijauan. Sebenarnya naga hijau ingin memberikan rasa terimakasihnya atas perhatian mereka untuk melindungi majikannya, namun ia sendiri segera mengurungkan niat karena tak ingin membeberkan siapa Cao Zhen Xin sebenarnya.
Swuuuush! Ia meninggalkan tubuh Cao Zhen Xin dengan memberikan sedikit kekuatan untuk menyembuhkan luka dalam dan menyetabilkan kekuatan jiwanya. Seketika Cao Zhen Xin yang telah tersadar segera terjatuh dan akhirnya kembali pingsan. Sontak Liu, Feng, Ding Yin dan lainnya melesat untuk mengecek kondisi Cao Zhen Xin.
"Senior Ding Yin, bagaimana kondisinya. " tanya Liu.
Senior Ding Yin kemudian menghela napas sejenak, setelah itu ia menatap semua orang dengan serius.
"Aku tidak tahu kepastiannya, yang pasti tuan muda Zhen ini memiliki kekuatan tersembunyi yang sangat mengerikan. Dan kekuatan tersebut sedang menyembuhkan luka yang dialaminya. " ucap Ding Yin masih merubah panggilan pada Cao Zhen Xin.
Mereka semua mengangguk, dan kemudian mereka menatap para murid aliran putih yang berhasil membunuh semua pasukan aliran hitam dengan hangat.
"Terimakasih untuk kalian semua, sekarang aku meminta kalian untuk kuburkan jasad rekan rekan kita. Malam ini hingga pagi, kita akan beristirahat disini. " ucap Ding Yin.
"Baik! " jawab mereka semua kompak.
Setelah itu, Ding Yin memberikan beberapa Pill penyembuh tingkat tinggi kepada Cao Zhen Xin, tak lupa ia membagikan pada murid dan lainnya agar mereka segera memulihkan diri. Semuanya telah selesai hingga waktu mentari terbit bersinar. Sinarnya yang terasa hangat nyatanya membangunkan Cao Zhen Xin.
"Arghh! Tubuhku. " ucap Cao Zhen Xin menatap kesekitarnya.
Tubuh yang terasa nyeri ia rasakan. Ding Yin bersama lima saudara pengelana yang selama ini menjaga Cao Zhen Xin tak sadarkan diri bangun dari tidurnya, setelah mendengar suara Cao Zhen Xin.
"Tuan muda Zhen. " ucap mereka hormat.
__ADS_1
Sontak panggilan tuan muda membuat Cao Zhen Xin melotot.
"Apa yang senior lakukan, senior tidak perlu sebegitu sopannya padaku. " ucap Cao Zhen Xin risih.
Mereka semua berpandangan, dan kemudian mengangguk, seolah olah telah menyiapkan sesuatu.
"Tuan muda! Tentu kami menghormati anda, karena jika bukan strategi yang dibuat anda, mungkin dipihak kami akan mengalami kerugian yang parah, bahkan bisa mengalami kekalahan. " ucap Ding Yin.
Cao Zhen Xin terdiam, dan kemudian ia mencoba mengingat apa yang telah terjadi, namun ia hanya dapat mengingat saat ia tercekik oleh Hu Luo.
"Senior kemana Hu Luo? " tanya Cao Zhen Xin tersadar.
Mereka kembali saling berpandangan, karena heran.
"Apakah tuan muda tidak mengingatnya? " tanya Ding Yin penasaran.
Cao Zhen Xin hanya menggelengkan kepalanya. Sontak hal tersebut membuat mereka tak bisa menghilangkan rasa terkejut diwajah mereka.
"Aneh. " ucap Cao Zhen Xin dalam hati.
"Hahaha sudahlah, tuan muda saatnya kita mengambil pedang nirwana maut. " ucap Ding Yin mencairkan suasana.
Cao Zhen Xin mencoba bangkit, dan akhirnya dibantu oleh Ding Yin. Setelah berada ditempat dimana pedang nirwana maut berada, Cao Zhen Xin mengedarkan mata Dewanya.
"Aura kegelapan yang sangat mengerikan. " ucap dalam hati Cao Zhen Xin.
Hal tersebut membuat para seniornya kelabakan takut, karena mata Cao Zhen Xin bersinar keemasan.
"Tu-tuan muda. " ucap Ding Yin memberanikan diri.
Cao Zhen Xin menghilangkan mata Dewanya dan menatap mereka dengan tenang.
__ADS_1
"Maafkanku yang telah membuat senior takut. " ucap Cao Zhen Xin ragu ingin mencabut pedang tersebut.
Mereka mengangguk menunggu keputusan Cao Zhen Xin mencabut pedang. Hingga selang beberapa menit berlalu, Cao Zhen Xin memberanikan diri mencabut pedang tersebut. Saat tangannya menggenggam gagang pedang, aura kegelapan yang sangat pekat perlahan akan memasuki tubuh Cao Zhen Xin, namun kalung yang menempel pemberian dari tiga Buddha utama segera menangkis aura tersebut.
"Huh kukira ada sesuatu yang aneh. " gumam Cao Zhen Xin sedikit lega.
Setelah itu, ia segera memberikan pedang tersebut kepada ketua sekte Naga Langit, Ding Yin.
"Senior, jaga pusaka ini karena aura kegelapannya sangat kental. " ucap Cao Zhen Xin.
"Baik tuan muda. " ucap Ding Yin kemudian menerima pedang tersebut.
Setelah itu tiba tiba perasaan aneh memasuki tubuh Ding Yin secara cepat. saat menggenggam gagang pedang nirwana maut. Bola matanya berganti hitam hanya seperkian detiknya, dan berubah kembali menjadi seperti biasa. Sedangkan Cao Yuan kini sedang menatap lima pengelana atau Liu dan lainnya, serta beberapa tetua sekte aliran putih yang ada disampingnya.
"Senior, aku Zhen ingin pamit karena aku memiliki banyak tugas yang harus diselesaikan." ucap Cao Zhen Xin.
"Ta-tapi apakah kami berlima boleh mengikuti anda tuan muda. " ucap Liu ingin mengikuti Cao Zhen Xin.
Senyum terkembang dibibirnya, setelah itu Cao Zhen Xin menggelengkan kepalanya. Dan berusaha menolak secara halus tawaran lima saudara pengelana tersebut.
"Maaf senior, tugas ini bersifat rahasia. Jadi aku harus melakukannya sendiri." ucap Cao Zhen Xin.
Mereka berlima memasang raut wajah kecewa, karena mereka tahu bahwa Cao Zhen Xin mungkin memiliki latar yang luar biasa, karena itu mereka ingin mengikutinya, namun mendengar penolakan secara halus, membuat mereka hanya bisa mengangguk saja.
"Baiklah senior, terimakasih semoga kita bertemu di lain waktu. " ucap Cao Zhen Xin menghilang dan menuju kebarat.
Ding Yin yang merasakan perasaan aneh tidak berpikir jauh, karena itu ia segera menatap mereka semua yang tersisa.
"Senior semuanya, terimakasih telah memberikan kepercayaan ini, aku harap kita bertemu dilain waktu. " ucap Ding Yin.
"Jaga pusaka itu, karena kita semua mempercayakan padamu. " ucap tetua pedang cahaya.
__ADS_1
Ding Yin mengangguk, mereka semua akhirnya berpisah membawa rombongan atau murid mereka masing masing kembali ke sekte mereka. Setelah itu Ding Yin yang menuju kearah timur tiba tiba bola matanya kembali menghitam dan kembali lagi seperti biasa.