Legenda Sang Dewa Naga

Legenda Sang Dewa Naga
31. Pulau Es


__ADS_3

"A-apa yang terjadi. " ucap terkejut dan mematung pria tersebut.


"Paman apakah nyawamu tak berharga? " tanya Cao Zhen Xin mengejutkan.


Slaaaashh! Kepala pria paruh baya terpotong dari tubuhnya, sontak temannya yang sedang bertarung dengan Song Ye marah besar.


Baaaammss! Dhuaaaar! Song Ye yang juga mengalihkan perhatiannya pada Cao Zhen Xin terkena hantaman lawannya.


"Kubunuh kau pemuda tengik! " teriak pria yang tersisa kemudian melesat kearah Cao Zhen Xin.


"Jika kamu mampu paman. " balas Cao Zhen Xin berusaha menghindari serangan cepat pria paruh baya.


"Gerakan kesepuluh kitab pedang perjanjian. " teriak pria paruh baya mengeluarkan jurusnya.


Cao Zhen Xin yang merasakan ancaman terhadap jurus yang akan dikeluarkan oleh pria paruh baya kemudian memfokuskan pada pergerakan pria tersebut. Matanya tak lepas menatap arah pedang yang akan menyarang kearah tubuhnya.


Ctiiing! Ctiiingg! Klaaangg! Saat jurus milik pria paruh baya membabi buta mulai menyerang titik vital Cao Zhen Xin, tiba tiba pedang tersebut patah dan hancur saat berbenturan dengan pedang milik Cao Zhen Xin.


"Apa! " ucap terkejut setengah mati sang pria paruh baya.


Cao Zhen Xin yang berhasil memblokir serangan pedang dengan pedangnya, namun tangannya harus merasa kebas akibat tekanan serangan membuatnya mundur lima langkah. Song Ye yang melihat celah pada pria lawannya segera melesat dan menghunuskan pedangnya.


Jleeeeb! Pria paruh baya yang masih tak menyangka akhirnya tewas dengan luka pedang Song Ye menembus punggungnya hingga ke dada.


"Akhirnya. " gumam Song Ye langsung mendekat kearah Cao Zhen Xin.


"Zhen bagaimana keadaanmu?" tanya Song Ye.

__ADS_1


"Senior aku tidak apa apa, hanya sedikit merasa kebas tanganku. " ucap Cao Zhen Xin sedikit tersenyum kecut.


Seandainya ayahnya tidak memberikan pedangnya, mungkin ia telah tewas dari sejak awal ia berpetualang untuk mencari keberadaan kakaknya. Karena itu kini ia berpikir bagaimana cara menjadi kuat dari yang terkuat dengan cara cepat. Namun ia sadar akan semua itu. Hal tersebut tidaklah mudah, karena keberuntungan langit lah yang bisa membuatnya menjadi kuat dengan cepat.


"Zhen kenapa melamun? " tanya Song Ye.


"Tidak senior, hanya saja aku belum terbiasa membunuh. " alasan Cao Zhen Xin.


Song Ye mengangguk mengerti, setelah itu mereka berdua mengumpulkan harta cincin ruang yang berada jari manis perampok yang telah ia bunuh bersama Song Ye.


"Ini milikmu Zhen. " ucap Song Ye cuma memilih cincin milik anggota kelompok besi.


"Senior, aku tidak akan menerima semuanya karena itu lebih baik kita bagi rata dengan pengemudi kapal ini, anggap saja sebagai kompensasi dari kerusakan yang diakibatkan pertempuran tadi. " ucap Cao Zhen Xin.


"Sungguh pemuda yang sangat dermawan. " ucap dalam hati Song Ye.


Nyatanya perjalanan ke arah Pulau Es membutuhkan waktu yang cukup lama, mereka kini telah berlayar hingga hari ketujuh, dan kini mulai terlihat diarea satu kilometer mereka terlihat gunung menjulang tinggi yang dipenuhi es. Hawa dingin juga mulai merasuki daging hingga ketulang, karena dinginnya udara pulau Es, mereka menggunakan Qi mereka untuk menghangatkan tubuh, tak lupa Song Ye juga memberikan pengemudi kapal Qi miliknya.


"Zhen lihatlah kita akan segera sampai. Namun aku hanya bisa mengantarkanmu sampai sini saja. " ucap gelisah Song Ye.


"Senior sampai sini saja aku sangat berterimakasih pada senior, sampai jumpa dipertemuan lain senior. " ucap Cao Zhen Xin berpamitan.


Song Ye dan pengemudi kapal terdiam.


Swuuuuush! Cao Zhen Xin menghentakan kakinya dan melesat kearah gunung didepannya yang memblokir jalan kearah pulau es tanpa penghuni, kecuali pertapa sakti yang tinggal di pulau tersebut. Melihat kepergian Cao Zhen Xin, Song Ye dan pemilik kapal kemudian berbalik arah kembali ke pulau Persik.


"Semoga langit melindungi mu nak. " ucap khawatir Song Ye.

__ADS_1


Cao Zhen Xin melesat dengan kecepatan puncaknya. Ia tak lupa mengedarkan kekuatan jiwanya hingga menyebar kearah satu kilometer dari tempatnya berada.


"Tidak ada kehidupan. " gumam Cao Zhen Xin.


Tanpa ia sedari, sepasang mata dilangit menatapnya dengan tajam.


Kyaaaaatt! Seekor burung Phoenix berwarna biru memekik dan terus menatap Cao Zhen Xin, seakan akan burung tersebut sedang mengawasi dan memberikan laporan pada seseorang.


"Menarik." ucap seorang kakek tua.


Swuuuush! Swuuush! Cao Zhen Xin berkelebat kesana kemari mencari keberadaan pertapa sakti yang menghuni dipulau es. Ia melakukan hal itu dari sudut timur, utara, selatan, barat, namun tidak adanya tanda tanda keberadan pertapa sakti yang ia cari.


"Apakah aku salah tempat. " ucap dalam hati Cao Zhen Xin yang merasa lelah karena terus terbang dari tiap sudut pulau es.


Karena kelelahan, ia segera bersila dan mengumpulkan energi Qi sebanyak yang ia bisa untuk menghindari resiko dari kedinginan, bahkan bahaya yang mungkin dapat ia temui. Seorang kakek tua bersama Phoenix biru menatap Cao Zhen Xin dengan tenang.


"Shie sepertinya dia mencariku. " ucap pertapa sakti.


Kyaaat! Kyaaaat! Ucapan sang kakek tersebut dibalas pekikan kecil oleh Phoenix, Phoenix tersebut seakan akan mengerti ucapan pertapa sakti.


"Kulihat dia tidak memiliki bakat unik, selain itu ada apa ia mencariku, apakah ia tidak takut rumor yang dikatakan oleh warga Benua ini. " senyum kecil dan gelengan kepala pertapa sakti.


Kyaaat! Kyaaat! Phoenix biru kembali memekik dan terus mengawasi Cao Zhen Xin dari atas langit.


****


Sampai sini dulu ya.

__ADS_1


__ADS_2