
Setelah teriakan menggema dari Ding Yin, pasukan aliran putih segera memasuki perisai yang kelemahannya dapat dimasuki namun tidak dapat keluar jika perisai tersebut belum hancur.
Swuuuush! Baaaaamss! Dhuaaar! Ratusan serangan jarak jauh, entah dari tebasan pedang ataupun bola Qi yang dibuat mereka melesat menyerbu pasukan aliran hitam yang belum berisiap menerima serangan kejutan tersebut.
Cao Zhen Xin yang melihat rencananya berhasil dan membuat pasukan aliran hitam kocar kacir segera memasuki perisai dengan kecepatan tak kasat mata, tak hanya diam ia juga mengeluarkan tapak ilahi yang sama yang dimiliki oleh Cao Yuan.
Baaaamss! Dhuaaar! Cao Zhen Xin mengibaskan tangannya kesana kemari sambil melihat para pasukan aliran hitam yang terus meledak menjadi kabut darah satu persatu. Hu Luo seorang pemimpin sekte aliran hitam terbesar ke empat diBenua tinggi sangat marah saat pasukan aliran hitam satu persatu terus berjatuhan.
"Arghhhh! Gabungkan kekuatan kalian dan cepat buat pelindung. " teriak Hu Luo membuat segel tangan.
Swuuung! Saat itu juga mereka tanpa banyak pikir langsung bersatu membuat perisai pelindung dengan gabungan kekuatan mereka.
Melihat hal tersebut, Ding Yin dan beberapa tetua yang bertugas segera berpandangan.
"Siapapun yang akan memiliki pusaka itu kuharap simpanlah dengan baik. " ucap Ding Yin melesat kedalam perisai diikuti oleh tetua lainnya.
"Serangan dekat! " teriak menggema Ding Yin. Sontak serangan jarak jauh berhenti, dan mereka semua melesat mendekati pasukan aliran hitam yang telah menghilangkan perisai mereka.
Swuuuush! Ctaaang! Ctiiiing! Senjata logam yang beradu kembali terdengar, sayatan yang mengenai daging ditubuh para Kultivator juga terdengar. Darah mulai membasahi tanah bukit kota Vuan dengan derasnya. Bukit yang tadinya hijau dipenuhi oleh pepohonan mulai runtuh dan terlihat banyak bercak darah yang tersebar kearah manapun. Bau anyir darah mengikuti irama pertempuran yang sangat kacau tersebut.
Swuuuush! Baaaamss! Dhuaaar! Tak ingin tinggal diam, Cao Zhen Xin melesat secara zig zag dengan cara mengeluarkan tapak Ilahinya. Kebrutalan Cao Zhen Xin membuat pandangan semua Kultivator terarah padanya.
"Pemuda yang sangat mengerikan. "
"Apakah dia malaikat pencabut nyawa. " ucap lainnya.
Begitu juga dengan lima senior yang tak lain Liu serta empat teman lainnya.
"Di-diakah Zhen itu.." ucap Feng terkejut.
"Be-benar sekali dia Zhen, tapi dia seperti seorang yang haus akan darah." ucap Liu.
__ADS_1
Tak menghiraukan ucapan demi ucapan yang terdengar, Cao Zhen Xin terus bergerak secara zig zag secara brutal mengeluarkan tapak ilahi mendekat kearah pedang nirwana.
Swuuuuush! Saat berjarak sepuluh meter dari pedang nirwana maut, tiba tiba sebuah tangan menangkap tangannya yang akan mengeluarkan tapak ilahi.
"Hei pemuda kep*rat! Bagaimana kita lanjutkan masalah kita. " ucap Hu Feng tersenyum lebar.
"Cih! Sampah. " ucap Cao Zhen Xin kemudian tangan kirinya meninju bagian dada kanan Hu Feng.
Sontak Hu Feng segera menghindari tinju Cao Zhen Xin dengan cara melepas genggamannya. Seketika mereka berdua bertempur, ranah kultivasi yang sama membuat keduanya berimbang, namun siapa sangka sebenarnya Cao Zhen Xin sendiri belum mengerahkan seluruh kecepatannya.
Baaaamss! Dhuaaar! Dua serangan yang bertemu membuat daya kejut yang lumayan dampaknya. Keduanya terus bertarung mengerahkan keahlian mereka.
"Ti-tidak mungkin pemuda ini dapat bertahan. " ucap Hu Feng tak percaya.
"Tentu bisa, bahkan untuk mengalahkanmu. " Ucap Cao Zhen Xin dingin, kemudian ia menambah kecepatannya.
"Seribu tapak ilahi. " ucap Cao Zhen Xin mengeluarkan teknik yang diberikan oleh ayahnya.
Baaaamss! Paaack! Dhuaaaar! Serangan yang sangat cepat membuat Hu Feng tidak bisa menghindari serangan beruntun itu, sehingga ia terpental dan terjatuh ketanah dengan darah merah menetes dibibirnya.
"Cih. " decihan Cao Zhen Xin tak puas, karena lawannya langsung kalah, padahal ia sendiri baru melepaskan beberapa serangan tapak ilahi.
***
Disisi lain.
Ding Yin yang bertempur melawan Hu Luo terlihat berimbang. Keduanya melakukan serangan tangan kosong dengan kecepatan puncak dewa sejati tingkat lima. Lima saudara pedang atau senior Liu dan lainnya terlihat juga berimbang melawan lima tetua sekte aliran hitam. Namun berbeda dengan para murid mereka yang kewalahan, karena jumlah saat ini lebih unggul dipihak aliran putih, dua pihak juga mengalami kerugian, namun paling parah ada dipihak aliran hitam.
***
Cao Zhen Xin yang kini telah ada dihadapan Hu Feng tersenyum mengerikan, walaupun tersenyum, kedataran wajahnya yang tampan juga membuat siapapun yang bertatapan akan merinding sekujur tubuhnya.
__ADS_1
"Ucapkanlah salam pada raja neraka. " ucap Cao Zhen Xin dingin, kemudian ia mengangkat tangannya keatas, bersiap mengeluarkan tapak ilahi.
Hu Luo yang melihat anaknya atau Hu Feng akan terbunuh segera melepas serangan jarak jauhnya.
Swuuuuush! Baaaaaamss! Cao Yuan yang tak bersiap menerima serangan cepat segera terpental sejauh dua puluh meter. Darah dibibirnya pun menetes saat ia menabrak sebuah batu besar.
"Hu Luo, sejak kapan disaat kamu bertarung mengalihkan perhatianmu. " ucap Ding Yin melepas tinjunya kebagian perut Hu Luo.
Baaaamss! Dhuaaar! Tak hanya tinju, tendangan yang mengarah ke wajahnya membuat Hu Luo terpental dan mengalami luka yang sama parahnya dengan Cao Zhen Xin.
"Arrrghh! " Hu Luo meringis kesakitan, ia sungguh sangat kesal dengan anaknya yang kalah dan akan terbunuh, sehingga ia harus mengalihkan pertempurannya untuk menyelamatkan anaknya sendiri.
Sebenarnya Ding Yin panik saat melihat bola Qi kecil dari Hu Luo melesat kearah Cao Zhen Xin, namun apa boleh buat karena ia sendiri tak siap untuk melindungi Cao Zhen Xin.
"Tuan muda bertahanlah. " ucap Ding Yin kemudian bersiap menyerang kembali Hu Luo, ia juga merubah panggilan Cao Zhen Xin karena strategi yang dibuat membuat pasukan aliran putih tidak mengalami kerugian yang banyak.
Cao Zhen Xin berdiri dengan tubuh yang sangat sakit, kekuatan jiwanya yang kacau juga ia rasakan, sehingga ia tidak bisa mengontrol tubuhnya sendiri.
"Untung saja serangan ini tidak ada setengah dari seluruh kultivasi dewa sejati. Jika tidak aku bisa tamat. " ucap Cao Zhen Xin menyadari kelalaiannya.
Hu Feng yang telah menelan Pill penyembuh tingkat tinggi juga telah berdiri, walapun ia masih merasakan sakit, namun tidak sesakit apa yang dirasakan oleh Cao Zhen Xin.
Gleeek! Satu buah Pill penyembuh tingkat dewa dimakan oleh Cao Zhen Xin, sehingga perlahan obat tersebut bereaksi dengan menyembuhkan seluruh luka yang ia alami. Mata mereka berdua bertatap tatapan secara tajam.
"Mari kita akhiri! " ucap Hu Feng mengeluarkan pedang hitamnya.
Swuuush! Hu Feng melesat kearah Cao Zhen Xin, begitu juga dengan Cao Zhen Xin, namun ia tidak mengeluarkan pedang milik ayahnya dari dalam cincin ruangnya.
"Apakah kau menyepelekan ku. " ucap Hu Feng kesal melihat pemuda didepannya tak mengeluarkan pedangnya.
"Untuk membunuhmu itu tak perlu. " ucap Cao Zhen Xin kemudian menghindari tebasan pedang yang mengarah kearah tubuhnya.
__ADS_1