Legenda Sang Dewa Naga

Legenda Sang Dewa Naga
21. She Mei Dan She Luan menjadi buronan


__ADS_3

Tiga jam perjalanan, akhirnya mereka menemukan sebuah kota besar, karena ingin beristirahat sejenak sambil melihat keramaian kota, Cao Zhen Xin bersama She Luan memutuskan untuk memasuki kota.


"Tunggu Zhen. " ucap She Luan menghentikan langkah Cao Zhen Xin.


Dengan wajah herannya, Cao Zhen Xin hanya melihat apa yang dilakukan oleh She Luan.


"Kenapa kamu mengenakan cadar? " tanya Cao Zhen Xin.


"Hemm, aku takut ada yang mengenalku, dan tentunya aku tidak ingin membuatmu terkena masalah. " ucap She Luan kemudian berjalan menuju gerbang kota diikuti oleh Cao Zhen Xin.


Setelah tiba di gerbang, mereka tidak menemukan masalah sama sekali, sehingga keduanya terus berjalan mencari tempat resto yang sekiranya dapat mengisi perut serta tenaga mereka.


"Restoran Hewan Suci." gumam Cao Zhen Xin memincingkan matanya.


"Zhen apakah kamu tidak tahu, di benua ini restoran yang menyediakan hewan suci sangatlah banyak, karena para Kultivator membutuhkan daging hewan suci untuk memperkokoh pondasi jiwa mereka. " ucap She Luan menjelaskan.


Cao Zhen Xin mengangguk, namun dialam Dewa sendiri tidak ada dewa menggunakan hewan suci dijadikan sebagai makanan.


"Apakah Zhen ingin mencobanya? walaupun dagingnya sedikit alot, namun khasiatnya sangat tinggi, tergantug kultivasi hewan suci itu sendiri. " ucap She Luan.


"Ahh tidak usah, aku tidak menyukai daging. " alasan Cao Zhen Xin.


"Baiklah, jika begitu kita cari resto biasa saja. " ucap She Luan sedikit kecewa.


Cao Zhen Xin dan She Luan akhirnya kembali mencari resto yang menjual makanan biasa, dan sesampainya, mereka memesan beberapa makanan dan arak terbaik yang dimiliki resto tersebut. Mata pelanggan kini tertuju pada She Luan yang menggunakan cadar.


"Luan, apakah kau tidak merasa risih diperhatikan oleh orang lain. "


"Huh, sebenarnya risih namun apa boleh buat. " helaan napas She Luan.


Cao Zhen Xin mengangguk, kemudian ia menatap lantai dua yang ruangannya berbeda. Seketika ia menuju pelayan yang sedang bekerja.


"Pelayan, berapa biaya ruangan VIP diatas? " ucap Cao Zhen Xin.


"Biaya sewa ruangan tiga koin emas tuan muda. " jawab pelayan hormat.

__ADS_1


"Baiklah aku pesan satu ruangan. " jawab Cao Zhen Xin kemudian mengajak She Luan untuk mengikuti pelayan yang membawa mereka menuju lantai dua.


Sesampainya.


"Pelayan, pesanku tolong antarkan keruangan ini. "


"Baik tuan muda. "


Setelah itu, She Luan membuka cadarnya, wajah cantiknya pun kembali terlihat yang membuat jantung Cao Zhen Xin berdetak kencang.


"Ehem.." deheman She Luan akhirnya membuat Cao Zhen Xin salah tingkah.


"Hehehe soalnya kamu cantik. " ucap jujur Cao Zhen Xin.


Seketika She Luan salah tingkah, wajahnya memerah. Keduanya akhirnya kembali berbincang hingga makanan keduanya telah siap disajikan. Setelah mengisi tenaga, kini mereka membayar semua pesanan, dan kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju barat. Namun, langkah mereka terhenti setelah melihat poster wajah She Luan, dan She Mei yang dipajang.


"Luan ini..." ucap Cao Zhen Xin menarik poster dan menggenggamnya.


"Ini pasti ulah Tao Li Fao." ucap lirih She Luan.


"Zhen, lebih baik kita segera pergi. " ucap She Luan.


Cao Zhen Xin mengangguk, keduanya akhirnya menuju gerbang barat kota Ding, karena mereka berdua takut diketahui identitas mereka. Sesampainya didepan gerbang, Cao Zhen Xin kemudian menatap She Luan dengan serius.


"Luan jika begini sama saja kalian berdua adalah buronan. " ucap lirih Cao Zhen Xin.


"Benar, namun aku rasa penyebabnya karena kamu membunuh Tao Li Yao, sehingga Tao Li Fao marah dan mencariku. " ucap lirih She Luan.


Mendengar itu, Cao Zhen Xin jelas merasa bersalah.


"Maaf...."


"Tidak usah, karena jika Zhen tidak membantuku, kakak dan pamanku mungkin kami tidak akan bisa hidup sampai saat ini. " potong She Luan.


Cao Zhen Xin menghentikan langkahnya, ia menatap She Luan serius.

__ADS_1


"She Luan, masalah keluarga Tao ini biarkan aku yang mengurusnya." ucap Cao Zhen Xin serius.


"Ta-tapi kekuatan mereka. " ucap She Luan tidak mempercayai bahwa Cao Zhen Xin ingin kembali melibatkan dirinya pada masalahnya.


"Tenanglah, mulai saat ini siapapun yang berani menyentuhmu aku tidak akan membiarkannya hidup tenang. " ucap Cao Zhen Xin.


Mereka berdua akhirnya melanjutkan perjalanan mereka, namun tiba di sebuah hutan yang ditengahnya terdapat sungai bersih, keduanya menghentikan langkah saat merasakan puluhan orang mengikutinya. Sikap waspada mereka tunjukan, namun mereka tetap terlihat tenang, seolah olah tidak merasakan puluhan orang tersebut.


Swuuush! Swuuuush! Baaaamss! Dhuaaaar! Disaat itu juga, bola kecil terbuat dari Qi melesat kearah mereka, namun Cao Zhen Xin dan She Luan yang telah siaga segera menghindari serangan tersebut yang membuat serangan menabrak sungai didepan mereka.


"Siapa! Keluar. " ucap Cao Zhen Xin.


Prok! Prok! Proook! Suara tepuk tangan dibarengi dengan munculnya pria paruh baya dari berbagai sisi.


"Keluarga Tao. " ucap lirih She Luan.


Cao Zhen Xin yang mendengar hal tersebut tak ingin menanyakan masalah, namun ia langsung melesat dan menyerang pria paruh baya yang memiliki kekuatan Dewa tingkat satu hingga dua. She Luan juga tak tinggal diam, ia ikut menyerang mereka semua menggunakan pedang yang ia keluarkan dari Cincin ruangnya.


Swuuuush! Swuuuush! Dhuaaar! Baaaamss! Pertarungan kembali terjadi, Cao Zhen Xin melesat sambil menghindari serangan mereka dan mengeluarkan telapak Ilahinya kearah lawan didekatnya.


"Apa yang kalian lihat! Bantu anggota kita. " teriak seorang kakek tua di atas langit.


Swuuuush! Swuuuush! Ratusan pemuda dan pria paruh baya dari atas langit melesat mengkeroyok Cao Zhen Xin. Sontak Cao Zhen Xin terkejut, ternyata sejak awal mereka telah diikuti oleh mereka.


"Arghhh! " ucap Cao Zhen Xin marah dan terus melesat kesana kemari terus mengeluarkan tapak Ilahinya.


Dhuaaar! Dhuaaar! Ledakan terus menggema di hutan tersebut, tapak tangan raksasa muncul ditanah saat telapak Ilahi tidak mengenai lawan Cao Yuan juga terus terjadi. Diatas langit kakek tua yang ternyata mengetahui bahwa wanita yang menggunakan cadar adalah She Luan salah satu buronannya menaikan alis.


"Pemuda itu sangat mengerikan."


"Luaner! Bertahanlah! " ucap Cao Zhen Xin terus melesat kesana kemari.


She Luan yang belum banyak memiliki pengalaman bertarung hidup dan mati sedikit kewalahan menghadapi puluhan orang yang mengepungnya.


Cao Zhen Xin terus melakukan tapak Ilahinya, hingga lawannya kini juga mulai berjatuhan tewas, banyak juga yang menghindari Cao Zhen Xin dan berpindah menyerang She Luan. Sehingga Cao Zhen Xin sangat mengkhawatirkan She Luan.

__ADS_1


Swuuuung! Karena ia sangat khawatir pada She Luan, ia segera mengeluarkan pedang emasnya. Setelah itu, ia mengaliri Qinya kedalam pedang tersebut yang membuatnya bergetar.


__ADS_2