
Pingsan dengan luka yang sedikit serius, Cao Zhen Xin akhirnya terbangun dengan mata yang sayup sayup terbuka perlahan. Tiap inci ia dapat melihat ruangan yang ia singgahi.
"Apa yang telah terjadi." ucap pelan Cao Zhen Xin melihat sekitarnya.
Tiba tiba ia teringat saat ia bertempur melawan Phoenix es yang membuatnya terjatuh pingsan, dan ia terakhir melihat kakek tua tak lain pertapa sakti, yang tiba tiba menyelamatkannya.
Kyaaat! Ditengah lamunannya, ia terkejut dengan suara Phoenix di depan pintu ruangan yang besar. Sang Phoenix yang mendekat membuat Cao Zhen Xin sedikit waspada padanya.
Kyaaaat! Sang Phoenix mendekat dengan suara pekikan kecil. Melihat sang Phoenix yang sepertinya membawakan sesuatu untuknya, dengan segera ia menurunkan sikap waspadanya.
Kyaaaat! Phoenix kembali memekik dan mengeluarkan tiga keping bulatan berwarna putih seputih es dengan aura kehidupan yang kental.
"Ini untukku? " tanya Cao Zhen Xin.
Kyaaat! Kyaaaat! Pekikan kecil serta anggukan sang Phoenix. Seolah olah sang Phoenix membenarkan ucapan Cao Zhen Xin. Tanpa rasa curiga sedikitpun, Cao Zhen Xin mengambil tiga butir bulatan berwarna putih seperti Pill pada umumnya.
Gleeeek! Disaat ia telah menelan semu bulatan kecil berwarna putih, tiba tiba tubuhnya bergetar dengan hawa dingin yang tiba tiba menyebar kesegala tubuhnya. Tak hanya itu saja, tiba tiba Qi yang tadinya sangat sedikit kembali terisi hingga penuh.
"Ini..." ucap Cao Zhen Xin menatap penuh selidik pada sang Phoenix.
Swuuuuush! Disaat itu juga, kakek tua yang bernama Bing Yinshi atau yang dikenal dengan sebutan pertapa es muncul disambil Phoenix biru tersebut.
"Senior. " ucap Cao Zhen Xin langsung memberikan hormatnya.
"Anak muda, apa yang kau cari di tempat dingin ini? " tanya Bing Yinshi.
"Senior aku kesini ingin mencari seorang pertapa es, apakah senior meengetahui keberadaannya? " tanya Cao Zhen Xin ramah.
"Heemm pertapa es." gumam Bing Yinshi pura pura berpikir.
"Aku tidak mengenalnya, namun seperti rumor yang beredar apakah kamu tidak takut terbunuh akan kekejamannya? " ucap lagi Bing Yinshi.
"Maaf senior, menurutku kematian itu adalah takdir, jadi aku sengaja mencarinya karena ada hal yang ingin kubicarakan padanya. " ucap Cao Zhen Xin.
"Ooh apakah itu." ucap Bing Yinshi.
__ADS_1
Cao Zhen Xin menatap kakek tua dengan lekat, ia belum yakin tentang tebakannya bahwa didepannya adalah seorang pertapa es yang dikatakan sangat kejam, membunuh tanpa kenal ampun. Melihat raut wajah yang sepertinya bukan orang jahat, Cao Zhen Xin akhirnya memberitahu yang sebenarnya.
"Senior, aku tidak tau siapa senior, namun karena senior telah baik hati padaku tak pantas jika aku menyembunyikan tujuanku. "
"Aku mencari beliau karena ingin beliau mengobati temanku, dia terkena racun hitam yang berasal dari keluarga Tao." ucap Cao Zhen Xin.
Sedikit wajah keterkejutan Bing Yinshi mendengar hal tersebut, namun dengan segera ia menghilangkan raut keterkejutannya.
"Hemm." gumaman sang kakek tua.
"Apakah kakek mengetahui keberadaan pertapa sakti dipulau es ini? " tanya Cao Zhen Xin.
"Tidak. " ucap datar sang pertapa sakti.
Cao Zhen Xin mengangguk anggukan kepalanya, namun ditengah pembicaraan mereka, tiba tiba suara menggelegar yang membuat goa yang disinggahi mereka bergetar.
"Bing Yinshi! Keluar atau pulau es ini aku lelehkan dengan energi apiku! " ucap seorang dengan aura yang sangat mengerikan, bahkan hawa dingin yang tadinya merasuk tulang kini berganti dengan hawa hangat, es yang menempel didinding juga mendadak meleleh perlahan.
Kyaaaaat! Kyaaaaat! Pekikan Phoenix biru yang merasa terganggu lalu keluar dari dalam goa. Sedangkan Bing Yinshi terkejut dengan kehadiran Pertapa Api dari barat, Zheng Lian.
"Anak muda, karena kondisimu kini sudah membaik, aku memintamu untuk pergi dari tempat ini, pertapa sakti yang kau cari itu tidak ada, maka jangan pernah kembali ketempat ini. " ucap Bing Yinshi.
"Ta..." balas Cao Zhen Xin tiba tiba terkejut dirinya telah tiba diluar pulau es.
"Huh.." hanya itu saja yang keluar dari mulut Bing Yinshi kemudian ia menghilang muncul diatas langit menatap Phoenix peliharaannya sedang bertempur dengan Zheng Lian.
Dhuaaaar! Dhuaaaar! Ledakan tiba tiba terdengar dari dalam pulau es yang membuat Cao Zhen Xin akan meninggalkan pulau es mengurungkan niatnya.
"Pertempuran tingkat Kaisar Dewa. " gumam Cao Zhen Xin yang merasakan daya kejut mengerikan dari ledakan dari dalam Pulau Es.
Tanpa menghiraukan ucapan sang kakek yang melarangnya kembali ke pulau es, Cao Zhen Xin segera menghilangkan auranya dan melesat memasuki Pulau es kembali. Melesat dengan kecepatan puncak mencari asal suara pertempuran yang terjadi, Cao Zhen Xin menghentikan langkahnya saat ia sampai melihat seekor Phoenix biru melawan kakek tua berjubah merah dengan gambar api merah didadanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi. " gumam Cao Zhen Xin kemudian mencari tempat bersembunyi.
***
__ADS_1
"Bing Yinshi pertapa es, apakah kau ingin melihat peliharaanmu mati oleh serangan ku. " ucap Zheng Lian yang mengalihkan perhatiannya pada Bing Yinshi berada diatas langit.
"Hahahaha! Aku akui kamu sungguh menepati janjimu datang dan membalaskan dendam mu, namun sayangnya kekuatan kita seimbang tak mungkin ada yang dapat keluar dari pertempuran ini. " ucap Bing Yinshi.
Sontak Cao Zhen Xin yang mendengarkan hal tersebut terkejut, seorang pertapa es yang ia cari ternyata telah ia temui.
Dhuaaaar! Dhuaaaar! Phoenix biru peliharaan Bing Yinshi tiba tiba terpental setelah datangnya seekor Phoenix yang membantu Zheng Lian.
"Pertapa Es, temanku telah datang, maka kini kita selesaikan dendam lama kita. " ucap Zheng Lian menghentakan kakinya dan membuat es yang ada dipijakannya meleleh.
"Pertapa api, apakah benar kita akan bertempur hingga diantara kita akan tewas, sayang sekali jika hal it...."
"Pertapa Es! Sampai aku menjadi seorang Dewa api pun aku tidak pernah bisa bernafas lega jika melihatmu masih hidup karena telah membunuh istriku."
Swuuuush! Dhuaaaaar! Keduanya melesat berlawanan arah dan melancarkan tinju mereka hingga berbenturan serta membuat daya kejut yang sangat mengerikan.
Mereka berdua terus melakukan pertukaran serangan, bahkan keduanya terus membenturkan tinju mereka hingga daya kejut terus terjadi. Dua elemen bertempur secara dahsyat, bahkan guncangan dan angin kini meramaikan situasi panas tersebut.
Cao Zhen Xin terus mencoba mencerna apa yang terjadi pada mereka. Ia terus mengamati pertempuran hingga tiba tiba tangan lembut memegang bahunya.
"Si...."
"Shuuut! " ucap nenek tua dengan rambut putih menutup mulut Cao Zhen Xin.
"Tenanglah."
Cao Zhen Xin mengangguk.
"Nek siapa kamu." tanya ramah Cao Zhen Xin.
"Aku kesini tak sengaja karena mendengar ledakan dahsyat, karena itu aku ingin memeriksanya." ucap nenek tua beralasan.
Cao Zhen Xin mengangguk angguk.
"Kau sendiri? "
__ADS_1
"Aku pun sama nek, namun aku membutuhkan pertolongan pertapa es untuk menyembuhkan racun yang dialami oleh temanku. "
***