Lianhua Nushen

Lianhua Nushen
Penyakit Parah


__ADS_3

"Wah, sungguh luar biasa. Hanya dengan meminum obat darimu, badanku terasa lebih ringan dan penuh kekuatan."


"Kalau begitu, kakek harus menjaga kesehatanmu sendiri. Hindari makan yang terlalu panas. Lalu jangan memforsir pekerjaan. Mungkin tabib Li lebih tahu keadaanmu. Kau bisa konsultasi padanya lain waktu."


"Terima kasih, Nona. Sebenarnya ilmu pengobatanmu tidak kalah dengan tabib Li. Namun kau tidak menyombongkan dirimu sendiri. Ah, Dong. Ayo antar aku ke rumahku."


"Baiklah, Kakek. Nona Hua, kau bisa tinggal di sini. Karena sudah mendapatkan apa yang diminta oleh tabib Li. Kalau begitu, aku pamit untuk mengantar kakek."


"Terima kasih, Kakak Dong. Aku akan tinggal beberapa hari di sini untuk menyembuhkan diri juga. Tolong sampaikan ke tabib Li juga, aku ada di rumahnya."


"Kau jangan khawatir. Wanita itu adalah tabib yang hebat dan baik. Kau perlu merawat orang ini, bukan?" Dong meliri ke arah Huo Feng Huang.


"Tentu saja." Lianhua menutupi tubuh Huo Feng Huang dengan selimut. Ia sendiri juga harus segera memulihkan dirinya sendiri.


Setelah keadaan sang kakek membaik, ia pun meninggalkan rumah tersebut bersama Dong. Sementara Lianhua menunggu keadaan Huo Feng Huang yang juga membaik.


Untuk hari ini, mereka cukup memiliki tempat tinggal. Sehingga tidak perlu pergi jauh ke hutan atau mencari penginapan. Karena Lianhua tidak ada waktu untuk mencarinya di kota Jinshi.


Setelah beberapa saat, Huo Feng Huang kembali pulih dan sudah bangun dan berdiri. Namun ia memutuskan untuk duduk dan menyerap energi spiritual di sekitarnya.


***


"Penyakit anak ini sudah sangat parah. Aku sendiri kesulitan untuk mengobatinya dengan kemampuanku saat ini. Apa yang harus aku katakan pada orang tua itu?"


Li Ning memangku tubuh seorang anak kecil yang mengalami penyakit aneh. Ia sudah berusaha untuk mengobati penyakit tersebut dengan seluruh kemampuannya.

__ADS_1


Tubuh kecil itu terasa panas dan tidak terkendali. Bahkan wanita itu telah mencoba dengan berbagai cara. Tapi hanya bisa menahan rasa sakit saja.


"Sakit ... tolong aku, kakek. Di mana kakek, huhuhu ..." lirih sang anak dengan memegangi perutnya. Ia sangat kesakitan dan sudah menderita itu selama bertahun-tahun.


Jika dulu, Li Ning bisa menekan sakit anak tersebut dengan obat-obatan. Namun kali ini kejalanya lebih sering dari biasanya. Ia bahkan sudah menghabiskan banyak herbal untuk mencoba mengobatinya.


"Sabarlah ... kakekmu akan segera pulang. Kamu minum obat ini, yah. Aku akan memijat perutmu yang terasa sakit."


"Tabib Li, apa kau bisa mengobatiku? Akhh ... aku sudah tidak kuat lagi. Aku ingin mati tapi kakek–"


"Kamu tidak akan mati hari ini. Yakinlah, aku bisa mengobatimu. Jika kau percaya, pasti akan datang Dewi Pengobatan dari langit. Aku yakin bisa mengobatimu."


Rasa sesak di dada yang dirasakan Li Ning. Ia telah mengobati banyak orang yang kesulitan. Namun kali ini ia sudah gagal sebagai seorang tabib. Bukan hanya gagal, ia juga sangat malu untuk menemui orang lain lagi.


Jika bisa, ia juga ingin mati saja bersama anak yang mengalami sakit tak kunjung sembuh itu. Satu kali ia memberikan obat pereda rasa sakit, itu bisa sedikit membantunya. Dan hanya bisa bertahan dalam waktu tertentu.


Pada akhirnya waktu lima bulan berlalu. Anak itu mengalami rasa panas dan perut yang sakit dan menyiksa. Li Ning juga mencoba resep baru yang ia buat. Namun lagi-lagi hanya bisa menahan rasa sakitnya selama beberapa bulan.


Seiring berjalannya waktu, anak itu lebih sering mengalami rasa sakit. Seiring berjalannya waktu, penggunaan obat-obatan tidak berefek lama untuk kondisi yang sama. Karena dengan obat tersebut, khasiatnya semakin lama semakin berkurang. Bahkan penyakitnya malah semakin ganas.


'Mungkin ini adalah obat terakhir yang bisa kuberikan. Sebagai seorang tabib, aku gagal menyelamatkan orang. Kuharap benar-benar ada Dewi Pengobatan yang datang mengobati anak ini,' ucap Li Ning dalam hati.


Setelah memberikan obat yang dapat membuat rasa sakit itu reda, tabib wanita itu membiarkan anak tersebut istirahat. Ia sudah memberikan semua yang terbaik untuk menyelamatkan anak tersebut.


"Cucuku! Apa kau sudah baik-baik saja?" Sang kakek yang khawatir dengan keadaan cucunya pun langsung berlari ke arah kamar.

__ADS_1


Dong di belakang mengikuti pria tua yang seharusnya hanya bisa berjalan pelan. Namun bisa berlarian hingga sampai di rumahnya dengan cepat. Itu berkat obat yang diberikan Lianhua sebelumnya.


'Kakek ini tidak terlihat seperti orang tua lemah lagi. Ah, nona Hua mungkin benar-benar tabib yang hebat. Bahkan tabib Li sendiri mungkin tidak ada apa-apanya,' ucap Dong dalam hati.


Meskipun Lianhua lebih hebat dari Li Ning, tetap saja Dong menganggap tabib di kotanya adalah yang terbaik. Karena sudah bertahun-tahun sejak keberadaan kakek buyutnya telah menyelamatkan banyak nyawa.


"Tabib Li! Bagaimana keadaan cucuku? Apakah dia sudah bisa disembuhkan? Apakah kau sudah menemukan obatnya?" tanya sang kakek dengan cepat. Ia sudah tidak sabar melihat cucunya sembuh seperti seharusnya.


"Kakek? Bagaimana kau sudah sampai rumah?" Li Ning kaget melihat pria tua itu sudah ada di kamar anak yang mengalami sakit itu. Namun hal yang membuatnya lebih kaget lagi adalah keadaan sang kakek yang terlihat lebih bertenaga dibandingkan sebelumnya.


Normalnya pria tua itu akan sampai pada malam hari dan langit gelap. Apalagi perjalanan dengan berjalan kaki, seharusnya juga membuat rasa lelah yang luar biasa.


"Kakek, apa yang terjadi denganmu? Mengapa bisa sampai di sini dengan sangat cepat? Dan tubuhmu tidak terlihat kelelahan?" tanya Li Ning.


"Ah, ini semua berkat nona Hua. Bukankah dia juga teman tabibmu? Ah, tidak perlu bicara tentang ini dulu. Bagaimana keadaan cucuku?"


Li Ning tidak bisa mengatakan hal yang sebenarnya. Ia tidak mengenal Lianhua sama sekali. Namun ada hal yang membuatnya terkejut lagi. Ia juga melihat Dong yang dalam keadaan sehat dan selamat setelah tahu sedang mengejar Lianhua.


'Ah, apa yang aku pikirkan? Mungkin mereka tidak sampai naik ke bukit. Tidak mungkin gadis itu mau mempertaruhkan nyawanya.'


"Tabib Li. Ada sesuatu yang harus aku sampaikan juga. Nona Hua telah berhasil mendapatkan apa yang kamu minta. Dia sendiri yang mengambil rumput rumbai darah. Bahkan juga mendapatkan cula dari serigala bercula satu."


"Apa? Apa kamu bilang? Perempuan itu mendapatkan rumput rumbai darah? Ti-ti-dak ... siapa orang yang mampu mengalahkan serigala bercula satu itu?"


"Sepertinya nona Hua sendiri yang melakukan itu. Namun aku juga tidak tahu bagaimana melakukannya. Saat itu aku bukan hanya tidak bisa mengejarnya. Namun dia juga yang mengobati lukaku. Juga, hewan-hewan di bukit terlihat lebih lemah daripada biasanya."

__ADS_1


***


__ADS_2