
"Di mana kita sekarang? Dan apa itu tadi?" tanya Lianhua setelah membuka matanya. Sekarang ia sudah berada di tempat yang berbeda.
Ketika matanya melihat ke sekeliling, hanya terlihat padang rumput yang luas. Sementara ada asap hitam di langit, membentuk awan hitam. Petir menyambar-nyambar dengan dentuman keras.
Ledakan besar itu telah membuat bukit rata dengan tanah. Area di sekitar mengalami dampaknya. Polusi udara dan polusi suara tak terhindarkan. Bahkan suara itu dapat didengar dari alam langit.
"Kita sudah aman di sini. Saat aku bertarung dengan salah satu dari mereka, akhirnya kutahu, yang digunakan perempuan itu adalah artefak langit. Itu adalah pingan hitam atau Cakram Penghancur Gunung," jelas Huo Feng Huang.
"Artefak langit? Kurasa pernah mendengar hal itu. Mungkin ingatanku yang lama, yah? Soalnya ada banyak yang tidak ku ingat tapi sepertinya aku tahu beberapa. Dan apa yang ada di tanganmu?"
"Oh, ini adalah artefak langit juga. Aku merebutnya dari perempuan itu. Karena itu, aku mendapatkan potongan jiwaku kembali. Dan mengingat beberapa ingatan yang hilang. Kekuatanku juga mulai kembali walau tidak banyak."
"Ooh ... baiklah. Selamat untukmu. Kau masih harus mengumpulkan jiwamu, bukan? Aku berharap bisa bertemu dengan ibu lagi. Ayo kita pulang ke rumah. Siapa tahu, ibu sudah pulang," ajak Lianhua.
Ia baru berpikir, tidak mungkin ibunya bisa selamat dari dewa yang mengejarnya waktu itu. Mengingat para dewa yang tidak memiliki hati, membuat gadis itu tergerak hatinya untuk memerangi kejahatan. Meski tidak bisa melakukannya dengan kekuatannya. Yang bisa ia lakukan adalah mengobati orang lain tanpa sadar.
Entah bagaimana nasib para dewa yang berada di bukit. Itu sudah menjadi urusan orang lainm Lianhua mengajak Huo Feng Huang ke rumahnya. Letak rumah dari bukit cukup jauh. Setidaknya bisa memakan waktu setengah hari dalam perjalanan pulang.
"Hei, apakah kau bisa mengajariku bertarung? Setidaknya tidak merepotkanmu. Ketika ada pertarungan, kamu saja yang terus menyelamatkanku. Bahkan ibu bisa bertarung. Aku tidak bisa apa-apa."
"Kau bisa belajar bertarung padaku nanti. Bukan hanya bertarung, mungkin kau juga bisa membangkitkan kekuatan tersembunyi dalam dirimu."
__ADS_1
"Apa yang kamu maksudkan? Kekuatan tersembunyi apa? Lagipula aku hanya manusia biasa. Tidak seperti kalian para dewa. Eh, apakah kau benar-benar raja iblis? Sepertinya kau tidak seperti iblis bagiku. Terbanding terbalik dengan orang-orang yang mengaku dewa. Tapi kelakuannya yang iblis."
"Kau akan tahu nanti. Sama seperti manusia, perbuatan jahat dan baik kadang menipu kita," pungkas Huo Feng Huang.
"Bisakah kau turunkan aku? Bagaimana kalau kita jalan kaki saja? Kita sudah dekat rumah." Lianhua turun dari gendongan. Lalu berjalan lebih cepat setengah berlari.
Orang-orang desa melihat Lianhua yang kembali setelah lama pergi. Mereka mengabaikan kedatangan gadis itu meski tetangga mereka. Bahkan mereka tidak menyukainya dan ibunya setelah diusir dari keluarga Hua.
"Kenapa gadis itu kembali lagi ke rumah? Ah, kalau bukan salah satu dari keluarga Hua, mungkin sudah diusir pergi dari desa ini." Seorang pria paruh baya menatap Lianhua sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Lihatlah! Dia sudah membawa pria asing ke rumahnya. Bagaimana mungkin, gadis sepertinya di ada yang mau. Meski mengandalkan parasnya yang cantik," balas wanita paruh baya, melihat pria yang belum ia kenal.
"Eh, bukannya dia pria itu? Orang yang menjual banyak emas di pelelangan? Bukannya dia tuan muda kaya itu?" Pemuda yang merupakan anak dari kedua orang yang sedang membicaran Lianhua dari belakang.
"Kabarnya rumor itu benar, baru datang beberapa hari saja, sudah menjadi buah bibir wanita tua. Siapapun yang punya anak gadis, ingin menikahkan putrinya padanya. Tapi kenapa harus keluarga Hua yang ada di pinggiran?" ucap wanita paruh baya seraya menggelengkan kepalanya.
"Biarkan mereka tinggal. Gadis itu sangat beruntung. Meski hidupnya miskin seperti itu, kita tidak bisa melakukan apapun. Apalagi kalau Hua Tianzhi datang. Dia sangat menyayangi putrinya dari apapun."
"Ayah, Ibu. Aku pergi dulu, yah. Kurasa aku akan mendapatkan banyak uang. Karena gempa dan ledakan besar yang baru saja terjadi, mungkin ada yang membutuhkan pertolonganku."
"Kamu pergilah, Nak. Lebih baik kamu mencari banyak uang, untuk mengangkat derajat keluarga kita. Kau lihatlah Lianhua yang malang itu, akhirnya punya teman lelaki lagi. Dan semuanya kaya raya."
__ADS_1
"Kau tenang saja, Ibu. Aku tidak akan kalah dari gadis itu. Lagipula aku sudah bekerja keras dan tidak akan terganggu olehnya."
Hidup di desa membuat warga bekerja setiap harinya. Ada berbagai profesi, seperti bertani dan beternak. Ada juga yang memetik atau menanam tanaman obat untuk keluarga Hua. Namun akhir-akhir ini keluarga Hua tidak seperti dulu lagi.
"Wah, ini sudah sangat rapuh. Maafkan aku karena tidak punya tempat tinggal yang layak. Aku akan memperbaikinya nanti. Atau kita makan dulu, bagaimana? Mungkin di dalam masih ada beras dan beberapa yang bisa kita makan."
Lianhua mempersilahkan Feng Huang untuk masuk ke dalam rumah. Sejak ditinggalkan beberapa hari lalu, tidak ada yang berubah. Hanya daun kering berserakan di halaman.
"Rumahmu sangat sederhana sekali. Mungkin kita harus pindah ke rumah yang lebih besar sedikit. Tapi untuk saat ini, ini saja sudah cukup."
Di dalam rumah, tercium aroma rempah-rempah yang sudah dikeringkan. Beberapa bahan obat-obatan yang siap digunakan. Ada juga beberapa benda berharga seperti sebuah pedang yang indah.
Huo Feng Huang mengambil pedang yang indah itu dan menghunusnya. Ia merasakan aluran energi yang dalam. Seperti ada aliran listrik yang menyatu dalam pedang yang indah.
"Ini pedang cocok untuk senjata pertahanan. Meski bentuknya kecil tapi sangat indah." Setelah melihat kualitas pedang itu, ia membiarkan dirinya beristirahat sejenak. Menunggu makanan yang sedang dimasak datang.
Di dapur yang letaknya berada di belakang, Lianhua masih memiliki beras dari beberapa hari lalu. Ada juga beberapa bahan kering yang bisa dimasak. Seperti jamur dan sayuran yang telah dikeringkan dengan herbal. Hanya dengan merebusnya, akan menjadi segar kembali. Selain itu, ada beberapa tanaman yang tumbuh di belakang rumah. Mulai dari tanaman obat sampai sayuran segar.
"Aahhh ... perasaan seperti ini yang selalu kurindukan. Hanya saja tidak bersama dengan ibu." Gadis itu memasak sambil melamun. Sesekali ia menatap kosong ke arah langit yang hitam.
Asap hitam di langit akibat ledakan yang menghancurkan gunung. Beberapa kali petir menyambar dan efek ledakan menimbulkan gempa yang meluas. Sehingga beberapa barang di rumah itu jatuh ke tanah.
__ADS_1
"Ibu ... ibu ... aku merindukanmu. Aku ingin kamu menceritakan semua tentangku. Andaikan aku tidak lupa semuanya, mungkin kamu tidak akan hilang."
***