
"Ternyata kau hebat juga, mampu menghindari seranganku. Tapi selanjutnya, kau akan merasakan penderitaannya." Siluman ular hijau kembali menyerang dengan kipasnya. Kali ini ia gunakan kipas itu untuk membuat gelombang kejut yang kuat.
Bukan lagi jarum yang dibentuk dari gas beracun. Kali ini racun itu memadat dan membentuk senjata yang lebih hebat dari sekedar kipas. Beberapa tombak yang banyak dan dikendalikan secara bersamaan.
"Kali ini tidak ada ampun lagi. Sebelum khasiat obatnya habis, kau sudah tidak akan selamat. Rasakan!"
Tombak-tombak itu melesat dengan cepat ke arah Huo Feng Huang. Sementara itu, Feng Huang menciptakan pelindung api agar tidak terkena tombak beracun. Dan ia berpikir, kemungkinan racun itu bisa dibakar dengan api. Maka ia pun mencoba keberuntungannya.
"Tidak tahu jika belum dicoba. Tapi jika tidak, kita tidak akan tahu. Hyaaaa!" Api besar keluar dari kedua tangannya. Lalu sebagian dibentuk menjadi perisai yang kuat."
"Sebenarnya kau hebat juga. Tapi masih belum!" Siluman ular hijau memperkuat serangannya. Meski sebagian tombaknya hancur setelah mengenai pelindung api yang dipadatkan oleh Feng Huang.
Serangan demi serangan dilancarkan oleh keduanya. Pertarungan jarak jauh tidak menimbulkan banyak dampak berarti. Feng Huang tidak bisa bergerak cepat di tempat itu. Hanya mengandalkan kekuatannya yang lain. Mengeluarkan energi qi saja sudah menguras tenaganya. Nafas tersengal dan sakit di bagian dada.
"Mungkin kau punya elemen api dan mampu memadatkannya. Tapi apa kau tahu, kabut racun ini sudah ada lebih dari dua ribu tahun. Sampai hari ini, tidak ada yang mampu bertahan kecuali kami berdua."
Mu Baoyan tersenyum senang karena mendapatkan lawan yang mampu bertahan hingga tahap ini. Namun juga merasa kecewa karena lawannya dianggap sudah tidak bisa bertarung lagi. Ia memendam kekecewaan dengan menutup mata sambil mengeluarkan serangan terakhirnya.
Tidak disangka, Feng Huang mengambil satu pil obat yang diberi Hua Tianzhi. Tentu saja ia memiliki banyak di botolnya. Setelah mengkonsumsi obat, ia kembali normal dan menciptakan pelindung api kembali. Namun tidak semua ia padatkan. Sebagian ia biarkan berkobar di depan. Jika ia padatkan apinya, maka hanya akan menangkis serangan, tidak membakarnya.
__ADS_1
"Dasar ceroboh!" bentak Xixi Siang. Ia langsung menarik Mu Baoyan karena hampir terkena api yang sangat ganas dari Feng Huang. "Itu adalah api dewa Feniks! Mau mati, kau!"
"Apa? Sialan! Bagaimana dia punya itu?" Mu Baoyan sangat terkejut ketika mengetahui jenis api apa yang digunakan oleh Feng Huang. Ia mundur karena takut akan kedahsyatan api jenis itu.
"Kita sebelumnya meremehkan lawan karena tidak tahu siapa dia. Tapi sepertinya kita harus lebih berhati-hati," saran Xixi Siang. Ia sangat peka dengan kekuatan Feng Huang meski tidak dapat melihat.
Xixi Siang menggunakan taring beracunnya untuk menyerang Feng Huang. Dan seperti yang ia duga, senjatanya langsung lenyap karena api dewa Feniks. Ia terus menggunakan lagi namun masih mengalami hal yang sama.
Sementara itu, Feng Huang juga memiliki masalahnya sendiri. Ia tidak bisa terus-terusan menggunakan apinya disaat seperti ini. Ia harus bergegas menuju ke pusat. Agar bisa menemukan inti dari gas beracun.
Tapi Feng Huang menyadari sesuatu saat melakukan pembakaran. Yaitu apinya malah semakin besar karena adanya gas beracun itu. Sebelumnya ia tidak bisa menggunakan api sebesar sekarang. Hanya saja ia menyadari, meski kekuatannya terkuras karena efek racun, ternyata racun itu bisa menjadi bahan bakar yang begitu sempurna baginya.
Jika saja ia bisa menggunakan gas beracun kapan saja, ia bisa saja membakar alam langit dengan kekuatannya. Namun ia masih belum mengerti, bagaimana cara membakar alam langit yang dijaga prajurit dan dewa perang saat ini. Apalagi mereka memiliki kekuatan yang besar.
"Mungkin kita bisa menyerang dari dua arah. Tapi apinya cukup berbahaya jika mengenai kita. Baiklah ... kau harus berhati-hati," pungkas Xixi Siang.
Keduanya menjalankan rencana untuk menghadapi Feng Huang. Sementara Feng Huang sendiri masih berpikir untuk tidak mengeluarkan banyak tenaga untuk menghadapi kedua siluman ular. Tidak bisa tergantung terus pada obatnya. Jika ia terus mengkonsumsi obat dalam waktu dekat, yang ada efek sampingnya akan membuatnya tidak berdaya dan dapat mengakibatkan cedera bahkan kematian.
'Harus secepatnya mengalahkan mereka. Kelihatannya mereka akan menyerang dari kedua sisi. Baiklah, ini kesempatanku.'
__ADS_1
Setelah mengidentifikasi gerakan kedua siluman, Feng Huang juga merencanakan sesuatu. Mengeluarkan api besar dan dengan cepat memadatkan api dengan bentuk sekop besar. Ia memeriksa keadaan tanah yang dipijaknya. Ternyata itu termasuk pasir yang dengan mudah bisa digali.
Melihat api yang besar, menghalangi pandangan siluman ular hijau. Sementara siluman ular putih tidak terpengaruh karena sejak awal ia tidak bisa melihat. Hanya merasakannya melalui getaran suara. Setelah tahu kalau Feng Huang menggali tanah, ia tidak menyerang ke arah yang sama dengan Mu Baoyan.
"Ke arah bawah! Di bawah tanah!" teriak Xixi Siang dengan keras. Ia bahkan hampir berhasil mengenai Feng Huang jika terlambat membuat perisai.
"Aku tidak tahu siluman ular putih itu bisa melihatku di dalam tanah. Sialan! Bagaimana bisa?" Karena tidak berhasil mengelabuhi, Feng Huang kembali ke atas dan kembali berpikir.
Sebelum berpikir, terlebih dahulu serangan mengancam dari Mu Baoyan. Dengan tombak-tombak yang besar dari arah depan. Sementara dari belakang, serangan cakar beracun yang memanjang.
Karena sulit menghindar, Feng Huang kembali membuat perisai dari api. Menahan serangan senjata padat kedua siluman ular. Ia juga membakar senjata-senjata itu dengan panas api Feniks. Tapi mereka masih memiliki senjata yang jumlahnya tidak terbatas.
"Ini adalah wilayah teritorial kami. Jadi jangan salahkan kami kalau kau akan kalah. Yang ada kau kehabisan tenaga dan kami memiliki kekuatan melimpah di sini. Huahaha!" tawa Mu Baoyan meremehkan. Ia sangat yakin akan kemenangan. Karena menyadari kekuatan lawan melemah.
Begitu juga dengan Xixi Siang yang merasa kekuatan Feng Huang tidak sekuat sebelumnya. Bahkan perisai apinya bisa ditembus walau sedikit oleh senjata mereka. Ini menunjukan kalau kekuatan Feng Huang sudah pada batasnya.
"Hah-hah-hah ...." Nafas Feng Huang sudah ngos-ngosan. Dan sudah lelah bertarung. Untuk menghemat kekuatannya, ia bahkan sengaja melemahkan pertahanan. Membuat perisainya ditembus oleh mereka. Tapi waktu yang sedikit itu, harus ia gunakan dengan cermat.
Lawannya memiliki energi yang tidak akan habis di tempat beracun itu. Sementara energinya sangat terbatas karena harus mengkonsumsi obat untuk menetralisir racun yang ia hisap. Jika saja ia berada di tempat bebas racun, mungkin bisa dengan mudah melawan kedua siluman ular beracun.
__ADS_1
"Pertarungan ini harus cepat selesai. Kalau tidak, bisa mati di sini dan tidak tahu, masih bisa bereinkarnasi atau tidak." Feng Huang menahan nafas sejenak lalu membakar udara agar racunnya hilang. Namun saat api padam, racun itu kembali menyebar ke tempat yang sebelumnya telah kehilangan daya racun.
***