
Ada rasa kesal di hari wanita yang tidak bisa ikut Lianhua. Ia pun menarik tangan gadis yang sudah baik padanya. Berharap akan diberi sesuatu yang ia inginkan. Karena ada hubungannya dengan menteri perdagangan yang pelit, wanita itu berniat memanfaatkan gadis yang baik itu.
"Aku akan mengikutimu ke manapun pergi. Setelah urusan Nona Lianhua selesai, saya akan mengajak nona ke rumahku."
"Maaf, Bu. Aku tidak bisa ke rumah Bibi hari ini. Aku harus mengobati orang nanti. Lebih baik berikan obat ini pada anakmu, segera." Lianhua tidak ingin dilihat orang ketika ia makan lagi. Lagipula ia tidak ingin bersama orang yang tidak dikenal itu.
"Aku tidak bisa memasak obat ini, Nona. Lebih baik Nona Lianhua yang memasak ini untuk anakku. Tolonglah wanita tua yang miskin ini."
"Ini hanya seperti merebus air saja. Hanya ditambah obat ini. Kenapa tidak bisa? Nanti aku akan datang ke rumahmu kalau urusanku sudah selesai." Karena tidak ingin urusannya diganggu, Lianhua terpaksa berbohong. Bahkan rumah wanita itu pun tidak tahu. Bagaimana caranya pergi ke rumahnya?
"Benarkah? Kalau begitu, baiklah ... aku akan menunggumu di rumahku. Aku akan pulang sekarang." Mendengar janji yang diucapkan Lianhua, wanita itu terlihat kegirangan dan segera pergi.
Setelah kepergian wanita paruh baya itu, Lianhua merasa lega. Pemilik kedai juga sudah memanggil kereta untuk mengantar perjalanan pulang Lianhua. Pria itu mendekati gadis itu dengan sikap ramanya.
"Nona, kereta sudah siap. Nona bisa langsung naik kereta." Pemilik kedai mempersilakan Lianhua untuk naik kereta kuda yang dipanggilnya. Ia juga sudah memastikan makanannya telah dimasukkan semua.
"Terima kasih, Paman. Kalau begitu, aku pergi sekarang." Tanpa banyak bicara lagi, Lianhua terburu-buru masuk ke dalam kereta kuda. Ia harus menghabiskan makanan di dalam kereta saja.
Lianhua naik tangga yang sudah disiapkan oleh pemiliknya. Lalu segeralah berangkat ke tempat yang ditunjukan oleh Lianhua yang duduk di dalam kereta.
"Kita akan ke mana, Nona?" tanya kusir kereta kuda. Ia tidak tahu nona dari mana Lianhua. Memakai pakaian yang bagus tapi berani berjalan sendirian. Kalaupun memakai cadar, tetap saja bisa mendatangkan bahaya. Lianhua juga terlihat masih sangat muda. Di mana gadis seusianya biasanya bermain dengan teman-temannya.
__ADS_1
"Jalan ke mana saja, Tuan. Aku tidak begitu tahu ibukota ini. Hari ini mungkin jalan-jalan saja." Lianhua menjawab dengan santai.
"Jadi nona bukan berasal dari ibukota? Sayang sekali, Nona. Sebaiknya gadis sepertimu jangan jalan sendirian di ibukota. Banyak orang jahat dan bahkan ada siluman yang sering bikin onar."
"Siluman? Ku pikir siluman itu hanyalah mitos saja. Kau jangan menakutiku. Aku tidak percaya ada siluman di ibukota. Kata ibuku, ibukota adalah kota yang paling aman. Karena dekat dengan istana negara.
Pria itu hanya menggeleng pelan. Ia tidak bermaksud menakuti seorang gadis yang naif seperti nona di belakangnya. Bahkan ia tidak bisa mengatakan kebenarannya pada orang yang tidak dipercaya. Meskipun Lianhua sendiri sudah terbiasa dengan kehadiran siluman.
Keberadaan siluman bagi Lianhua hanya seperti melihat orang biasa. Tanpa keterampilan khusus, matanya langsung bisa membedakan siluman dengan manusia. Hanya saja ia sangat lapar kali ini. Sehingga ia mulai menikmati makanan yang di dalam kereta.
"Bagaimana lagi kalau Nona tidak percaya? Lebih baik ku antarkan pulang saja. Katakan di mana rumahmu, Nona. Saya tidak mau bertanggung jawab jika terjadi sesuatu denganmu."
"Nona, aku akan mengantar ke rumah saja. Di mana Nona tinggalnya?" Pria itu bersikeras untuk mengantar Lianhua. Meskipun siluman tidak datang setiap hari, ia takut Lianhua akan menjadi target mereka.
Lianhua merasakan ada aura siluman mendekat. Itu bukan berasal dari aura milik bawahan Meighui Yinxing. Maka ia hanya berasumsi, siluman itu adalah siluman yang dikatakan oleh pria pengemudi kereta. Kebetulan arah kedatangan siluman adalah kereta itu.
"Sepertinya kita mendapatkan mangsa baru hari ini. Keheheh ... aku bisa melihat seorang gadis rakus sedang makan di kereta itu." Seorang siluman wanita yang dapat melihat tembus pandang. Ia siluman yang datang bersama rekannya.
"Iyakah? Kalau begitu, kita ke sana saja. Sebelum pemburu siluman sialan itu datang, kita harus membereskan dengan cepat." Seorang pria yang juga siluman yang mencari gadis muda untuk dijadikan tumbal. Ia akan menghisap energi kehidupan gadis itu sampai kering.
Berbeda dengan yang dilakukan oleh Meighui Yinxing, mereka tidak akan segan menghisap energi kehidupan manusia hingga kering. Jika Meighui Yinxing, ia hanya menghisap energi kehidupan sedikit demi sedikit. Sehingga tidak membunuh kecuali terhadap orang jahat, ia tidak akan segan menghisap sampai habis.
__ADS_1
"Hei, pria tua! Kau hentikan keretamu. Kami ingin mengambil gadis di dalam keretamu. Kurasa kita sudah terlambat beberapa saat." Siluman wanita itu menghentikan laju kereta yang tidak mau berhenti.
"Ti-ti-dak ... ke-na-pa begini? Nona, jaga dirimu baik-baik. Aku sudah mengatakan sejak awal, ada siluman. Mungkin ini adalah akhir dari hidupmu." Pria itu pun ketakutan dan hendak meninggalkan keretanya.
"Apakah aku memperbolehkan kamu lari? Pak Tua, sebaiknya kau terima nasibmu saja. Ini mungkin akan mengurangi dosamu di dunia. Hanya dengan kematian, di masa mendatang tidak memperbanyak dosa."
"A-ampun, Si-lu-man peng-hisap roh ..." lirih pria paruh baya itu karena ketakutan. Sekarang ia sudah tidak bisa lari karena ditahan oleh siluman penghisap roh itu.
"Kau adalah bagianku, Gadis manis. Apakah ada kata-kata terakhir untuk diucapkan? Aku akan menunggumu beberapa saat." Siluman wanita itu sudah berada di depan Lianhua.
Sementara Lianhua masih sibuk makan. Melihat siluman di depannya memiliki kultivasi sekitar tiga ratus tahun. Namun gadis itu tetap tak bergeming. Ia tidak merasa takut pada siluman lagi. Bahkan berani mengabaikan yang sudah ada di depannya.
Karena sikap Lianhua yang seperti itu, membuat siluman penghisap roh marah. Ia langsung mencengkram leher Lianhua dengan ekpresi wajahnya menakutkan. Dengan mengubah wajah cantik siluman menjadi wajah yang dipenuhi dengan aura mencekam.
"Bisakah kau lepaskan aku? Aku sangat lapar hari ini. Jangan sampai nafsu makanku hilang karena wajahmu yang jelek itu," ucap Lianhua menoleh ke samping. Ia masih tidak melakukan pergerakan pada siluman wanita.
"Beraninya kau berkata seperti itu padaku. Tidak ada rasa sopan sama sekali, heh? Kau sudah bosan hidup, bukan? Aku akan mengabulkan permintaanmu."
"Ahh, bukankah yang tidak sopan itu kalian? Kalau lapar, aku bisa belikan makanan di depan. Tapi jika kamu mau membunuhku, kau sudah akan melakukannya, bukan? Ku sarankan untuk berhati-hati," balas Lianhua dengan tenang.
***
__ADS_1