
"Untuk sementara, kita tinggal di sini. Aku sudah berjanji pada ibumu akan menjagamu. Dan soal ramalan langit–"
Huo Feng Huang ragu untuk mengatakannya. Karena bisa menjadi beban berat bagi Lianhua. Karena ramalan langit yang dikatakan Hua Tianzhi tidak tahu kebenarannya.
"Ramalan langit apa? Apa maksud perkataanmu?" tanya Lianhua. Entah itu ramalan langit atau apa, tentu tidak tahu menahu.
"Sepertinya belum saatnya kamu tahu. Tapi harus ku katakan padamu. Ibumu sudah tidak ada lagi. Kau harus tegar menjalani hidup ini." Hanya itu kata-kata yang bisa diucapkan Huo Feng Huang. Selebihnya ia tidak yakin akan mengatakannya.
Sebelumnya Hua Tianzhi memberikan gambaran tentang ramalan langit pada Huo Feng Huang. Juga asal-usulnya yang membuat mereka berdua mendapatkan hukuman langit. Juga rahasia Lianhua yang sebenarnya merupakan Dewi Bunga Lotus.
"Ini salahku karena waktu itu sangat lemah. Andaikan waktu bisa diputar kembali, aku yang akan menyelamatkan ibumu."
"Jadi ... ibu ... sekarang ... ada di mana?" Meski tidak bisa percaya, tetap saja membuat air mata menetes. Gadis itu pun tak kuasa menahan kesedihan. Tubuhnya ambruk ke lantai dan pikirannya kosong.
"Kau harus kuat menghadapi kenyataan. Jika kau meminta sesuatu yang mungkin bisa kulakukan, katakan saja."
"Aku ingin melihat ibu. Meski hanya mayatnya. Apakah kau bisa membawaku ke sana?" Ketegaran adalah senjata utama menghadapi masalah. Saat ini hanya itu yang bisa dilakukan Lianhua. Ia pun harus bisa melakukan yang terbaik saat ini.
"Baiklah ... kita akan berangkat nanti siang. Sebelumnya, kamu istirahat dulu di sini. Dengan kekuatanku saat ini, akan lebih cepat sampai ke sana."
Meskipun menunggu adalah hal yang sulit bagi Lianhua, tetapi ia percaya pada pria itu. Karena di tempat itu juga memiliki banyak rahasia yang belum diketahui. Harus yakin, orang yang menjadi ibunya itu harus kuat. Namun sudah tiga hari lamanya tidak bertemu dan khawatir para dewa akan datang juga.
Hati kecil ingin cepat-cepat siang. Agar bisa bertemu dengan ibunya segera mungkin. Namun itu juga mustahil karena walaupun cepat sampai, belum tentu langsung menemukannya.
__ADS_1
"Aku dengar kamu dan ibumu adalah tabib. Maka aku sudah siapkan beberapa barang untukmu. Semua ada di dalam tas itu. Kamu periksalah, apa ada yang kurang."
Meski Huo Feng Huang tahu Lianhua merupakan seorang Dewi, tetapi ia tidak akan memberitahukan itu. Semua karena keinginan Hua Tianzhi yang mempercayakan keselamatan putrinya. Tujuannya saat ini bukanlah menyelamatkan Hua Tianzhi. Melainkan menjauhkan masalah Lianhua dengan para penghuni langit.
Sebagai keturunan langsung dari seorang dewi, Lianhua memiliki kekuatan untuk menyembuhkan dan juga jiwa seorang dewi. Namun Hua Tianzhi sengaja memperangkap jiwa Lianhua sebagai manusia biasa. Dewa sekalipun tidak tahu jika dia adalah seorang dewi.
"Apakah sudah cukup segitu? Kalau masih ada yang kurang, aku akan menambahkannya. Kamu katakan saja padaku."
"Tidak. Ini lebih dari cukup. Kurasa kamu sangat tahu apa yang harus dilakukan. Ini berisi peralatan dan bahan-bahan yang berguna. Bagaimana kamu bisa tahu?"
"Ah, itu hanya kebetulan saja. Aku melihat isi tasmu saat mengantarmu ke kota ini. Dan juga temanmu yang penyakitan itu juga sudah tahu."
"Maksudmu, kamu yang membawaku ke kota ini? Dan, temanku itu, maksudnya Zhang Wushang? Kamu tahu semuanya tentangku? Tapi aku malah lupa semua. Aku mungkin lupa masa laluku."
"Apa yang kau katakan? Dendam apa yang harus aku ingat? Dan melupakan apa yang kamu maksudkan? Ah, ini bikin aku pusing." Lianhua memijat kepalanya sendiri sambil memejamkan mata.
Bagaimanapun ia juga sudah lupa semuanya. Entah terjadi apa di masa lalunya, yang harus dilupakan. Terbesit sebuah ingatan kecil tentang tiga perempuan yang membawanya ke bukit barusan. Memang mereka terlihat tidak senang melihatnya. Bahkan berpikir untuk membunuhnya.
Lain kali, tidak akan ada lagi saling membunuh satu sama lain. Karena adanya orang yang akan menjaganya. Walau harus mengandalkan diri sendiri untuk hal-hal yang lain.
Seperti yang dijanjikan Huo Feng Huang, saat siang hari mereka berangkat. Setelah berganti pakaian dan mengisi bekal, keduanya berangkat ke atas bukit kembali. Kali ini mereka melakukan perjalanan dengan cepat. Huo Feng Huang menggendong Lianhua di punggungnya.
"Apa kamu yakin, mau menggendongku? Apa kamu tidak merasa lelah?" tanya Lianhua khawatir.
__ADS_1
"Tidak apa. Setidaknya kita lebih cepat selesai. Bukankah kau sudah tahu, aku ini kuat karena seorang raja iblis." Dengan percaya diri, Huo Feng Huang mengatakan itu. Meski seorang raja iblis, ia belum sepenuhnya mendapatkan kembali seluruh kekuatannya. Sehingga sekarang termasuk lemah.
"Sekarang, kita berangkat untuk menolong ibumu. Semoga saja dia selamat dan sedang makan ayam atau ubi bakar di sana. Jadi aku bisa makan apa yang dimasak ibumu."
"Hahaha. Kamu bisa saja. Namamu Huo Feng Huang, bukan? Kamu mengatakannya saat itu." Lianhua merasa nyaman berada di gendongan pria yang dianggap sebagai raja iblis itu.
"Iya, namaku Huo Feng Huang. Dan mungkin saja aku memang raja iblis. Mungkin ingatanku telah menyebar di jiwa yang lainnya. Setelah kita menyelesaikan ini, maukah kamu menemaniku untuk mencari jiwaku yang lain?"
"Hah?" Hanya itu kata yang diucapkan Lianhua. Ia tidak tahu kalau jiwa bisa banyak di satu orang. "Jiwamu ada berapa, memang? Bukannya setiap orang hanya punya satu jiwa?"
"Tidak. Jiwaku maupun jiwamu hanya satu. Tapi kau tahu, Kaisar Langit bisa memperindahkan dewa dengan artefak langit? Dan artefak langit itu bisa membagi jiwa para dewa untuk disebar ke tiga alam."
Pria itu menggunakan ilmu meringankan tubuh atau qinggongnya untuk mencapai tempat yang jauh. Meski menggunakan banyak energi untuk melakukannya. Sesekali menjelaskan tentang kehidupan di langit yang masih ada di ingatannya.
Dengan antusias, Lianhua mendengarkan dan memperhatikan. Mereka melewati perumahan dengan berlari di atas genteng rumah. Dengan qinggong yang hampir sempurna, nyaris tidak ada suara saat kaki Huo Feng Huang menyentuh genteng.
Sesekali gadis itu melihat aktifitas orang-orang yang dilewati. Ada berbagai aktifitas yang terjadi di bawah. Melihatnya orang-orang yang kecil jika dilihat dari atap rumah.
Orang-orang yang melihat seorang pria mengendong seorang gadis, tidak menjadi rahasia umum lagi. Ada beberapa praktisi bela diri yang sering melakukan itu pada pasangannya. Seorang pendekar yang sedang dimabuk asmara pada seorang gadis. Sehingga untuk membuat sang gadis bahagia, maka dibawanya sang gadis melompat-lompat di atap rumah orang.
"Dasar pemuda zaman sekarang. Andaikan aku masih muda, pasti akan melakukan hal yang sama sepertinya." Seorang pria paruh baya melihat pemuda yang menggendong seorang perempuan. Ia membayangkan dirinya sendiri yang melakukan itu.
"Hei, Pak Tua. Ingat, kamu sudah tua bangka. Juga bukan praktisi bela diri. Jadi lupakan itu semua. Hanya akan membuatmu mimpi di siang bolong!" hardik seorang wanita.
__ADS_1
***