Lianhua Nushen

Lianhua Nushen
Tiga Gadis Perundung


__ADS_3

"Tidak bisakah kau diam? Anak nakal sepertimu, mana tahu susahnya jadi orang tua. Yang kamu tahu hanya bermain saja," geram Zhang Wubei.


Pria gemuk itu bahkan bisa membentak anaknya sendiri. Meski dalam keadaan marah sekalipun, sebelumnya ia tidak seperti sekarang. Hanya saja masalahnya saat ini bukanlah masalah yang bisa diselesaikan dengan mudah.


"Apa yang terjadi denganmu, Ayah? Tidak biasanya kamu berkata seperti itu padaku. Walau sering melarangku bermain dengan orang lain, tapi kamu tidak seperti sekarang."


Zhang Wushang menyadari perubahan sikap orang tuanya. Bahkan tidak bisa mengenali sang ayah dengan sikapnya yang lebih buruk dari sebelumnya. Memang benar, hidupnya selalu dikekang oleh kedua orang tuanya. Untuk tidak bermain-main sejak kecil. Namun dengan perkataan lemah lembut.


Melihat matanya saja membuat takut. Apalagi jika harus menghadapi orang yang dalam puncak kemarahan. Bagaikan gunung berapi yang mengandung banyak lava. Karena kelebihan muatan sehingga membuatnya hampir meletus.


"Pokoknya kamu, tidak boleh bermain-main lagi dengan gadis itu. Masuk ke kamar sekarang juga!" perintah Zhang Wubei tegas, menunjuk ke kamar Wushang.


"Ayah jahat! Aku tidak suka dengan peraturan yang kau buat selama ini. Gara-gara aturan yang kau limpahkan padaku, aku tidak punya teman sampai sekarang."


"Sudahlah, Tuan. Kita jangan lagi mengekang anak kita. Wushang sudah bukan anak kecil lagi. Dan kamu, Wushang, cepat minta maaf pada ayahmu. Dan renungkan kesalahanmu di kamar," tutur Zhang Ziwei lemah lembut.


"Baiklah, Ibu. Tapi pastikan kalau Lianhua baik-baik saja. Jangan sakiti dia," pinta Zhang Wushang sebelum mengalah karene kelembutan wanita yang melahirkannya.


"Kau juga, Tuan. Jangan kamu marahin anakmu lagi. Gadis itu juga tidak salah bermain dengan anak kita. Lagian kan, anak kita sudah saatnya menikah. Jadi harus mengenal seorang gadis, bukan?"


Diusianya Zhang Wushang memang sudah saatnya menikah. Menikah muda lebih baik karena untuk mendapatkan keturunan. Bagi seorang lelaki, menikah di usia delapan belas tahun adalah yang paling ideal. Sementara untuk seorang gadis, usia enam belas tahun pun sudah bisa menikah. Meski pemikiran mereka masih kekanakan. Tapi dengan begitu, mereka akan lebih cepat dewasa.


Orang tua yang bertugas menjodohkan anak-anak mereka dengan keluarga yang sederajat. Jika anak seorang bangsawan menikah, maka calon besan juga harus sederajat atau paling tidak, dengan status yang sederajat.

__ADS_1


***


Setelah meninggalkan kediaman Zhang, Lianhua berlari entah ke mana. Tanpa ada tujuan yang jelas, ia mencari jalan ke bukit. Namun ia tidak mengingat apapun saat ini. Untuk menuju ke bukit, ia tidak tahu jalan. Sehingga membuatnya tersesat, entah ke arah mana.


"Eh, itu Lianhua. Ke mana saja kamu? Ternyata masih hidup juga, yah." Seorang gadis berusia lebih tua dari Lianhua menyapa dengan malas. Namun juga kaget karena melihat yang seharusnya tidak ada.


"Ohh, itu adik sepupumu, bukan? Heh, ternyata dia tidak mati, Hua Mei Mei. Padahal kita sudah menyiksanya dan meninggalkannya di hutan." Gadis lain menyahut dengan tatapan sinis.


"Aku malas melihatnya, Shaosang. Mungkin dia punya lima nyawa, mungkin. Kan namanya juga Dewi Bunga Lotus, hahaha. Lagipula, lihat di dahinya. Sok-sokan digambar bunga lotus bintang, lagi."


Karena di dahi Lianhua memang ada simbol bunga lotus dengan lima kelopak. Membuat perempuan lain meledeknya. Bahkan banyak pemuda yang memang tidak menyukainya. Meski Lianhua termasuk gadis yang paling cantik di kota Chunfeng.


"Mungkin dia mau pamer, kali. Oh, atau itu tanda kalau dia seorang dewi yang turun dari langit. Jadi dia menganggap itu sebagai kekuatan Dewi Bunga Lotus?" Qionglin, teman Hua Mei Mei turut memberi pendapatnya. Mengatakan tanpa menampilkan ekspresinya.


"Kau juga sama, Shaosang. Lihatlah kulitmu itu. Penuh dengan aura kegosongan, hahaha," ledek Hua Mei Mei sambil melirik ke arah Shaoshang.


"Huuuhh ... kamu memang teman macam apa, Mei Mei? Mau aku hajar, hah?" ancam Shaoshang seraya mengepalkan tinju.


Ketiga gadis itu memperhatikan Lianhua yang tampak kebingungan. Membuat ketiganya juga bingung, apa yang terjadi pada gadis enam belas tahun itu? Tidak biasanya bertingkah seperti mencari sesuatu. Juga melihat pakaiannya yang tidak seperti biasanya.


Dengan pakaian yang dikenakan oleh Lianhua sekarang, terlihat lebih mahal dari pakaiannya sebelumnya. Biasanya hanya mengenakan pakaian yang dijahit sendiri oleh Hua Tianzhi. Karena dianggap tidak mampu membeli pakaian yang layak.


Lianhua memutar badannya dan melihat ke atas. Ia berpikir kalau kemarin ia ke bukit, berarti harus mencari tempat yang tinggi. Dan tempat yang tinggi, akan kelihatan saat melihat ke arah atas. Dan benar saja, gadis itu menampakan senyumannya. Karena hanya ada satu bukit terdekat. Sudah pasti itu bukit yang dimaksud. Ia hanya perlu melangkah seperti yang kemarin.

__ADS_1


Sayangnya langkah Lianhua harus terhenti karena tiga orang gadis yang siap membuli dan menyudutkan Lianhua. Tentu saja mereka bertiga yang telah mencelakai hingga jatuh ke jurang. Bukan hanya itu, mereka juga sering menghancurkan setiap barang berharga yang dimiliki Lianhua.


"Ooyy, mau ke mana, ooyy? Mau pergi setelah melihat kami? Apa kamu sudah lupa dengan pelajaran yang kami berikan sebelumnya?" Hua Mei Mei memprovokasi Lianhua dengan kata-katanya.


"Apa yang kalian lakukan? Kenapa menghalangi jalanku? Apa kita saling mengenal?" Jelas saja, Lianhua tidak kenal dengan ketiga gadis pengganggu.


"Iyahaha! Apa kalian mendengar? Oooh, dia sok-sokan lupa ingatan atau malah lupa namanya sendiri?" ujar Shaoshang, memperkeruh suasana.


"Mungkin dia sudah bosan hidup dalam kemiskinan. Jadi dia bekerja sebagai wanita panggilan." Qinglin pun turut memberikan kata-kata tidak mengenakan. Dengan wajah tanpa ekspresi apapun.


"Sudah cukup, Qionglin. Mungkin dia takut dengan muka datarmu. Mungkin dengan wajah cantikku ini, dia mau mengerti semuanya. Biar dia ingat siapa kita. Siapa kita?" tanya Shaoshang dengan keras.


Tingkah ketiga perundung yang datang, malah membuat Lianhua merasa senang. Karena di sekitarnya masih ada yang tahu namanya. Ia menyangka kalau ketiga gadis itu adalah temannya. Meski wajah mereka terlihat kurang meyakinkan.


"Apakah kalian temanku? Maafkan aku karena melupakan kalian bertiga. Tapi aku yakin, kalian orang baik." Lianhua bahkan tersenyum lembut kepada tiga perempuan di depannya.


"Teman? Benar sekali, Lianhua. Kami ini adalah teman kamu. Tapi saat ini kami tidak mau main-main denganmu. Cukup kepura-puraanmu itu. Dasar sampah!" hina Shaoshang pada Lianhua. Karena ia kesal dengan senyuman yang ditunjukkan padanya.


"Kasar sekali kata-katamu, hey. Ayolah, Shaoshang. Apa ada kata-kata lain? Dia hanya butuh perhatian saja. Mungkin lebih baik kita tenggelamkan senyum palsunya itu." Qionglin malah memperkeruh suasana.


"Kalian berdua memang hebat. Ini baru teman-teman busukku. Ayolah kalian berdua, maukah kalian memaafkan sepupuku yang cantik ini? Lianhua, ayo kita ke atas bukit! Nanti kami akan perlakukan kamu seperti waktu itu."


"Benarkah? Kalian mau mengantarku ke bukit? Kalau begitu, ayo kita ke sana." Raut wajah Lianhua lebih cerah. Ia sangat senang ketika ada yang mau menolongnya mencari jalan ke atas bukit.

__ADS_1


***


__ADS_2