Lianhua Nushen

Lianhua Nushen
Linang Air Mata


__ADS_3

"Seharusnya tidak ada apa-apa. Aku mohon pamit dahulu!" Lianhua buru-buru ingin meninggalkan rumah Li Ning. Rasa khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


"Tunggu! Kamu baru saja kembali dari bukit. Mungkin di sana sedang ada bahaya. Kau tentu tahu apa yang ku maksudkan, bukan?"


Li Ning sudah merasa curiga karena Lianhua hanya membawa anak yang disembuhkan mereka tanpa Huo Feng Huang kembali bersama. Akan sangat berbahaya jika seorang gadis sendirian mendatangi marabahaya yang tidak pernah dihadapi sebelumnya.


Bisa kembali ke rumah saja sudah sangat beruntung. Li Ning yakin Lianhua menyembunyikan sesuatu darinya. Namun bahaya apa, ia hanya berharap hanya perasaannya saja. Ia berharap perasaan itu salah.


"Di bukit tidak ada apa-apanya. Feng Huang telah menyerap yang ada di anak itu. Sehingga ia sedang dalam keadaan lemah. Aku kembali untuk merawatnya. Sungguh, di sana tidak ada apapun," ucap Lianhua bohong.


Tidak mungkin Lianhua mengatakan hal sebenarnya pada Li Ning dan pria tua yang terlihat khawatir. Ia juga merasakan ada beberapa orang yang naik ke bukit sebelum sampai ke rumah itu. Ia harus tiba lebih dahulu untuk menghalangi warga yang sedang dalam perjalanan ke bukit.


"Kalau begitu hati-hati. Kakak Dong sedang bersama petualang. Aku merasakan akan sesuatu yang tidak biasa." Li Ning mengingatkan Lianhua. Namun tidak untuk rasa khawatir yang mendera.


Lianhua segera meninggalkan rumah Li Ning. Ia khawatir karena para dewa bisa menyakiti semua orang yang tidak bersalah. Dengan mengumpulkan tekad dan keberanian melawan para dewa yang sedang bertarung dengan Huo Feng Huang.


"Seharusnya aku bisa menggunakan ini agar cepatsampai ke sana." Dengan sisa kekuatan yang dimiliki, Lianhua melompati dahan pohon. Ia melemparkan beberapa dedaunan. Lalu ia gunakan sebagai pijakan di udara.


Beberapa orang bersenjata sudah pasti itu Dong. Bersama dengan para petualang dan warga, mereka pasti hendak menuju ke tempat pertarungan Huo Feng Huang. Lianhua bergerak cepat mendahului mereka. Untuk mencegah para manusia biasa terlibat pertarungan dengan para dewa yang kejam.

__ADS_1


Setelah mendahului mereka, Lianhua turun dan bersiap menyambut para warga. Jarak ke bukit memang jauh. Namun cahaya menyilaukan dan api dari atas bukit terlihat dengan jelas. Juga terdengar suara petir dari langit. Serta suara pertarungan yang terdengar jelas oleh Lianhua.


"Heh ... aku akan membuat sesuatu yang belum ku coba. Semoga saja aku bisa mengendalikannya." Lianhua menyentuh tanah di bawahnya. Lalu keluar sesosok pria yang mirip dengan Huo Feng Huang. Ia sengaja membuat wujud Huo Feng Huang untuk menghentikan Dong dan yang lainnya.


Dong bersama para petualang dan warga bersenjata, sampai di tempat Lianhua berada. Di sana gadis itu tengah duduk di depan api unggun. Sesosok pria tergeletak di tanah dengan beralaskan dedaunan. Melihat Lianhua dan sesosok yang mirip dengan Huo Feng Huang, mereka berhenti.


"Nona Hua, apa yang terjadi padamu? Dan pria ini, bagaimana bisa tergeletak di tanah?" tanya Dong. Dengan samar-samar ia melihat sosok mirip Huo Feng Huang.


Hanya dari cahaya obor yang mereka bawa dan api unggun yang dibuat Lianhua, mereka percaya itu adalah Huo Feng Huang yang asli. Sehingga mereka bisa dengan yakin, tidak ada bahaya yang mengintai.


"Kakak Dong. Dan semuanya, aku sedang beristirahat sebentar. Tadi aku sudah mengantar anak itu ke rumah tabib Li. Aku kembali untuk merawat Feng Huang."


Lianhua menjawab pertanyaan Dong dengan gugup. Ia sedang buru-buru ingin membuat para warga kembali ke rumah masing-masing. Tidak ingin membuat mereka menyetor nyawa hanya karena berhadapan dengan para dewa.


"Lebih baik kalian tidak melanjutkan perjalanan ke sana. Kembalilah ke desa dan kita akan memeriksa besok siang. Kakak Dong, bawa semua orang kembali ke desa sekarang."


"Tidak apa-apa, Nona Hua. Kami penasaran dengan apa yang terjadi. Tidak akan terjadi apapun karena kita semua sudah cukup kuat," sahut salah seorang pria bersenjata tombak.


"Benar, Nona Hua. Kami akan segera ke sana. Dan beberapa orang dari kami sudah cukup mengantar kalian kembali ke desa," imbuh warga lainnya.

__ADS_1


Lianhua tidak tahu akan sulit untuk membuat para warga kembali. Namun ia harus bergerak cepat. Sebelum semuanya terlambat, ia tidak ingin terjadi apapun pada Huo Feng Huang yang sedang bertarung di atas sana. Maka ia harus memikirkan cara lain untuk membuat para warga mengerti. Namun tidak ada waktu lagi.


"Maafkan aku karena lancang. Tapi ini demi kebaikan kalian semua. Aku terpaksa melakukan ini semua." Lianhua mengeluarkan botol kecil. Lalu membuangnya ke api unggun.


Botol kecil itu terbakar dan mengeluarkan asap yang menyebar ke segala arah. Terhirup oleh semua orang yang berada di sana. Lianhua terpaksa membuat mereka tak sadarkan diri untuk sementara. Setelah itu, ia mengatur sebuah formasi dengan tanah di sekitarnya yang menjulang ke atas.


Setelah yakin dengan keamanan orang-orang itu, Lianhua segera meninggalkan tempat itu. Dengan cara yang sama, ia melemparkan dedaunan sebagai pijakannya untuk berlari di udara. Ia semakin dekat dengan medan pertarungan.


"Kuharap kau baik-baik saja sampai aku sampai, Feng Huang. Ah, rasanya begitu panas sampai ke sini. Padahal apinya jauh." Lianhua mencoba mendinginkan diri dengan air dan angin. Namun ia masih merasa panas dan gerah.


Semakin dekat dengan api, terasa semakin panas hingga ke tulang. Begitu Lianhua mencoba mendekati area pertarungan, ia melihat banyak mayat dewa berjatuhan. Ada yang membuat Lianhua terkejut dengan kematian mereka yang tragis. Mereka semuanya terbakar sampai ke organ dan tulang.


Meskipun kondisi tubuh tidak terlihat gosong, tulang telah terbakar. Seluruh organ dalam mereka tidak terdeteksi oleh Lianhua. Yang menandakan bahwa organ dalam para dewa itu telah terbakar menjadi abu.


"Ke-kejam sekali." Lianhua memfokuskan pandangannya ke salah satu tubuh dewa yang terbakar. "Apakah ini api dari Feng Huang? Ini sangat mengerikan. Tapi bagaimana dia melakukannya?"


Semakin dekat Lianhua dan semakin banyak mayat para dewa dan abunya. Ada beberapa di antara mereka yang telah menjadi abu yang terbang terbawa angin. Namun bukan mereka yang dicari Lianhua. Melainkan mencari keberadaan Huo Feng Huang yang diharapkan selamat dan masih hidup.


"Se-se-ha-rusnya ... kau ti-dak kem-ba-li, Lianhua." Karena pertarungan itu, membuat Huo Feng Huang terlihat sangat lemah dan masih berusaha berjalan dengan tertatih. Tubuhnya mendapatkan banyak luka dan akhirnya terjatuh ke tanah.

__ADS_1


"Tidak! Feng Huang! Apa yang terjadi padamu?" Dengan cepat, Lianhua bergerak. Ia menangkap pria yang selalu menyelamatkan dirinya saat dalam bahaya. Rasa sakit di hatinya membuatnya meringis dan berlinang air mata.


***


__ADS_2