
"Apa kau tidak apa-apa? Kenapa kau membawaku pergi? Aku ingin menyelamatkan ibu." Lianhua tidak ingin meninggalkan ibunya. Namun tubuhnya lemah dan tidak bisa bergerak lagi.
Saat berada di gendongan Zhang Wushang, tidak ada rasa tenang sama sekali. Karena kondisi pemuda itu yang mengalami demam tinggi. Sebenarnya tubuhnya juga sangat lemah. Namun tidak ingin berhenti untuk menyelamatkan gadis pujaannya.
"Ber-hen-ti ... di mana ibu?" Lianhua sadar, sejak tadi tidak bersama Hua Tianzhi. Rasa khawatir ketika membayangkan nasib orang tuanya yang berhadapan dengan Jin Shi Shen.
"Kita akan per-gi dari si-ni." Zhang Wushang sebenarnya tidak sanggup lagi menggendong Lianhua. Sampai akhirnya terjatuh untuk kesekian kalinya.
"Sudah, Wushang. Aku sa-kit. Bisa-kah ber-hen-ti?" pinta Lianhua. Rasa sakit di badan tidak seberapa jika dibandingkan kehilangan ibunya. Meski ibunya terlihat kuat, tetap saja tidak bisa mengabaikannya disaat seperti ini.
Zhang Wushang tidak bisa bangkit kembali. Dengan pakaian basah kuyup, tubuh menggigil kedinginan dan demam tinggi. Pandangan gelap dan akhirnya tak sadarkan diri. Sudah cukup memaksakan diri lagi. Tubuhnya tidak kuat menampung semua beban yang dilimpahkan padanya.
"Wu-shang. Kamu tidak apa-apa? Maafkan aku yang menyusahkan kamu." Lianhua mendekati pemuda yang tak sadarkan diri itu. Terlihat begitu lemah dan badannya basah karena air hujan.
Giliran Lianhua yang menolongnya. Ia membawanya ke tempat yang aman, di bawah pohon rindang. Bukan saatnya untuk mengeluh dan bukan saatnya untuk menangis. Walau air mata menetes bagaikan hujan. Harus tegar menghadapi segala tantangan.
Lianhua membuka pakaian Zhang Wushang agar pakaian basahnya tidak mengakibatkan demam berkepanjangan. Setelahnya mencari sesuatu yang bisa menghangatkan tubuh. Pertama, ia menggosokkan telapak tangan mereka agar terasa hangat.
Gadis itu meninggalkan Zhang Wushang untuk mencari sesuatu yang bisa digunakan lagi. Seperti yang dilihatnya, tanaman jahe yang tumbuh di antara rerumputan. Meski hari sudah malam, ia bisa melihat daun jahe dan langsung menggali lubang dengan ranting pohon.
__ADS_1
Ranting basah terkena air hujan, tidak menyurutkannya untuk terus berusaha. Khawatir Zhang Wushang mengalami sakit yang lama dan menyebabkan kematian. Maka harus ditolong secepat mungkin sebelum itu terjadi.
"Sepertinya ini sudah cukup. Seharusnya di sini ada mata air juga. Agar bisa merebus jahe ini." Lianhua mencari-cari sesuatu yang kemungkinan berguna.
Karena perlengkapannya tertinggal semua waktu pergi ke ngarai, hanya menyisahkan belati kecil yang dijadikan kalung. Itu adalah alat paling bisa dibawa ke manapun. Ukuran yang kecil, membuatnya sulit untuk memotong dahan kayu.
Ranting basah dikumpulkan untuk membuat bivak. Dengan menutupi bagian atas dan samping kanan dan kiri pohon yang dijadikan tempat bermalam. Karena tidak mungkin kembali ke rumah dalam keadaan saat ini.
Selesai membuat bivak sementara, Lianhua melanjutkan dengan mengupas kulit dahan dengan belati kecilnya. Ia kupas dan membuat dahan itu menjadi lembaran tipis. Ia mulai membuat api dengan memanfaatkan dahan basah. Namun sudah dibuat lembaran tipis. Karena gesekan demi gesekan ranting dan belati, membuat percikan api hingga terciptalah api kecil.
"Syukurlah ... akhirnya bisa membuat api ini. Meski apinya masih kecil juga." Selanjutnya Lianhua menambahkan lembaran tipis dahan yang sudah dibuat sebelumnya. Juga meletakan dahan yang sedikit basah karena hujan. Pada akhirnya dengan usahanya, tercipta api unggun.
Api unggun sudah jadi dan ia meletakan dahan kering di samping api unggun agar kering. Jika sudah kering, barulah bisa digunakan sebagai bahan bakar nantinya. Di sana juga ada cekungan di pohon yang mengandung air. Tanpa lama-lama, gadis itu pun mengambil air dengan daun talas yang tersedia di sekitar.
"Apa kabar ibu di sana? Apalah dia bisa lari dari sana? Dan semoga saja dewa itu tidak datang ke sini. Aku tidak kuat berjalan. Oh Dewa, tolonglah hamba. Tapi kenapa aku berdoa pada dewa? Mereka jahat padaku. Tapi semoga saja ada dewa yang baik mau menolong ibuku."
Boleh khawatir tapi tidak boleh berhenti berharap. Itulah yang ada di benak Lianhua saat ini. Mungkin beberapa dewa itu jahat padanya. Namun ia percaya, tidak semua dewa seperti itu. Sama halnya dengan manusia, mereka juga ada yang baik dan juga ada yang jahat.
Seperti yang sudah ditakdirkan, Lianhua tersenyum lebar ketika menemukan keong hutan. Setidaknya cangkangnya bisa untuk merebus air. Dagingnya juga bisa dibakar dan dapat mengganjal perut yang lapar. Tentu harus dicuci dan dibersihkan terlebih dahulu.
__ADS_1
"Ah, kenapa langit begitu bermurah hati padaku? Keong ini tidak beruntung karena bertemu denganku. Meski hanya berapa ekor. Hemm, satu, dua, tiga, empat. Ada empat keong yang akan segera masuk perutku. Cangkangnya bisa untuk memasak air. Untung saja ada genangan air di batang kayu cekung ini."
Untuk sesaat, gadis itu melupakan ibunya yang tidak tahu nasibnya bagaimana. Juga dirinya yang bisa saja ditemukan para prajurit langit atau Jin Shi Shen. Setelah membersihkan keong dan mengeluarkannya dari cangkang, ia memasukan air untuk direbus dengan itu. Sementara daging keong ia tusuk dengan bilah ditambahkan irisan jahe.
Dengan bahan dan alat sederhana yang ditemukan di hutan, cukup bagi Lianhua untuk memberi pertolongan pertama pada Zhang Wushang. Butuh waktu untuk memberikan pertolongan secara darurat seperti saat ini. Beberapa kali api unggun harus ditambah ranting yang sudah mengering. Pakaian Zhang Wushang pun ia jemur di samping api unggun agar cepat kering.
"Ahh, akhirnya matang juga. Sepertinya ini enak dimakan." Lianhua melahap keong yang sudah matang. Meski sedikit, cukup untuk dirinya mengganjal perutnya yang lapar.
Irisan jahe yang dibakar pun ia makan bersama. Itu akan memberinya cukup energi dan rasa hangat. Ia juga menambahkan irisan jahe ke cangkang keong yang berisi air. Penataan tempat merebus juga harus diperhatikan, agar tidak tumpah.
Selesai merebus air dan jahe, Lianhua membawanya kepada Zhang Wushang. Pakaian yang ia kenakan lebih cepat kering karena ia selalu mengenakannya. Meski belum kering sepenuhnya, ia buka pakaian luarnya untuk menutupi pemuda itu.
"Untung masih ada pakaian dalam. Jadi tidak terlalu dingin. Semoga pakaiannya cepat kering, supaya besok pagi bisa dipakai lagi."
Pakaian bawah Zhang Wushang tidak dilepas oleh Lianhua. Karena itu bagian sensitif yang tidak bisa sembarangan dibuka. Meski masih basah, dengan meneekatkannya pada api unggun, berharap cepat kering.
Lianhua bernafas lega ketika selesai mengurus semuanya. Pakaian yang ia kenakan hanya menutupi dadanya, udara dingin menusuk sampai ke tulang. Namun ia berdalih, dengan api unggun di depannya, akan terasa lebih hangat.
Karena kelelahan, membuat gadis itu tak sadarkah diri di samping api unggun. Badannya membungkuk, memeluk dirinya sendiri. Hawa dingin malam membawanya ke alam tidur. Di saat itu juga, seorang pria menangkap dan memeluk gadis itu.
__ADS_1
"Jangan khawatir. Aku akan menjagamu malam ini. Bahkan waktu yang kita miliki cukup banyak. Harus kita lalui dengan tegar. Kuharap kau menjadi wanita tegar dan kuat, seperti ibumu yang mempertaruhkan nyawanya."
***