
"Bagaimana perasaan anda nyonya Lensi?" tanya dokter.
"Ah...ya kepala saya masih sedikit sakit. Mungkin saat jatuh dari jembatan semalam, kepala saya terbentur sesuatu." Jawab Lensi.
"Jembatan?" dokter keheranan. Karena menurut keterangan keluarga Lensi, Lensi terluka karena akibat mendapat kekerasan dari seseorang saat di kantor.
Namun tidak hanya dokter saja yang heran. Semua yang mendengarpun jadi bertanya-tanya termasuk Ibrahim.
"Hehehe dokter heran ya? semalam aku ikut kompetisi judi. Karena aku menang, pemilik klub tidak terima dan mengejarku karena ingin uang mereka kembali dan mengajakku bergabung di klub mereka. Tentu saja aku menolak. Tapi karena terdesak, aku sengaja menjatuhkan diri dari atas jembatan dan berakhir di rumah sakit ini," ucap Lensi sembari terkekeh.
Okta dan Arman saling berpandangan. Kini mereka mengerti, ingatan Lensi sedang berada di saat kejadian dirinya mengikuti kompetisi judi. Ibrahim juga berpendapat demikian. Aisyah dan Gofur tersenyum satu sama lain. Kini mereka tahu, menantunya itu benar-benar jujur ketika menceritakan hal itu saat mereka pertama kali bertemu.
"Dok. Bisa saya bicara sebentar?" tanya Ibrahim.
"Ya tuan." Jawab dokter.
Dokter kemudian mengajak Ibrahim untuk bicara di ruangannya.
"Kenapa nyonya menceritakan hal yang berbeda? bukankah kata anda dia dianianya di kantornya?" tanya dokter.
"Dia menceritakan hal yang dia alami sekitar 8,9 bulan yang lalu. Apa menurut anda dia sedang mengalami amnesia?" tanya Ibrahim
"Kalau memang seperti itu, berarti nyonya memang sedang mengalami kehilangan memori." Jawab dokter.
"Apa sangat berbahaya kalau saya memaksa dia untuk mengingat kenangan kami, atau mengakui dia sebagai istri? sebab saat kejadian itu, kami belum menikah," tanya Ibrahim.
"Tentu saja tidak boleh dipaksa tuan. Sebab kalau ingatannya dipaksa, kemungkinan besar nyonya tidak hanya akan kehilangan sebagian memorinya, tapi malah bisa kehilangan sepenuhnya." Jawaban dokter benar-benar membuat Ibrahim jadi dilema. Dia benar-benar bingung harus melakukan apa.
"Bantu dia mengingat pelan-pelan saja, agar dia tidak syok," sambung dokter.
"Saya mengerti. Terima kasih dok. Oh ya, kira-kira kapan istri saya bisa pulang ke rumah?" tanya Ibrahim.
"Tunggu sampai 3 hari lagi. Lukanya masih harus dirawat." Jawab dokter.
"Baiklah. Saya permisi dulu," ujar Ibrahim.
"Silahkan," ucap dokter.
__ADS_1
Ibrahim keluar dari ruangan dokter, dan kembali ke ruangan tempat Lensi dirawat.
Ceklek
Semua orang menoleh kearah Ibrahim, termasuk Lensi.
"Gila. Ganteng banget ini cowok. Kenapa jantung gue berdebar-debar ya saat lihat dia? gue nggak mungkin jatuh cinta pada pandangan pertama sama dia kan?" batin Lensi.
Ibrahim mendekat kearah Lensi yang membuat jantungnya bertambah berdebar-debar.
"Ah...gue suka wangi ini cowok. Tapi kenapa rasanya sangat familliar banget ya?" batin Lensi.
"A-Aku minta maaf atas kejadian tadi. Aku pikir kamu gadis yang aku cintai, tapi ternyata aku salah orang," ucap Ibrahim sembari tertunduk.
"Manis sekali sikapnya," batin Lensi. Namun dia segera mengendalikan diri dan memasang wajah datar.
"Tapi ucapan maaf anda nggak bisa ngembaliin ciuman pertama saya loh. Anda sudah mencuri ciuman pertama saya," ucap Lensi.
Ibrahim tersenyum tipis saat mendengar ucapan Lensi. Dia percaya ucapan istrinya itu, karena dia ingat dengan jelas saat mereka berciuman pertama kali. Masih sama-sama belajar dan kaku.
"Jadi saya mencuri ciuman pertama nona? kalau mencuri bukankah harus saya kembalikan?" tanya Ibrahim.
"Tentu saja dengan berciuman lagi. Jadi kan impas. Karena tadi aku yang menciummu, jadi sekarang gantian kamu yang menciumku." Jawab Ibrahim.
"Apa kepalamu juga ikut terbentur? bisa-bisanya modus sama gadis yang sedang sakit. Aku ini nggak bodoh. Enak aja mau ciuman lagi," ucapan Lensi membuat semua orang jadi menahan tawa. Sementara wajah Ibrahim jadi mendung.
"Eh? kenapa dia memasang ekspresi sedih begitu? kenapa hatiku jadi sakit melihatnya?" batin Lensi.
"Ta. Duit semalam aman kan?" tanya Lensi yang mengalihkan pembicaraan namun matanya masih melirik kearah Ibrahim. Tanpa sadar, dia tidak bisa mengalihkan tatapannya pada pria itu.
"A-Aman kok." Jawab Okta.
Lensi mengerutkan dahinya saat melihat tangan Okta bertautan dengan tangan Arman. Melihat arah pandang Lensi, Arman dan Okta jadi mengikuti arah pandang itu. Saat sadar, mereka langsung melepaskan tautan itu satu sama lain.
"Kalian...."
"Kita udah resmi jadian Dew." Jawab Okta dengan cepat. Dia tidak mau sering-sering dipisahkan dengan suaminya itu.
__ADS_1
"Ap-Apa? mana mungkin. Kok bisa? kapan jadiannya?" tanya Lensi bertubi-tubi. Dia sangat syok mendengar pengakuan Okta.
"Se-Sebenarnya aku sudah lama suka sama bang Arman. Semalam aku memberanikan diri buat bilang. Ternyata bang Arman juga menyukaiku. Dan kami tadi pagi langsung nikah kilat di KUA." Jawaban Okta membuat Lensi sangat terkejut termasuk Arman.
"Ka-Kalian sudah menikah? loe nikah nggak nungguin gue Ta? loe sahabat gue apa bukan?" tanya Lensi.
"Eh? Nyak ngelarang gue lama-lama pacaran ama pria dewasa. Takut hilaf katanya. Jadi kami nikah aja dulu, tapi resepsinya belum Dew." Jawab Okta yang tambah ngarang bebas. Okta hanya tidak ingin dipisahkan dengan Arman.
"Maaf ya Dew. Loe nggak marah kan?" tanya Okta.
Lensi mengehela nafas panjang. Dia kemudian tersenyum kearah Okta dan Arman.
"Selamat untuk kalian berdua ya. Gue do'ain kalian berdua langgeng," ucap Lensi.
"Amiin." Semua serentak mengaminkan.
Lensi memindahi tatapannya pada Aisyah dan Ustad Gofur. Aisyah yang mendapat tatapan itu langsung mendekat kearah Lensi. Dan Lagi-Lagi Lensi merasakan rasa yang begitu familliar. Aisyah meraih tangan Lensi dan menggengamnya dengan erat.
"Umi adalah orang tua dari Ibrahim. Pria tampan yang sedang kamu curi-curi pandang itu. Kamu sangat cantik, Umi suka kalau kamu menjadi menantu Umi. Kamu mau nggak jadi menantu Umi?" pertanyaan Aisyah membuat semua orang syok. Sepertinya Aisyah tidak akan membiarkan drama itu terlalu panjang.
"Bukankah ini kedengarannya sangat gila? gue dilamar emak-emak buat jadi menantunya? sebenarnya nggak rugi sih, anaknya juga ganteng. Terlebih sudah nyuri ciuman pertama gue. Tapi gimana kalau ternyata dia seorang pria brengsek?" batin Lensi.
"Ehemm...ini memang terdengar tidak masuk akal sih. Tapi berhubung anak Umi sudah mencuri ciuman dariku, jelas aku sangat dirugikan. Jadi aku memberi dia kesempatan buat mencuri hatiku, kalau aku bisa jatuh cinta sama dia dalam waktu satu bulan, aku setuju menikah dengan dia." Jawab Lensi.
Jawaban Lensi tentu saja seperti angin segar bagi Ibrahim. Senyum pria itu mengembang seperti adonan kue.
"Dia terlihat tampan saat tersenyum," batin Lensi.
"Terima kasih Umi," bisik Ibrahim.
Ibrahim sangat lega karena dia sudah bisa menemukan solusi untuk masalahnya.
"Jadi mulai sekarang kita sudah resmi pacaran ya?" tanya Ibrahim dengan senyum terkembang dibibirnya.
"Tentu saja belum. Kita PDKT saja dulu. Aku nggak mau pacaran. Disaat aku setuju pacaran, disaat itu aku setuju menikah denganmu." Jawab Lensi.
"Setuju," ujar Ibrahim.
__ADS_1
"Oh ya bang Arman. Aku berjanji sama Max akan menemuinya saat aku selamat. Kapan aku bisa keluar dari sini? aku ingin menepati janjiku," tanya Lensi.
Arman menahan tawanya saat melihat wajah Ibrahim yang secerah matahari, berubah jadi awan hitam yang mendung. Ibrahim tahu betul siapa Max yang dimaksud istrinya itu. Dan itu benar-benar membuatnya cemburu.