
"Bagaimana keadaan Lensi bang?" tanya Ibrahim diseberang telpon.
"Dia baik-baik saja." Jawab Arman.
"Aku minta alamat rumahnya yang baru bang," ujar Ibrahim.
"Tidak perlu. Dia bilang akan menemuimu besok," ucap Arman.
"Benarkah?" tanya Ibrahim dengan wajah semringah.
"Iya. Tapi kamu harus selesaikan sendiri masalahmu sama dia." Jawab Arman.
"Maksud abang?" tanya Ibrahim.
"Aku belum menceritakan apapun padanya tentang Fatimah dan Alex. Biar kamu sendiri yang menjelaskannya." Jawab Arman.
"Ap-Apa? kok gitu bang?" Ibrahim terkejut.
"Apanya yang kok gitu? yang penting kan ketemu. Kamu bisa menjelaskannya secara langsung nanti," ujar Arman.
Ibrahim hanya bisa menghela nafas berat, tapi paling tidak dia cukup lega karena akhirnya dia bisa bertemu dan bertatap muka secara langsung dengan istrinya itu.
Sementara itu ditempat berbeda Lensi saat ini sedang gelisah. Dirinya merasa tidak sanggup bertemu Ibrahim keesokkan harinya. Dia takut permintaannya bercerai dengan Ibrahim akan berlangsung alot.
๐น๐น๐น๐น๐น
Keesokkan harinya Lensi bersiap pergi ke kantor Ibrahim. Waktu menunjukkan pukul 10 pagi saat Lensi tiba di Al-Gif Group. Senyum ramah terpancar disetiap wajah karyawan Ibrahim, saat melihat sosok Lensi datang ke kantor.
"Tuan Ibrahimnya ada?" tanya Lensi pada resepsionis.
"Maaf nyonya. Tuan Ibrahimnya pergi keluar. Tapi dia sudah nitip pesan, kalau nyonya datang anda disuruh datang ke tempat ini."
Lensi mengerutkan dahinya saat mendengar perkataan resepsionis itu.
"Ini maksudnya apa ya? kok dia bisa tahu kalau aku akan datang hari ini? apa bang Arman sudah memberitahunya? tapi kok bang Arman nggak bilang apa-apa? tapi apapun yang terjadi, aku harus tetap menemui dia hari ini. Keyakinanku tidak boleh tergoyahkan," batin Lensi.
Lensi kemudian meminta alamat yang Ibrahim sudah pesankan. Saat Lensi datang ketempat tujuan, Lensi sangat terkejut karena itu adalah hotel berbintang 5. Dengan gugup dia mengetuk pintu kamar itu, tanpa Lensi tahu Ibrahim sedang menyeringai didalamnya.
Ceklek
Ibrahim membuka pintu kamar itu, dan jantung Lensi berdegup dengan kencang. Mata Lensi bersitatap dengan mata Ibrahim. Debaran jantung keduanya semakin menjadi-jadi.
"Sial...sial...sial...ternyata aku masih mencintainya. Padahal aku sudah 5 bulan tidak bersamanya. Aku tidak akan membiarkan perasaanku goyah, aku harus menyelesaikan hubunganku dengan dia hari ini juga," batin Lensi.
"Apa yang dia pikirkan dengan otak kecilnya itu. Aku ingin lihat, apa yang ingin dia lakukan sebenarnya," batin Ibrahim.
"Masuklah!" Ibrahim mencoba bersikap biasa, dan bahkan terlalu santai. Hingga membuat hati Lensi semakin sakit dibuatnya.
__ADS_1
"A-Apa kabar bang?" tanya Lensi basa basi, yang membuat Ibrahim sekuat tenaga menahan tawanya.
"Cukup baik. Meski istri pertama dengan sengaja meninggalkanku, tapi untunglah ada istri kedua yang selalu menemaniku tidur." Jawab Ibrahim.
Ibrahim menangkap sekilas kepalan tangan Lensi yang begitu erat. Lensi melirik keatas tempat tidur yang ditengah-tengahnya ditaburi bunga mawar merah yang dibentuk menjadi simbol love. Ibrahim mengikuti arah pandang Lensi, dan tingkat kejahilannya semakin menjadi.
"Oh itu...Fatimah sedang hamil. Dia ngidam pengen babymoon katanya. Jadilah aku membuat persiapan ini. Aku juga nggak tahu kenapa, akhir-akhir ini nafsu bercintanya sangat besar sekali," ujar Ibrahim menjelaskan tanpa Lensi minta.
"Tahan Lensi. Kamu tidak perlu menangis lagi setelah hari ini, kamu akan bebas. Kamu cukup membuatnya menandatangani surat perceraian ini, dan semuanya kelar," batin Lensi.
Lensi yang tidak ingin membuang-buang waktu, langsung menyodorkan surat perceraian didepan Ibrahim. Yang membuat pria itu jadi mengerutkan dahinya.
"Apa ini?" tanya Ibrahim.
"Setelah mendengar cerita abang, sepertinya abang hidup dengan sangat baik selama aku pergi. Karena abang juga tidak memiliki perasaan padaku, maka aku putuskan untuk mengajukan cerai. Abang tinggal menandatangani surat cerai ini, dan kita bisa sama-sama bebas."
"Abang bisa hidup berbahagia bersama Fatimah, dan aku bisa berbahagia dengan pasanganku," sambung Lensi.
"Pasanganmu?" tanya Ibrahim.
"Ya. Setelah pergi dari rumah aku menjalin kasih dengan seorang pria." Jawab Lensi.
Kali ini giliran Ibrahim yang kebakaran jenggot. Dia tidak rela Lensi dimiliki oleh pria lain.
"Siapa? siapa pria yang berani merebut istriku?" tanya Ibrahim.
"M-Max...yah...namanya Max." Jawab Lensi.
"Haduh....kenapa jadi kepikiran dengan nama Max? bodo amatlah...yang penting aku nggak mau kalah saing dengan ustad playboy ini," batin Lensi.
Ibrahim yang panas hati langsung meraih surat cerai yang akan dia tanda tangani. Entah mengapa hati Lensi jadi sakit, saat melihat Ibrahim meraih surat cerai itu dan memegang pena yang sudah dia siapkan.
Brekkkk
Brekkk
Brekkk
Ibrahim merobek surat dari pengadilan itu menjadi beberapa bagian. Lensi hanya bisa melongo dengan apa yang Ibrahim lakukan.
"Kenapa abang merobeknya?" tanya Lensi marah dengan mata terbuka lebar.
"Beraninya kamu memarahi suamimu dengan mata melotot seperti itu?"
Lensi langsung tertunduk mendengar ucapan Ibrahim. Ucapan pria itu masih saja bisa mempengaruhinya, sementara Ibrahim jadi mengulum senyumnya saat melihat ekspresi wajah Lensi.
"Abang jangan egois dengan cara menahanku. Abang kan tahu kalau aku tidak mau dimadu. Aku lebih memilih mundur daripada harus dipoligami," ucap Lensi dengan wajah mendung.
__ADS_1
"Kemarilah! kenapa kamu membuat jarak terlalu jauh seperti itu dengan suamimu," ujar Ibrahim yang sudah menyerah dengan kejahilannya. Dia tidak tega dengan melihat Lensi bersedih.
"Eh? bi-biar aku disini saja bang," ucap Lensi.
"Dinda?"
"Eh?" Lensi kebingungan saat mendengar Ibrahim memanggilnya dengan sebutan Dinda untuk yang pertama kalinya.
"Dindanya abang? apa masih belum mau mendekati abang juga? apa Dinda tidak merindukan abang?" tanya Ibrahim.
"A-Abang jangan coba-coba membujukku. A-Aku tetap mau cerai. A-Aku nggak mau dimadu," ucap Lensi sembari memalingkan wajahnya kearah lain.
Ibrahim yang hilang kesabaran lansung mendekati Lensi dan menggendong istrinya itu.
"A-Abang mau apa? Lepasin aku bang!" Lensi meronta dalam gendongan Ibrahim.
Bagh
Bugh
Bagh
Bugh
Lensi memukul-mukul dada Ibrahim agar minta dilepaskan.
Brukkkkk
Ibrahim melempar tubuh Lensi diatas tempat tidur dan mengungkungnya.
Deg
Deg
Deg
Dada Lensi seolah ingin meledak saat ini. Dengan tatapan matanya yang beradu dengan Ibrahim.
"A-Abang jangan begini. Nanti akan aku kirim lagi surat cerai itu. Abang tinggal tanda tangan dan semuanya kelar," ucap Lensi sembari memalingkan wajahnya.
Ibrahim meraih wajah Lensi dan kembali menatap mata bening milik istrinya itu.
"Aku ingin mengabulkannya. Tapi jawab dulu pertanyaanku. Apa kamu masih mencintai abang?" tanya Ibrahim.
"Ti-Tidak." Jawab Lensi sembari memalingkan wajahnya.
"Abang ingin membuktikannya sendiri," ujar Ibrahim yang kemudian meraih wajah Lensi dan mencium bibir istrinya itu.
__ADS_1
Mendapat serangan mendadak tentu saja Lensi sangat terkejut. Jantungnya bahkan berdebar berkali-kali lipat dari sebelumnya.