
Ibrahim mengusap kepala Lensi yang tengah melamun, dan meletakkan kepala istrinya itu didadanya.
"Ada apa. Hem? sepertinya lamunanmu jauh sekali," tanya Ibrahim.
"Bang. Mungkin nggak sih kalau kita bisa bertemu dengan orang yang sudah meninggal ditempat ini?" tanya Lensi.
"Mungkin." Jawab Ibrahim.
Lensi langsung berbalik badan dan menatap mata suaminya itu. Lensi menggenggam tangan Ibrahim, karena dia ingin Ibrahim mendengar ceritanya yang sedikit tidak masuk akal menurutnya.
"Apa abang percaya padaku?" tanya Lensi.
"Sangat percaya." Jawwb Ibrahim.
"Aku mau cerita. Tapi ini sedikit tidak masuk akal kedengarannya," ujar Lensi.
"Cerita apa?" tanya Ibrahim.
"Tadi saat mengelilingi ka'bah, aku bertemu mama." Jawab Lensi yang kemudian terdiam, karena dia ingin melihat respon Ibrahim. Namun suaminya itu hanya terus menatapnya.
"Ya...aku tahu ini kedengarannya seperti tidak masuk akal. Tapi aku benar-benar bertemu dengannya. Aku tidak mungkin salah, itu benar-benar mama," sambung Lensi.
"Terus?" tanya Ibrahim.
"Tapi yang membuatku kecewa, wanita itu mengatakan ingin bergantian mencium hajar Aswad. Dan bahasa yang dia gunakan adalah bahasa negeri Jiran. Dia sama sekali tidak mengatakan kenapa aku sampai memeluknya. Dan...."
"Dan?"
Lensi menelan suaranya yang terasa tercekat ditenggorokkannya.
"Dan saat aku menoleh kearah wanita itu lagi, dia sudah tidak ada disana. Bang,"
"Hem?"
"Mungkinkah itu hantu?" tanya Lensi dengan wajah sangat serius.
Ibrahim terkekeh saat mendengar ucapan istrinya itu. Ibrahim kemudian menarik hidung mancung milik Lensi.
"Wallahu a'lam bishawab. Apa kamu merindukan mama?" tanya Ibrahim.
__ADS_1
"Ya. Entah kenapa saat menyentuh dan mencium hajar aswad, aku jadi teringat sosok mama. Dan saat itulah tangan wanita itu menyentuh pundakku, dan aku melihat sosok mama dihadapanku." Jawab Lensi.
"Bersyukurlah Allah mengabulkan keinginanmu meski hanya sejenak saja. Meski cuma sebentar, tapi rasa rindumu sudah bisa sedikit terobati. Dengan kamu bisa mencium hajar aswad saja itu sudah merupakan suatu anugrah. Karena banyak sekali orang yang tidak pernah diberi kesempatan untuk melakukan itu," ujar Ibrahim.
"Benarkah?" tanya Lensi.
"Ya. Abang sudah pernah melakukan ibadah haji sebanyak 1 kali bersama umi dan abi tiga tahun yang lalu. Sebelum itu abang juga sudah pernah melakukan 5 kali ibadah umroh. Dan ini yang keenam abang melakukannya. Dari 7 ibadah itu, hanya satu kali abang diberi kesempatan."
"Jadi sayangku. Inti dari ucapan abang adalah, Allah ingin kita banyak-banyak bersyukur Tidak boleh tamak. Allah sudah memberikanmu kesempatan bertemu dengan seseorang yang mirip mama, agar bisa mengobati kerinduanmu dengan dia. Allah ingin menunjukkan sisi kita manusia yang doif, dan tidak akan mampu membuat, menginginkan sesuatu ciptaanya yang sempurna. Itu agar kita selalu ingat dengan yang telah menciptakan kita semua. Agar kita tidak sombong, agar kita selalu beriman kepadanya. Apa kamu mengerti?" tanya Ibrahim.
Grepppp
Lensi berhanbur kepelukkan Ibrahim dengan air mata yang meleleh dipipinya.
"Makasih karena abang sudah mau menerima aku yang sangat minim tentang agama. Apa abang tahu? abang itu seperti lentera yang menerangi kegelapaan hidupku. Abang segalanya bagiku. Aku mohon jangan pernah abang ninggalin aku, aku nggak mau berada dalam kegelapan lagi," ucap Lensi.
Ibrahim tersenyum dan mengusap kepala istrinya dengan lembut.
"Abang akan selalu bersamamu dalam suka dan duka. Tidak ada orang ketiga keempat atau kelima diantara kita. Abang akan menjadikanmu satu-satunya ratu dihati abang. Kamu tidak perlu takut abang tinggalkan, karena abang juga nggak akan sanggup berjauhan denganmu," ujar Ibrahim sembari mengeratkan pelukkannya.
Ibrahim jadi teringat saat melihat Lensi menangis ditengah kerumunan orang banyak. Dia membiarkan apa yang dia lihat hanya menjadi rahasianya dengan sang maha pencipta. Karena baginya diberi Tuhan kesempatan itu saja, sudah merupakan peringatan baginya.
"Emm." Lensi mengangguk.
๐น๐น๐น๐น
Hari ini adalah hari ke 10 Lensi, Ibrahim, Arman dan Okta melakasanakan ibadah di tanah suci. Dan itu berarti besok mereka akan kembali ke tanah air. Setelah membeli oleh-oleh kurma dan air zam-zam, merekapun berkemas untuk pulang keesokkan harinya.
"Bang. Ini adalah hari terakhir kita disini. Aku ingin lihat ka'bah sekali lagi. Apa abang mau menemaniku?" tanya Lensi.
Ibrahim melihat jam di ponselnya. Dan waktu baru menunjukkan pukul 7 malam. Ibrahimpun menuruti kemauan Lensi, karena dia tidak tahu kapan bisa berada ditempat ini lagi bersama istrinya itu.
"Ayo. Kita juga bisa sambil beribadah lagi disana. Biasanya banyak orang melakukan tawaf," ujar Ibrahim.
Lensi sangat semangat saat Ibrahim menyetujui permintaannya. Merekapun berganti pakaian untuk melaksanakan ibadah disana. Setelah melakukan tawaf, merekapun beranjak keluar dari kerumuman orang-orang. Namun saat Lensi menoleh ketempat itu lagi, lagi-lagi Lensi melihat sosok ibunya diantara orang-orang itu. Tubuh Lensi mematung, dengan tatapan lekat kearah sana.
"Apa kamu melihat mama lagi?" tanya Ibrahim
"Ya." Jawab Lensi tanpa mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Tersenyumlah, ikhlaskan, lalu beristigfarlah sebanyak mungkin," ujar Ibrahim.
Lensi kemudian tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Dia mencoba mengikhlaskan semuanya, dan sesaat kemudian dia tertunduk sembari beristigfar.
"Astagfirullahaladzim...astagfirullahaladzim......astagfirullahaladzim," lalu Lensi kembali menatap kearah depan, dan tidak melihat lagi sosok yang masih sangat dia rindukan itu.
Lensi kemudian menoleh kearah Ibrahim, dengan senyum tersungging dibibirnya. Ibrahim menyeka sisa air mata Lensi, dan merangkul pundak istrinya untuk kembali pulang ke penginapan.
๐น๐น๐น
"Alhamdulillah. Akhirnya kita sampai juga di tanah air tercinta. Sejauh-Jauhnya dan seindah-indahnya berada di negeri orang, tentu saja masih indah negara sendiri," ucap Ibrahim.
"Abang benar. Kita langsung ke pesantren saja bang. Aku sangat merindukan umi," ujar Lensi.
"Ya. Kamu bisa bercerita banyak hal nanti setelah sampai," ucap Ibrahim.
"Im, Len, kita pisah disini saja ya?" ucap Arman.
"Nggak ikut mampir ke rumah bang?" tanya Ibrahim.
"Nggak usah lain kali saja." Jawab Arman.
"Oke. Hati-Hati," ucap Ibrahim.
"Dah...Dew," ujar Okta.
Lensi melambaikan tangannya kearah sahabatnya itu. Arman dan Okta segera memasuki sebuah taksi, setelah memasukkan koper dan beberapa oleh-oleh kedalam bagasi mobil.
Ibrahim dan Lensi juga memesan sehuah taksi. Tujuan mereka langsung pulang ke pesantren. Entah apa yang Lensi rindukan. Apa dia benar-benar merindukan Aisyah, atau dia masih belum bisa move on saat bertemu dengan sosok yang mirip ibunya saat di tanah suci.
Disepanjang jalan menuju pesantren, pegangan tangan Lensi dan Ibrahim tak pernah lepas. Mereka tampak romantis dan tidak ingin terpisahkan. Dan saat tiba di pesantren, Lensi langsung berlari ke arah Aisyah, saat dirinya melihat wanita itu tengah menyapu halaman rumah.
"Umi. Hiks...." Lensi terisak dipelukkan Aisyah.
Aisyah hanya bisa bertanya pada Ibrahim lewat alisnya, namun hanya dijawab dengan kedikkan bahu oleh pria itu.
"Kenapa. Hem? apa Ibrahim nakal?" tanya Aisyah.
"Nggak umi. Echi kangen umi." Jawab Lensi.
__ADS_1
Aisyah tersenyum mendengar ucapan dari menantunya itu, diapun membalas pelukkan Lensi tak kalah erat.