
Ibrahim meraih ponselnya dan membuat panggilan untuk Lensi. Namun sialnya ponsel Lensi ternyata tinggal didalam mobilnya. Ibrahim berpikir keras untuk mencari keberadaan Lensi. Dan dia memutuskan untuk kembali ke rumah.
Namun saat dirinya keluar dari pintu gerbang rumah sakit, dan mobilnya baru berjalan sekitar 50 meter dari gerbang itu, dia melihat Lensi duduk di trotoar tepatnya dibawah pohon besar sembari tertunduk dikedua lututnya. Mobil Ibrahim stop tepat di depan Lensi berada. Ibrahimpun bergegas turun dan menghampiri istrinya yang tengah menangis itu.
"Sayang," seru Ibrahim dengan suara sedikit bergetar.
Kepala Lensi mendongak, dan menatap kearah Ibrahim dengan air mata yang sudah membasahi seluruh wajahnya. Ibrahim segera meraih kedua tangan Lensi agar berdiri dan kemudian membawanya kedalam pelukkannya.
"Maafkan abang sayang, maafkan abang. Abang mohon jangan menangis," ucap Ibrahim sembari mengeratkan pelukkannya.
Bukannya berhenti menangis, tangis Lensi bertambah pecah.
"Maafkan abang yang sudah melukai hatimu. Abang akui abang yang salah. Jangan menangis lagi ya? kamu ingin mendengar hasil testnya kan? ayo kita pergi," ujar Ibrahim yang tengah membujuk Lensi agar berhenti menangis.
Setelah tangis Lensi mereda, Ibrahim kemudian membawa Lensi kedalam mobil. Tanpa banyak bicara lagi, Ibrahim segera menginjak gas mobilnya dan kembali lagi ke rumah sakit.
"Sayang. Ayo kita turun!" ucap Ibrahim yang ditanggapi diam oleh Lensi. Ibrahim menghela nafas berat, pria itu kemudian kembali memberikan pelukkan untuk Lensi yang matanya sudah bengkak karena menangis.
"Kamu belum mau memaafkan abang ya?" tanya Ibrahim sembari mengusap puncak kepala Lensi.
"Mau." Jawab Lensi sembari mendongakkan kepalanya untuk melihat kearah Ibrahim.
"Sungguh?" tanya Ibrahim berbinar.
"Tapi apa abang yakin ingin masuk kedalam lagi? takutnya setelah masuk kesana abang malah kabur lagi." Sindir Lensi.
"Kamu nyindir abang ya. Hem?" tanya Ibrahim sembari menarik hidung mancung Lensi.
"Kalau abang nggak mau, kita nggak usah masuk kedalam." Jawab Lensi.
"Abang mau. Setelah abang pikir-pikir, abang memang sudah bersikap kekanakkan. Harusnya abanglah yang menguatkanmu apapun hasilnya nanti. Ini malah abang jadi seorang pengecut," ujar Ibrahim.
"Maafin abang tadi sudah sempat membentakmu. Sungguh abang nggak sengaja," sambung Ibrahim.
"Aku maafin," ucap Lensi yang kemudian tersenyum.
Ibrahim me**mat bibir istrinya itu. Mereka sejenak berciuman panjang.
"Ayo kita turun bang. Apapun hasilnya mari kita hadapi bersama," ujar Lensi setelah pertautan mereka terlepas.
"Emm." Ibrahim mengangguk.
__ADS_1
Merekapun memasuki ruang tunggu. Beruntung antrian sudah tidak banyak lagi
Mereka jadi bersabar, karena terpaksa Mendapat antrian terakhir.
"Tuan Ibrahim," perawat kembali memanggil nama Ibrahim.
Lensi menggenggam tangan Ibrahim. Ibrahim juga tersenyum kearah Lensi. Merekapun berdiri secara bersamaan. Namun tanpa mereka tahu satu sama lain, jantung keduanya sedang berdebar dengan sangat kencang saat ini.
"Tuan Ibrahim, dan nyonya Lensi ya?" ujar dokter sembari membaca tulisan didepan kedua amplop putih.
"Ya betul dok." Jawab Ibrahim.
Tangan Ibrahim dan Lensi masih saling bertautan di bawah meja. Seolah mereka ingin saling menguatkan.
"Saya mulai membacakan hasil test labor punya tuan Ibrahim dulu ya?" ucap dokter yang kemudian merobek ujung amplop putih dan membuka hasil didalamnya.
Lensi bisa merasakan tangan Ibrahim sedikit bergetar. Lensi menggenggam erat tangan Ibrahim untuk menyalurkan kekuatan pada suaminya itu.
"Ini hasilnya...."
Deg
Deg
Deg
"Bagus. Hasilnya bagus semua. Spe*ma normal. Volume juga mencukupi. Tidak ada masalah dengan spe*ma tuan Ibrahim," ujar dokter.
"Be-Benarkah?" tanya Ibrahim semringah.
"Ya tuan Ibrahim. Ini patut disyukuri bukan?" ucap dokter.
"Alhamdulillah ya Allah," ucap Ibrahim sembari mengusap wajahnya dengan tangan kanannya.
Griyuuttt
Tiba-Tiba saja genggaman tangan Lensi mengendur. Wajah wanita itu tertunduk seketika. Seolah dia menyadari, kalau dirinyalah yang bermasalah. Merasa genggaman tangan Lensi melemah, Ibrahim menoleh kearah Lensi yang wajahnya sangat bersedih.
Grepppppp
Kini giliran Ibrahim yang mengeratkan genggaman tangannya. Lensi menoleh kearah Ibrahim dengan mata berkaca-kaca. Ibrahim menggelengkan kepalanya, tanda dirinya tidak mau melihat Lensi menangis. Lensi bergegas menghapus air matanya yang membuat Ibrahim jadi tersenyum.
__ADS_1
"Sekarang kita lihat hasil punya nyonya Lensi ya?"
Ibrahim mengeratkan genggaman tangan pada Lensi. Dia juga ingin memberikan kekuatan untuk istrinya itu.
"Emm...jadi masalahnya ada disini," ucap dokter sembari melingkari satu angka di kertas yang sedang dia pegang.
"Bagaimana hasilnya dok? saya nggak mandul kan dok?" tanya Lensi tidak sabar.
"Sayang sabarlah. Biar dokter menjelaskan terlebih dahulu," ujar Ibrahim yang berusaha menenangkan istrinya.
"Tentu saja tidak. Anda tidak mandul Bu Lensi. Ini cuma bermasalah pada hormon saja." Jawaban dokter seperti Lensi menemukan oase dipadang tandus.
"Kamu dengar itu sayang? kamu baik-baik saja. Ini cuma masalah horman," ucap Ibrahim. Lensi kembali menyeka air mata harunya.
"Apa kami masih bisa diberi peluang untuk memiliki anak dok?" tanya Ibrahim.
"Sangat banyak pak. Kalian tidak perlu khawatir, ini bukan masalah serius. Jadi kemarin Bu Lensi memeriksakan 4 hormon penting. Dan salah satu dari keempat homon itu ada yang termasuk tinggi. Ini dia, hormon LH nya." Jawab dokter.
"Tapi Bu Lensi tenang saja. Ini masih bisa diatasi. Nanti saya akan kasih obat. Mudah-Mudahan bulan depan Ibu sudah bisa hamil ya bu," sambung dokter.
"Amin." Jawab Lensi dan Ibrahim.
Dokter kemudian memberikan resep pada suster, agar suster mengambil obat itu di apotik. Setelah menunggu beberapa saat, suster itu datang dengan membawa 3 macam obat.
"Ini obat yang lima butir ini. Diminum pada haid hari kelima,"
"Kebetulan ini hari kelima dok." Jawab Lensi.
"Ya. Berarti anda bisa mulai minum hari ini. Sampai 5 hari. Dan yang ini sama. dua kali sehari selama 5hari. Sedangkan yang ini 1 kali sehari selama sebulan. Yang sebulan ini sangat penting, jangan lupa diminum," ujar dokter.
"Baik dok. Apa ada kiat khusus agar promil ini berhasil dok?" tanya Ibrahim.
"Selain mengkonsumsi obat sesuai aturan, sebaiknya kalian melakukan hubungan suami istri mulai tanggal ini, sampai tanggal ini. Jangan lakukan tiap hari. Dua hari sekali atau 3 hari sekali lebih baik. Tapi lebih baik lagi lakukan dihari kesebelas yang terhitung dimulai hari pertama bu Lensi haid." Jawab dokter.
"Saya mengerti dok. Terima kasih," ucap Lensi.
"Semoga berhasil ya? jangan lupa konsumsi sayur dan buah terutama yang banyak mengandung asam folat," ujar dokter.
"Baik dok. Terima kasih dok. Kami permisi dok," ucap Ibrahim.
Lensi dan Ibrahim kemudian keluar dari ruangan dokter dengan perasan lega. Karena ingin berhasil dalam usaha mereka, merekapun mengikuti semua saran dokter untuk menunggu berhubungan di hari ke sebelas.
__ADS_1