
"Aku tidak heran, mengapa Vega bersikap seperti ini, karena itu hasil didikkanmu Marini. Suka mengambil hak orang lain dengan menggunakan berbagai cara," ujar Handoko.
"Tidak ada yang salah dengan hasil didikkanku mas. Wanita harus pintar dan pandai memanfaatkan situasi dan juga kondisi. Kenapa kamu harus mempermasalahkan apa yang dilakukan Vega? dia cuma ingin mencari sumber kebahagiaannya kok." Jawaban Marini membuat semua orang menggelengkan kepala.
"Marini. Aku baru sadar kalau dulu aku buta karena pernah terjebak dengan wanita sepertimu, bahkan menghasilkan anak haram seperti dia. Sekarang kalian pergi dari rumahku! aku tidak mau lagi punya hubungan dalam bentuk apapun dengan kalian!" hardik Handoko dengan nafas yang naik turun.
"Pa. Kendalikan emosimu," ucap Susi sembari mengusap-usap dada suaminya.
"Kamu nggak bisa gitu dong mas. Kalau putus hubungan denganku masih wajar-wajar saja. Tapi Vega! dia putrimu juga," ucap Marini.
"Kenapa aku tidak bisa? aku bisa melakukan apapun yang aku mau. Sekarang kalian pergi dari rumahku, dan jangan pernah muncul dihadapanku lagi. Sudah cukup kalian mempermalukan aku hari ini," ujar Handoko.
"Tapi mas...."
"Ma. Sudahlah! orang tua bodoh ini juga sudah membelikan rumah untukku. Kita tidak terlalu miskin-miskin amat," ejekkan Vega benar-benar membuat Handoko berang. Namun Susi menahan langkah Handoko sembari menggelengkan kepalanya.
"Beruntung sekali anda cepat mengetahui kebusukkan putri anda dan juga mantan kekasih anda ini tuan Handoko. Tapi sayalah yang paling mengenal mereka, karena saya pernah satu atap dengan mereka selama belasan tahun."
"Kalau menurutku keputusan anda untuk memutuskan hubungan sangatlah tepat," sambung Lensi.
"Jangan sombong kamu. Sebentar lagi tembok kesombonganmu itu akan runtuh," ucap Vega yang ditanggapi kekehan oleh Lensi.
"Katakan! dimana tempat tinggal Cokro?" tanya Vega.
"Waw...katanya kamu nggak mau sama pria jelek! katanya nggak mau sama pria sampah," ucap Lensi.
"Bukan urusanmu! lebih baik katakan saja!" ujar Vega.
"Kamu bisa menemuinya di markas arah pinggiran kota Jl. Z. Disana ada jalan kecil menuju hutan dengan nama gang kalajengking. Berjalanlah sekitar 100 meter. Setelahnya kamu akan menemukan sebuah markas besar." Jawab Lensi.
Tanpa banyak bicara Vega menarik tangan Marini dan keluar dari rumah itu.
"Sayang. Aku dari tadi memperhatikam kakak itu. Aku seperti pernah melihatnya, tapi dimana ya?" bisik Gita.
"Kamu benar. Aku juga berpikir demikian," bisik Iko.
"Kalau begitu kami pamit undur diri dulu tuan Handoko," ujar Ibrahim.
"Ah...Ya Tuhan...maaf tuan Ibrahim. Saya benar-benar minta maaf karena sudah membuat anda menyaksikan adegan memalukan seperti ini. Sekarang saya kembali harus menghadapi komentar masyarakat dan media besok. Berita ini pasti akan menjadi trending topik esok hari," ujar Handoko dengan wajah sedih.
"Tuan Handoko tidak perlu khawatir. Aku akan membereskan hal itu untuk anda. Anda tidak akan menemukan berita apapun tentang anda besok pagi," ujar Ibrahim.
__ADS_1
"Benarkah? terima kasih kalau begitu tuan Ibrahim," ucap Handoko semringah.
"Tapi saya sarankan kalian harus berhati-hati. Aku tahu betul perangai Vega dan ibunya. Mereka hidup hanya untuk uang. Tidak ada ketulusan sama sekali dalam hidup mereka. Bahkan terhadap papa saya yang membesarkannya dari bayi, dan dimajakan dengan materi berlimpah. Sampai detik ini belum pernah menemui papa," ujar Lensi.
"Terima kasih Nyonya sudah memperingatkan kami. Dengan begitu kami akan waspada," ucap Susi.
"Hai...pasangan serasi. Kakak ucapkan selamat ya untuk kalian," ucap Lensi.
"Aha...aku ingat sekarang. Kakak ini kan yang membantu kita di tempat latihan beladiri?" ujar Gita.
"Iya benar. Ya ampun, maaf waktu itu kami tidak sempat menanyakan nama kakak," ucap Iko.
"Kalian saling mengenal?" tanya Handoko.
"Iya pa. Jadi kakak inilah yang menolong kami saat di keroyok musuh waktu itu." Jawab Gita.
"Wah...terima kasih saya ucapkan pada nyonya Ibrahim. Saya tidak menyangka kalau ternyata sangat mahir bela diri," ucap Handoko.
"Kakak ini memang sangat hebat pa. Ilmu bela dirinya jempolan," ujar Gita yang hanya ditanggapi senyuman oleh Lensi.
"Kalau begitu kami permisi dulu tuan Handoko," ujar Ibrahim.
Handoko sekeluarga mengantar Ibrahim dan Lensi sampai depan teras. Setelah itu mereka kembali masuk ke dalam rumah.
"Kalian beristirahatlah! siapkan diri kalian buat acara resepsi pernikahan malam ini," ujar Susi.
"Ya ma." Jawab Gita.
Gita dan Iko naik keatas, sementara Susi dan Handoko masih duduk di ruang tamu. Handoko tampak frustasi dengan masalah yang dihadapinya.
"Kenapa papa masih murung. Hem? bukankah tuan Ibrahim sudah bilang akan membantu meredam berita itu. Papa jangan banyak pikiran, toh sebelum Vega hadir kita semua baik-baik saja. Anggap saja anak itu tidak pernah ada," ujar Susi.
"Emm...kamu benar. Meski dia anak kandungku, tapi kami sudah terlanjur menjadi orang asing. Aku akan menyelesaikan tugasku sebagai ayahnya untuk menikahkan dia. Tapi setelah itu tidak ada urusan lagi akan lebih baik," ucap Handoko.
"Ya sudah ayo kita beristirahat di atas," ujar Susi yang kemudian diangguki oleh Handoko.
Sementara itu Iko dan Gita yang sudah berganti pakaian tampak ngobrol santai diatas tempat tidur. Sikap mereka masih sama seperti sebelum menikah. Bahkan tidak ada tanda-tanda akan terjadi sesuatu.
"Ah...masih ada acara malam nanti ya?" tanya Iko.
"Iya. Mari kita tidur siang sepuasnya, biar nanti malam kita bisa melek sepuasnya juga," ujar Gita.
__ADS_1
"Benar juga. Sini aku peluk," ujar Iko.
"Iya." Jawab Gita sembari mendekatkan diri kearah Iko.
๐น๐น๐น๐น
"Sempurna," bisik Iko saat melihat Gita yang tampak cantik sempurna dengan gaun pengantin diacara resepsi mereka.
"Terima kasih. Aku memang selalu cantik," ucap Gita sembari terkekeh.
"Aku ingin menikmati kecantikkan itu sepuasnya malam ini. Bisakah kita kabur sekarang dari pelaminan ini?" ujar Iko yang kemudian mendapat cubitan dipahanya.
Setelah mereka mengikuti rangkaian acara, resepsi itupun berakhir pada pukul 12 malam. Iko dan Gita tidak pulang ke rumah, mereka diberikan fasilitas kamar hotel dengan paket bulan madu. Kamar mereka sudah di hias sedemikian rupa yang membuat malam itu menjadi semangat tersendiri bagi pasangan muda itu. Setelah membersihkan diri, Iko yang sudah tidak sabar langsung meminta haknya sebagai suami. Sementara Gita hanya menurut saja.
"Woah...ternyata memang benar. Sesuatu yang tersimpan, pasti menyimpan kejutan tersendiri. Tubuhmu benar-benar indah sayang," ucap Iko.
"Apaan sih. Lebay deh," ujar Gita tersipu.
Iko menarik dagu Gita dan kembali mencium bibir istrinya itu. Ciuman yang semula menuntun, lambat laun jadi menuntut.
"Sayang. Aku menginginkanmu," bisik Iko yang kemudian dianggukki oleh istrinya itu.
Gita hanya bisa memejamkan mata, saat Iko mulai bergerilya ditubuhnya. Wanita itu memberikan akses penuh, agar Iko bisa memiliki dirinya secara untuh.
"Awww...sayang sakit...." Gita menjerit, ketika Iko berhasil menerobos pertahanannya.
Setelah Gita sedikit tenang, Iko mulai bergerak perlahan, dan ranjang yang mereka tempati mulai berderit. Tidak hanya itu, suara mereka juga mulai saling bersahutan. Dan tidak sampai 30 menit, merekapun sama-sama menuju puncak malam pertama mereka.
"Ah...ini luar biasa sayang. Terima kasih karena sudah menjaganya untukku," ujar Iko.
"Sama-Sama sayang," ucap Gita.
"Tidurlah. Aku tahu kita sama-sama lelah hari ini. Besok aku akan mengajakmu bulan madu," ujar Iko.
"Bulan madu? kemana?" tanya Gita.
"Kemanapun kamu mau." Jawab Iko.
"Baiklah akan aku pikirkan setelah bangun tidur nanti," ucap Gita sembari terkekeh.
Gita dan Ikopun tidur sembari berpelukkan. Karena mereka sangat kelelahan, mereka tidak perlu memaksakan diri untuk malam perrama yang menguras keringat. Karena mereka tahu, malam-malam selanjutnya akan menjadi malam yang panjang untuk mereka berdua.
__ADS_1