MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
123. Kejutan


__ADS_3

"Emang harus pergi ya bang? kan kita baru mendapat kabar bahagia bang. Abang belum juga sempat manjain aku," tanya Lensi sembari bergelendot manja pada lengan Ibrahim.


"Ini memang harus sayang. Ini juga demi masa depan anak-anak. Jadi kita memang harus memperluas bisnis kita di luar negeri." Jawab Ibrahim sembari mengusap puncak kepala Lensi.


"Lagian abang tidak enak sama Mr. Smith. Abang sudah berjanji akan bekerjasama dengannya untum membuka usaha berlian di London," sambung Ibrahim.


"Berapa lama abang disana? tanya Lensi.


"Paling lama dua minggu. Paling cepat satu minggu." Jawab Ibrahim.


"Tidak bisakah satu hari saja?" pertanyaan Lensi membuat Ibrahim jadi terkekeh.


"Kalau cuma satu hari, itu artinya kamu nyuruh abang pergi, pas sampai sana suruh balik lagi." Jawab Ibrahim sembari tertawa. Sementara Lensi jadi merona karena malu.


"Abang janji akan membawakanmu oleh-oleh spesial buat kamu nantinya," ujar Ibrahim.


Lensi memeluk Ibrahim dengan erat dan menempelkan pipinya di dada pria itu.


"Aku nggak mau apapun. Aku cuma mau abang cepat pulang saja dan tidak kurang suatu apapun. Apalagi kepincut bule disana. Lihat saja kalau itu sampai terjadi, aku akan bawa kabur anak-anak yang jauh," ucap Lensi.


"Jangan pernah berpikir begitu. Kamu ingin bergi bersama anak-anak, itu akan membuatku akan berhenti bernafas,"


"Nanti selama aku pergi, kamu akan abang titipkan di rumah umi. Abang nggak tenang ninggalin kamu sendirian disini," sambung Ibrahim.


"Kan ada pelayan bang. Lagian aku nggak enak sama umi sama abi. Takut pas ada maunya, malah bikin repot mereka," ucap Lensi.


"Mereka orang tuamu. Kalaupun kamu manja sama umi, pasti Umi akan senang. Itu semua demi cucu-cucunya juga. Lagipula kalau bersama mereka bisa membuat abang tenang. Mereka pasti bisa jagain kamu dengan baik," ujar Ibrahim.


"Ya bang." Jawab Lensi yang menurut saja dengan kemauan Ibrahim. Dia tidak mau membuat suaminya yang akan pergi jauh jadi kepikiran dengan dirinya.


"Jadi jam berapa abang mau beragkat nanti?" tanya Lensi.


"Jam 2 siang. Masih ada waktu dua jam lagi " Jawab Ibrahim sembari mengusap-usap perut Lensi yang masih terlihat datar.


Lensi terdengar menghela nafas berat. Ibrahim tahu betul Lensi tengah berat melepaskan kepergiannya.


"Apa aku boleh ngantar abang ke bandara?" tanya Lensi.


"Jangan sanyang. Kamu diam di rumah saja ya!"


Mata Lensi langsung berkaca-kaca, yang membuat Ibrahim jadi iba.


"Baiklah sayangku. Kamu boleh ikut ngantar ya. Tapi ingat nggak boleh nangis nanti disana Jangan buat abang berat perginya," ucap Ibrahim.

__ADS_1


"Iya." Jawab Lensi dengan mata berbinar.


"Sekarang bantu abang bersiap," ucap Ibrahim.


"Emm." Lensi mengangguk.


Ibrahim menurunkan koper dari atas lemari. Sementara Lensi memilih pakaian Ibrahim dan memasukkannya ke dalam koper setelah koper itu di buka.


"Selama abang pergi, abang melarangmu pergi ke kantor setiap hari. Kamu boleh ngantor 2 kali dalam seminggu. Abang juga melarangmu pergi ke mall. Kalau ada yang pengen dimakan suruh pelayan atau supir kita yang membelikannya," ucap Ibrahim.


Lagi-Lagi Lensi menghela nafas. Sepertinya Ibrahim lupa dengan ucapannya sendiri karena terlalu mengkhawatirkan dirinya.


"Jadi sebenarnya abang menyuruhku tinggal di rumah, atau tinggal di rumah Umi?" tanya Lensi.


"Eh? oh iya abang lupa. Harusnya abang tidak khawatir. Kan ada Umi yang bakal bawelin kamu," ujar Ibrahim sembari terkekeh.


"Berarti aku sekalian aja ngantar abang sambil pulangnya nanti ke pesantren," ucap Lensi.


"Iya biar nggak bolak balik. Jadi sekalian aja." Jawab Ibrahim.


Ibrahim dan Lensipun berangkat ke bandara saat waktu keberangkatan Ibrahim kurang dari satu jam lagi. Saat tiba disana, Ibrahim dan Lensi kembali berpelukkan seolah berat melepas satu sama lain.


"Jaga anak-anak ya sayang. Abang janji secepatnya akan pulang," ujar Ibrahim sembari mengeratkan pelukkannya.


Ibrahim menyeka air mata Lensi yang sebisa mungki Lensi tahan agar tidak pecah. Tapi tetap saja akhirnya Lensi kembali berhambur kepelukkan Ibrahim dan terisak disana. Tanpa Lensi tahu, Ibrahim juga menitikkan air mata dibalik punggung istrinya itu.


"Abang berangkat dulu ya sayang. Pesawat abang sudah mau lepas landas," ucap Ibrahim sembari menyeka air mata istrinya itu.


"Ya. Abang hati-hati y," ucap Lensi.


"Emm. Pak, titip antar istri saya ke pesantren ya," ujar Ibrahim.


"Ya Tuan." Jawab supir.


Lensi melepaskan genggaman tangan Ibrahim dengan berat. Ibrahim melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Dia tidak ingin melihat kesedihan Lensi yang membuatnya akan semakin berat.


*****


10 Hari kemudian...


"Abang kapan pulang?" tanya Lensi.


"Maaf sayang sepertinya abang akan nambah 2 bulan lagi disini." Jawaban Ibrahim membuat Lensi langsung mengakhiri panggilan video itu.

__ADS_1


Meski Ibrahim sudah mencoba berkali-kali membuat panggilan ulang, tapi tetap saja Lensi tidak mau mengangkatnya.


"Sejak hamil dia sangat sensitif. Aku harus lebih ekstra sabar," ucap Ibrahim.


Padahal saat ini Ibrahim sudah bersiap kembali pulang ke tanah air. Dia ingin memberikan kejutan untuk istrinya itu. Sementara itu ditempat berbeda Lensi tengah menangis sesegukkan dalam selimut. Dia sangat kesal karena Lensi merasa Ibrahim sudah membohongi dirinya. Karena terlalu lama menangis, Lensipun akhirnya tertidur lelap.


Tok


Tok


Tok


"Echi sayang. Kamu lagi apa? umi masuk ya?" tanya Aisyah yang kemudian masuk kedalam kamar menantunya itu.


Lensi menoleh kearah Aisyah, karena dia senditi baru bangun setelah tanpa sadar tidur selama 2 jam lebih.


"Cuci muka gih. Habis itu sholat dzuhur. Umi bawakan makanan untukmu. Umi juga bawa camilan kue dari kacang almond," ujar Aisyah sembari meletakkan nampan makanan diatas meja.


"Maaf umi sudah merepotkan. Seharusnya biar Echi kedapur ambi sendiri," ucap Lensi yang kemudian beranjak dari tempat tidur.


"Tidak masalah. Umi nggak mau ketiga cucu umi telat makan. Matamu bengkak, apa kamu habis dari menangis?" tanya Aisyah.


"Ya. Echi lagi kesal sama bang Baim. Janjinya pulang cepat, tapi tadi katanya dia pulang dua bulan lagi." Jawab Lensi.


"Jangan sedih. Cepat habiskan makananmu setelah selesai sholat. Umi dan Abi akan mengajakmu pergi jalaln-jalan," ujar Aisyah.


"Jalan-Jalan. Kemana?" tanya Lensi.


"Mencari makanan enak. Bukankah kamu bilang sangat bosan di rumah?" tanya Aisyah.


"Kalau begitu Echi harus izin dulu sama bang Baim," ucap Lensi.


"Tidak perlu. Tadi umi sudah minta izin sama dia," ujar Aisyah.


"Baiklah. Echi sholat dulu ya Mi?"


"Emm." Aisyah mengangguk dan kemudian keluar dari kamar itu.


Dan sesuai yang Aisyah katakan, merekapun pergi untuk mencari makanan enak di salah satu restaurant yang menyediakan aneka makanan hasil olahan laut. Aisyah, Ustad Gofur dan Lensi langsung menuju private room yang membuat Lensi jadi kebingungan.


Namun saat mereka memasuki ruangan itu, Lensi dikejutkan dengan keberadaan sosok yang sangat dia kenal, meskipun pria itu menutupi wajahnya dengan buket bunga mawar merah yang sangat besar.


Lensi bergegas menghampiri pria itu, dan menarik bunga itu dan meletakkannya diatas meja. Lensi kemudian berhambur kepelukkan Ibrahim, sembari terisak. Sementara Ibrahim jadi tertawa keras sembari mengeratkan pelukkannya pada Lensi.

__ADS_1


__ADS_2