
"Apa kalian sudah menyiapkan nama untuk anak kalian?" tanya Ustad Sobir.
"Sudah Abi. Kami menamai putra kami Adam Subrata."Jawab Alex.
"Semoga anak kalian menjadi anak yang sholeh nantinya," ucap Ustad Sobir.
"Amiin." Jawab Alex, Fatimah serentak.
"Kamu sudah tidak tidur semalaman karena menunggui Fatimah lahiran. Kalau kamu mau istirahat dan berganti pakaian pulang saja dulu. Biar kami yang menunggui Fatimah disini sampai kamu datang lagi," ujar Subrata.
"Iya mas papa benar. Mas pasti lelah juga. Besok kita minta pulang ke rumah, biar mas nggak repot bolak balik ke rumah sakit," timpal Fatimah.
"Nggak ada begitu. Pokoknya kamu harus di rumah sakit selama 40 hari. Sampai masa nifas selesai," ujar Alex.
"Eh? i-itu terlalu lama mas. Nggak ada orang habis lahiran normal pulangnya selama itu," ucap Fatimah.
"Betul itu. Dulu waktu Umi melahirkan Fatimah, Umi bisa pulang setelah 24 jam melahirkan. Dengan catatan tidak ada keluhan apapun," timpal istri Ustad Sobir.
"Tapi aku nggak mau kamu kenapa-kenapa. Terlebih nggak ada yang merawatmu saat aku ke kantor," ujar Alex.
"Untuk sementara biar Fatimah Umi yang urus. Minimal sampai tali pusat Adam lepas, dan Fatimah bisa mandiri mengurus Adam," ujar Umi Fatimah.
"Iya Lex. Kenapa kamu harus khawatir. Pulang ke rumah mama juga boleh. Terlalu lama di rumah sakit pasti akan membuat Fatimah stres,"
"Ya sudah kalau begitu sudah Alex putuskan. Fatimah akan pulang ke rumah Abi dan Umi untuk sementara waktu." Jawab Alex.
Fatimah tersenyum. Alex sangat mengerti dirinya. Beruntung Alex tidak menyuruhnya pulang ke rumah mertuanya, karena dia takut mengalami kecanggungan.
"Sayang. Aku pulang dulu sebentar ya? aku janji akan kembali secepatnya," ujar Alex.
"Nggak perlu buru-buru mas. Mas tidur saja yang puas. Setelah itu baru mas boleh kesini," ucap Fatimah.
"Nggak mau. Nanti mas bisa kangen kamu dan Adam." Jawab Alex yang membuat Fatimah jadi tersipu.
"Ehemmm...kalian begitu tidak sopan. Di depan orang tua beraninya mesra-mesraan," sindir Ustad Sobir.
"Betul itu Besan. Anak jaman sekarang memang lebih terbuka dari kita jaman dulu," timpal Subrata yang kemudian terkekeh.
"Namanya anak muda pa. Ya sudahlah, aku pulang dulu kalau gitu," ucap Alex.
"Hati-Hati ya mas," ujar Fatimah.
"Emm." Alex mengangguk.
Alex kemudian pergi dari rumah sakit untuk pulang ke rumah. Sesuai saran Fatimah, Alex tidur sejenak untuk menghilangkan kantuk. Setelah itu barulah dia membersihkan diri.
Tring
__ADS_1
Tring
Tring
Suara ponsel Alex berdering. Dan dia cukup terkejut, saat melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 2 siang.
"Astaga. Aku hampir melewatkan sholat dzuhur,"
Tapi langkah Alex terhenti saat akan nenuju kamar mandi. Suara ponselnya berdering kembali.
"Ya bro?" tanya Alex.
"Kok suaramu serak begitu? baru habis bangun tidur?" tanya Ibrahim.
"Iya ini baru mau sholat dzuhur. Udah hampir telat." Jawab Alex.
"Kok bisa?" tanya Ibrahim.
"Ane semalaman begadang. Star dari magrib sampai pagi nggak tidur. Fatimah melahirkan , anak ane sudah lahir pagi tadi." Jawab Alex.
"Yang bener ente? wah selamat bro. Akhirnya yang di tunggu-tunggu lahir juga," ucap Ibrahim.
"Makasih. Eh... ane sholat dulu. Sebentar lagi ane juga mau ke rumah sakit lagi," ujar Alex.
"Oke. Insya Allah nanti ane sama Lensi kesana juga," ucap Ibrahim.
"Oke ditunggu," ujar Alex.
"Wa'alaikum salam." Jawab Alex dan kemudian mengakhiri perbincangan itu.
Alex bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan kemudian melaksanakan kewajibannya sebagai mahluk Tuhan. Sementara itu Ibrahim menunggu Lensi yang masih berada di dalam kamar mandi.
Ceklek
"Sayang,"
"Ada apa bang?" tanya Lensi.
"Kita ke rumah sakit yuk? Fatimah sudah lahiran." Jawab Ibrahim.
"Fatimah sudah lahiran? ya udah kita kesana," ujar Lensi.
"Mereka pasti pergi ke rumah sakit yang sama dimana papa di rawat. Apa kamu masih belum mau menemui papa juga? ini kan sudah 3 bulan sayang. Bukankah kamu bilang sudah memaafkan beliau?" tanya Ibrahim.
Lensi terdiam. Ini memang bulan 3 sejak Surya masuk rumah sakit, namun Lensi belum juga siap buat bersitatap dengan Surya. Kini Surya memang sudah bisa duduk di kursi roda setelah banyak melakukan terapi. Surya juga sudah bisa menggerakkan tangannya. Namun untuk berjalan dan berbicara, Surya masih belum bisa.
"Baiklah. Nanti sekalian kita pergi menjenguk papa," ucap Lensi yang disambut senyum semringah Ibrahim.
__ADS_1
"Ya sudah ayo kita bersiap," ujar Ibrahim yang kemudian diangguki oleh Lensi.
Setelah mereka bersiap-siap, merekapun langsung pergi ke rumah sakit. Saat tiba di parkiran rumah sakit, ternyata Alex juga baru tiba disana.
"Selamat ya bro. Siapa nama anakmu?" tanya Ibrahim yang tangannya langsung dijabat oleh Alex.
"Adam Subtata." Jawab Alex.
"Nama yang bagus. Semoga kelak jadi anak yang sholeha," ucap Ibrahim.
"Amin." Jawab Alex.
"Selamat ya kak," ucap Lensi.
"Makasih ya? Semoga cepat nyusul ," ucap Alex.
"Amiin." Jawab Ibrahim.
"Ayo kita masuk," ujar Alex.
Merekapun masuk ke ruangan dimana Fatimah dirawat. Mereka disambut hangat oleh keluarga itu.
"Coba gendong dong," ujar Ibrahim.
Alex memberikan Adam pada Ibrahim. ibrahim tampak semringah saat menyambut Adam di tangannya.
"Hati-Hati ya uwak. Aku masih sangat lembut," ujar Alex.
"Kok Uwak?" tanya Ibrahim.
"Kan tua ente dua hari dari ane." Jawab Alex.
"Enak aja. Nggak ada begituan. Perhitungan amat dengan umur. Ketimbang dua hari doang udah di panggil uwak. Panggil ane Om dong," ujar Ibrahim yang dijawab kekehan oleh orang-orang yang berada di ruangan itu.
Ibrahim menimang-nimang adam yang terlihat anteng dalam gendongannya itu.
"Sepertinya bang Baim sudah sangat ingin memiliki anak. Wajar sih, umurnya kan sudah menginjak 31 tahun. Apa sebaiknya aku ajak dia konsultasi ke dokter saja ya? ini sudah terbilang tidak wajar lagi. Kami melakukan hubungan yang sangat aktif, tapi aku belum juga hamil. Ini pasti ada masalah,"
"Tapi bagaimana kalau memang benar ada masalah? dan ternyata aku dinyatakan mandul? bang Baim pasti sangat kecewa. Dan dia pasti ingin berpoligami," batin Lensi.
Pikiran-Pikiran buruk selalu menghantui Lensi. Hingga tiap kali ada keinginan berkonsultasi, dia selalu mundur secara teratur. Tapi saat melihat Ibrahim sekarang ini, rasa ingin memiliki anak jadi ikut menggebu. Dia jadi merasa kasihan dengan suaminya itu.
Dan setelah membesuk Fatimah, merekapun menjenguk Surya yang ternyata baru saja melakukan terapi. Semyum terbit dari bibir Surya, saat melihat kedatangan Ibrahim. Menantunya itu memang paling rajin menjenguk dirinya.
Ibrahim mencium tangan Surya, dan Surya menepuk-nepuk punggung menantunya itu.
"Sepertinya papa jauh lebih baik sekarang. Karena papa sudah baikan, Baim akan memberikan hadiah," ucap Ibrahim yang dibalas senyuman oleh Surya.
__ADS_1
"Baim membawa seseorang yang sangat ingin papa temui," sambung Ibrahim.
Lensi tiba-tiba muncul dari balik tembok. Tanpa di komando air mata Surya mengucur sederas air terjun.