MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
136. Menggemparkan


__ADS_3

Tok


Tok


Tok


"Masuk!" Ibrahim mempersilahkan seseorang diluar pintu untuk masuk kedalam ruangannya.


Sekretaris Ibrahim masuk, dan memberitahu maksud kedatangannya.


"Ada apa?" tanya Ibrahim tanpa mengalihkan fokus pada laptop di depannya.


"Ada tuan Handoko ingin bertemu anda."


"Handoko dari Gita Group?" tanya Ibrahim.


"Ya tuan."


"Antar beliau menemuiku," ujar Ibrahim.


Tidak berapa lama kemudian Handoko masuk kedalam ruangan Ibrahim yang disambut hangat oleh pria itu.


"Hallo tuan Ibrahim, apa kabarmu. Hem?" tanya Handoko sembari mengulurkan tangannya.


"Kabar baik tuan Handoko. Mari silahkan duduk!" Ibrahim menjabat tangan Handoko, dan mengajak pria parubaya itu duduk berdampingan di sofa.


"Ada angin apa pengusaha besar tiba-tiba mengunjungiku. Hem?" tanya Ibrahim.


"Anda bisa saja. Aku datang karena aku ingin mengundangmu hadir di pernikahan putriku." Jawab Handoko.


"Benarkah? wah...aku ucapkan selamat kalau begitu. Akhirnya dapat mantu juga. Siapa pria beruntung itu?" tanya Ibrahim.


"Teman satu kantornya. Anda tahu sendiri putriku tidak mau menggantikanku sebagai pengusaha. Untungnya ada putriku yang lain, yang akan membantuku suatu saat nanti." Jawab Handoko.


"Putri lain? bukankah Gita adalah putri tunggal anda?" tanya Ibrahim yang berpura-pura tidak tahu tentang status Vega.


"Dimasa lalu aku pernah melakukan kesalahan. Dan ternyata tanpa aku tahu, ada putriku yang sudah lahir namun dibesarkan oleh pria lain. Tapi itu tidak masalah, apapun keadaannya dia tetaplah putriku bukan?"


"Ya anda benar. Hubungn darah memang lebih kental bukan," ucap Ibrahim.


"Tuan Ibrahim. Anda kenal betul siapa putriku itu. Aku tidak akan menyembunyikan apapun dari anda. Karena aku pikir ini sudah berlalu, dan dia sudah menjalani hukumannya," ujar Handoko.


"Aku mengenalnya? siapa maksud anda?" tanya Ibrahim.


"Vega Gemilang. Dia putriku yang sudah anda penjarakan akibat kasus penganiayaan terhadap istri anda." Jawab Ibrahim.


"Dia putri anda? astaga, kebetulan sekali ya! tapi ya sudahlah, semua sudah berlalu. Istriku juga sudah memaafkannya. Jadi katakan! kapan pernikahan putri anda akan dilangsungkan?" tanya Ibrahim.


"Tanggal 15 nanti. Masih sekitar 2 minggu lagi. Aku sangat berharap anda datang disaat acara ijab qobul nanti." Jawab Handoko sembari menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya.


"Tentu saja. Insya Allah kalau nggak ada halangan aku pasti akan datang bersama istriku," ujar Ibrahim.


"Wah...terima kasih tuan Ibrahim," ucap Handoko dengan senyum semringah dibibirnya.

__ADS_1


Tok


Tok


Tok


Seorang OB mengetuk pintu sembari membawa sebuah nampan berisi kopi. Ibrahim menganggukkan kepala, agar OB itu masuk kedalam. OB itupun masuk ke dalam, dan menyajikan dua cangkir kopi dan juga camilan.


"Mari silahkan diminum tuan Handoko," ujar Ibrahim.


"Baik. Terima kasih," ucap Handoko.


Ibrahim dan Handoko berbincang banyak hal, termasuk tentang kerjasama mereka di masa depan.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Sayang. Apa aku sudah terlihat cantik?" tanya Lensi.


"Kamu selalu cantik meskipun tidak mengenakan apapun sayangku." Jawab Ibrahim.


"Itu mah maunya abang," ujar Lensi.


"Apa kamu sudah siap?" tanya Ibrahim.


"Sudah. Apa kita harus hadir sepagi ini?" tanya Lensi.


"Iya sayang. Nggak enak dengan tuan Handoko. Dia sudah datang langsung ke kantor buat ngundang kita. Lagian kedepannya nanti kita bakal ada kerja sama degan beliau. Tapi abang mohon kamu harus tahan diri ya? tahu sendiri, disana nanti pasti ada Vega," ucap Ibrahim.


"Ya sudah ayo kita berangkat. Sebentar lagi ijab qobulnya dimulai. Handoko pengen abang mengisi acara itu dengan membaca Al-Qur'an dan juga menjadi saksi pernikahan putrinya," ujar Ibrahim.


"Ayo." Lensi menggamit lengan suaminya dan menuruni tangga bersama.


Lensi dan Ibrahimpun pergi menuju kediaman Handoko. Tepat pada pukul 7 pagi, mereka tiba disana.


"Masya Allah. Terima kasih tuan Ibrahim menyempatkan waktu sepagi ini buat menghadiri acara putriku," ucap Handoko.


"Sama-Sama tuan Handoko," ujar Ibrahim.


"Selamat datang Nyonya Ibrahim, di kediaman kami yang sederhana ini," ucap Susi.


"Ah Nyonya Handoko bisa saja," ujar Lensi dengan senyum terbaiknya.


"Mari ikut saya kedalam. Kita bisa bergabung dengan yang lain," ujar Susi.


"Mari. Bang, aku ikut nyonya Handoko ya?" tanya Lensi yang kemudian diangguki oleh Ibrahim.


Lensi kemudian mengikuti Susi dan duduk diantara ibu-ibu tamu undangan yang lain. Tidak berapa lama kemudian keluarga mempelai pria tiba di kediaman Handoko. Iko terlihat tampan dengan pakaian pengantin berwarna gold. Pria itu langsung duduk ditenpat yang sudah disediakan. Sementara keluarganya yang lain sibuk memasukkan berbagai hantaran pernikahan yang hampir memenuhi seperempat ruangan itu.


Sementara itu Gita dengan Anggun menuruni anak tangga, dengan pakaian berwarna serupa. Iko sampai berdebar, saat melihat kecantikkan calon istrinya yang tidak pernah dia perlihatkan saat berdandan maksimal.


"Sayang. Kau sangat cantik hari ini. Aku sudah tidak sabar menunggu malam," bisik Iko saat Gita sudah duduk disampingnya.


"Iko. Bersabarlah! jangan buat malu," ucap salman yang disambut kekehan pak penghulu dan para saksi.

__ADS_1


"Apa acaranya sudah bisa di mulai?" tanya penghulu.


"Silahkan pak." Jawab Handoko.


Pembawa acara kemudian membacakan susunan acara ijab Qobul. Dan kini giliran Ibrahim yang membacakan ayat suci dengan suara merdunya. Semua orang sangat takjub mendengar merdunya suara pria itu.


Setelah Ibrahim selesai mengaji, acara ijab qobulpun dimulai.


"Iko Michael Sudiro. Aku nikahkan dan aku kawinkan engkau. Dengan anakku yang bernama Gita Purnama binti Handoko Purnama. Dengan mas kawin emas 100 gram dibayar tunai," Handoko mempererat jabatan tangannya saat selesai mengucapkan kata-katanya.


"Aku terima nikah dan kawinnya. Gita Purnama binti Handoko Purnama dengan mas kawin tersebut dibayar tu...."


"Tunggu!" Marini tiba-tiba masuk dan mengacaukan segalanya.


"Mau apa perempuan laknat itu kesini?" batin Lensi.


"Marini. Apa-Apaan kamu? kenapa kamu mengacaukan ijab qobulnya?" tanya Handoko setelah berdiri dari tempat duduknya.


"Sayang. Perkiraanmu memang tepat. Apa kamu membawa flashdisknya bersamamu?" bisik Iko.


"Tentu saja. Dia sudah berani mengacaukan acara kita, maka kita harus mengacaukan hidupnya juga." Jawab Gita.


"Ini benar-benar seru dan menantang. Kita nonton drama ikan terbang dulu sejenak," ucap Iko lirih.


"Aku mau minta keadilan untuk Vega mas. Vega ini putrimu juga. Lihat dia! kalau bukan aku menemukan dia tepat waktu, dia hampir melakukan bunuh diri." Jawab Marini.


"Keadilan apa maksudmu? jangan buat keributan disini. Ini lagi banyak media yang meliput," tanya Handoko.


"Justru itu mas. Aku ingin semua orang tahu, kalau Vega sudah diperlakukan tidak adil disini. Vega sekarang sedang hamil mas." Jawab Marini.


"Ap-Apa?" Handoko terperanjat. Sementara Iko dan Gita memutar bola mata dengan malas.


"Dan ayah dari janinnya adalah calon suami Gita," ujar Marini.


"Apa?" Handoko, Salman dan semua orang yang ada ditempat itu sangat terkejut. Semua media dengan sigap meliput momet yang menggemparkan itu.


"Tidak mungkin! tidak mungkin putraku seperti itu. Handoko, apa-apaan ini?" ucap Salman tidak terima.


"Vega. Apa itu benar? kenapa bisa seperti ini?" tanya Handoko sembari mencengkram kedua lengan putrinya itu.


Vega jadi terisak dan memeluk Handoko.


"Aku nggak tahu gimana ceritanya bisa jadi seperti ini. Yang jelas sebulan yang lalu kami memang makan bersama di hotel G. Dan aku tiba-tiba nggak sadar apa yang sudah aku lakukan. Tapi aku bisa pastikan kalau yang melakukannya adalah Iko." Jawab Vega sembari terisak.


"Iko. Tidak masalah kalau kamu nggak mau tanggung jawab. Setelah kejadian itu aku memang sengaja nggak mau bahas masalah itu sama kamu. Karena aku nggak mau menghancurkan rencana pernikahan kalian. Bahkan saat tahu aku hamilpun, aku tetap nggak mau nemuin kamu. Tapi mama memaksaku."


"Sekarang kamu sudah tahu kalau aku sedang mengandung anakmu. Bagiku itu saja sudah cukup. Aku bisa membesarkan anak kita sendiri. Aku...."


"Aku akan bertanggung jawab kalau itu memang anakku," ucap Iko yang membuat senyum Vega terbit dari bibirnya.


"Tapi sebelum itu sebaiknya kalian semua yang ada disini, dan seluruh media yang meliput acara ini. Tolong saksikan video ini dengan seksama," lanjut Iko.


Semua orang berbisik-bisik tentang video yang Iko maksud. Mereka seakan tidak sabar ingin menyaksikan semua kebenarannya.

__ADS_1


__ADS_2