
"Sayang," bisik Ibrahim.
"Hem?" Lensi terbangun namun dengan mata masih terpejam.
"Ayo kita pulang ke pesantren. Ini sudah sore," ujar Ibrahim.
Plapppp
Lensi membuka matanya dan melihat tempat disekelilingnya. Kulitnya yang telanjang, membuat rasa dingin dari AC menyergapnya. Lensi kemudian menoleh kearah Ibrahim, dan langsung duduk seketika.
"Ada apa sayang?" tanya Ibrahim.
Lensi meraih wajah Ibrahim, dan meraba wajah suaminya itu.
Cup
Ibrahim mencium bibir Lensi dan sedikit lebih lama.
"Ini bukan mimpi sayang. Kita bahkan sudah melakukannya berkali-kali," ujar Ibrahim sembari mengedipkan mata nakalnya.
Karena malu, Lensi langsung bangkit dari tempat tidur dan masuk kedalam kamar mandi meski sembari menahan rasa sakit dipangkal pahanya.
Setelah menunggu hampir 20 menit, Lensi akhirnya keluar dengan hanya melilitkan handuk.
"Sayang. Cepatlah berpakaian, aku sungguh tidak tahan saat melihatmu seperti itu. Jangan sampai abang menerkammu lagi," ucap Ibrahim.
"Abang suka lebay deh. Waktu itu abang terlihat biasa saja. Malah abang terlihat sangat cuek," ucap Lensi sembari memasang penyangga dadanya.
"Kamu tidak tahu saja. Abang susah payah menahannya waktu itu. Apa kamu tidak tahu, dia selalu bangun saat melihatmu berpenampilan sexy," ucap Ibrahim.
"Benarkah? lalu apa itu berlaku juga saat melihat Vega waktu itu?" tanya Lensi sembari mendekat kearah Ibrahim dengan hanya menggunakan penyangga dada dan ce**na dalam.
"Ya nggaklah. Dia cuma bangun saat bersamamu.Contohnya seperti sekarang ini," ujar Ibrahim sembari melihat kearah tonjolan dibalik celananya.
"Ihhh...abang mesum," Lensi menarik pipi Ibrahim.
"Kali ini abang akan melepaskanmu. Tapi nanti malam jangan harap, meskipun kita sedang berada dipesantren," ucap Ibrahim .
"Apa kita akan menginap disana? oh ya bagaimana keadaan umi dan abi? apa mereka baik-baik saja?" tanya Lensi.
"Mereka tidak baik-baik saja. Apalagi Umi. Saat tahu kamu lari dari rumah sakit, dia mengomeli abang habis-habisan. Rasanya abang seperti bukan anak kandungnya saja." Jawab Ibrahim.
__ADS_1
"Tentu saja. Dinda kan menantu kesayangannya yang cantik dan imut," ucap Lensi.
"Kamu ini. Sana cepat ganti baju! jangan sampai abang khilaf lagi," ujar Ibrahim.
Lensi segera berpakaian. Dia juga ingin segera bertemu dengan Aisyah yang menurut Ibrahim sedang sakit karena memikirkan dirinya. Disepanjang perjalanan menuju pesantren, Lensi memeluk erat Ibrahim diatas motor. Ibrahim sengaja ke hotel tidak menggunakan mobil, karena dia yakin Lensi memakai motornya kesana.
"Abang,"
"Hem?"
"Dinda mencintaimu," ucap Lensi saat berada diatas motor dengan kecepatan sedang.
Satu tangan Ibrahim dan Lensi saling menggenggam erat satu sama lain Sementara tangan satunya memeluk pinggang suaminya itu. Setelah menempuh perjalanan yang terasa sangat singkat, merekapun akhirnya tiba di pesantren. Ustad Gofur tersenyum senang saat melihat kedatangan Lensi.
"Abi," Lensi mencium tangan Ustad Gofur sementara Ustad Gofur mengusap puncak kepala Lensi.
"Maafkan Echi karena sudah membuat Abi dan Umi khawatir," ujar Lensi.
"Yang penting kamu sudah sehat dan berada didepan Abi. Itu sudah cukup buat Abi senang," ucap Ustad Gofur.
"Umi kemana Abi?" tanya Lensi.
"Ada dikamar. Umi sedabg sakit. Dia terlalu kepikiran sama kamu." Jawab Ustad Gofur
Ceklek
Lensi menekan handle pintu perlahan. Dan mendapati Aisyah tengah tidur dengan wajah pucat. Lensi mendekat kearah tempat tidur, dan meraih tangan Aisyah. Diciumnya tangan Aisyah dengan lembut dan lelehan air mata. Perlahan Aisyah membukakan matanya dan terkejut saat melihat Lensi berada tepat didepan wajahnya.
"E-Echi kau kah itu nak?" tanya Aisyah karena takut dia salah lihat.
"Iya Umi ini Echi. Hiks...maafkan Echi umi, maafin Echi sudah membuat Umi sakit. Hiks...."
.
"Ah...echi putriku sudah datang...kamu kemana saja. Hiks...kamu nggak kangen umi hem? hiks ..."
Aisyah dan Lensi berpelukkan sembari terisak.
"Echi kangen umi. Cuma umi dan Abi yang bisa memberikan kasih sayang orang tua. Maafin Echi yang durhaka pergi tanpa pamit. Hiks..."
"Itu bukan salahmu. Itu salah si Baim bodoh. Jadi anak laki nggak gentle. Susah amat bilang cinta," ucap Aisyah sembari menyeka air matanya.
__ADS_1
Lensi menatap kening Aisyah dan kemudian menatap wajah pucat Aisyah.
"Kita kerumah sakit saja ya umi? badan Umi masih panas. Echi khawatir," ujar Lensi.
"Umi sudah sembuh kalau kamu sudah datang kesini." Jawab Aisyah.
Ibrahim dan Ustad Gofur yang menyaksikan adegan haru itupun ikut masuk kedalam kamar.
"Sayang. Abang ada hadiah buatmu," ujar Ibrahim.
"Hadiah?" tanya Lensi sembari menyeka sisa air matanya.
Ibrahim mengeluarkan sesuatu kalung dari dalam kotak yang sempat dia ambil dari dalam kamar. Sebuah kalung berliontin indah yang pernah dia temukan saat seorang gadis pernah menolongnya waktu itu. Mata Lensi menyipit, dan kemudian mendekat kearah Ibrahim.
Ibrahim tersenyum saat melihat reaksi Lensi yang seperti mengenali benda itu.
"Da-Darimana abang mendapatkan kalung ini?" tanya Lensi memastikan.
"Sekitar 7 bulan yang lalu. Salah! lebih tepatnya sekitar satu tahun yang lalu. Abang dan Umi pernah kerampokkan dijalan M. Tapi ada seorang gadis pemberani yang menolong kami waktu itu. Gadis itu sempat terluka dilengannya. Tapi belum sempat abang dan Umi mengucapkan terima kasih, dia sudah pergi dengan motor sportnya." Jawab Ibrahim.
"Kalung itu abang temukan tergeletak ditanah. Umi pernah bilang, kalau abang memang berjodoh dengan pemiliknya, kami pasti dipertemukan lagi," sambung Ibrahim.
"Dan gadis itu kemudian menikahi seorang ustad tampan, kaya raya, tapi bodoh. Dia selalu menyakiti istrinya, sampai membuat istrinya hampir kehilangan nyawa karena ingin menyelamatkan suaminya untuk yang kedua kalinya. Sayang, maukah kamu memaafkan suamimu yang bodoh ini?" tanya Ibrahim.
"Hiks...abang...."
Lensi berhambur kepelukkan Ibrahim sembari terisak. Ibrahim mengeratkan pelukkannya, sementara Aisyah dan Ustad Gofur jadi kebingungan.
"Ap-Apa maksudmu Echi gadis yang sama saat menolong kita dulu?" tanya Aisyah.
"Iya Umi." Jawab Lensi sembari melerai pelukkannya dan menyeka air matanya.
"Kalung ini milik Echi. Ini adalah kalung pemberian mama, yang didesign langsung oleh mama yang memang seorang designer perhiasan. Jadi bisa dibilang ini kalung cuma satu-satunya di dunia," ucap Lensi.
"Ya Allah...subhanallah...." Aisyah kembali memeluk Lensi.
"Begitu besar kuasa Allah. Kita yang dipertemukan dengan cara tidak sengaja, malah jadi satu keluarga. Mama sangat berterima kasih sama kamu nak...Kamu menantu Umi yang terhebat didunia," puji Aisyah.
"Ehemm...Umi. Sebenar lagi magrib, kemudian Isya. Apa Umi ingin segera menimang cucu?" tanya Ibrahim yang dengan tidak tahu malunya.
"Abang. Kok ngomongnya nggak tahu malu gitu sih bang?" tanya Lensi.
__ADS_1
"Biarkan saja. Agar Umi tidak lama menahanmu disini. Kita juga banyak kepentingan didalam kamar," ucap Ibrahim.
Aisyah dan Ustad Gofur hanya bisa mengelengkan kepalanya. Sementara Ibrahim sudah menarik tangan Lensi untuk dibawa kedalam kamar.