
Iko memasukkan flashdisk pada laptop dan mencoba menghubungkannya dengan proyektor. Setelah Iko menekan tombol play, dan rekaman itu terlihat saat Iko dan Vega ngobrol di restaurant. Bahkan rekaman itu disertai dengan suara percakapan yang jelas, hingga membuat Vega sedikit gugup saat Handoko menatap dirinya.
Handoko mengerutkan dahinya, saat mendengar Vega menjelek-jelekkan Gita. Terlebih Vega memberikan foto-foto tidak senonoh. Iko kemudian mempause ketika dirinya melihat foto-foto itu.
"Kalian lihat foto-foto ini? kelihatan sekali antara kepala Gita dengan tubuhnya berbeda pose. Ini membuktikan sekali kalau foto ini hasil editan, dan yang mengedit masih amatiran," ujar Iko.
"Satu hal yang nona Vega tidak tahu. Kalau saya dan Gita orang ahli komputer, dan juga ahli telematika. Kami bahkan tidak hanya bisa melihat keaslian foto, kami juga bisa menganalisa keaslian sebuah video," sambung Iko.
"Nggak ada gunanya kamu menjelaskan itu. Kami ingin melihat video saat kamu memperdaya anakku dan menidurinya di kamar hotel," ucap Marini yang tidak ingin Vega dipermalukan.
"Baiklah. Sepertinya nyonya sungguh tidak sabar ya?" Iko kemudian menekan kembali tombol play.
Video selanjutnya menayangkan ketika Vega meninggalkan dirinya ke toilet dan menemui seorang pria. Sementara Iko terlihat berdiri dan menemui resepsionis. Iko juga terlihat menukar minuman diatas meja.
"Kalian lihat apa yang dilakukan anak ini? dia menukar minumannya," ucap Marini.
Iko kembali mempause video. Dia ingin mengklarifikasi soal ucapan Marini.
"Itu suatu bentuk kewaspadaan. Aku menukarnya karena sudah memiliki firasat ada yang tidak beres dengan minumanku. Dan kalian bisa melihat ini,"
Iko kembali menekan tombol play kembali. Disana terlihat Vega menemui seorang pria berseragam hotel, dan memberikan sejumlah uang. Melihat itu semua orang berbisik-bisik heboh. Sementara Vega jadi panik mendengar penjelasan Iko.
"Tidak perduli penjelasannya seperti apa. Pada kenyataannya dialah yang meniduriku. Aku hanya perlu menahan sebentar saja rasa malu ini. Dan pada akhirnya dialah yang akan bertanggung jawab atas anak yang aku kandung," batin Vega.
Video selanjutnya terlihat Vega kembali dari belakang, dan mulai menyantap makanan bersama Iko. Video itu juga sangat jelas saat Iko mengatakan akan pergi ke toilet dan tidak pernah kembali lagi setelahnya. Sesaat kemudian datang seorang pria bertato, dan memeluk Vega yang tengah sempoyongan. Iko kembali mempause video itu.
__ADS_1
"Kalian lihat reaksi nona Vega. Setelah ku tukar minumannya. Dialah yang terkena efek obat itu. Dan alasanku ke toilet, itu hanya sebuah alasan karena sebenarnya aku sudah kabur dari sana dan pulang ke rumah," ucap Iko yang membuat Vega tercengang.
Iko kemudian kembali menekan tombol play. Terlihat sekali pria bertato itu membawa Vega kesalah satu kamar hotel dengan nomor kamar 160. Dan pria itu tidak keluar dari kamar itu dengan waktu yang sangat lama. Iko kembali menekan tombol Pause.
"Apa kalian tahu? aku sampai pegal nungguin pria itu keluar. Mereka masuk ke kamar itu dari jam 14. 30. Dan kalian lihat ini...."
Iko kembali memutar video itu, dan memperlihatkan saat pria bertato keluar dari sana sekitar pukul 5 pagi, dengan senyum semringah dibibirnya.
"Kalian tentu bisa membayangkan sendiri apa yang terjadi disana selama sehari semalam. Tentu aku tidak perlu menjelaskannya. Jadi aku rasa aku tidak ada sangkut pautnya dengan anak yang dikandung nona Vega," ucap Iko.
Tubuh Vega limbung seketika. Gadis itu bahkan terduduk dilantai dengan lemas. Tidak jauh berbeda dengan Vega, Marini juga sangat syok melihat kenyataan itu. Karena selain tidak mengenal pria itu, wajah pria itu juga sangat menyeramkan.
Sementara itu wajah Handoko sudah seperti kepiting rebus karena menahan amarah akibat dipermalukan oleh putrinya itu.
"Maaf kalau saya lancang menyela semuanya," ucap Lensi yang tiba-tiba maju, yang membuat Vega dan Marini terkejut melihat keberadaan orang yang pernah berada satu atap dengan mereka.
"Tutup mulutmu! kamu tidak punya hak bicara disini," hardik Vega sembari berdiri.
"Aku memang tidak punya hak. Tapi aku bisa membantumu menemukan pria yang sudah membuatmu hamil. Karena aku sangat mengenal siapa pria itu sebenarnya," ujar Lensi.
Ibrahim mengerutkan dahinya, karena dia tidak yakin dirinya mengenal pria di video itu atau tidak. Pasalnya Ibrahim sudah menyelidiki siapa saja yang pernah dekat dengan Lensi, dan dia yakin tidak mengenal pria itu dalam daftar pencariannya.
"Omong kosong. Tapi aku juga tidak heran kalau kamu bergaul dengan orang jelek seperti itu. Karena sebelum jadi istri pengusaha hebat, pergaulanmu memang dengan orang-orang sampah seperti itu," ucap Vega.
"Jangan terlalu terburu-buru mengatakan dia manusia sampah. Dia ayah dari bayimu loh, siapa tahu malah akan jadi suamimu," ujar Lensi yang membuat Ibrahim jadi mengulum senyumnya saat mendengar kejahilan istrinya itu.
__ADS_1
"Tutup mulutmu! aku nggak akan pernah menikah dengan orang seperti itu. Aku juga nggak akan melahirkan anak ini!" hardik Vega.
"Hati-Hati kalau ngomong. Media sedang meliput. Kamu nggak mau ngelahirin anak ini, itu berarti kamu berencana ingin melenyapkannya. Dan itu sudah masuk rana hukum pembunuhan berencana. Kamu bisa dipenjara seumur hidup," ucapan Lensi membuat Vega terdiam.
"Tidak mau menikah ya terserah saja. Tapi anak itu nggak ada salah. Kalau kamu nggak mau menghidupinya, berikan pada ayahnya atau orang yang pengen punya anak saja. Itu jauh lebih bermanfaat," sambung Lensi.
"Sekarang lebih baik lanjutkan saja dulu acara ijab qobulnya. Nanti kita bicarakan saja setelah acara ini selesai," ucap Lensi.
Penghulu dan keluarga Handoko setuju untuk melaksanakan acara itu lebih dulu. Sementara Vega dan Marini jadi terdiam dan terpaksa ikut menyaksikan acara itu. Dan hanya dengan satu kali tarikkan nafas, Iko berhasil mengucap ijab qobul dengan lancar dan menjadikan Gita Sah sebagai istrinya.
Tamu undangan mulai menikmati hidangan yang sudah disediakan, dan mulai berangsur sepi. Kini tinggal keluarga inti, dan juga ada Lensi dan Ibrahim yang tetap tinggal disana.
"Jadi sebenarnya siapa pria itu nyonya Lensi?"" tanya Handoko.
"Dia ketua dari geng Hitam. Namanya Cokro. Dia pernah melakukan penusukkan terhadapku hingga membuatku sempat koma beberapa waktu." Jawaban Lensi membuat semua orang terkejut terlebih lagi Ibrahim.
"Aku baru ingat sekarang. Berarti dia pria bertopeng itu," batin Ibrahim.
"Papa kecewa sama kamu Vega. Bisa-Bisanya kamu melakukan hal memalukan seperti itu? bisa-bisanya kamu ingin merebut calon suami adik kamu sendiri?" tanya Handoko.
"Kenapa aku tidak boleh? selama puluhan tahun dia mendapatkan hal terbaik dalam hidupnya. Sementara aku diurus orang lain. Dia bisa mencari laki-laki lain, tapi aku menginginkan Iko jadi suamiku." Jawab Vega.
"Aku rasa gadis ini sudah gila pa," ujar Iko.
"Sayang jangan bersuara dulu. Nikmati saja dulu tontonan seru ini," bisik Gita yang kemudian diangguki oleh Iko.
__ADS_1
Handoko menatap Marini dengan tajam, yang membuat wanita itu jadi ketakutan.