
Lensi perlahan melepas berbagai Aksesoris yang berada dikepalanya, termasuk hijab yang melilit dan dibentuk sedemikian rupa. Ibrahim yang baru memasuki kamar tidak mengucapkan sepatah katapun, atau berniat ingin membantu Lensi. Pria itu malah segera meraih handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.
"Hah...pernikahan seperti apa yang aku jalani nanti. Tapi apapun itu, aku sudah membuat seorang ibu bahagia. Semoga mama juga bahagia di surga sana," ucap Lensi liruh.
Lensi bergegas melepas semuanya, termasuk baju pengantin yang dia kenakan. Lensi juga menghapus make up diwajahnya, dengan cairan pembersih wajah, dan kemudian bermain ponsel sembari menunggu Ibrahim keluar dari kamar mandi.
Selang 20 menit kemudian Ibrahim keluar dari kamar mandi dan langsung menunaikan sholat isya yang sempat tertunda karena acara resepsi pernikahannya. Sementara itu Lensi bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Namun naas lagi-lagi dirinya lupa membawa pakaian ganti.
Krieekkk
"Ba-Baim. Bolehkah aku minta tolong?" ucap Lensi dari balik pintu kamar mandi.
"Apa." Jawab Ibrahim tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.
"Aku lupa bawa baju ganti. Tolong ambilkan di dalam ranselku. Baju tidur polos berwarna hitam," ujar Lensi.
Tanpa banyak bicara Ibrahim langsung bangkit dari tempat tidur dan mengambilkan baju yang Lensi maksud.
"Ini," ujar Ibarahim sembari menyodorkan baju tidur itu pada Lensi yang hanya terlihat sebagian kepalanya saja.
"Emm...a-anu. Pakaian dalamnya sekalian. Tolong ya?" ucap Lensi yang membuat mata Ibrahim jadi melotot.
"Kamu...."
"Kalau nggak mau nggak apa kok. Sebenarnya aku kalau tidur nggak suka pakai itu juga," ucap Lensi yang kemudian langsung menutup pintu.Dia tidak ingin mendengar Ibrahim mengomeli dirinya, karena pria itu sudah terliat mulutnya ingin menganga.
"Wanita ini tidak tahu malu sekali. Meski aku ini suaminya, tapi tidak bisakah dia bersikap sedikit lebih anggun?" gerutu Ibrahim.
Tidak lama kemudian Lensi keluar. Karena terdoktrin oleh ucapan Lensi, Ibrahim jadi melihat kearah dada istrinya itu.
"Astagfirullah...ane mikir apa sih? sejak mengenal wanita ini, pikiranku jadi ikut korslet," batin Ibrahim.
Lensi menarik handuk diatas kepalanya, dan duduk di depan cermin. Ibrahim yang sibuk bermain ponsel, sesekali mencuri pandang kearah Lensi yang tengah mengeringkan rambut dengan hairdryer. Setelah rambutnya kering dan disisir rapi, Lensi juga memakai krim malam diwajahnya.
Lensi kemudian beranjak dari tempat duduknya dan mengitari ranjang karena ingin segera tidur.
"Tidak sholat dulu?" tanya Ibrahim.
"Besok saja." Jawab Lensi dengan entang dan berbaring membelakangi Ibrahim.
"Emang kamu yakin hidup bisa sampai besok?" tanya Ibrahim.
"Udah izin sama malaikat." Jawab Lensi.
"Kamu...."
Ibrahim menghela nafas berat. dia tahu perjuangan memiliki istri seperti Lensi akan berat kedepannya. Diapun mencoba memejamkan mata, karena tubuhnya benar-benar lelah.
Blammmm
__ADS_1
Mata Lensi terbuka, setelah ruangan itu tampak sepi. Tidak ada pergerakkan, atau suara ketikkan ponsel Ibrahim lagi. Lensi berbalik badan, dan melihat Ibrahim sudah memejamkan mata. Lensi bergegas mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat Isya dengan menggunakan kain sarung Ibrahim yang dibuat seperti ninja.
Setelah selesai, Lensi kembali naik keatas tempat tidur dan memejamkan mata. Namun kali ini giliran Ibrahim yang membuka mata, setelah melihat mata Lensi terpenjam. Ibrahim seperti merapalkan bait do'a-do'a, dan menghembuskannya di ubun-ubun istrinya.
*****
Lensi merenggangkan tubuhnya yang terasa lelah. Wanita itu benar-benar lupa kalau saat ini dirinya sudah menjadi seorang istri.
"Bangunlah! sudah adzan tubuh," ujar Ibrahim.
"Nanti sebentar lagi Riko. Masih ngantuk nih," ucap Lensi tanpa sadar.
"Riko? siapa Riko? apa itu nama kekasihnya?" batin Ibrahim.
"Bangun! nanti waktu subuh keburu habis," Ibrahim sedikit lebih mengeraskan suaranya.
"Aduk Rik...apa kamu nggak tahu, tubuh dewimu ini serasa mau remuk?" Lensi lagi-lagi meracau.
"Oh...jadi benar Riko itu kekasihnya? dan pria itu menyebut namanya dengan sebutan dewi? tidak bisa dibiarkan. Meski kami menikah tanpa cinta, tapi sekarang dia adalah istri Sahku. Jadi aku harus bersikap tegas padanya, agar dia tidak menganggapku sebagai pecundang," batin Ibrahim.
Ibrahim bergegas mengambil satu gayung air, dan memercikkan air diwajah istrinya itu.
"Riko, Mawan, Karman. Iseng banget sih?" ucap Lensi yang langsung bangkit dari tempat tidur.
"Bagus sekali. Tidak hanya satu, tapi ada bebeberapa pria dalam hidupnya ini. Ya Tuhan...wanita seperti apa yang Engkau berikan untuk hambamu ini," batin Ibrahim.
"Mati aku. Aku benar-benar lupa kalau aku sudah menikah," batin Lensi.
"Ehemm...ada apa?" tanya Lensi yang masih bersikap angkuh.
"Ada apa? apa pantas kamu bertanya dengan nada seperti itu terhadap suamimu?" tanya Ibrahim.
Lensi menghela nafas. Dirinya menyadari kalau sikapnya itu salah.
"Ada apa suamiku yang tampan rupawan," ujar Lensi dengan senyum terbaiknya dan kedipan mata berkali-kali.
"Masya Allah...kenapa dia terlihat cantik dan imut dengan ekspresi seperti itu?" batin Ibrahim.
"Ehemmm...tidak usah lebay. Cepat ambil wudhu, kita sholat subuh berjama'ah. Aku sudah meminjam mukenah Umi untukmu. Jadi kamu tidak perlu lagi sholat seperti ninja, nanti malaikatnya bingung nyatat amal kamu," ledek Ibrahim.
Mata Lensi terbelalak mendengar ucapan Ibrahim. Wajahnya bersemu merah, karena dirinya ketahuan sholat menggunakan sarung tadi malam. Tanpa banyak bicara Lensi bergegas masuk ke dalam kamar mandi, dan mengambil air wudhu. Setelah itu dia bergegas memasang mukenah dan berdiri dibelakang Ibrahim.
Sungguh hati Lensi bergetar, saat mendengar tiap lantunan ayat yang Ibrahim ucapkan. Hingga tanpa sadar air matanya menetes. Entah apa yang Lensi rasakan saat ini, yang pasti setelah Ibrahim mengucapkan salam, tangis Lensi jadi pecah. Ibrahim yang kebingungan langsung menghampiri Lensi karena ingin menenangkan istrinya itu.
"Hey...ada apa?" tanya Ibrahim.
Lensi melihat kearah Ibrahim, dengan air mata yang membasahi wajahnya. Lensi tiba-tiba memeluk Ibrahim sembari terisak. Ibrahim jadi mematung, dengan jantung yang berdebar-debar. Entah karena terpaksa atau nalurinya, Ibrahim kemudian membalas pelukkan itu dengan satu tangan mengusap-usap puncak kepala istrinya itu.
Lensi segera melerai pelukkannya pada Baim, setelah tangisnya mereda. Dia cukup malu sudah bersikap seperti itu, dan bergegas merapikan mukenah, kemudian keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Aneh sekali. Tadi nangis, sekarang pergi tanpa bilang apa-apa," ucap Ibrahim.
Sementara itu Lensi pergi ke dapur, yang ternyata sudah ada Aisyah disana.
"Sayang. Kamu sudah bangun?" tanya Aisyah.
"Sudah Umi." Jawab Lensi.
"Sudah sholat?" tanya Aisyah.
"Sudah Umi. Tadi berjama'ah sama Baim." Jawab Lensi.
"Kok Baim? panggilannya harus di ubah dong. Lagipula dia lebih tua 5 tahun dari kamu. Jadi minimal kamu harus memanggilnya dengan sebutan kakak, atau abang," ujar Aisyah.
"I-Iya Umi." Jawab Lensi terbata.
"Nah...sekarang kamu bantu Umi goreng ayamnya ya? suamimu sangat suka makan ayam goreng, sambal bajak dan tumis kangkung. Tidak usah masakin yang aneh-aneh. Tiap hari makan itu dia tidak akan protes," ujat Aisyah.
"Ta-Tapi Echi tidak bisa masak Umi," ujar Lensi.
"Akan Umi ajari," ujar Aisyah.
Aisyah kemudian dengan sabar mengajari Lensi memasak. Lensi memperhatikan dan mempraktekkan semua yang Aisyah ajarkan.
"Sekarang jaman serba canggih. Apapun yang ingin kita masak, bisa kita lihat di media sosial. Yang penting kita ada kemauan," ujar Aisyah.
"Iya Umi." Jawab Lensi.
"Emmm. Umi, apa kalian tidak masalah memiliki menantu yang tidak berhijab?" tanya Lensi.
Mendengar pertanyaan itu, Aisyah jadi tersenyum. Dia mengerti kegelisahan istri dari putranya itu.
"Tidak ada yang bisa memaksamu kalau kamu belum mau berhijrah jauh lebih baik. Tapi satu hal yang harus kita tanamkan dalam diri kita. Untuk apa hidup kita, kalau posisi kita sudah bersuami. Jika rambut kita gunakan sebagai penarik lawan jenis, tapi sekarang posisi kita sudah menikah. Lalu untuk menarik perhatian siapa lagi rambut kita itu? terlebih perintah berhijab sudah jelas, bahwa itu hukumnya wajib." Jawab Aisyah.
Lensi terdiam. Dia memang pernah mendengar tentang hukum wajib menggunakan hijab, namun dirinya masih belum siap. Melihat wajah Lensi yang bimbang, Aisyah menyunggingkan senyumnya.
"Jangan menggunakan hijab karena perintah orang lain, kecuali itu perintah suamimu. Tapi yang benar adalah, kamu menggunakan hijab, karena sadar bahwa itu memang sudah perintah Allah. Kalau kamu memakainya karena ucapan manusia, kamu akan merasa tertekan. Tapi kalau kamu memakainya karena sadar karena itu kewajiban, insya Allah kamu akan sayang melepas hijab itu kembali," ujar Aisyah.
"Lensi mengerti Umi." Jawab Lensi.
"Kalau gitu panggil suami kamu, ajak dia sarapan bersama ya?"
"Iya Umi." Jawab Lensi.
Lensi bergegas pergi ke kamar, karena ingin mengajak suaminya sarapan bersama.
"Abang. Kita sarapan sama-sama yuk?"
Ibrahim terkejut dengan ajakkan Lensi. Bukan terkejut dengan ajakkannya, tapi terkejut karena Lensi merubah panggilan untuk dirinya.
__ADS_1