
Satu bulan kemudian...
"Barang yang memiliki lis dengan warna yang sama dipisahkan menjadi satu ya? jadi warna kuning sesama warna kuning. Begitu juga dengan warna yang lainnya. Saat barang datang atau batang keluar, catat menajadi dua bagian. Ada yang manual, dan ada yang diinput kedalam komputer. Pelan-Pelan saja, jadi biar tidak ada kesalahan. Apa kalian mengerti?" tanya Lensi.
"Mengerti buk." Jawab seluruh karyawan gudang.
"Bang. Aku serahin semuanya sama abang ya? oh ya, apa Okta masih nggak enak badan?" tanya Lensi.
"Ya rencananya nanti sore kami mau ke dokter. Sudah 3 hari ini dia ngeluh pusing. Dan bawaannya lemas." Jawab Arman.
"Kalau emang urgent jangan nunggu sampai sore. Habis makan siang abang pulang saja ," ujar Lensi.
"Jangan begitu. Abang nggak mau kasih contoh yang buruk dengan yang lain. Waktu libur dan cuti sudah ditentukan masing-masing. Jadi harus disiplin apapun alasannya," ucap Arman.
"Ya terserah abang saja kalau begitu. Aku...."
Tring
Tring
Tring
Suara ponsel Lensi berdering. Lensi segera menerima panggilan itu.
"Ya sus?"
"Maaf bu. Ada tamu yang datang ingin menemui ibu. saya sudah bilang kalau ibu sedang tidak ada di kantor. Tapi dia ngotot memaksa masuk. Sekarang dia ada di ruangan ibu." Jawab Susi sang sekretaris.
"Siapa?" tanya Lensi.
"Nona Vega. Orang lama bilang nona Vega anak dari pemilik perusahaan yang lama." Jawab Susi.
"Baiklah saya akan datang sebentar lagi," ujar Lensi.
Sementara itu tanpa Lensi tahu, Ibrahim juga sedang menuju kantornya. Tapi karena Lensi menggunakan motornya, jadi dia lebih dulu sampai ke kantornya.
"Hallo kakak tercantikku. Apa kabarmu. Hem?" tanya Vega berbasa basi saat melihat Lensi memasuki ruangannya.
"Jangan berbasa-basi. Katakan saja mau apa kamu kesini?" tanya Lensi sembari duduk si kursi kebesarannya.
"Oh ayolah. Kita ini saudara kandung. Saudara satu ayah. Kenapa kamu begitu tidak suka aku datang kemari?" tanya Vega.
"Kalau kamu datang hanya untuk berbasa basi dan kurang kerjaan, lebih baik pergi saja. Aku sangat sibuk." Jawab Lensi sembari sibuk dengan laptopnya.
"Apa kamu bisa menangani perusahaan? ya walau bagaimanapun kamu sangat minim pengalaman jika dibandingkan aku. Kalau kamu mau, aku bisa membantumu," tanya Vega.
"Kalau aku mau? tapi maaf, sayangnya aku nggak mau tuh. Masih banyak orang yang berkompeten yang bisa membantuku, bukan seseorang yang bahkan tidak bisa menyelamatkan perusahaannya sendiri." Jawab Lensi.
Brakkk
Vega tiba-tiba menggebrak meja. Dia sangat marah saat mendengar ucapan Lensi.
"Kenapa harus marah? kan sesuai kenyataan," tanya Lensi.
"Jangan sombong kamu. Kamu itu nggak bisa apa-apa. SU Group hanya menunggu waktu saja bangkrutnya," ucap Vega.
__ADS_1
"Bangkrut atau tidak, tidak ada urusannya sama kamu. Lebih baik kamu cari perusahaan lain saja kalau ingin mengemis pekerjaan," ujar Lensi sembari berdiri dan membuka kulkas untuk mengambil air dingin.
Tanpa sepengetahuan Lensi, Vega mengayunkan sebuah vas bunga dan menghantam tepat dibelakang kepala Lensi.
Brukkk
Lensi jatuh kelantai dan tidak sadarkan diri.
"Rasain kamu. Inilah akibat dari kesombonganmu," ucap Vega. Gadis itu bahkan menginjak punggung tangan Lensi dengan sepatu lancipnya.
Setelah melakukan hal sadis itu Vega menggasak uang tunai yang ada didalam laci kerja Lensi. Uang tunai sebesar 300 juta yang akan Lensi sumbangkan untuk anak yatim dan anak terlantar. Namun Vega benar-benar lupa, kalau di ruangan itu tentu saja ada cctv yang merekam semua perbuatannya itu.
Setelah itu Vega melenggang pergi seolah tidak terjadi apa-apa dan tidak menimbulkan kecurigaan sama sekali.
"Vega? mau apa dia kesini?" batin Ibrahim saat melihat Vega baru keluar dari lift.
Ibrahim berbalik badan, agar Vega tidak mengenali dirinya. Setelah itu dia bergegas naik keatas untuk menemui istrinya.
"Din-da...."
Ucapan Ibrahim terbata, saat dirinya melihat Lensi tergeletak dilantai, dan terdapat darah yang mengalir dari sisi kepala istrinya itu. Tubuh Ibrahim sampai gemetar saat melihat darah itu.
"Sa-Sayang kamu kenapa?" Ibrahim segera membawa Lensi dipangkuanya.
"Susiiii...security...." teriak Ibrahim.
Susi sangat terkejut saat mendengar suara Ibrahim yang menggelegar. Begitu juga dengan security yang bertugas dilantai itu. Mereka segera berhambur kedalam, untuk melihat apa yang terjadi. Mereka sangat terkejut, saat melihat bos mereka digendong oleh Ibrahim dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Siapa yang masuk terakhir keruangan ini?" tanya Ibrahim pada susi.
"Kamu perintahkan orang dibagian IT untuk menyerahkan rekaman cctv dalam ruangan bos kalian ke ponselku. Kalian tahu nomorku kan?" ucap Ibrahim.
"Tahu tuan." Jawab mereka dengan jantung berdebar. Mereka sangat takut, karena wajah Ibrahim memperlihatkan amarah yang sangat besar.
Sementara itu Ibrahim segera mebawa Lensi ke rumah sakit. Dia sangat khawatir terjadi sesuatu dengan istrinya itu.
"Sayang. Kumohon bertahanlah!" ucap Ibrahim sembari sesekali mencium tangan Lensi.
Hanya butuh waktu 20 menit bagi Ibrahim untuk sampai di rumah sakit. Setelah tiba disana, diapun segera menggendong Lensi dan membawanya ke ruang IGD. Para dokter bergegas menangani Lensi yang membutuhkan penanganan yang cukup serius.
Ibrahim segera menelpon kedua orang tuanya dan juga teman-teman Lensi. Arman dan Okta yang kebetulan ingin menuju rumah sakit, lebih dulu sampai dari yang lain.
"Pelan-Pelan sayang. Kamu juga lagi tidak sehat," ucap Arman yang melihat Okta hampir terhuyung saat ingin cepat melihat keadaan Lensi.
"Aku nggak tahu kenapa Lensi selalu dekat dengan maut. Aku sangat khawatir bang," ucap Okta.
"Kita berdo'a saja semoga dia tidak kenapa-kenapa," ujar Arman.
"Amiin." Jawab Okta.
Okta dan Arman segera menemui Ibrahim yang sedang menunggu di ruang tunggu.
"Bagaimana keadaan Dewi bang?" tanya Okta.
"Dokter bilang karena benturan yang cukup keras di kepalanya, ada pembekuan darah di otaknya. Jadi sampai sekarang dia belum sadar."Jawab Ibrahim. sembari menatap Lensi yang baru dipindahkan di ruang perawatan setelah melewati rangkaian pemeriksaan.
__ADS_1
"Ap-Apa? apa itu sangat berbahaya bang?" tanya Okta.
"Kita tunggu sampai siuman. Agar bisa melihat responnya terlebih dahulu. Tapi dokter menyarankan agar nanti dia melakukan terapi untuk menghilangkan pembekuan darah di otaknya." Jawab Ibrahim.
Tidak berapa lama kemudian Aisyah dan Ustad Gofur tiba di rumah sakit.
"Kenapa ini bisa terjadi?" tanya Aisyah.
"Ini semua gara-gara Vega. Adik satu ayah beda ibu dengan Lensi. Dia dengan sengaja mencelakainya. Lihat saja, aku akan membuat riwayatnya tamat." Jawab Ibrahim.
"Apa? jadi ini gara-gara si jentik nyamuk itu? kurang ajar. Biarkan aku yang memberi perhitungan sama dia," ucap Okta sembari menggulung lengan bajunya.
"Sayang sabar dulu. Kita tunggu sampai Lensi siuman dulu ya? lagian kamu lagi nggak sehat. Kamu...."
Kata-Kata Arman terhenti, saat melihat Lensi sudah sadar dari pingsannya.
"Sayang. Kamu sudah sadar?"
Cup
Cup
Cup
Ibrahim yang lupa saat ini sedang banyak orang mencium Lensi bertubi-tubi. Dan terakhir mencium bibir Lensi sedikit lebih lama.
"Ehemm..." Aisyah berdehem hingga Ibrahim melepaskan ciuman itu. Sementara teman-temannya yang lain jadi malu sendiri melihat adegan live itu.
"Sayang. Bagaimana perasaanmu?" tanya Ibrahim.
Lensi menatap lekat kearah mata Ibrahim dengan tatapan bingung.
"Emang suatu keberuntungan sih di cium oleh cowok ganteng. Mana enak lagi ciumannya. Apalagi dia tipe gue banget. Tapi itukan ciuman pertama gue? terus dia siapa dong? kok gue nggak ingat sama sekali? apa dia yang udah nyelamatin gue saat jatuh dari jembatan itu?" batin Lensi.
"Ehemm...O-Okta kemari!" ucap Lensi yang membuat Ibrahim jadi mengerutkan keningnya karena Lensi sudah mengabaikannya.
Okta perlahan mendekat, dan Lensi menarik lengan Okta agar dia bisa berbisik ketelinga sahabatnya itu.
"Cowok ini siapa sih? kok main sosor bibir gue? itu ibu dan bapak itu siapa?" bisik Lensi.
Okta terkejut karena Lensi tidak mengingat Ibrahim dan juga mertuanya.
"L-Loe tanya aja sendiri." Jawab Okta.
"Loe bagaimane sih? malu gue?" ucap Lensi setengah berbisik sembari mencubiti lengan Okta.
"Aww..sakitt Dew," jerit Okta.
"Sayang. Kenapa kamu nyubitin Okta? kepala kamus sakit?" tanya Ibrahim khawatir.
"Ka-Kamu siapa?" tanya Lensi yang membuat Ibrahim jadi terbelalak.
"Apa ini? kenapa aku jadi kebagian kisah sinetron? pakai acara hilang ingatan segala. Ya Tuhan...cobaan apalagi ini," batin Ibrahim.
"A-Aku...."
__ADS_1
Belum sempat menjawab, dokter yang merawat Lensi memasuki ruangan.