MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
61. Petir Disiang Bolong


__ADS_3

"Kenapa aku merasa sikap Baim berubah ke aku akhir-akhir ini? dia lebih perhatian dan banyak tersenyum padaku. Apa aku salah mengira? aku takut hanya salah paham, dan terlalu percaya diri," batin Lensi.


"Ini seharusnya hari terakhir aku belajar ilmu bisnis dengannya. Aku sangat bersyukur belajar dengannya, karena dia mengajari caranya jauh lebih mudah dan bisa di mengerti,"


Lensi tersenyum kearah Baim yang tengah sibuk dengan laptop di depannya. Merasa sedang diperhatikan, Ibrahim menghentikan gerakkan tangannya dan menatap kearah Lensi.


"Kamu kenapa lihatin aku begitu?" tanya Ibrahim.


"Eh? Din-Dinda nggak lihatin abang." Jawab Lensi sembari mengalihkan pandangannya pada berkas terakhir yang akan dia pelajari.


Ibrahim tersenyum, saat melihat Lensi yang seperti salah tingkah.


"Tunggu sebentar lagi. Aku sudah menyiapkn semuanya, untuk mengungkapkan perasaanku padamu," batin Ibrahim.


"Apa kamu kesulitan mempelajari berkas terakhir itu?" tanya Ibrahim.


"Lumayan sulit yang ini bang." Jawab Lensi.


Ibrahim mendekat kearah Lensi, dan duduk di dekat istrinya itu. Ibrahim mulai mengajari Lensi, Lensi sangat fokus mendengarkan Ibrahim. Dia tidak ingin ada satupun yang terlewatkan saat Ibrahim mengajari dirinya.


"Nanti akan ada rapat jam 2 siang. Kamu boleh ikut di ruang rapat. Aplikasikan ilmu yang kamu dapat. Minimal kamu mendengar apa yang sedang orang-orang diskilusikan Syukur-syukur kamu bisa memberikan ide brilian saat rapat nanti," ujar Ibrahim.


"Eh? ikut rapat?" tanya Lensi.


"Iya. Kenapa wajahmu jadi nggak enak dilihat begitu?"


"Bu-Bukan begitu. Apa tidak masalah membawa orang asing yang tidak bekerja disini, mengikuti rapat sepenting itu?" tanya Lensi.


"Orang asing apa? kamu itu istriku. Tentu kamu diperbolehkan masuk keruang rapat. Aku sudah memutuskan kamu jadi serketaris pribadiku untuk sementara. Aku ingin tahu, apa ilmu yang aku berikan benar-benar bisa kamu serap dengan baik, atau cuma kepala kamu sekedar manggut-manggut saja saat aku menjelaskan," ucap Ibrahim panjang lebar.


"Serketaris pribadi?" tanya Lensi.


"Ya. Kenapa?"


"Matilah aku. Kalau aku jadi serketarisnya pasti nggak akan bisa bebas lagi. Tapi kalau aku menolak, pasti biji matanya akan keluar menatapku. Bagaimana ini," batin Lensi.


"Kenapa diam? tidak setuju?" tanya Ibrahim.


"Se-Setuju bang. Selapan sembilan sepuluh malah." Jawab Lensi yang membuat Ibrahim mengulum senyumnya.


Tok


Tok


Tok


"Masuk!"


Ceklekkk


Seorang OB masuk dengan membawa satu nampan besar makanan yang dipesan oleh Ibrahim.


"Terima kasih. Kamu boleh kembali," ujar Ibrahim.


OB itu pun pergi keluar, Ibrahim meletakkan semua makanan diatas meja.


"Ayo kita makan siang dulu, sebentar lagi kita akan rapat," ujar Ibrahim.

__ADS_1


"Aduh...siapa yang bisa menolongku siang ini. Aku belum siap ikut rapat yang begituan. Pengen istirahat, pengen meluruskan pinggang, capek banget ini," batin Lensi.


Lensi dan Ibrahin mulai menyantap makan siang mereka dalam diam. Namun saat sedang menikmati makanan dipertengahan, ponsel Ibrahim berdering. Lensi cuma melirik saat ponsel itu berdering, dan mengetahui bahwa Ustad Gofurlah yang membuat panggilan.


"Angkat dulu bang, siapa tahu penting," ucap Lensi.


Ibrahim menuruti ucapan Lensi dan menerima panggilan itu.


"Assalammu'alaikum Abi?"


"Wa'alaikum salam warohmatullah." Jawab Ustad Gofur.


"Ada apa Bi?" tanya Ibrahim.


"Apa kamu sibuk siang ini?" tanya Ustad Gofur.


"Tidak terlalu. Ada apa Bi?" tanya Ibrahim.


"Ustad Sobir akan datang siang ini. Dia ingin bicara penting denganmu. Apa kamu bisa meluangkan waktu sebentar?" tanya Ustad Gofur.


"Ustad Sobir ingin bicara denganku? ada kepentingan apa ya Bi kira-kira?" tanya Ibrahim.


"Abi juga tidak tahu. Beliau tidak mengatakan apa-apa. Tapi beliau bilang ini sangat penting." Jawab Ustad Gofur.


"Baiklah. Insya Allah Baim akan datang," ujar Ibrahim.


"Kami tunggu. Ajak Lensi, Umi kangen sama dia," ucap Ustad Gofur.


"Iya." Jawab Ibrahim.


"Wa'alaikum salam." Jawab Ibrahim.


"Ada apa?" tanya Lensi tidak sabar.


"Kita harus ke pesantren siang ini. Kata Abi Ustad Sobir ingin bicara penting denganku." Jawab Ibrahim.


"Yes. Memang Tuhan maha baik, ahay...nggak jadi ikut rapat. Hehehhe...." batin Lensi.


"Eh? tunggu! bukannya Ustad Sobir adalah mantan calon mertuanya bang Baim? dia mau bicara apa ya kira-kira?"


"Kira-Kira dia mau bicara apa ya bang?" tanya Lensi yang dijawab kedikkan bahu oleh Ibrahim.


"Abi bilang suruh ajak kamu kesana. Umi kangen sama kamu," ujar Ibrahim.


"Oke. Jam berapa kita kesana?" tanya Lensi.


"Habis makan siang ini kita kesana." Jawab Ibrahim.


"Loh. Bukannya kita mau meeting ya bang?" tanya Lensi berpura-pura antusias dengan rapat yang diadakan siang ini.


"Sepertinya kamu sangat bersemangat, bagaimana kalau kamu saja yang memimpin rapatnya?" tanya Ibrahim yang langsung dijawab gelengan cepat oleh Lensi.


"Cepat habiskan makananmu. Kita harus sampai sana, sebelum Ustad Sobir datang," ujar Ibrahim.


"Emm." Lensi mengangguk sembari mempercepat makannya. Dia sangat takut disuruh mimpin rapat siang ini.


Setelah selesai makan siang, merekapun pergi ke pesantren. Aisyah sangat suka melihat penampilan Lensi hari ini yang mengenakan gamis berhijab.

__ADS_1


"Apa kamu sudah memutuskan untuk hijrah. Hem?" tanya Aisyah.


"Belum Umi. Echi belum siap sepenuhnya. Ini karena Echi lagi belajar dikantornya bang Baim. Dia nggak mau ngajarin kalau datang kesana nggak pakai hijab." Jawab Lensi.


"Apa yang kamu rasakan saat pertama kali memakai hijab?" tanya Aisyah.


"Awalnya gerah banget Umi. Tapi karena sudah terbiasa hampir dua minggu ini, jadi nggak kepanasan lagi." Jawab Lensi.


"Nanti akan ada masanya, saat kamu ingin membuka hijabmu itu terasa sayang. Ada masanya kamu nggak suka rambutmu dilihat oleh lawan jenis yang bukan muhrim. Untuk saat ini belajar saja pelan-pelan," ujar Aisyah.


"Iya Umi." Jawab Lensi.


"Kamu sudah makan?" tanya Aisyah.


"Sudah Umi. Tadi makan siang di kantor sama bang Baim." Jawab Lensi.


Aisyah tiba-tiba mengintip dari tirai jendela, dan melihat sebuah mobil berwarna hitam sudah parkir di halaman pesantren. Terlihat seorang pria berjubah putih dan berkalung sorban turun dari mobil. Dan seorang wanita bergamis putih juga turun dari sisi mobil yang lain.


"Ustad Sobir sudah datang. Kamu bantu Umi buatkan teh buat tamu ya?" ucap Aisyah.


"Baik Umi." Jawab Lensi yang langsung bergegas menuju dapur.


Aisyah kemudian bergegas menuju depan pintu untuk membukakan pintu itu untuk tamunya.


"Assalammu'alaikum," ucap Ustad Sobir saat Aisyah dan Ustad Gofur menyambut kedatangan mereka.


"Wa'alaikum salam warohmatullah." Jawab Ustad Gofur sembari menjabat tangan Ustad Sobir sembari mencium pipi kanan dan kiri Ustad Sobir.


Begitu juga yang dilakukan Aisyah pada Istri Ustad Sobir.


"Ayo...ayo silahkan masuk," ujar Ustad Gofur.


Ibrahim yang sejak tadi menunggu di ruang tamu, langsung bangkit setelah melihat kedatangan Ustad Sobir dan Istrinya. Ibrahim langsung mencium tangan Ustad Sobir, dan menangkupkan tangan saat melihat istri Ustad Sobir.


Setelah Ustad Sobir duduk bersama istrinya di salah satu sofa, Tanpa basa basi Ustad Sobir langsung membuka pembicaraan.


"Tanpa berbasa basi, kami ingin menyampaikan maksud dan tujuan kami datang kemari. Mungkin ini terdengar aneh, tapi kami mohon untuk nak Ibrahim pertimbangkan," ujar Ustad Sobir membuka suara.


"Apa yang bisa Baim bantu Ustad. Kalau saya mampu, pasti akan saya bantu," tanya Ibrahim.


"Saya yakin kamu mampu. Kamu Sholeh, tahu hukum-hukum agama. Jadi saya rasa kamu tidak keberatan menjalankan ibadah yang satu ini." Jawab Ustad Sobir.


"Ibadah apa itu Ustad?" tanya Ibrahim.


Ustad Sobir menoleh kearah Istrinya yang kemudian diangguki oleh istrinya itu.


"Fatimah saat ini sedang sakit. Sejak kamu menikahi wanita lain, dia hanya mengurung dirinya di kamar. Setelah pergi ke acara resepsi itu, Fatimah jatuh sakit, dan makan sekedarnya. Sepertinya putriku sudah jatuh hati padamu dengan dalam Ibrahim. Segala daya dan upaya sudah kami lakukan, agar dia bisa bangkit dari keterpurukkannya. Tapi tetap saja dia tidak berdaya oleh perasaannya sendiri."


"Namun saat saya mengatakan padanya, apa dia bersedia jika kamu menikahinya, dan hidup berdampingan dengan istri pertamamu, wajahnya langsung berbinar. Matanya memancarkan binar bahagia yang sudah hampir sebulan ini tidak pernah saya lihat. Dia menganggukkan kepalanya dengan cepat saat saya menanyakan hal itu."


"Dengan segala kerendahan hati. Saya memohon padamu Ibrahim, tolong nikahi Fatimah. Saya percaya kamu mampu menjadi Imam untuk kedua istrimu," sambung Ustad Sobir.


Ustad Gofur dan Istrinya saling berpandangan, sementara Ibrahim jadi terdiam. Dan Aisyah langsung teringat dengan wajah ceria dan manja Lensi, menantu kesayangannya itu.


"Ya Allah...apa Lensi mau dipoligami? anak itu imannya masih terlalu tipis, dia belum mengerti tentang hakikat berpoligami. Jangankan dia, aku saja belum tentu sanggup untuk punya madu, bahkan mungkin nggak akan pernah sanggup," batin Aisyah.


Sementara itu tanpa mereka tahu, Lensi mendengar semua perkataan Ustad Sobir. Ucapan itu seperti petir disiang bolong, hingga membuat tubuhnya gemetar.

__ADS_1


__ADS_2