MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
120. Hari ke -11


__ADS_3

Tap


Tap


Lensi dan Ibrahim menutup pintu mobil secara perlahan. Setelah pintu tertutup, Lensi berhambur kepelukkan suaminya.


"Kenapa. Hem?" tanya Ibrahim.


"Kenapa abang bertanya? tidakkah abang merasa lega setelah mendengar hasil pemeriksaannya?" tanya Lensi.


"Ya kamu benar. Abang merasa sangat lega sekaligus bahagia. Karena apa yang kita takutkan tidak terjadi. Terima kasih ya sayang," ucap Ibrahim.


"Terima kasih? terima kasih buat apa?" tanya Lensi sembari melerai pelukkan mereka


"Terima kasih karena kamu sudah menyadarkan abang dari kekeliruan abang. Terima kasih karena sudah menjadi penyemangat abang. Dan terima kasih karena sempat mau menerima kekurangan abang." Jawab Ibrahim sembari mengusap pipi Lensi dengan ibu jarinya.


"Kita ini suami istri. Kalau bukan kita yang saling menguatkan, siapa lagi bang. Sekarang kita patut bersyukur, karena kita dianggap masih sehat dan mampu menghasilkan anak. Semoga usaha kita tidak menghianati hasil nantinya," ujar Lensi.


"Amiin ya Allah. Tapi...."


"Tapi kenapa bang?" tanya Lensi.


"Tapi abang merasa sedih juga. Apa abang bakalan sanggup ya?" ujar Ibrahim.


"Sanggup? sanggup apa bang?" tanya Lensi.


"Bukankah kita dianjurkan melakukan hubungan suami istri di hari ke sebelas?" tanya Ibrahim.


"Ya. Terus?" tanya Lensi.


"Ini baru hari ke 5, masih ada 6 hari lagi. Kamu tahu sendiri abang minta jatah tiap hari. Nunggu 6 hari alangkah lamanya yank." Jawab Ibrahim yang direspon tepukkan dahi oleh Lensi. Sementara Ibrahim cuma bisa nyengir-nyengir kuda.


"Kita pulang ke rumah dulu bang. Nanti baru kita bahas," ucap Lensi.


Ibrahim segera menginjak gas mobilnya setelah menyalakan mesin mobil. Merekapun bercerita banyak hal tentang seputar program hamil mereka. Setelah sampai di rumah, merekapun tidak ingin menyia-nyiakann waktu. Merekapun mencari referensi makanan yang baik untuk membantu keberhasilan program hamil mereka.


Setelah mendapatkannya dari berbagai artikel, Merekapun menyuruh pelayan agar membelikannya dalam stok cukup selama dua minggu.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Sayang. Bangunlah! bukankah ini hari kesebelas?" bisik Ibrahim.


Lensi langsung membuka matanya setelah mendapat bisikkan dari Ibrahim.


"Ini jam berapa bang?" tanya Lensi.

__ADS_1


"Jam 2 pagi." Jawab Ibrahim.


"Jam dua pagi? ya ampun bang, apa nggak bisa nunggu selesai sholat subuh?" tanya Lensi.


"Abang maunya beberapa ronde sampai subuh. Kan udah lama nggak gituan yank. Lagian jam segini sangat bagus buat promil. Masih bersih belum terkontaminasi dengan apapun." Jawab Ibrahim.


Lensi mengalungkan kedua tangannya dileher suaminya itu.


"Bisa aja kang ustad modusnya," ucap Lensi sembari mencium bibir Ibrahim sekilas.


Tak banyak berbasa basi lagi. Ibrahim dan Lensi langsung saling cumbu. Mereka ingin melepaskan hasrat yang sudah hampir seminggu ini tidak tersalurkan. Lensi bisa melihat dari wajah suaminya, kalau saat ini suaminya itu benar-benar sedang bernafsu.


"Ah...sayanggg...." hanya butuh waktu 20 menit bagi Ibrahim untuk sampai pada titik puncak bersama Lensi.


"Tumben cepat bang? biasanya lama," tanya Lensi.


"Tentu saja cepat. Kita sudah lama tidak melakukannya. Rasanya sudah diujung banget." Jawaban Ibrahim membuat Lensi jadi terkekeh.


"Ckk...posisi kamu sekarang buat abang bernafsu lagi tahu nggaj," ujar Ibrahim saat melihat istrinya tengah berpose menungging saat ini.


"Menurut artikel yang aku baca, posisi ini sangat bagus buat jalan kecebong menuju sel telur. Moga aja ada yang hidup, dan bisa membuahi sel telurku ya bang?"


"Amiin. Pokoknya kita harus berusaha terus. Jangan patah semangat." Jawab Ibrahim.


"Sayang,"


"Hem?"


"Tunggu 5 menitan lagi ya bang? biar calon anak kita sampai ketujuannya dulu." Jawab Lensi.


"Ya," ujar Ibrahim sembari mengusap-usap kepala Lensi.


Setelah dirasa cukup, Lensi dan Ibrahim kembali melakukan pertempuran yang cukup panjang dan menguras tenaga mereka.


"Besok abang akan mengajakmu liburan. Anggap saja ini honeymoon kita yang kedua. Aku ingin suasana hatimu dalam keadaan sangat baik, hingga promil kita ini akan berhasil," ucap Ibrahim setelah mereka menyudahi percintaan panjang mereka.


"Kita mau kemana bang?" tanya Lensi.


"Bandung. Disana udaranya sangat mendukung kalau untuk yang berbulan madu." Jawab Ibrahim.


"Bisa gawat dong kalau begitu," ucap Lensi.


"Kenapa? mumpung kamu dalam masa subur. Kita kesana sampai tanggal yang dianjurkan dokter selama masa subur," ujar Ibrahim.


"Kalau begitu aku ngikut aja bang. Aku juga ingin usaha kita ini membuahkan hasil. Bang,"

__ADS_1


"Hem?"


"Kalau suatu saat usaha kita menemui kegagalan, abang jangan kecewa ya?".


"Jangan bicara yang tidak-tidak. Yakinkan pada diri kita kalau promil ini akan berhasil. Kalaupun tidak berhasil, masih ada banyak cara buat punya anak termasuk dengan bayi tabung." Jawab Ibrahim.


"Iya bang." Jawab Lensi.


"Sudah hampir subuh. Sebaiknya kita segera membersihkan diri dan sholat subuh berjama'ah.


"Emm," Lensi mengangguk.


Ibrahim menggendong Lensi, dan memasukkan istrinya itu kedalam bathup setelah sebelumnya diisinya dengan air hangat. Merekapun mandi berdua dan saling menggosok punggung satu sama lain. Setelah selesai mandi merekapun menunaikan kewajiban mereka sebagai mahluk Tuhan.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Waktu menunjukkan hampir pukul 11 pagi, saat Ibrahim dan Lensi baru terbangun dari tidurnya. Lensi dan Ibrahim memang bari tidur setelah mereka setelah sholat subuh berjama'ah.


"Sayang. Bangunlah! ini sudah siang, bahkan kita sudah melewatkan sarapan pagi," ujar Ibrahim.


"Emang ini jam berapa?" tanya Lensi.


"11." Jawab Ibrahim.


"Jam 11? astaga...." Lensi langsung bangkit dafi tidurnya dan ingin bergegas turu. kebawah


Tap


Ibrahim mencekal tangan Lensi, hingga Lensi menoleh kearah suaminya itu.


"Mulai hari ini kamu abang larang melakukan apapun tanpa seizin abang. Kita harus fokus dengan promilnya. Biarkan pelayan yang menyiapkan semuanya. Kamu harus bebas dulu dengan semua pekerjaan, termasuk pekerjaan kantor," ucap Ibrahim.


"Ya nggak bisa gitu juga bang. Kalau kantor nggak diurus, ntar bisa bangkrut dong. Lalu gimana nasib ribuan karyawanku," ujar Lensi.


"Itu biar jadi urusanku. Nanti abang akan menyuruh orang kepercayaan abang untuk mengurus kantormu sementara waktu," ucap Ibrahim.


Lensi hanya bisa menghela nafas panjang. Dia tahu betul Ibrahim tidak suka dibantah. Lensi terpaksa menuruti semua permintaan suaminya itu.


"Jadi aku harus melakukan apa?" tanya Lensi dengan bibir mengerucut.


"Diam saja diatas tempar tidur. Atau siapkan pakaian kita buat berangkat honeymoon besok." Jawab Ibrahim.


Lensi kemudian mengambil koper diatas lemari. Itu lebih baik daripada dirinya hanya diam dan tidak melakukan apa-apa. Sementara Ibrahim bergegas turun kebawah, untuk mengambil makanan untuk mereka nikmati berdua.


"Ya ampun bang. Nggak gini juga kali bang. Masak kita makan dikamar?" tanya Lensi saat melihat Ibrahim masuk dengan membawa satu nampan besar makanan.

__ADS_1


Dan yang membuat Lensi malas adalah, dinampan itu sudah tersedia menu tumis tauge yang paling tidak dia sukai.


__ADS_2