MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
58. Pendekatan


__ADS_3

Hari ini adalah hari ke 7 Lensi mempelajari ilmu bisnis bersama Ibrahim. Sudah banyak ilmu yang sudah dia kuasai selama dirinya belajar dengan Ibrahim.


"Paling tidak setelah kita pisah nanti, ilmumu yang bermanfaat adalah kenangan yang tidak mungkin aku lupakan. Ah...membayangkannya saja sungguh terasa berat," batin Lensi.


"Ada apa? kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Ibrahim yang tiba-tiba membuyarkan lamunan Lensi.


"Eh? a-anu bang. Boleh nggak nanti aku pulang duluan?" tanya Lensi.


"Emang kamu mau kemana?" tanya Ibrahim.


"Mau main ke rumah Okta lagi." Jawab Lensi.


"Lagi? apa teman laki-lakimu juga ada?" tanya Ibrahim.


"Eh? i-Iya bang." Jawab Lensi terbata.


"Aku jadi penasaran seperti apa teman-temanya itu. Apa sebaiknya aku ikut saja?" batin Ibrahim.


"Sebenarnya kamu ada pekerjaan penting apa ke sana? sehingga meninggalkan pelajaran demi teman-temanmu itu?" tanya Ibrahim.


"Apa berada di dekatku begitu membosankan ya? sehingga tidak sampai setengah haripun dia tidak mau berada disisiku lagi," batin Ibrahim.


"Suntuk bang. Pengen cari udara segar." Jawab Lensi.


"Jam berapa kamu mau kesana?" tanya Ibrahim.


"Satu jam lagi. Lagian aku mau pulang dulu ke rumah. Nggak mungkin sekali aku kesana pakai baju seperti ini. Bisa-Bisa mereka menertawakanku," ucap Lensi.


"Aku ikut," ujar Ibrahim.


"Ap-Apa?" tanya Lensi terkejut.


"Kamu nggak dengar? aku bilang aku ikut." Jawab Ibrahim.


"Aduh bang mending nggak usah deh. Takutnya pergaulan aku nggak cocok sama abang. Abang itu orang lurus, sementara kami orang bobrok. Mending abang ngantor aja ya?" bujuk Lensi.


"Lurus gimana sih? alim maksudmu?" tanya Ibrahim.


"Kurang lebih seperti itu bang. Abang nggak pernahkan naik angkot nggak bayar ongkos?" tanya Lensi.


"Maaf aku nggak tahu rasanya naik angkot." Jawab Ibrahim yang langsung dicebikki oleh Lensi.


"Abang pasti nggak pernah juga beli gorengan makan 5, ngakunya 4?" tanya Lensi.


"Itukan bohong, dosa. Jadi yang dimakan jatuhnya haram. Lagian aku masih mampu buat bayar gorengan 5, ngapain harus ngaku 4?"


"Ya makanya kita nggak cocok kalau buat teman ngumpul kayak gitu bang. Abang itu cocoknya bergaul sama orang dari majelis taklim, pemuda masjid, dan urusan keagamaan. Kalau aku mah kerjaan syetan, hampir ku kerjakan semua bang," ucap Lensi.


"Kamu diam saja. Pokoknya kalau aku bilang ikut, ya ikut," ujar Ibrahim.


"Terserah abang saja. Awas aja baru main bentar udah ngajak pulang," ucap Lensi.


"Ya sudah ayo pergi sekarang saja," ujar Ibrahim.


Lensi hanya bisa menghela nafas saja. Dia cuma bisa pasrah, saat Ibrahim tahu bagaimana ulah teman-temannya. Lensi kemudian memberitahu Okta bahwa dirinya akan datang sebentar lagi. Sekarang mereka menjadikan rumah Okta tempat berkumpul. Selain tempatnya nyaman, mereka juga bisa makan gorengan nyak Rogaya sepuasnya.

__ADS_1


Lensi dan Ibrahim akhirnya pulang dulu ke rumah untuk mengganti pakaian.


"Pfffffftt...."


Lensi menertawakan Ibrahim, saat pria itu mengganti pakaiannya dengan celana dasar dan juga baju koko.


"Abang mau kemana? pergi ke pengajian ya?" tanya Lensi sembari menyeka air matanya karena terlalu enak tertawa.


"Abang lihat dong penampilan aku. Masak aku penampilan preman, abang penampilannya kayak mau ngisi Tausiyah? ganti ah...nanti abang di tertawakan teman-temanku loh. Temanku orangnya julid semua," ucap Lensi.


"Jadi aku harus berpakaian seperti apa?" tanya Ibrahim.


"Emm...tunggu sebentar," ucap Lensi.


Lensi kemudian membuka lemari Ibrahim. Lensi menemukan celana jeans warna hitam, dan juga baju kaos biasa. Lensi juga meraih hody yang Ibrahim miliki.


"Coba pakai ini bang. Kita pakai pakaian santai saja," ujar Lensi.


Ibrahim menuruti permintaan Lensi. Bagi Ibrahim ini merupakan salah satu bentuk pendekatannya pada Lensi.


Kriekkkkk


Ibrahim keluar dari kamar mandi setelah berpakaian.


"Suamiku memang tampan. Mau dia pakai apa saja, tetap saja menawan. Hufff sayangnya hati dia milik orang lain," batin Lensi.


"Koleksi sepatu abang mana?" tanya Ibrahim.


Ibrahim. menunjukkan lemari yang berisi semua koleksi sepatu yang dia miliki. Lensi meraih sepasang sepatu kets untuk pria itu, dan Ibrahim menurut saja dengan apa yang Lensi katakan.


Ibrahimpun kembali menuruti kemauan Lensi.


"Emm...gantengnya. Suami siapa sih ganteng banget ini. Hem?" ujar Lensi sembari menepuk-nepuk bahu Ibrahim, seolah ingin menyingkirkan debu dari pakaian suaminya itu.


"Ayo kita pergi," ujar Lensi dan kemudian berbalik badan.


Tap


Ibrahim menarik tangan Lensi, hingga tubuh Lensi membentur dada bidang milik Ibrahim.


Deg


Deg


Deg


Jantung keduanya berdegup dengan kencang.


"Kalau dandananku seperti ini, apa aku lebih tampan dari Alex?" tanya Ibrahim sembari menatap mata Lensi dengan dalam.


"Eh? kok jadi bawa-bawa Alex? mana bisa Alex dibandingkan dengan wajah pria sinar bulanku," batin Lensi.


"Tentu saja tampan suamiku. Apa abang tahu? wajah abang itu terlihat seperti sinar bulan. Ngomong-Ngomong sinar bulan, ayo buruan kita pergi. Nanti kita nggak kebagian gorengan mak Rogaya yang endul tak kendul-kendul. Si Riko bocah rakus itu nanti ngabisin ubi rambat goreng kesukaanku," ujar Lensi sembari berjalan lebih dulu dari Ibrahim.


Sementara itu tanpa Lensi tahu, Ibrahim jadi senyum-senyum sendiri, saat mendengar pujian istrinya itu.

__ADS_1


"Turun!" ucap Ibrahim saat Lensi menaikki motor lebih dulu.


"Eh? kok turun bang. Aku nggak mau pergi ah kalau pakai mobil. Nggak seru tahu bang," ujar Lensi.


"Yang mau pakai mobil siapa? maksudku biar aku yang bonceng. Emang aku lelaki apaan diboncengi cewek? itu penghinaan bagiku," ucap Ibrahim.


"Cihuyyy...mayan, bisa meluk gratis orang ganteng," ucap Lensi antusias.


Ibrahimpun mulai menaiki motor sport milik Lensi. Sesuai keinginan wanita itu, Lensi memeluk ibrahim dengan erat dari belakang. Yang membuat jantung Ibrahim bertambah berdebar-debar.


"Ternyata menyenangkan juga naik motor berdua. Kalau begitu mulai besok aku ngantor barengan dia saja naik motor," batin Ibrahim.


"Bang ngebut napa bang? siput ama motor jalannya kayak lebih cepatan siput. Abang keenakkan aku peluk ya? mending kita pulang deh bang. Buat anak yuk di rumah?"


Ibrahim berdecak saat mendengar ucapan Lensi yang tidak tahu malu. Ibrahim kemudian mulai menambah kecepatannya, yang membuat Lensi jadi memeluk erat Ibrahim dari arah belakang.


"Ah...sayang sekali kebersamaan ini akan segera berakhir. Andai saja dia mencintaiku," batin Lensi.


Tidak berapa lama kemudian mereka tiba di kediaman Okta. Semua mata tertuju pada Lensi dan Ibrahim yang baru turun dari motor. Mereka menatap tak percaya, kalau pengusaha nomor dua di kota J mau ikut berkumpul bersama mereka sang manusia bobrok.


"Dew. Loe ngapain bawa si Ustad kemari? kagak cocok tahu Dew?" bisik Riko.


Mata Ibrahim menyipit saat melihat kedekatan istrinya dengan pria lain. Ibrahim segera menarik tangan Lensi, agar menjauh dari Riko.


"Jangan terlalu dekat, bukan muhrim," ujar Ibrahim yang dibalas putaran bola mata malas oleh teman-teman Lensi.


"Ya Allah tolong...jadi enih mantu gue Chi? duh...gusti...gantengnya ini mah kebangetan. Bisa aje lu cari laki neng," ujar Nyak Rogaya sembari meletakkan gorengan di meja.


"Salim bang. Nyak nya Okta, alias nyak angkat dindamu ini," bisik Lensi.


Ibrahim menuruti kemauan Lensi, meskipun Nyak Rogaya sempat ingin menolak.


"Ya Allah tong...harusnya nyak yang salim tangan orang hebat kayak Elu," ujar Rogaya.


"Kagak ngape-ngape nyak. Mau setinggi apapun pangkat orangnye, tetap aje yang muda harus menjaga sopan santun ama yang lebih tua," ucap Lensi.


"Nyak do'ain moga pernikahan kalian langgeng. Cepat bikinin nyak cucu yang banyak ye?"


Ucapan Rogaya hanya diangguki dan di balas senyuman oleh Ibrahim.


"Kalian santai gih. Nyak masih mau buatin kalian minuman seger. Tadi nyak beliin kelapa muda buat kalian ngumpul," ucap nyak Rogaya.


"Makasih nyak," ucap Lensi sembari mengambil tempat duduk untuk Ibrahim dan dirinya.


"Oh ya bang. Kenalin, itu yang namanya Riko. Yang itu namanya Mawan, dan yang itu pak Karman," ujar Lensi sembari menunjuk kearah teman-temannya.


Ibrahim menatap wajah teman-teman Lensi yang memang berwajah pas-pasan. Dan diapun jadi tersenyum penuh kemenangan.


"Sepertinya aku sudah salah paham sama dia. Mana mungkin dia mau di tiduri sama pria yang wajahnya jauh dibawah aku. Maafkan aku ya Allah, bukannya hambamu sombong. Tapi hamba sangat bersyukur diberi wajah setampan ini," batin Ibrahim.


"Main yuk?" tanya Karman.


"Iya Dew. Kali ini loe harus ambil bagian. Sekarang kami sudah ahli judi juga," ucap Riko.


"Judi? kalian saja yang main, istriku nggak boleh lagi main yang seperti itu," ucap Ibrahim.

__ADS_1


Lagi-Lagi ucapan Ibrahim dibalas putaran bola mata malas oleh teman-teman Lensi.


__ADS_2