
"Heh. Mau kabur ya? kaburlah sejauh yang kamu bisa. Saat aku hilang kesabaran, aku akan mematahkan kakimu itu," gumam Lensi saat dirinya tengah menyaksikan pelarian vega dari layar Laptopnya.
Lensi sengaja bekerja hampir semalaman untuk mencari keberadaan Vega, dengan cara meretas jalanan. Dan saat ini dia melihat Vega menaiki sebuah taksi setelah sebelumnya memasukkan sebuah koper besar kedalammnya.
Ibrahim yang tidak tahu apa yang dikerjakan istrinya, baru membuka matanya setelah sholat subuh.
"Sayang apa yang kamu lalukan? apa kamu melanjutkan memantau Vega? apa kamu benar-benar tidak tidur? nanti kamu sakit loh," tanya Ibrahim.
"Mumpung hari libur bang. Aku harus membalas dia secepatnya. Oh...sial," umpat Lensi.
"Ada apa?" tanya Ibrahim.
"Dia menuju bandara sekarang." Jawab Lensi.
"Kemarilah!" ucap Ibrahim.
"Tapi bang dia...."
"Kemarilah sayangku," ulang Ibrahim.
Lensi menutup laptopnya dan mendekat kearah Ibrahim.
"Apa?" tanya Lensi.
"Abang pengen sarapan buatanmu. Juga secangkir teh buatanmu. Karena dia, kamu sampai mengabaikan suamimu dan tidak memberi suami makan," ucap Ibrahim sembari mengusap puncak kepala Lensi.
"Astaga bang...maafin aku ya bang? ini semua gara-gara Vega. Dia...."
"Kamu tidak usah khawatir. Dia pasti kita dapatkan kemanapun dia akan pergi. Abang mempunyai banyak teman di bandara. Nanti akan abang tanya info ke mereka," ujar Ibrahim.
"Sekarang mending kamu turun ke bawah, buatkan abang sarapan. Setelah itu kita sarapan bersama," sambung Ibrahim.
"Iya bang." Jawab Lensi.
Lensi bergerak dari atas tempat tidur dan segera keluar dari kamar. Ibrahim kemudian duduk dan meraih laptop yang Lensi gunakan. Ibrahim kemudian meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Hallo pak Ustad? masya Allah...ada angin apa kamu nelpon aku. Hem? ini nggak mungkin cuma sekedar iseng, pasti ada sesuatu," tanya Adi.
"Aku butuh bantuanmu Di. Apa kamu sedang bertugas hari ini?" tanya Ibrahim.
ll
"Tentu saja. Meski ini hari libur, pesawat nggak bisa diliburkan juga. Justru hari libur penumpang malah ramai." Jawab Adi.
__ADS_1
"Emang kamu butuh bantuan apa? mesan tiket?" tanya Adi.
"Aku sekarang sedang memantau seseorang yang pergi menuju bandara. Bisa dibilang dia seorang buronan, karena sudah menganiaya istriku. Aku ingin kamu menahannya dibandara bagaimanapun caranya." Jawab Ibrahim.
"Atas nama siapa?" tanya Adi.
"Vega Gemilang." Jawab Ibrahim.
"Jangan khawatir. Kamu jemput saja dia nanti bersama polisi," ujar Adi.
"Terima kasih Di. Kalau begitu aku sarapan dulu Kabari aku kalau dia sudah ditahan," ucap Ibrahim.
"Oke." Jawab Adi.
Ibrahim tersenyum saat panggilan itu berakhir. pria itu kemudian memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai diapun bergegas pergi turun untuk sarapan. Saat akan menuruni anak tangga, dia malah melihat Lensi akan naik keatas.
"Abang sudah turun. Aku baru aja mau manggil abang. Ayo sarapan sama-sama," ucap Lensi.
"Apa yang kamu buat. Hem?" tanya Ibrahim sembari mengusap puncak kepala Lensi.
"Nasi goreng dan telur ceplok. Apa sebelum hilang ingatan aku sering memasakkan makanan spesial buat abang?" tanya Lensi.
"Ya. Nasi goreng telur ceplok." Jawab Ibrahim.
"Tidak juga. Aku hanya makan itu hanya jika abang yang memintanya. Abang tidak mengizinkamu ke dapur sering-sering. Tugasmu hanya perlu melayaniku diatas ranjang." Jawab Ibrahim sembari mengedipkan mata, sementara Lensi jadi tersipu.
"Selesai sarapan abang mau pergi sebentar. Soalnya nanti sore abang akan mengajakmu bertemu seseorang," sambung Ibrahim.
"Tapi ini kan hari libur bang? kok abang kerja?" tanya Lensi sembari menuangkan dua centong nasi goreng ke dalam piring Ibrahim.
"Cuma sebentar sayangku. Apa kamu ingin bermain sepuasnya hari ini. Hem?" usil Ibrahim.
"N-Nggak! abang kok mikirnya gitu? emang siapa yang akan kita temui nanti sore?" tanya Lensi yang sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Sebenarnya bukan orang penting yang memang harus kamu pikirkan. Tapi bisa dibilang juga ini kejutan buat kamu. Jadi tunggu abang kembali, baru kita bisa melihat kejutan itu." Jawab Ibrahim.
"Baiklah," ujar Lensi.
"Sekarang habiskan makananmu. Kamu harus membuat matamu beristirahat. Malam nanti kamu harus begadang lagi," ujar Ibrahim.
"Begadang lagi? kenapa aku harus begadang?" tanya Lensi.
"Karena hari ini abang memberikanmu hadiah, maka kamu juga harus memberiku service yang bagus nanti malam." Lagi- Lagi perkataan Ibrahim membuat Lensi tersipu.
__ADS_1
Setelah mereka selesai sarapan, Lensi membantu Ibrahim untuk bersiap pergi.
"Jangan lupa istirahat ya! abang sudah memasang kamera pengintai, jadi abang tahu kalau kamu nggak tidur," ucap Ibrahim.
"Yah...kok abang gitu bang? aku kan masih mau lihat si Vega," ujar Lensi dengan bibir mengerucut.
"Tidak perlu. serahkan semuanya sama abang. Dalam waktu 1x24 jam, abang pasti akan membuatmu melihat wanita itu secara langsung," ucap Ibrahim.
"Hah...baiklah terserah abang saja. Aku mau tidur sekarang kalau gitu," ujar Lensi.
"Mandi dulu sayang. Setelah itu baru tidur ya,"
"Iya." Jawab Lensi.
Ibrahim kemudian melangkah pergi setelah mencium kening Lensi. Tentu saja Lensi tidak menurut begitu saja. Wanita itu langsung berbaring diatas tempat tidur dan menarik selimut hingga lehernya.
๐น๐น๐น๐น๐น
"Ini maksudnya apa ya? kok saya ditahan buat melakukan penerbangan? kalian sudah melanggar HAM loh?" tanya Vega yang sudah dibawa ke ruang khusus.
"Ada seseorang yang ingin menjemput anda. Jadi anda tunggu saja dulu." Jawab Adi.
"Menjemput saya? siapa?" tanya Vega.
"Kejutan." Jawab Adi.
Vega terpaksa menurut, karena dia juga tidak bisa melakukan apapun saat ini. Setelah menunggu hampir 1 jam, seseorang benar-benar datang dan itu membuat Vega terkejut.
"Ibrahim? kamu ingin menjemputku?" tanya Vega semringah.
"Ya. Apa kamu senang?" tanya Ibrahim.
"Tentu saja aku senang. Ternyata diam-diam kamu juga menyukaiku ya?" tanya Vega dengan gaya tersipu malu.
"Apa gadis bodoh ini tidak pernah mendengar berita atau membaca artikel tentang pernikahanku? apa jadinya saat dia tahu, kalau aku sudah menikah dan yang kunikahi itu adalah kakaknya sendiri. Aku rasa aku juga harus menyiapkan sebuah mobil ambulan," batin Ibrahim.
"Kalau begitu ayo ikut aku. Aku akan membawanu ketemapat yang tepat dan nyaman untukmu bersembunyi," ucap Ibrahim.
"Ka-Kamu juga melihat video itu? kamu tolong jangan percaya sepenuhnya dengan video editan itu. Lensi sejak dulu selalu iri padaku, sejak kecil dia sering menganiayaku. Mungkin dia ingin membuat reputasiku jatuh," ucap Vega.
"Aku harus bisa membuat Ibrahim bersimpatik padaku. Kalau dia bisa aku dapatkan, aku tidak akan kesulitan uang lagi. Bagaimanapun caranya, aku harus menjadi nyonya Ibrahim," batin Vega.
"Disaat seperti ini, dia masih bisa mengkambing hitamkan istriku. Lihat saja! aku akan membuatmu membusuk dipenjara lebih lama," batin Ibrahim.
__ADS_1
Vega mengekor di belakang Ibrahim, tanpa gadis itu tahu. Sebuah mobil tahanan sedang menunggunya, untuk mengantarkan dirinya ke rumah tempat orang-orang meratapi nasib.