MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
50. Sama-Sama Izin


__ADS_3

"Abang sudah pulang?" tanya Lensi dengan senyum semringah dibibirnya.


Diraihnya tangan Ibrahim untuk dia cium. Tanpa Ibrahim minta, Lensi membantu Ibrahim melepaskan dasi suaminya itu. Ibrahim menatap Lensi dengan jantung yang berdebar, saat jarak mereka berdua yang lumayan dekat.


"Abang mau makan dulu, atau mau mandi dulu?" tanya Lensi.


"Mandi. Makannya nanti saja, saat malam." Jawab Ibrahim.


Lensi kemudian membuka lemari, dan meraih handuk bersih untuk Ibrahim.


"Terima kasih," ucap Ibrahim yang kemudian berlalu ke kamar mandi.


"Hah...mungkinkah suatu saat kamu jatuh cinta padaku? rasanya penjalanan ini masih sangat panjang. Rasanya apa mungkin aku bisa menyingkirkan mantan tunanganmu dari dalam hatimu?" ucap Lensi lirih.


Setelah hampir 20 menit berada di dalam kamar mandi, Ibrahim akhirnya keluar dengan handuk yang melilit dipinggangnya. Lensi memalingkan wajahnya kearah lain, karena dia takut hidungnya mimisan saat melihat otot-otot perut Ibrahim yang sangat ingin dia setuh.


Ibrahim bergegas mengenakan pakaian, dan berbaring diatas tempat tidur karena tubuhnya sangat lelah.


"Abang capek?" tanya Lensi.


"Lumayan." Jawab Ibrahim sembari bermain ponsel.


"Dinda pijat mau?" tanya Lensi.


"Silahkan kalau tidak keberatan." Jawab Ibrahim.


"Kalau begitu abang menghadap kearah sana. Biar dinda memijat punggung abang," ujar Lensi.


Tanpa banyak bicara Ibrahim segera berbalik badan dan Lensi segera melancarkan aksinya untuk memijat punggung Ibrahim.


"Enak tidak pijatan Dinda bang?" tanya Lensi.


"Lumayan." Jawab Ibrahim singkat.


"Bang,"


"Hem?"


"Mulai Besok Dinda izin beberapa hari buat nuntut ilmu. Dinda sudah mendaftar semacam kursus gitu sebelum kita nikah. Nah, besok mulai belajarnya. Boleh nggak bang?" tanya Lensi tanpa menghentikan tangannya yang tengah memijat punggung Ibrahim.


"Selagi itu positif, lakukan saja." Jawab Ibrahim.


"Benarkah? abang kasih izin dinda?" tanya Lensi antusias.


"Ya." Jawab Ibrahim.


"Ah...abang baik deh," ujar Lensi.


Cup


Lensi tiba-tiba mengecup pipi Ibrahim, yang membuat Ibrahim jadi menegang dengan wajah yang memerah.

__ADS_1


"Bi-Bisakah kamu jangan cium-cium sembarangan?" tanya Ibrahim.


"Kenapa emangmya? suamiku sendiri. Emang kalau dinda cium suami tetangga abang bolehin?" tanya Lensi yang membuat Ibrahim jadi terdiam.


"Mulai besok aku juga mau izin buat ngajarin murid baru. Berhubung yang diajari wanita, aku harus bilang sama kamu. Aku nggak mau nimbulin fitnah," ujar Ibrahim.


Lensi tersenyum saat mendengar Ibrahim meminta Izin padanya. Itu artinya sedikit-sedikit Ibrahim bisa menerima dirinya sebagai istri. Dan itu membuat Lensi sangat senang.


"Selagi abang tidak selingkuh, dinda akan memaklumi itu. Karena kalau suatu saat abang ingin minta berpoligami, dinda pasti akan mundur tanpa mengatakan apapun," ucap Lensi.


"Kenapa? poligami tidak dilarang dalam agama," tanya Ibrahim yang ingin menguji Lensi.


"Poligami memang tidak dilarang dalam agama. Tapi tingkat keimananku belum mencapai tahap ikhlas berbagi suami."


"Lagipula aku masih mampu buat melayani abang seorang diri, kenapa harus ada patner? makanya abang jangan kelamaan mikir buat mengobok-obok diriku, biar abang tahu rasanya. Kira-Kira perlu berpoligami atau tidak?"


"Mulutmu itu. Bisa nggak menggunakan bahasa yang sedikit lebih halus. Tidak enak sekali kedengarannya," tanya Ibrahim.


"Lebih baik berkata kasar namun itu jujur. Daripada berkata lembut, namun ujung-ujungnya nikam. Pokoknya dinda nggak akan pernah mengizinkan abang buat poligami, selagi dinda masih mampu melayani. Kalau abang masih bersikeras, Dinda akan pergi dari rumah ini." Jawab Lensi.


"Seberapa kamu yakin, kalau rumah tangga kita ini bertahan lama? kamu aja masuk dalam kehidupanku, dengan cara berbohong awalnya," tanya Ibrahim.


"Meski aku nggak yakin hubungan kita bertahan lama. Tapi selama kita menikah, aku akan berusaha menjadi istri yang baik buat abang. Awalnya aku memang berbohong, tapi abangkan sudah tahu kalau akhirnya aku sudah berterus terang dengan Umi dan Abi,"


"Bukan yang itu maksudku. Ini tentang tujuanmu yang datang kepesantren dan menjebakku. Pakai alasan menang judi, dikejar-kejar orang, jatuh ke air dan nyasar kepesantren,"


"Kalau soal itu semuanya jujur bang. Kalau abang tidak percaya, itu masalah abang sendiri. Manusia emang kadang aneh. Giliran jujur dikatain bohong. Giliran kita bohong, eh...malah percaya," ucap Lensi.


"Berarti memang harus menyuruh orang buat diselidiki. Dia tidak akan berkutik, kalau semua kebenarannya terbongkar nantinya," batin Ibrahim.


Karena Lensi mengira dirinya tidur, Ibrahim bergegas memejamkan mata. Lensi kemudian memeriksa Ibrahim, yang ternyata matanya sedang terpejam itu.


"Yah...benar-benar tidur ya?"


Lensi kemudian menarik selimut untuk Ibrahim dan kemudian mencium puncak kepala pria itu. Tanpa Lensi tahu, Ibrahim menyunggingkan senyum kecilnya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Lensi menatap gedung yang menjulang tinggi dihadapannya. Dia merasa ragu, dengan alamat yang diberikan oleh Alex. Dia takut jadi bahan gunjingan, karena salah memasuki kantor.


"Benar nggak sih belajarnya di Al-gif Group? ini kan perusahaan besar. Jadi temannya itu bekerja disini? emangnya boleh ya. memakai fasilitas kantor, buat ngajarin orang luar?" batin Lensi.


Lensi yang menggunakan cadar nekat masuk ke perusahaan itu, dan bertanya pada resepsionis tentang orang bernama Al-Gifari. Resepsionis yang memang sudah dipesani oleh Ibrahim, langsung mengerti apa yang Lensi maksud.


Wanita itu kemudian memberitahu Lensi ruangan direktur utama mereka.


"Ini benar-benar keberkahan bukan? gue diajarin langsung oleh direktur utama Al-Gif Group? apa orang ini nggak sibuk? ah...tentu saja dia sibuk. Tapi ini demi permintaan temannya. Sungguh orang yang baik," ucap Lensi.


Tok


Tok

__ADS_1


Tok


"Masuk!"


Lensi menekan handle pintu. Matanya langsung membulat, saat tahu orang didalam itu adalah suaminya sendiri. Lensi melihat Ibrahim tengah makan siang seorang diri.


"Silahkan duduk. Biar saya menyelesaikan makan siang saya dulu," ucap Ibrahim.


Lensi perlahan melangkah masuk. Wanita itu sempat melirik kearah papan nama yang ada diatas meja. Degup jantungnya dua kali lebih cepat, saat tahu suaminya itu adalah pemilik dari Al-Gif Group.


"Ja-Jadi dia direktur utama diperusahaan ini? Alex sialan. Kenapa dia nggak bilang kalau yang ngajarin gue suami gue sendiri. Haduh...bagaimana ini? aku nggak mungkin mundur lagi. Ini sangat penting buatku. Beruntung dia minta aku pakai cadar, jadi aku nggak bakal ketahuan kan?" batin Lensi.


Lensi menjatuhkan bokongnya diatas sofa. Wanita itu melirik menu makan siang suaminya. Dia jadi ingin jahil dengan suaminya itu.


Ting


Ponsel Ibrahim berdenting, tanda chat masuk. Ibrahim meraih ponselnya dan membaca isi chat itu.


"Abang sayang. Sudah makan siang belum?"


Meski Ibrahim hanya membaca chat itu dan tidak membalasnya, tapi Lensi bisa melihat kalau Ibrahim menyunggingkan senyum tipis dibibirnya.


"Aku nggak salah lihat kan? dia tadi senyum kan?" batin Lensi.


"Silahkan baca surat Ar-Rahmannya sebelum belajarnya dimulai," ujar Ibrahim sembari kembali memasukkan makanan kedalam mulutnya.


Lamunan Lensi mendadak buyar. Kini digantikan rasa gugup yang bergelenyar.


"Aduh...sialan nih jantung. Biasanya nggak demam panggung begini. Kenapa saat tahu dia yang ngajarin, aku jadi berdebar? tapi...bagus juga aku belajar dengan dia tiap hari. Jadi aku bisa dekat dengannya bukan?" batin Lensi.


Karena wanita bercadar dihadapannya tidak kunjung bersuara, Ibrahim meletakkan sendoknya.


"Kalau kamu belun siap. Sebaiknya pulang saja. Tunggu sampai kamu benar-benar hafal surat itu," ucap Ibrahim dengan wajah datar.


Ibrahim kembali akan menyuapkan makanan kedalam mulutnya, namun gerakkannya terhenti, saat Lensi mulai membaca ta'wudz. Ibrahim mendengarkan dengan seksama, hingga Lensi masuk pada bacaan surat Ar-Rahman yang sebenarnya.


Ibrahim cukup terkejut, saat wanita bercadar dihadapannya mampu membaca dengan sempurna. Baik itu panjang pendek bacaan, tartil, hingga itu tebal dan tipisnya hurufpun wanita itu bisa membacanya dengan sempurna.


"Masya Allah. Baik sekali bacaan wanita ini. Apa dia ini sungguh-sungguh baru menghafal? atau sebenarnya dia juga seorang hafiz Qur'an?" batin Ibrahim.


Ibrahim sampai memejamkan mata, karena terlalu menghayati suara merdu wanita yang berada di depannya. Sementara itu tanpa mereka tahu, mereka sudah jadi pergunjingan orang satu kantor. Mereka mengira wanita bercadar yang mereka lihat adalah mantan kekasih Ibrahim. Karena setahu mereka, istri ibrahim sama sekali tidak bercadar ataupun berhijab.


"Shodaqollhuladzim...." Lensi menyudahi bacaannya.


"Sempurna. Siapa namamu?" tanya Ibrahim.


"Deva tuan." Jawab Lensi dengan suara yang sedikit dibuat-buat.


"Baik Deva. Kita akan mulai belajar ilmu dasar meretas dulu ya? sebentar, biar saya ambil laptopnya dulu," ujar Ibrahim.


"Tuan selesaikan saja makan siangnya dulu," ujar Lensi.

__ADS_1


"Saya sudah kenyang." Jawab Ibrahim.


Ibrahim membuka lokernya, dan mengambil laptop yang lain disana. Ibrahim memang memiliki beberapa koleksi laptop di lokernya itu. Dan diapun berniat akan menghadiahkan Lensi laptop itu, setelah dirinya selesai mengajarkan ilmu meretas pada murid pertamanya itu.


__ADS_2