MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
113. Aduan Palsu


__ADS_3

Marini dengan segala sisa tenaganya kemudian membuat perlawanan. Dia sekuat tenaga mendorong pria tua itu hingga jatuh telentang diatas lantai. Mata Marini terbelalak, saat melihat Surya tampak tidak sadarkan diri. Marinipun bergegas keluar dari rumah itu, dia tidak ingin digelandang ke rumah tahanan seperti Vega.


"Sial. Jangan sampai Surya mati. Aku bisa jadi buronan kalau seperti itu," batin Marisi sembari menggigit kukunya karena gugup.


Marini sebisa mungkin menutupi memar diwajahnya dengan kain kerudung dan kaca mata hitamnya. Meski supir taksi sesekali melihat lewat kaca mobilnya, tapi Marini seolah sibuk dengan ponselnya.


"Sekarang aku harus mencari kontrakkan yang murah. Setelah itu aku akan menghubungi Handoko," batin Marini.


Marini kemudian pergi menuju arah rumah Handoko. Dia ingin mencari kontrakkan disekitar sana. Dan setelah mendapat kontrakkannya, diapun segera menghubungi Handoko.


"Mas. Hiks...." Marini mulai bersandiwara.


"Ada apa? kenapa kamu menangis? apa terjadi sesuatu dengan Vega?" tanya Handoko.


"Tidak mas, dia baik-baik saja. Tapi sekarang akulah yang terkena masalah. Bisakah mas menemuiku? sekarang aku sudah ngontrak sendiri di arah rumah mas," tanya Marini.


Handoko menghela nafas. Dia bingung harus bersikap seperti apa terhadap Marini.


"Baiklah aku akan kesana. Kirim saja lokasinya," ucap Handoko. Handoko kemudian mengakhiri percakapan itu.


"Aku harus menegaskan pada Marini, kalau aku tidak bisa terus-terusan membantu dia mengatasi semua masalahnya. Sekarang aku sudah tidak punya perasaan apa-ap lagi dengannya. Kalau dia terus menempel seperti ini, bukan tidak mungkin rumah tanggaku akan berantakkan juga," ujar Handoko lirih.


Handoko kemudian beranjak dari kursi kebesarannya, dan pergi ke lokasi yang sudah Marini kirim.


Tok


Tok


Tok


Handoko mengetuk pintu kontrakkan, dan Marini membuka pintu itu dengan mengenakan pakaian yang cukup terbuka. Marini berharap Handoko bisa tergoda dengan penampilannya itu.


"Kenakan pakaianmu dengan benar! aku tidak akan masuk kedalam, kita akan ngobrol di teras," ucap Handoko sembari duduk di salah satu kursi teras.


"Sial. Apa istrinya itu jauh lebih menarik dariku? kalau dulu dia akan langsung mendorongku kedalam rumah, dan langsung mencumbuku. Sekarang dia bahkan enggan menoleh kearahku," batin Marini.


Marini kemudian masuk kedalam rumah dan mengganti pakaiannya.


"Ada apa dengan wajahmu? kenapa memar begitu?" tanya Handoko.


"Hiks...Surya lagi-lagi melakukan KDRT padaku. Padahal aku hanya menyuruhnya mencari kerja. Aku tidak masalah dia menghasilkan sedikit uang, yang penting kebutuhan hari-hari bisa terpenuhi. Tapi dia malah tersinggung dan menghajarku habis-habisan. Hiks...aku ingin bercerai dari dia mas. Aku sungguh tidak tahan lagi." Jawab Marini.

__ADS_1


"Kamu harus sabar. Itu hanya masalah kecil, bersabarlah. Semua rumah tangga pasti bermasalah. Kamu kabur seperti ini, pasti dia akan bertambah marah padamu," ujar Handoko.


"Marini. Aku minta maaf sebelumnya. Tapi aku benar-benar tidak bisa selalu membantumu disetiap kamu membutuhkan bantuan. Kita tidak memiliki hubungan apapun. Aku tidak ingin menimbulkan masalah pada rumah tanggaku, maupun rumah tanggamu. Kamu harus belajar menyelesaikan masalah rumah tanggamu sendiri,"


"Aku mohon pengertianmu. Sekarang aku sudah punya anak dan istri. Kamu pasti nggak mau juga kan kalau suamimu memperhatikan wanita lain?" sambung Handoko.


"Maafkan aku mas. Ini terakhir kalinya aku meminta bantuanmu," ucap Marini.


"Kamu jangan tersinggung ya? pokoknya kalau tentang Vega, kamu baru boleh menghubungiku. Nanti kirimlan juga nomor rekeningmu. Setiap bulannya aku akan mengirimkan nafkah untuk Vega," ujar Handoko.


"Baik mas. Terima kasih," ucap Marini


Handoko kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dan memberikannya untuk Marini.


"Gunakan uang itu untuk mengobati lukamu. Aku pergi dulu," ujar Handoko.


Handoko kemudian melenggang pergi. Pria itu bersikap sewajarnya dan itu membuat Marini sangat kesal.


"Sepertinya cuma Vega yang bisa meruntuhkan pertahanan Handoko. Untuk sementara aku harus bersabar, sampai Vega keluar. Dengan begitu Handoko tidak akan mencurigaiku, bahwa aku akan menargetkan dirinya.


Sementara itu Handoko yang terus kepikiran masalah Vega, dia memutuskan untuk pulang cepat. Dia ingin memberitahu keluarganya, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.


"Papa? kok tumben pulang cepat?" tanya Susi setelah meraih tangan suaminya untuk dia cium.


"Dia baru pulang kerja. Ini kan hari pertamanya masuk kerja." Jawab Susi.


"Oh iya papa lupa. Cepat panggilkan dia! papa sudah tidak sabar ingin mendengar cerita dari dia," ucap Handoko.


Susi segera memanggil Gita. Merekapun turun bersamaan.


"Papa," Gita setengah berlari saat melihat Handoko dan berhambur kepelukkan pria itu sembari tersenyum senang.


"Bagaimana pertama kali masuk kerja? apa kamu menemui kendala. Hem?" tanya Handoko.


"Awalnya sedikit gugup. Tapi semuanya baik-baik saja, karena Gita sudah menguasai tentang perpajakkan." Jawab Gita.


"Sekarang kamu sudah menjadi seorang pegawai negeri sipil muda. Kamu harus bertanggung jawab dengan pekerjaan yang kamu emban. Jadilah abdi negara yang jujur, kalau kamu jujur semua urusan akan mudah," ujar Handoko.


"Denger tuh apa kata papa kamu. Jadi mulai sekarang kamu berhenti bertingkah seperti anak laki-laki. Kalau kamu begini terus, kapan mama dapat mantu? punya anak gadis satu perginya ke klub karate, ikut balapan liar, nongki-nongki nggak jelas," ucap Susi.


"Papa...." rengek Gita mencari perlindungan.

__ADS_1


"Untuk kali ini papa nggak bisa belain kamu. Apa yang mamamu bilang memang benar. Sekarang kamu sudah jadi abdi negara. Coba kamu bayangkan kalau kamu ikut balapan liar, kemudian tertangkap. Identitasmu sebagai abdi negara di kantor pajak akan terkuak, dan kariermu akan tamat," Handoko panjang lebar memberi pengertian pada Gita.


"Gita ngerti pa. Gita janji nggak gitu lagi. Tapi kalau ikut klub karate masih boleh kan?" tanya Gita.


"Boleh." Jawab Handoko.


"Emm...sebenarnya ada yang ingin papa diskusikan dengan kalian. Tapi papa harap kalian jangan syok, apalagi bersikap impulsif," ucap Handoko.


Gita dan Susi saling berpandangan, dan kemudian menganggukkan kepala. Handoko menghela nafas sebelum akhirnya menceritakan tentang Vega pada mereka.


"Susi. Dulu kamu tahu sendiri kalau aku memiliki masa lalu yang tidak biasa bersama Marini. Kami pernah melakukan hubungan di luar batas. Waktu itu dia berkata kalau saat itu dia tengah hamil. Aku sudah bertanya dan memaksanya mengakui tentang anak itu. Tapi dia mengatakan bahwa itu bukan anakku, melainkan anak Surya."


"Sekarang semua kebenaran terungkap. Anak itu ternyata anak biologisku. Namanya Vega, sekarang dia harus mendekam dipenjara sementara waktu karena tersandung kasus penganiayaan," sambung Surya.


"Aku minta maaf padamu, tapi ini diluar kendaliku," ucap Handoko.


"Apa maumu Pa? apa kamu ingin membawa anak itu kerumah ini? atau kamu ingin sekalian membawa madu untukku?" tanya Susi dengan dada yang bergemuruh.


"Tidak. Meski Marini akan bercerai dengan Surya, aku tidak akan kembali padanya. Aku hanya mencintaimu, dan Vega tidak perlu tinggal bersama kita. Dia tinggal dengan Marini saja. Tapi aku mohon pengertianmu, mungkin tiap bulan aku harus mengirim nafkah untuk anak itu, karena itu memang kewajibanku sebagai ayahnya bukan?" ujar Handoko.


"Gita. Kamu mau kan menganggap dia sebagai saudaramu? walau bagaimanapun dia sedarah denganmu," tanya Handoko.


"Tentu saja. Asalkan dia bisa bersikap baik, aku akan bersikap baik juga. Tapi ingat ya pa, jangan pernah memanfaatkan kebaikan Gita dan mama untuk berkhianat. Papa akan mengorbankan keluarga yang harmonis demi masa lalu yang buruk." Jawaban Gita membuat Handoko tersenyum.


"Pa. Mama mau bicara," ucap Susi.


"Emm." Handoko mengangguk.


Handoko dan Susi pergi ke kamar. Handoko bisa mengerti perasaan Susi saat ini.


"Pa. Aku...."


"Husssttt...." Handoko menahan ucapan Susi dengan jari telunjuknya. Pria itu kemudian memeluk Susi dari belakang.


"Aku tahu kamu cemburu dan takut saat ini. Tapi aku berani bersumpah, kalau aku tidak akan tergoda dengan masa lalu lagi. Dulu mungkin aku memang tergila-gila padanya, tapi kita ini sudah tua. Kamu adalah segalanya bagiku. Terlebih sekarang kamulah bosnya disini. Semua aset dan perusahaan sudah aku balik nama atas namamu dan nama Gita. Kalau kamu menendangku dari rumah ini, tentu aku akan jadi pria yang miskin."


"Aku hanya minta sedikit dari gajiku bekerja di kantormu, untuk menafkahi putriku yang lain. Kamu nggak mau kan punya suami pendosa dan tidak bertaggung jawab?" tanya Handoko.


Susi berbalik badan dan mengalungkan kedua tangannya di leher Handoko.


"Papa janji jangan pernah menemuinya lagi, kecuali urusan Vega. Aku nggak mau papa tergoda lagi dengan masa lalu. Aku mencintaimu pa," ucap Susi.

__ADS_1


"Nggak akan sayang. Dia sudah jadi masa lalu. Lagian kenapa aku mau kembali dengannya yang sudah tua. Akan lebih baik selingkuh dengan gadis yang lebih muda," ujar Handoko yang kemudian mendapat cubitan diperutnya. Handoko terkekeh.


Sesaat kemudian mereka larut dalam suasana romantis. Gita hanya bisa menggelengkan kepalanya, saat dia lewat dari depan pintu kamar orang tuanya dan tidak sengaja mendengar suara-suara merdu yang saling bersahutan.


__ADS_2