
"Ini rambut Vega," ujar Marini sembari menyodorkan sebuah plastik kecil yang berisi beberapa helai rambut Vega.
Saat dirinya mampir ke penjara, dia sempat memberikan pelukkan untuk Vega dan mengambil beberapa helai rambut dari putrinya itu.
Handoko meraih plastik kecil itu, dan mengambil beberapa helai rambut miliknya sendiri untuk dijadikan sampel. Handoko kemudian memberikan sampel DNA itu pada dokter. Setelah selesai Handoko kembali berbincang dengan Marini disebuah kafe.
"Kata dokter hasilnya akan keluar 2 minggu lagi. Aku sudah memberi jaminan tinggi, agar test itu jangan sampai bocor atau ditukar keasliannya," ucap Handoko.
"Aku tidak akan melakukan itu. Sekarang aku tidak punya uang utuk menyewa orang buat menukar hasilnya. Mas harus percaya, bahwa Vega benar-benar putrimu. Sebenarnya kamu hanya perlu bertemu dengannya dan melihat langsung, betapa miripnya kalian berdua," ujar Marini.
"Sekarang aku bukan seperti dulu lagi, hidup sendiri dan tidak memiliki tujuan hidup. Sekarang aku sudah memiliki anak dan istri yang juga harus dijaga perasaannya. Meski ternyata Vega memang benar putriku, aku juga tidak bisa membawanya serta tinggal bersamaku. Aku hanya bisa membantu memberinya nafkah saja," ucap Handoko.
"Ini bukan salahku. Seandainya saja kamu berterus terang dari awal, dan kamu bersabar bersamaku. Kita pasti hidup bahagia sebagai satu keluarga," sambung Handoko.
" Sial. Jadi dia juga sudah memiliki anak dan istri? aku pikir dia tidak akan menikah seumur hidup, karena dulu sangat tergila-gila padaku," batin Marini.
"Apa rasa itu benar-benar tidak ada lagi sama sekali? bukankah dulu kamu sangat mencintaiku. Aku berjanji akan meninggalkan Surya, dan rela jadi istri keduamu mas," tanya Marini.
"Lalu saat aku miskin kamu akan mencari pria yang lebih kaya lagi? Marini, kamu tidak boleh seperti itu. Surya sekarang sedang jatuh, sudah seharusnya kamu mendukungnya agar bangkit kembali." Jawab Handoko.
"Saat kamu meninggalkan aku dan menikah dengan Surya. Tidak lama kemudian aku menikah dengan Susi. Sudah lama dia menyukai, jadi ku pikir kenapa aku menyia-nyiakan orang yang mencintaiku sementara aku tahu rasanya sakit disia-siakan oleh orang yang aku cintai. Sekarang kami sudah saling mencintai, dan ada seorang anak diantara kami. Aku sudah sangat bahagia, dan tidak perlu lagi mencari kebahagiaan semu lainnya," sambung Handoko.
"Sialan. Dia menolakku mentah-mentah. Bagaimana ini? apa cuma Vega yang bisa membantu menopang kehidupanku nanti?" batin Marini.
"Sekarang aku harus menghadapi kemarahan Surya, saat dia tahu semua uangnya sudah habis. Aku harus memikirkan cara lain, agar setelah bercerai dari Surya tapi masih bisa hidup mewah,"
"Berapa jarak usia Vega dengan anakmu dari Susi mas?" tanya Marini.
"Mungkin sekitar satu tahun." Jawab Handoko.
"Jadi seperti Lensi dan Vega ya? hemm...sepertinya bisa ditindas. Kalau Susi sama bodohnya seperti alhamrhum istri Surya, mungkin saja aku bisa melenyapkannya juga kan?" batin Marini.
"Aku tidak bisa berlama-lama. Masih banyak pekerjaan yang harus aku urus," ujar Handoko.
Handoko kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah, dan menyodorkannya ke depan Marini.
"Ini uang untuk membayar makanan dan minumannya," ucap Handoko.
"Makasih mas," ucap Marini.
Handoko kemudian bangkit dari tempat duduknya dan melenggang pergi.
__ADS_1
"Emm...sudah bergerak rupanya," Lensi memantau pergerakkan Marini yang beberapa jam lalu pergi ke rumah sakit.
Tring
Tring
Tring
"Ya bang?"
"Ada dimana?" tanya Ibrahim.
"Di Kantor. Kenapa bang?" tanya Lensi.
"Abang sudah di kantormu. Abang membawa makan siang untuk kita. Sekalian abang ingin menyerahkan sesuatu untukmu." Jawab Ibrahim.
"Kenapa abang repot-repot. Harusnya aku yang mengantar makan siang buat abang," ucap Lensi.
"Abang sudah hampir mencapai pintu ruanganmu," ujar Ibrahim.
Lensi segera bangkit dari tempat duduk, dan langsung membukakan pintu. Senyum semringah terbit dari bibir Lensi. Wanita itu langsung berhambur ke pelukkan Ibrahim.
"Kenapa. Hem?" tanya Ibrahim.
Ibrahim tersenyum mendengar ucapan Lensi. Meski sedang hilang ingatan, Ibrahim tahu bahwa istrinya itu sudah jatuh cinta padanya sekali lagi.
"Apa yang abang bawa?" tanya Lensi.
"Makanan." Jawab Ibrahim.
"Bukan. Yang ada ditangan kiri abang. Seperti banyak berkas. Berkas apa?" tanya Lensi.
"Ayo kita masuk dulu. Biar abang jelaskan." Jawab Ibrahim.
Lensi menggandeng tangan Ibrahim, dan mengajaknya duduk disebuah sofa panjang.
"Coba aku lihat berkasnya bang," ucap Lensi.
"Kita makan dulu saja. Setelah itu baru abang akan memberikan ini untukmu," ujar Ibrahim.
Lensi menuruti apa yang Ibrahim katakan. Setelah mereka menyantap menu makan siang, barulah mereka mengobrol di ruang pribadi milik Lensi.
__ADS_1
"Jadi berkas apa itu sebenarnya bang?" tanya Lensi.
"Jadi setelah kita menikah, Surya datang membawa 10 sertifikat termasuk perusahaan ini. Berhubung waktu itu kamu belum menguasai bisnis, jadi kalian membaginya menjadi 2. Surya mendapatkan perusahaan ini dan 4 aset lainnya. Surya juga mengganti SU Group menjadi Gemilang Group. Tapi setelah itu kamu meretas perusahaan Surya, dan membuatnya jadi bangkrut. Surya menjual ke 4 asetnya untuk menutupi dana agar perusahaan itu bangkit kembali."
"Abang sudah menyelamatkan 4 aset itu dan membelinya dari Vega," ucap Ibrahim panjang lebar.
"Ah...terima kasih suamiku sayang. Saat itu aku pasti merasa bersalah karena tidak berhasil menyelamatkan 4 aset yang mereka jual," ucap Lensi sembari merangkul leher Ibrahim.
"Oh ya bang. Apa abang tahu cerita tentang kalung ini? aku sudah lama ingin menanyakannya, tapi selalu lupa. Kalung ini sempat hilang, tapi kok bisa tiba-tiba ada di leherku?" tanya Lensi.
"Apa kamu ingat sekitar 8,9 bulan yang lalu kamu pernah menyelamatkan seseorang yang akan di rampok? oleh sebab itulah lenganmu terkena besetan pisau," tanya Ibrahim.
"Ya. Kok abang tahu?" tanya Lensi.
"Karena yang kamu tolong itu adalah abang dan Umi. Saat aku mau ngucapin makasih dan bermaksud membawamu berobat, tapi kamu sudah keburu pergi." Jawab Ibrahim.
"Be-Benarkah. Kenapa abang bisa tahu kalau itu aku?" tanya Lensi.
"Kerjadian serupa terulang lagi. Tapi saat itu punggungmu yang terkena hujaman pisau. Waktu itu kamu lagi-lagi menyelamatkan abang, Umi dan Abi dari perampokkan. Kamu juga sempat koma. Kalau mengingat itu abang merasa sangat bersalah. Karena abang tidak bisa melindungimu." Jawab Ibrahim.
Lensi meraih kedua sisi wajah Ibrahim dan mencium kening pria itu.
"Itu sudah berlalu bang. Sekarang kita hanya perlu menatap masa depan saja. Aku sangat bersyukur bisa dicintai oleh orang seperti abang, meski sebenarnya aku sama sekali tidak merasa pantas," ucap Lensi.
"Kami sangat pantas. Mungkin kalau waktu itu aku berjodoh dengan Fatimah, belum tentu aku sebahagia ini," ujar Ibrahim.
"Fatimah? siapa itu Fatimah?" tanya Lensi.
"Dia istri Alex. Sekaligus mantan tunanganku. Saat kamu datang ke pesantren, waktu itu aku hampir menikah dengan Fatimah. Karena tidak berjodoh, aku malah menikah denganmu dan Alex menikah dengan Fatimah." Jawab Ibrahim.
Lensi terdiam. Sejenak dia menadapatkan sedikit kilasan dari ingatannya.
"Fatimah juga mengenalmu. Katanya kalian pernah bertemu beberapa kali. Sekarang dia sedang hamil 6 bulan," sambung Ibrahim.
"Jadi Fatimah yang abang maksud, Fatimah yang pernah ku kenal?" tanya Lensi.
"Ya. Dia bilang kalian kenal pertama kali saat di toko buku." Jawab Ibrahim.
"Astaga. Ternyata bumi sempit sekali ya," ucap Lensi.
"Abang jadi pengen masuk ke lorong sempit," ujar Ibrahim penuh arti.
__ADS_1
"Lorong sempit?" tanya Lensi.
Ibrahim mengedipkan matanya, sementara Lensi jadi tersipu saat mendengar maksud ucapan Ibrahim.