MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
102. Menemani


__ADS_3

"Ah...akhirnya keluar juga dari tempat ini. Sungguh aku tidak menyukai suasana rumah sakit. Padahal baru pertama kali masuk rumah sakit, tapi serasa sudah berkali-kali masuk kesini," ujar Lensi setelah memasuki mobil Ibrahim.


"Jangan sampai kamu masuk rumah sakit lagi. Aku nggak akan sanggup melihatnya," ucap Ibrahim sembari menginjak gas mobilnya dan melaju dengan kecepatan sedang.


Setelah menempuh perjalanan hampir 15 menit, Lensi menyadari kalau jalan itu bukan menuju ke apartemennya.


"Bang. Maaf nih, aku lupa memberikan alamat rumahku. Kita salah jalan bang, bukan kesini jalan rumahku," ucap Lensi.


"Oh astaga aku juga lupa. Dia pasti hanya mengingat tentang apartemen itu," batin Ibrahim.


"Emang rumahmu dimana?" tanya Ibrahim.


"Belok kesini saja. Didepan sana juga punya jalan pintas.," ucap Lensi sembari menunjukkan jalan pintas yang dia maksud.


"Oh ya bang. Karena abang sudah jadi pacarku, aku harus memberitahumu beberapa hal. Aku punya seorang teman lagi, namanya Alex. Jadi aku sudah direkomendasikan oleh kak Alex, akan belajar meretas sama sahabatnya," ucap Lensi.


"Meretas? untuk apa kamu belajar meretas?" tanya Ibrahim yang berpura-pura tidak tahu.


"Nanti kalau abang sudah jadi suamiku, akan kuberitahu semuanya." Jawab Lensi.


"Kalau begitu kita menikah sekarang saja," canda Ibrahim yang membuat Lensi tersipu.


"Aku lupa memberutahu Alex tentang Lensi. Aku harus memberitahunya nanti," batun Ibrahim.


"Oh ya bang. Nanti sore aku mau bertemu max," ujar Lensi.


"Temui sekarang saja. Aku akan menemanimu," ucap Ibrahim yang sudah mencengkram erat stir kemudi karena cemburu.


"Apa itu sungguh tidak apa-apa?" tanya Lensi.


"Aku lebih khawatir kalau kamu bersama pria asing." Jawab Ibrahim dengan wajah datar.


Lensi tersenyum. Dia tahu pria disampingnya itu sedang cemburu padanya. Merekapun akhirnya pergi ke rumah Max.


"Tunggu di mobil dulu. Biar abang yang mengetuk pintunya. Setelah yakin dia ada, barulah kamu turun," ucap Ibrahim yang kemudian diangguki oleh Lensi.


"Ada yang aneh. Aku tidak memberitahunya tentang alamat Max, tapi kenapa dia bisa tahu alamat rumah max? apa bang Arman yang memberitahunya?" batin Lensi saat melihat punggung Ibrahim yang tengah menekan bel sebuah rumah mewah.


Ceklek


Max yang akan keluar rumah membukakan pintu untuk tamunya.


"Kamu yang namanya max?" tanya Ibrahim.


"Ya. Kamu siapa?" tanya Max.


"Dengar. Aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan. Kamu dengar baik-baik penjelasanku. Lensi sedang ada di mobil.Kami sudah menikah sekitar 8 bulan yang lalu. Tapi saat ini dia sedang amnesia, dan ingatannya kembali saat dia terjatuh dari jembatan ketika dia memenangkan kompetisi judi."


"Dia ingat sudah pernah berjanji akan menemuimu saat dia selamat dari situ. Sekarang dia ingin menemuimu, karena teringat dengan janji itu. Jadi bertingkahlah sewajarnya," sambung Ibrahim.

__ADS_1


"Le-Lensi sudah menikah denganmu? apa ini alasan nomornya tidak bisa dihubungi!"


"Dia bukan jodohmu tapi jodohku. Jadi jangan berharap lebih. Kamu...."


"Max," Lensi yang tidak sabar langsung turun setelah melihat max yang membukakan pintu.


"Oh...hai...apa kabarmu. Hem?" tanya Max.


"Apa kamu membiarkan tamu mu berdiri diluar?" tanya Lensi.


"Oh...astaga maaf...ayo silahkan masuk," ucap Max setelah menepuk dahinya karena lupa.


Lensi dan Ibrahim masuk rumah itu dan duduk di ruang tamu.


"Aku mau menepati janjiku waktu itu," unar Lensi.


"Terima kasih karena sudah menepati janji. Aku senang kamu selamat," ucap Max yang menatap wajah cantik Lensi dengan penuh kerinduan.


"Sialan ini bule. Beraninya dia menatap istriku penuh damba begitu. Rasanya ingin kucongkel biji matanya itu," batin Ibrahim.


"Ya. Apa Hirano masih ingin mengejarku?" tanya Lensi yang membuat Max jadi tersenyum saat mendengar ucapan wanita yang dikaguminya itu. Pertanyaan itu sudah pernah Lensi tanyakan sewaktu Lensi menemuinya beberapa bulan yang lalu.


"Tidak lagi. Mungkin dia tahu karena kamu orang hebat." Jawab Max.


Bukan itu alasan sebenarnya kenapa Hirano memutuskan untuk berhenti mengejar Lensi. Itu karena anak buah Arman selalu mengawasinya. Arman juga mengancam akan menghancurkan klub itu rata dengan tanah, kalau sampai Hirano masih menargetkan Lensi.


"Ya benar. Emm...apa hubungan kamu sama pria ini?" tanya Max basa basi.


"Dia pacarku." Jawab Lensi yang dengan tegas menyatakan Ibrahim sebagai kekasihnya. Meski Lensi menyebutnya sebagai pacar, tapi Ibrahim cukup senang karena Lensi tidak menyangkal hubungan mereka.


"Begitu ya. Sedih deh nggak punya kesempatan lagi," ujar Max yang membuat Ibrahim jadi melotot.


"Iya kamu harus mundur. Dia wanitaku, dan nggak akan pernah jadi milik orang lain," ucap Ibrahim yang membuat Lensi jadi tersipu.


"Ya sudah kami langsung pulang dulu ya?" ujar Lensi yang lemudian diangguki oleh Max.


Lensi dan Ibrahim kemudian pergi dari rumah max. Lensi cukup lega karena dia sudah menepati janji.


"Bang. Sebenarnya ada yang mengganjal lagi dalam hati aku," ujar Lensi.


"Ada apa?" tanya Ibrahim.


"Aku pernah berjanji pada kak Alex bakal memberikan dia kesempatan untuk hubungan kami. Sebenarnya dulu kami hampir menikah, tapi aku kabur dari pernikahan itu. Aku pikir dia akan membenciku, tapi dia malah memaklumiku. Dia banyak membantuku, bahkan mencarikanku guru terbaik buat belajar meretas. Apa menurut abang aku sudah jadi penghianat?" tanya Lensi.


"Kamu sudah memberikan kesempatan sama dia. Tapi ditengah jalan kamu jatuh cinta dengan pria lain. Itu bukan salah kamu, karena perasaan tidak bisa dipaksakan. Lagipula kamu juga nggak akan bisa menolak pesona abang." Jawab Ibrahim sembari menaik turunkan alisnya, yang membuat Lensi jadi tersipu.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Bisa bertemu dengan tuan Al-Gifari?" tanya Lensi.

__ADS_1


"Silahkan anda langsung naik keatas. Anda sudah ditunggu." Jawab resepsionis.


Saat ini Lensi memang tengah berada di kantor Ibrahim. Seluruh karyawan juga sudah diberi tahu oleh Ibrahim, agar mau berperan. Setelah Lensi menemui Alex, Ibrahim mengatakan agar Lensi tidak perlu menggunakan cadar. Cukup mengenakan gamis dan hijab saja.


Tanpa Lensi sadari, dia menekan nomor lift tempat keberadaan ruangan Ibrahim. Padahal tak seorangpun memberitahunya berapa nomor lantai ruangan bos mereka. Lensi juga mengetuk ruangan Ibrahim, seolah dia sudah hafal dengan letak ruangan itu.


Ceklek


Ibrahim membuka pintu ruangan, dan menyambut Lensi dengan senyuman.


"Selamat datang sayangku," ucap Ibrahim.


"A-Abang? kok abang bisa disini?" tanya Lensi dengan wajahnya yang terkejut.


"Seharusnya abang yang bertanya. Kenapa kamu bisa sampai di depan ruangan abang? bukankah nggak ada yang memberitahumu lantai berapa ruangan abang berada? dan nggak ada juga yang memberitahumu letak ruangan abang," Pertanyaan Ibrahim membuat tubuh Lensi menegang.


"Benar juga. Tapi kenapa aku bisa sampai disini? dan kenapa pula aku merasa sangat familliar dengan ruangan ini. Apa aku sudah melewatkan sesuatu?" batin Lensi.


Tap


Greppp


Belum hilang rasa terkejut dari wajah Lensi, Ibrahim tiba-tiba menarik tangannya, dan memeluk erat dirinya. Pelukkan yang juga sangat familliar baginya.


"Katakan! abang harus bagaimana agar cepat membuatmu mengingat siapa abang sebenarnya. Rasanya abang nggak sanggup hidup terpisah lama-lama dari kamu Dinda," tanya Ibrahim.


Lensi dengan cepat melerai pelukkan Ibrahim.


"Maksud abang apa sih? abang masih belum bisa move on dari masa lalu abang bersama gadis yang bernama Dinda itu? kalau iya, kenapa abang malah pacaran sama aku? jadi aku ini cuma dijadikan pelarian abang aja?" tanya Lensi dengan mata berkaca-kaca.


Ibrahim menghembuskan nafas dengan kasar. Seharusnya dia bisa lebih sabar menghadapi cobaan yang dia dapatkan dalam rumah tangganya.


"Seharusnya abang bisa menahan diri. Tapi aku yakin kamu wanita kuat. Kamu sudah melupakan abang sebelumnya. Kalau memori kamu hilang sepenuhnya, itu sama saja. Akan lebih bagus memorimu di restart ulang, sehingga melupakan kenangan burukmu di masa lalu,"


"Apa maksud abang mengatakan aku kehilangan memori?" tanya Lensi dengan tatapan penuh selidik.


"Lensi Deva Gemilang. Dindaku, istriku tercinta. Yang sudah aku nikahi sekitar 8 bulan yang lalu. Saat itu kamu mengikuti kompetisi judi dan memenangkan uang 300 milyar. Karena Hirano tidak terima, dia ingin menangkapmu dengan memberikan dua pilihan. Bergabung dengan klub judi atau mengembalikan uang 300 milyar. Istriku dengan nekat menolak dan menerobos kaca gedung. Dengan keahlian parkour yang dia miliki, dia berhasil keluar dari gedung itu."


"Namun saat melakukan pelarian dia terdesak di jalan X. dan sengaja menjatuhkan diri dari atas jembatan. Saat pagi-pagi kamu terdampar didaratan sungai dan memasuki sebuah pesantren milik Abi dan Umi. Istriku menyelinap ke kamarku dan kami sama-sama jatuh cinta pada pandangan pertama waktu itu. Kami...."


"Abang tahu dari bang Arman ya cerita itu? terus tentang pesantren abang pasti ngarang sendiri kan?" tanya Lensi.


"Kamu sudah belajar meretas bersamaku. Kamu juga sudah membuat Surya bangkrut. Kamu kehilangan ingatatan bukan karena jatuh dari jembatan, tapi Vegalah pelakunya."Jawab Ibrahim. Ibrahim kemudian mengirimkan potongan video cctv pada Lensi. Dan kemudian menarik tangan Lensi untuk memasuki ruangan pribadinya.


Mata Lensi terbelalak saat melihat kamar itu dipenuhi oleh foto pernikahan, dan juga foto-foto kebersamaannya dengan Ibrahim. Kepala Lensi berdenyut sakit dan kilasan-kilasan memori tentang Ibrahim dan dirinya menjadi slide dan akhirnya buram.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Ibrahim.


Lensi bergegas keluar dari ruangan itu dan kembali pulang ke Apartemennya. Ibrahim yang khawatir langsung menyusul Lensi karena takut terjadi apa-apa pada istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2