
Ibrahim terduduk di tepi tempat tidur. Dia begitu terpukul dengan kepergian Lensi. Dia tidak menyangka Lensi bakal salah paham terhadapnya. Tapi Ibrahim tidak mau berpangku tangan begitu saja. Dia segera pergi ke ruang kerjanya dan membuka laptopnya. Hal yang pertama dia lakukan adalah melacak keberadaan nomor ponsel Lensi untuk terakhir kalinya.
Ibrahim mengerutkan dahinya saat melihat nomor itu terakhir kali mengarah ke pinggiran kota. Tidak ingin membuang wantu, Ibrahim langsung menyambar kunci mobilnya dan segera pergi.
Sembari berpacu dengan mobilnya, ibrahim juga berpacu dengan pikirannya sendiri. Dia bahkan sesekali memukul-mukul stir mobilnya karena kesal dengan kebodohannya.
"Ibrahim bodoh. Pintar bisnis, tapi bodoh soal memahami wanita. Ah...rasanya aku ingin melubangi kepalaku sendiri kalau begini," Ibrahim bicara sendiri sembari memacu mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata.
Setelah menempuh waktu hampir 30 menit, Ibrahim akhirnya tiba ditempat terakhir kali nomor ponsel itu terlacak. Tapi yang ada disana hanya jalan sepi dan buntu. Juga terdapat banyak pepohonan yang sengaja ditanam pemerintah untuk penghijauan.
"Ah sial...harusnya aku tahu dia sangat cerdas. Dia pasti sudah memperkirakan semuanya. Aku harus kemana lagi mencarinya?"
Ibrahim tampak berpikir dan teringat tentang Okta dan teman-temannya. Diapun tidak ingin membuang waktu dan langsung pergi ke rumah Okta. Okta yang baru bangun tidur, membukakan pintu dengan mata masih terpejam.
"Okta," sapa Ibrahim.
Mata Okta langsung membuka seketika saat mendengar ada suara laki-kaki. Terlebih saat dia tahu kalau itu adalah suara Ibrahim. Okta bergegas mengusap-usap bibirnya dengan punggung tangan, karena takut ada sisa iler disudut bibirnya
"Ba-Bang Baim?"
"Abang mau ketemu Lensi. Suruh dia keluar sebentar ya?" ucap Ibrahim.
Mendengar ucapan Ibrahim, tentu saja Okta jadi mengerutkan dahinya. Melihat dari ekspresi Okta, Ibrahim tahu kalau Lensi tidak berada dirumah gadis itu.
"Maksud abang apa nanya Lensi ada dimari? dia kan ada di rumah abang," tanya Okta.
Ibrahim kemudian duduk di kursi depan teras, sembari memijit keningnya yang terasa pening tiba-tiba. Okta kemudian duduk di kursi samping Ibrahim sembari menatap wajah tampan yang tengah frustasi itu.
"Sebenarnya ada apa bang? kalian bertengkar?" tanya Okta.
"Coba hubungi teman-teman yang lain, mungkin dia ada disana," ujar Ibrahim tanpa menjawab ucapan Okta.
Okta betgegas masuk kedalam untuk mengambil ponselnya. Setelah itu dia membawa ponsel itu keluar, sembari membuat panggilan pada teman-temannya.
"Rik. Si Dewi ada di rumah loe nggak?" tanya Okta.
Riko yang masih belum sepenuhnya sadar, malah mengigau.
"Iya sayang. Nanti aku akan menciummu. Aku juga pengen me**mas buah da*amu,"
"Riko sialan. Kalau ketemu gue jejali mata loe pakai sendal jepit. Bangun kagak loe! dasar jomblo kebanyakkan mesum dalam mimpi loe," omelan Okta membuat Riko jadi terbangun seketika.
"Okta burik. Budeg nih kuping gue. Lagi enak-enak mimpi," ujar Riko.
"Sono mesum sama hantu di kebun jengkol punya engkong loe,"
__ADS_1
"Ada apa sih nelpon pagi-pagi?" tanya Riko.
"Si Dewi ada di rumah loe nggak?" tanya Okta.
"Kagak. Kenapa emang?" tanya Riko.
Okta melirik kearah Ibrahim yang kini tengah tertunduk sedih.
"Lakinya dimari lagi nyariin si Dewi. Dewi kabur dari rumah. Loe hubungin yang lain ya buat kumpul di rumah gue sekarang?"
"Coba tanya Karman ama Mawan. Kali aja dia disana," ujar Riko.
"Kagak mungkin dia ada disana. Mana mau dia pergi ke rumah Karman yang punya istri. Apalagi ke rumah Mawan si bujang lapuk itu. Buruan kemari gih, biar kita cepat rembukkan," ujar Okta.
"Oke."
Okta mengakhiri panggilan itu dan kembali duduk di dekat Ibrahim.
"Abang sudah ngecek ke apartemennya?" tanya Okta berhati-hati.
Mendengar itu Ibrahim jadi bangkit dari tempat duduknya.
"Belum ya bang?" tanya Okta.
"Belum. Aku harus cek sekarang." Jawab Ibrahim.
Okta mengikuti Ibrahim dan ikut masuk kedalam mobil. Dia tidak perduli Ibrahim risih karena dirinya belum mandi. Okta segera menghubungi Riko, agar teman-temannya itu segera nyusul ke apartemen. Setelah sampai, Okta segera menekan beberapa digit angka, dan kemudian masuk setelah pintu terbuka.
Sepi, sunyi, dan remang. Itulah suasana yang mereka temui, saat pertama kali masuk kedalam ruangan itu. Ibrahim yang tidak sabar langsung mencari keberadaan Lensi kedalam kamar, namun sama sekali tidak menemukan keberadaan istrinya itu. Namun ada hal menarik yang menggelitik matanya, saat dia tidak sengaja melihat laptop yang sangat dia kenal berada diatas meja rias.
Perlahan Ibrahim mendekati Laptop itu untuk memastikan kebenarannya.
"Ja-Jadi De-Deva itu adalah Lensi?" bibir Ibrahim bergetar.
Ibrahim jadi terkekeh dengan mata yang berkaca-kaca. Dia jadi teringat saat memberikan syarat yang sama saat Lensi akan mempelajari ilmu bisnis. Dan dia cukup terkejut saat itu, karena Lenai langsung menyanggupi dan hasilnya bacaannya juga sangat bagus.
"Secara tidak langsung dia sudah pandai berbisnis. Dia sangat layak menjadi istri seorang Ibrahim Al-Gifari. Cantik, licik tapi menggemaskan," batin Ibrahim.
Ibrahim membuka laptop itu dan menyalakannya. Ibrahim sangat terkejut, saat melihat foto wallpaper laptop itu adalah foto dirinya yang tengah tertidur, dan dicium pipi oleh Lensi. Ibrahim meraba Lensi lewat layar laptop itu. Matanya jadi berkaca-kaca, karena dia sangat merindukan istrinya itu.
"Kenapa disaat kehilangan aku baru bisa merasakan, kalau kamu itu sangat berarti untukku. Aku sangat merindukanmu, kembalilah," ucap Ibrahim lirih.
Lappppp
Layar laptop tiba-tiba padam, dan digantikan dengan tulisan yang membuat Baim jadi terharu. Kata itu mungkin terlihat biasa, tapi cukup menggetarkan hati Ibrahim. 'Aku mencintaimu bang Baim'. Kata yang sederhana namun bisa membuat hati Ibrahim jadi berbunga-bunga.
__ADS_1
Ibrahim menutup laptop itu dan menyeka air matanya saat mendengar teman-teman Lensi sudah tiba di apartemen.
"Gimana? Apa Dewi sudah ketemu?" tanya Riko.
"Belum. Dia nggak ada disini." Jawab Okta.
"Apa mungkin dia ada di tempat bang Armsn?" tanya Mawan.
"Bang Arman? siapa dia?" tanya Ibrahim curiga.
Karman menoleh kearah Ibrahim. Riko yang hendak menjawab, langsung ditahan oleh Karman.
"Menjawab siapa Arman sangat mudah bagi kami, tapi kami ingin tahu dulu kenapa Dewi bisa sampai kabur dari rumah suaminya sendiri. Apa kamu sudah melakukan KDRT dengannya?" tanya Karman.
"Tidak. Mana mungkin aku melakukan itu? itu dilarang dalam agama kita." Jawaban Ibrahim membuat teman-teman Lensi memutar bola mata dengan malas.
"Jadi apa masalahnya? Dewi itu wanita dewasa pemikirannya. Bahkan pemikiranku yang tua inipun kalah sama dia yang masih sangat belia. Jadi dia nggak mungkin mengambil keputusan besar kalau tidak ada pemicunya," tanya Karman.
"Dia salah paham padaku." Jawab Ibrahim.
Ibrahim menjeda kata-katanya, dan kemudian menceritakan duduk permasalahannya. Teman-teman Lensi yang mendengar cerita itu hanya bisa menepuk dahinya.
"Aku sudah menelpon nomornya berapa kali, tapi tidak aktif," ujar Okta.
"Memang tidak aktif. Aku bahkan sudah melacak keberadaan nomor ponsel itu ditempat terakhir kali masih aktif, namun yang aku temukan cuma jalan buntu. Sepertinya dia sudah memperkirakan semuanya," ucap Ibrahim.
"Sekarang harapan kita tinggal rumah si Arman yang kalian bilang itu. Siapa dia?" tanya Ibrahim.
"Ketua Mafia terbesar di kota ini." Jawab Karman.
"Ap-Apa? mafia?" tanya Ibrahim yang sangat syok.
"Tapi menurutku dia tidak mungkin berada disana. Kalau dia sudah memperkirakan semuanya, dia pasti tahu kalau kita akan mencarinya kesana. Dengan tidak memberitahu kita saja, itu artinya dia sudah tahu kalau bang Baim akan mencarinya lewat kita," ujar Riko.
"Benar juga." Jawab Okta.
"Berarti kita sia-sia dong kalau kesitu?" tanya Mawan.
"Sudah pasti itu. Lagian nggak enak juga nanya bang Arman. Dia pasti marah kalau tahu Dewi ngilang. Dia sayang sekali sama si Dewi," ujar Riko yang membuat Ibrahim sedikit merasa cemburu.
"Sebenarnya sangat disayangkan kesalahpahaman ini. Apa abang tahu? Dewi pernah curhat, kalau dia itu sangat mencintai abang. Tapi nggak berani bilang, karena mengira abang menyukai Fatimah. Terus dia bilang abang juga pernah melarangnya buat mengklaim dirinya dengan sebutan Dinda, karena abang mengatakan Fatimahlah Dinda abang yang sebenarnya," ujar Okta.
Ibrahim jadi terdiam. Dia tidak menyangkal ucapan itu, karena merasa memang pernah mengatakannya.
"Dewi itu gadis baik, cantik, berkelas, dan yang pasti tidak pernah berpacaran. Abang tidak usah meragukan dia kalau soal kesucian. Sejak dulu dia selalu menolak pria manapun yang menyatakan perasaan sama dia. Tapi saat bertemu abang di pesantren itu, dia bilang sudah jatuh cinta pada pandangan pertama sama abang," sambung Okta.
__ADS_1
Semua ucapn yang Okta katakan membuat rasa bersalah dan penyesalan semakin Ibrahim rasakan. Ibrahim akhirnya memutuskan ke rumah Alex untuk berdiskusi dan meminta bantuan untuk ditemukan solusi untuknya.