MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
103. Viral


__ADS_3

Ceklek


Ceklek


Lensi membuka pintu apartemennya, dan menutupnya dengan tergesa-gesa. Dia pasti


"bohong kan? mana mungkin dia suamiku? aku ingat betul kalau aku terjatuh dari jembatan itu. Tapi kenapa tadi aku seperti mengingat sesuatu tentang dia. Dan...."


Lensi menatap cincin kawin yang melingkar dijarinya, dan juga kalung peninggalan ibunya yang bertengger di lehernya. Padahal dia ingat betul kalung itu sudah lama hilang.


"Kalau ucapannya benar, pasti ada bukti lain juga kan?" gumam Lensi.


Lensi kemudian mencari-cari sesuatu di apartemen itu dan dia menemukan sebuah laptop pemberian Ibrahim di loker meja riasnya.


"Laptop siapa ini? seingatku aku nggak punya laptop," ucap Lensi lirih.


Lensi mencoba menekan tombol power laptop itu, namun dia harus berdecak karena daya laptop itu ternyata habis. Lensi kemudian mencharger laptop itu dan kemudian menyala. Hal pertama kali yang Lensi lihat adalah foto dirinya yang sedang mencium Ibrahim. Dan tidak lama kemudian dia juga melihat layar laptop itu bertuliskan "Aku Mencintaimu Bang Baim"


Air mata Lensi jatuh tiba-tiba. Lensi kemudian mengecek ponselnya dan melihat foto-foto di galery yang belum sempat dia cek sejak pulang dari rumah sakit. Air mata Lensi bertambah merebak saat melihat foto-foto dirinya dan Ibrahim ketika sedang berbulan madu.


Lensi kemudian melihat video yang Ibrahim kirimkan padanya. Matanya terbelalak saat Vega dengan tega menganiaya dirinya sedemikian rupa. Lensi memperbesar tangkapan layar. Dan dia bisa melihat tanggal kejadian itu baru beberapa hari yang lalu.


"Vegaaaaaa...kamu sudah menguji batas kesabaranku. Lihat saja, aku akan menghancurkanmu sehancur-hancurnya," mata Lensi memperlihatkan kilat amarah yang membara.


Ceklek


Mata Lensi dan Ibrahim bersitatap ketika pria itu membuka pintu apartemen.


"Ternyata benar-benar suamiku ya? bahkan kode apartemenku pun tahu," ujar Lensi sembari menyeka sisa air matanya dan menghampiri Ibrahim.


"Apa ada bukti lain kalau aku ini memang istrimu?" tanya Lensi yang sebenarnya dia sudah percaya 100% kalau dirinya memang istri dari pria dihadapannya.


"Istriku bilang dia pernah naik angkot nggak bayar. Penah makan gorengan 5 ngakunya 4. Dia juga pernah cerita, kalau dia pernah kentut dikelas, tapi malah mengkambing hitamkan teman sekelasnya." Jawab Ibrahim sembari menahan tawanya, karena wajah Lensi memerah karena malu.


"Yang lain. Apaan cerita seperti itu," Lensi memalingkan wajahnya karena malu.


Tanpa Lensi sadari Ibrahim sudah mendekatkan bibirnya ditelinganya untuk berbisik.


"Sisa bukti lainnya harus diatas ranjang. Biar kamu tahu, siapa yang sudah merenggut keperawananmu," bisikkan Ibrahim membuat Lensi jadi tersipu.


Lensi kemudian berbalik badan dan mengalungkan kedua tangannya dileher kekar Ibrahim.


"Kalau begitu buktikan sekarang juga. Aku ingin tahu, apa aku benar-benar tidak merasakan sakit lagi saat kamu memasukiku," tantang Lensi.


"Dengan senang hati," ucap Ibrahim sembari melepaskan jas dengan bibir yang sudah saling bertaut dengan bibir istrinya itu.

__ADS_1


Ibrahim kini sudah bertelanjang dada. Melihat tubuh Ibrahim yang indah, tentu saja Lensi juga ikut berga*rah. Dia sama sekali tidak keberatan saat Ibrahim membaringkan dirinya diatas ranjang. Ibrahim membantu Lensi melepaskan gamis dan hijab yang dia kenakan.


"Ah...aku rasanya mau gila saat tidak bercinta denganmu beberapa hari ini. Sekarang aku akan buka puasa sampai kenyang," ucap Ibrahim yang membuat Lensi jadi tersipu.


Mata Lensi terbelalak saat melihat benda kebanggaan Ibrahim sudah mengacung sempurna. Setelah melewati pemanasan yang panjang, Ibrahim mulai membelah jalan yang sudah sering dia lalui itu. Lensi tersenyum bahagia, dan mendekap suaminya itu dengan erat disela-sela hujamam manis yang Ibrahim berikan. Lensi kini percaya bahwa Ibrahim memang suaminya, meskipun dia belum mengingat semuanya.


"Sakit?" tanya Ibrahim disela hujamannya.


"Tidak. Tapi nikmat." Jawab Lensi yang membuat Ibrahim tersenyum.


"Kalau begitu nikmatilah semua rasa yang sempat kamu lupakan. Abang akan membuat kenangan yang baru untukmu, agar kamu tidak melupakan saat-saat ternikmat kita ketika diatas ranjang," ucap Ibrahim.


"Aku menantikannya," ujar Lensi yang kemudian kembali dicumbu lembut oleh Ibrahim.


Hujaman Ibrahim semakin lama semakin keras. Yang membuat Lensi mengerang dibawah kungkungannya. Peluh mereka bercucuran, seolah pendingin ruangan sama sekali tidak berfungsi pada kulit mereka. Dan setelah hampir bercinta selama 1 jam, dua sejoli itu mengerang bersamaan. Lensi cukup merasa lemas, karena selama itu dia sudah mendapat pelepasan sebanyak 3 kali.


"Kita tunggu beberapa saat lagi. Setelah itu kita lanjut ronde berikutnya," ujar Ibrahim.


"La-Lagi?"


"Kenapa? apa kamu tahu? kita biasa melakukannya sebanyak 10 ronde." Jawaban Ibrahim membuat mata Lensi melotot. Sementara Ibrahim menahan tawa, karena dia dengan jahil mengerjai istrinya itu.


"Mana mungkin. Satu ronde saja membuat pinggangku pegal. Abang bohong ya?" ucapan Lensi membuat Ibrahim terkekeh.


"Apa aku sekuat itu?" gumam Lensi yang masih bisa didengar oleh Ibrahim.


"Kamu tidak hanya kuat, biasanya yang lebih sering ngajak duluan itu kamu." Jawaban Ibrahim membuat wajah Lensi bersemu merah.


"Nggak mungkinlah aku minta gitu duluan," ucap Lensi sembari memalingkan wajahnya karena malu.


"Tidak masalah. Itu malah jadi pahala buat kamu," ujar Ibrahim.


"Aku minta maaf ya bang," ucap Lensi dengan wajah murung.


"Maaf buat apa?" tanya Ibrahim.


"Aku belum mengingat semuanya. Meskipun ada sedikit kilasan-kilasan yang sempat aku lihat. Tapi masih buram." Jawab Lensi.


"Tidak masalah. Kamu lupakan saja, dan tidak usah berusaha mengingat lagi. Yang penting adalah kita harus membuat kenangan baru untuk kita lagi," ucap Ibrahim.


"Apa kita baru saja berbulan madu?" tanya Lensi.


"Ya."


"Bukankah kata abang sejak pertemuan kita dipesantren itu kita jadi menikah dadakkan? kalau itu kejadian 8 bulan yang lalu, kenapa bulan madunya baru sekitar 1 bulan yang lalu?" tanya Lensi.

__ADS_1


"Rumah tangga kita pernah di hantam badai salah paham, dan kita sempat terpisah selama 5 bulan. Saat kita berbaikkan, abang langsung mengajakmu bulan madu bersama Okta dan bang Arman." Jawab Ibrahim.


"Begitu ya. Sepertinya banyak hal yang aku lewatkan," ujar Lensi yang kemudian semakin mengeratkan pelukkannya pada Ibrahim.


"Sudah abang bilang tidak usah dipaksa mengingat. Bagi abang yang penting kamu selalu ada disisi abang, itu sudah cukup," ucap Ibrahim.


Cup


Lensi mengecup bibir Ibrahim dan sedikit me**matnya.


"Dinda mencintai abang," ujar Lensi.


Ibrahim tersenyum dan kemudian menautkan kembali bibirnya. Hari itu Lensi dan Ibrahim membuat kenangan baru untuk mereka, dengan bercinta sepuas jiwa dan raga mereka.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Ap-Apa? kenapa ada videoku yang menjadi trending topik begini?" Vega sangat syok saat melihat sebuah artikel tentang dirinya di media sosial.


Vega kemudian mencari video yang bersangkutan, dan menontonnya dengan tangan gemetar.


"Ti-Tidak. Kenapa aku bisa seceroboh ini. Kenapa aku bisa lupa kalau diruangan itu ada cctv," gumam Vega.


"Vega...Vega..." teriak Surya.


"I-Iya pa." Jawab Vega.


Brakkk


Surya membuka pintu dengan lumayan keras.


"Apa ini? kenapa video kamu bisa viral gini? kenapa kamu sebodoh ini ha?" hardik Surya.


"Maaf pa aku lupa kalau disana ada cctv." Jawab Vega dengan tubuh gemetar.


"Sebaiknya kamu pergi dari rumah ini kalau kamu nggak mau masuk penjara. Kamu sudah mencuri banyak uang kan? pakai itu untuk biaya hidup kamu," ucap Surya.


"Ta-Tapi aku nggak tahu harus kemana pa?" tanya Vega.


"Papa nggak perduli. Pokoknya kamu harus pergi dari rumah ini untuk sementara waktu sampai semuanya aman." Jawab Surya.


"Pergilah keluar kota," sambung Surya.


"Vega ngerti pa." Jawab Vega.


Vega kemudian mengemasi barang-barangnya, dan pergi. Sementara Marini sampai pagi ini belum pulang setelah pergi dari kemarin sore. Suryapun tidak tahu keberadaan istrinya itu. Sejak Surya bangkrut, sikap Marini jadi berubah.

__ADS_1


__ADS_2