MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
46. Pindah


__ADS_3

"kita jadi pindah hari ini bang?" tanya Lensi setelah melihat Ibrahim selesai melakukan sholat Dhuha.


"Ya. Kamu bersiaplah, setelah itu kita berangkat," Jawab Ibrahim.


"Baiklah," ujar Lensi.


Lensi bergegas mengemasi barang-barangnya kedalam ransel.


"Emm. Berhubung aku membawa motorku kemari, abang kirimkan saja alamat rumah abang itu. Aku harus mampir kerumahku, buat ngambil barang-barangku," ujar Lensi.


"Motormu tinggal disini saja. Nanti biar suruh orang buat ngantar kerumahku. Aku akan menemanimu buat ngambil barang-barangmu," ucap Ibrahim.


"Terima kasih bang. Abang sungguh baik deh," ucap Lensi sembari mengedipkan mata nakal kearah Ibrahim, dan pria itu langsung memalingkan wajah karena salting.


"Pria ini sangat menggemaskan. Aku suka sekali menggodanya. Jadi begini rasanya punya suami Ustad yang nggak pernah bergaul dengan wanita? lihatlah wajahnya, baru digoda sedikit saja sudah memerah sampai ketelinganya," batin Lensi.


"Dindamu sudah siap bang," ujar Lensi yang kembali menggoda Ibrahim.


"Dinda?"


"Ya. Abang harus punya panggilan khusus buatku. Kalau abang memanggil dengan sebutan nama, kan nggak enak didengar orang bang? dikiranya kita nggak romantis," ucap Lensi yang menahan tawanya.


"Emang iya nggak romantis. Romantis sama kamu juga ngapain? " tanya Ibrahim asal.


"Kok ngapain sih bang? dinda ini kan istrimu. Abang belum ngasih jatah malam pertama loh buat dinda," ucap Lensi yang semakin ingin menggoda Ibrahim.


"Wanita ini. Apa urat malunya sudah putus? dia membahas urusan ranjang tanpa ada rasa malu sedikitpun," batin Ibrahim.


"Jangan kebanyakkan bicara yang tidak penting. Kalau sudah siap, kita berangkat sekarang," ujar Ibrahim sembari bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu.


"Kok nggak penting sih bang? itu penting loh. Biar kita bisa berkembng biak, dan beranak pinak," ucap Lensi dengan konyol.


Tanpa Ibrahim tahu, Lensi menyembunyikan tawa dibalik punggung pria itu. Namun tawanya yang tersembunyi itu mendadak lenyap, saat Ibrahim tiba-tiba berbalik badan, dan mendorong tubuhnya kedinding, hingga mempersempit jarak diantara mereka.


"Apa kamu ingin kita berkembang biak, dan beranak pinak sekarang juga?" tanya Ibrahim.


Deg


Deg


Deg


Jantung Lensi berdegup dengan kencang. Bagaimana tidak? Ibrahim bicara dengan jarak hanya beberapa senti saja. Bibir pria itu nyaris menyentuh bibirnya.


"Sial. Kenapa dadaku rasanya ingin meledak? ini salahku yang selalu menggodanya. Ya Tuhan...apa aku akan ternoda sekarang juga?" batin Lensi.

__ADS_1


Mata Lensi dan Ibrahim bersitatap. Lensi yang tidak bisa menenangkan debar dijantungnya, segera memutus tatapan itu. Ibrahim segera membebaskan Lensi dari kurungan tangannya.


"Jadi cuma berani ngomong doang?" tanya Ibrahim.


"Si-Siapa yang omong doang. Nanti kita akan kesiangan kerumahku," ucap Lensi yang langsung berjalan lebih dulu di depan Ibrahim.


Tanpa Lensi tahu, dibelakang punggung gadis itu Ibrahim mengelus dadanya.


"Apa itu tadi? kenapa aku sangat ingin mencium bibirnya. Wanita ini sangat berbahaya. Apa dia sudah biasa menggoda setiap pria? ah...aku lupa. Dia kan seorang model, dia sudah biasa menggoda agar produk yang dijual bisa laku," batin Ibrahim.


Lensi dan Ibrahim segera berpamitan dengan Ustad Gofur dan Aisyah. Setelah itu mereka pergi menuju apartemen Lensi.


"Dia tinggal diapartemen dengan keluarganya? tidak! dia bilangkan kabur dari rumah," batin Ibrahim.


"Kamu tinggal di apartemen?" tanya Ibrahim.


"Ya." Jawab Lensi singkat.


"Sama siapa?" tanya Ibrahim.


"Sendiri. Tapi kadang Riko, Kaman, Mawan dan Okta sering tidur disini juga." Tanpa Lensi tahu jawabannya itu ditanggapi lain oleh Ibrahim.


"Jadi mereka biasa melakukan kumpul kebo? tidak dengan satu pria? tapi dengan beberapa pria?" batin Ibrahim.


"Kamu harus segera bertaubat dari perbuatanmu itu," ujar Ibrahim.


"Iya abangku sayang. Aku janji nggak akan melakukan hal seperti itu lagi," ujar Lensi.


"Jadi itu benar? dia sudah mengakuinya sendiri. Jadi aku mendapat barang bekas banyak pria?" batin Ibrahim.


Lensi menekan beberapa digit angka dilayar monitor depan pintunya. Lensi dan Ibrahim segera memasukki apartemen itu.


"Apartemen ini sangat besar dan mewah. Mengingat dia model yang tidak terkenal, mana mampu dia membeli apartemen semewah ini dengan mengandalkan gajinya. Kecuali dia memang menjadi wanita simpanan banyak pria," batin Ibrahim.


"Astagfirullah...kalau semua memang pikiranku salah, ampuni aku ya Allah. Tapi kalau itu benar, apa salahku sehingga memiliki istri bekas orang lain? kalau janda baik-baik mungkin bisa diterima, tapi ini?"


Lensi memasuki kamarnya, sementara Ibrahim ikut mengekor dibelakangnya. Lensi segera menurunkan koper, dan mulai memasukkan barang-barangnya. Ibrahim hanya melihat apa yang Lensi lakukan dari tepi tempat tidur.


"Sudah berapa lama kamu mengumpulkan Riko, Karman, dan Mawan di rumah ini?" tanya Ibrahim.


"Sejak kapan ya? aku beli apartemen ini baru sekitar sebulan atau dua bulan yang lalu. Kayaknya sejak itu deh." Jawab Lensi.


"Apa mereka membayarmu?" tanya Ibrahim.


"Tentu saja tidak." Jawab Lensi.

__ADS_1


"Wanita ini benar-benar gila. Bahkan jasanya itu dia berikan cuma-cuma?" batin Ibrahim.


"Selain mereka siapa lagi yang pernah datang kesini?" tanya Ibrahim dengan wajah dingin.


"Siapa ya? emm...oh iya, ada bang Arman dan anak buahnya." Jawab Lensi.


Wajah Ibrahim menggelap. Nafas pria itu naik turun. Namun Lensi sama sekali tidak menyadarinya, karena dirinya masih sibuk dengan pakaiannya.


"Cepatlah! tidak perlu kamu bawa semua barang-barangmu. Kamu juga tidak tahu, sampai berapa lama kamu tinggal di rumahku itu," ucap Ibrahim.


"Eh? maksud abang apa? kita mau pindah ke rumah yang baru lagi?" tanya Lensi.


Ibrahim tidak menjawab pertanyaan Lensi. Dia bergegas keluar dari kamar itu dan menunggu Lensi di luar apartemen.


"Aku jadi penasaran dia bekerja dimana. Kenapa dia bisa membeli rumah begitu banyak?" Lensi menutup kopernya dan menyeret koper itu keluar rumah


"Ayo bang. Dindamu sudah siap," ucap Lensi.


"Kamu bukan dindaku. Dindaku mantan tunanganku, dan kamu sudah merebutku darinya," ujar Ibrahim sembari berjalan mendahului Lensi.


Sementara itu Lensi jadi terdiam setelah mendengar ucapan Ibrahim.


"Iya. Aku melupakan fakta satu itu. Aku jadi penasaran, siapa mantan tunangannya itu? dia pasti wanita sholeha, dan sesuai dengan tipe Ibrahim. Dan yang pastinya mereka saling mencintai. Sementara aku siapa? aku bukan siapa-siapa. Aku tidak pernah mencintai siapapun, kecuali...."


Lensi menatap punggung Ibrahim yang semakin menjauh. Sepertinya dia baru menyadari ketika hatinya tiba-tiba berdenyut sakit saat mendengar ucapan terus terang Ibrahim.


"Sepertinya aku sudah jatuh cinta pada pria ini lebih dulu. Dan dia adalah cinta pertamaku," Lensi tersenyum kecil. Karena cinta pertamanya hanya bertepuk sebelah tangan.


Setelah menempuh perjalanan hampir 25 menit, merekapun tiba disebuah rumah mewah bernuansa eropa. Ibrahim yang melihat Lensi tertidur lelap, hanya bisa memandangi wajah cantik istrinya itu.


"Apa aku harus benar-benar menerima ketetapan Allah yang satu ini. Tapi rasanya begitu berat bagiku menerima semua keburukkan wanita ini. Aku seolah terjebak dalam lumpur yang sangat hitam. Padahal aku sangat yakin dengan kalam-kalam Allah, yang menyatakan pria yang baik, akan mendapatkan jodoh yang baik pula."


"Apa aku ini sebenarnya masih kurang baik? hingga aku harus mendapatkan jodoh yang buruk?" batin Ibrahim.


"Lensi bangunlah!" Ibrahim membangunkan Lensi dengan suara yang lumayan keras, hingga membuatl Lensi jadi terkejut.


"Eh? kita sudah sampai bang?" tanya Lensi.


Ibrahim tidak menjawab ucapan Lensi. Pria itu bergegas turun dari mobil, yang sudah dia parkirkan dalam garasi. Mata Lensi terbelalak, saat turun dari mobil itu. Matanya dimanjakan dengan puluhan koleksi mobil mewah, dengan luas garasi yang sangat fantastis.


"Apa ini sungguh rumahnya? sebenarnya dia bekerja dimana? kok bisa punya mobil dan rumah semewah ini?" batin Lensi.


Lensi menurunkan kopernya dan menyeretnya kedalam rumah Ibrahim.


"Selamat datang nyonya," sapa beberapa pelayan dan juga security rumah itu.

__ADS_1


Lensi hanya membalasnya dengan senyuman dan anggukkan, sebelum akhirnya dia masuk melalui pintu utama. Lensi berjalan dengan biasa saja, meski Ibrahin sangat yakin, mata Lensi terbelalak, saat melihat rumah dan koleksi mobil mewahnya.


__ADS_2