MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
110 . Bertemu


__ADS_3

Tap


Tap


Tap


Suara langkah kaki berat memenuhi koridor menuju ruang besuk. Suara langkah kaki itu beriringan dengan suara langkah kaki seorang wanita yang terlihat berusaha berjalan menyeimbangi langkah kaki Handoko.


Setelah tiba di ruang besuk. Handoko dan Marini duduk bersebelahan, sembari menunggu Vega menemui mereka. Tidak berapa lama kemudian Vega keluar dengan mengenakan baju tahanan dengan tangan di borgol.


Vega kemudian duduk tepat di hadapan Handoko. Kedua manusia itu saling tatap satu sama lain, seolah mereka membenarkan kalau mereka memiliki hubungan darah. Tidak bisa Handoko pungkiri, wajah Vega memang mirip dengannya.


"Pa-Papa?" ucap Vega terbata.


Handoko tersenyum dan kemudian merentangkan kedua tangannya. Vega kemudian masuk ke dalam pelukkan Handoko sembari menangis. Handoko mengusap-usap punggung putrinya itu. Sementara tanpa Handoko tahu, Vega mengacungkan jempolnya pada Marini.


"Maafkan papa yang terlambat mengetahui. Tapi papa lega, karena selama ini kamu hidup berkecukupan di rumah papa Surya," ujar Handoko setelah pelukkan mereka terlerai.


"Semua ini salahku. Karena aku, kalian jadi hidup terpisah selama puluhan tahun," ucap Marini dengan wajah sedih.


"Mama tidak usah sedih. Sekarang Vega sudah bersatu lagi dengan papa kandung Vega. Pasti papa nggak akan menelantarkan aku. Iya kan pa?" tanya Vega.


"Eh? i-iya." Jawab Handoko.


"Pa Vega sangat takut disini. Vega benar-benar khilaf melakukan itu. Itu karena Lensi memprovokasiku waktu itu," ucap Vrga.


"Apa yang dia katakan hingga kamu sangat marah dan melakukan hal itu?" tanya Handoko.


"Dia bilang mama merebut papa Surya dari mamanya. Dia juga bilang mama wanita murahan. Sebenarnya mama juga selama ini tidak bahagia hidup dengan papa Surya. Meski bergelimang harta, tapi dia sangat kasar ke mama. Mama sering di pukul dan...."


"Vega apa yang kamu katakan. Hal yang tidak perlu diceritakan, tidak usah kamu ceritakan. Nggak enak di dengar papa kamu," ucap Marini.


"Maaf ma. Aku pikir papa harus tahu, kalau sebenarnya mama...."


Vega sengaja menjeda kalimatnya, agar Handoko penasaran dengan kalimat yang akan dia katakan selanjutnya.


"Sebenarnya mama kamu kenapa?" tanya Handoko.


"Ve. Mama mohon jangan katakan! mama malu," ujar Marini.


"Ada apa?" tanya Handoko.


"Mama diam-diam masih mencintai papa. Aku pikir awalnya mama berselingkuh, tapi kini aku ngerti. Kalau mama tidak bisa melupakan papa sepenuhnya. Mungkinkah suatu saat keluarga kita bisa utuh seperti keluarga orang lain pa?"tanya Vega.


Marini tertunduk, sementara Handoko jadi terdiam. Namun sesaat kemudian Handoko tersenyum sembari menggenggam tangan Vega.


"Papa dan mama kamu sudah tidak mungkin disatukan lagi. Tapi terhadap kamu, papa pasti bertanggung jawab." Jawab Handoko.

__ADS_1


"Apa itu artinya saat keluar nanti, apa Vega boleh tinggal bersama papa?" tanya Vega.


Lagi-Lagi Handoko terdiam. Tentu saja dia tidak bisa mengambil resiko sebesar itu.


"Papa akan berusaha memberitahu anak dan istri papa tentang kahadiran kamu. Tapi kamu juga harus bersabar. Ini tidak mudah." Jawab Handoko.


"Kenapa pa? bukankah bisa dibilang aku ini anak tertua? aku bukan anak hasil perselingkuhan. Kecuali aku ini adik dari anak papa itu. Itu baru anak dari hasil perselingkuhan," ujar Vega dengan wajah sedih.


"Bersabarlah. Papa akan berusaha membuat anak dan istri papa menerimamu sebagai putri dari papa juga," ucap Handoko.


"Makasih ya pa," ujar Vega sembari tersenyum.


"Oh ya papa bawa makanan kesukaan kamu. Mama kamu bilang, kamu sangat menyukai seafood," ucap Handoko.


"Makasih pa." Jawab Vega.


"Kalau begitu papa kembali ke kantor dulu ya? papa sudah terlalu lama pergi keluar," ucap Handoko.


"Ya pa. Papa sering-sering kesini ya?"


"Ya." Jawab Handoko.


"Mama juga pulang dulu ya?"


"Ya ma." Jawab Vega.


Marini dan Handoko pulang bersamaan. Handoko mengantarkan Marini tepat di depan lorong rumah wanita itu.


"Sama-Sama. Apa pengacara itu sudah menghubungimu?" tanya Handoko.


"Sudah mas. Dia sedang mendalami kasusnya terlebih dahulu. Minggu depan adalah sidang pertama. Mas pasti datang kan?" tanya Marini.


"Maaf. Aku tidak bisa! disana nanti pasti ada Surya. Aku nggak mau membuat masalah untuk rumah tanggamu." Jawab Handiko


"Rumah tanggaku memang sudah bermasalah sejak dulu mas. Mau kembali sama kamu, jelas aku merasa malu sama kamu waktu itu. Tapi sekarang itu sudah sangat terlambat. Aku akan berusaha menerima kenyataan mas," ucap Marini.


"Aku pergi dulu ya," ujar Handoko yang tidak terlalu menanggapi omongan Marini.


"Iya mas. Hati-Hati ya," ucap Marini.


"Emm." Handoko mengangguk.


Handoko melaju dengan mobilnya setelah Marini turun dari mobil. Sementara itu di tempat berbeda Lensi tengah sibuk di kantornya. Sedangkan Ibrahim sedang pergi menuju kantor Lensi untuk mengajak istrinya itu makan siang.


Tok


Tok

__ADS_1


Tok


"Masuk!" ucap Lensi


Ceklek


"Selamat siang bu. Apa ibu sibuk hari ini?" tanya Ibrahim dengan sedikit merubah suaranya.


Lensi menghentikan gerakkan tangannya, dan kemudiam mengalihkan pandangannya dari tumpukkan berkas.


"Abang," senyum semringah terbit dari bibir Lensi.


Wanita cantik itu kemudian bangkit dari tempat duduknya dan berhambur kepelukkan Ibrahim.


"Kangen," ucap Lensi yang membuat Ibrahim jadi terkekeh.


"Kangen terus. Padahal kita kan bertemu terus setiap hari. Baik itu di sumur, di dapur apalagi di kasur," ujar Ibrahim sembari menarik hidung mancung Lensi.


"Apa yang abang bawa?" tanya Lensi.


"Makanan kesehatan buat program hamil." Jawab Ibrahim yang kemudian menarik tangan Lensi untuk duduk di sofa, dan makan siang bersama.


"Tauge?" tanya Lensi dengan mata yang melotot.


"Ya. Kata orang biar subur. Abang juga beli ikan bakar kesukaanmu." jawab Ibrahim.


Lensi menelan ludahnya. Pasalnya dari sekian banyak sayur, Lensi paling geli dengan yang namanya tauge.


"Ba-Bang,"


"Ada apa?" tanya Ibrahim yang mengaduk-aduk sayur tauge dengan nasi dan siap-siap akan menyuapkannya pada Lensi.


"Aku sakit perut bang." Jawab Lensi.


"Sakit perut? kok bisa? kamu habis makan apa? kita ke rumah sakit ya?" tanya Ibrahim cemas.


"N-Nggak. Nggak perlu ke rumah sakit. Tadi cuma salah makan aja. Abang saja yang makan taugenya, biar aku makan nasi dengan ikan saja." Jawab Lensi asal.


Ibrahim menyipitkan matanya, Lensi jadi tertunduk. Dia paling tidak bisa berbohong pada suaminya itu. Ibrahim menarik hidung Lensi sembari tersenyum.


"Bisa-Bisanya mau ngadalin ustad. Kamu tidak suka sayur tauge?" tanya Ibrahim yang kemudian diangguki Lensi dengan bibir ngerucut.


"Kalau untuk obat semuanya memang terasa tidak enak," ucap Ibrahim.


"Tapi aku geli sama tauge bang," ujar Lensi.


"Coba dulu, enak kok. Coba lihat abang nih," ucap ibrahim yang kemudian memakan satu sendok tauge, namun Lensi malah terpejam melihatnya.

__ADS_1


"Buka mulutmu sayang! atau kita langsung pergi ke dokter buat cek kesuburan?" tanya Ibrahim.


Lensi langsung menyambar makanan dari sendok yang Ibrahim sodorkan. Dia belum siap pergi ke dokter. Dia masih belum siap untuk menerima kenyataan, kalau-kalau dirinyalah yang bermasalah.


__ADS_2