MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
141. Uang Tebusan


__ADS_3

"Paket!" tampak seorang kurir mengenakan seragam berwarna merah berteriak dari luar pagar.


"Paket untuk siapa?" tanya Security rumah Lensi.


"Buat tuan Ibrahim." Jawab sang kurir.


Security langsung menerima paket itu, dan segera memberikannya pada sang majikan.


"Apa itu pak?" tanya Lensi dengan sigap.


Pasalnya ini sudah hari ke 2 sejak putranya menghilang. Lensi dan Ibrahim memang belum mengambil tindakan, karena mereka yakin sang penculik pasti akan menghubungi mereka.


"Paket nyonya." Jawab Security.


Lensi membuka paket itu setelah Security pergi dari hadapannya.


"Sini biar abang buka pakai gunting," ujar Ibrahim yang mengambil gunting dari laci ruang tamu.


Ibrahim mulai menggunting kantung plastik yang membungkus sebuah kotak berwarna hitam. Ibrahim dan Lensi sangat terkejut, karena isinya berupa foto anaknya yang tengah di gendong oleh pria bertato. Lensi menyeringai, karena dia tahu betul siapa pemilik dari tato itu.


"Cokro. Kamu ingin bermain-main dengan singa rupanya," ucap Lensi dengan tangan terkepal.


"Cokro? kamu kenal penculiknya?" tanya Ibrahim.


"Dia orang yang sudah menghamili Vega bang. Aku yakin ini ada sangkut pautnya dengan Vega. Gadis itu cepat sekali gerakkannya. Entah apa yang dikatakannya pada si Cokro tolol itu, sehingga dia mau berkorban buat Vega." Jawab Lensi.


"Ini ada suratnya," ujar Ibrahim sembari meraih surat yang berada dibawah tumpukkan foto.


"Dia ingin minta uang tebusan 200 milyar," ujar Ibrahim.


"Dasar bajingan. Memang sangar cocok nikah sama si Vega. Biar bisa jadi satu keluarga mata duitan," gerutu Lensi.


"Tidak masalah, kita berikan saja. Yang penting anak kita kembali," ujar Ibrahim.


"Hah. Kalau nggak mikiran anak, sudah kuhabisi dia. Dari dulu dia selalu mendapatkan uang dengan cara memaksa orang lain," ucap Lensi.


"Disini dia minta agar di transfer. Dia juga sudah memberikan nomor rekeningnya," ujar Ibrahim


"Tapi aku tidak yakin tujuannya cuma uang bang. Aku tahu betul siapa Vega dan Ibunya," ujar Lensi.

__ADS_1


"Tidak masalah. Perkara mudah untuk membuat uang itu kembali. Berapapun yang dia minta turuti saja. Kalau dia ingkar janji, kita bisa membobol akun banknya. Malah sebaliknya, kita akan kuras habis uang dalam rekeningnya," ucapan Ibrahim membuat Lensi terkekeh.


"Astaga. Aku sampai lupa, kalau suamiku ini seorang peretas handal," ujar Lensi sembari terkekeh.


"Dia minta ditransfer hari ini juga. Kita harus ke bank sekarang," ucap Ibrahim.


Merekapun pergi kebank untuk mentransfer uang Cokro. Setelah selesai, merekapun pulang. Sementara Cokro yang mendapat notif di ponselnya tertawa senang dan membuat panggilan untuk Vega.


"Aku sudah menculik anak Lensi dan meminta uang tebusan," ujar Cokro.


"Bunuh saja anaknya. Aku tidak tertarik dengan uang tebusan yang sedikit itu," ucap Vega.


"Aku tidak membunuh anak-anak. Terlebih dia sudah mentransfer uang 200 milyar ke rekeningku," ujar Cokro.


"Du-Dua ratus milyar?" tanya Vega terkejut.


"Ya. Aku pikir cukup buat mengobati sakit hatimu. Apa itu sebanding? karena sejujurnya aku sudah tidak tahan mendengar keluhan baby sitter anak itu. Jadi aku ingin mengembalikan anaknya." Jawab Cokro.


"Dua ratus milyar itu untukku?" tanya Vega terkejut.


"Ya. Aku kan sudah bilang, aku tidak akan membiarkan kamu dan anak kita hidup kekurangan. Kalian berdua harus happy, apa menurutmu aku salah dengan mengembalikan anak itu?" tanya Cokro.


"Tidak. Kalau begitu kembalikan saja. Sekarang kamu tinggal membalaskan rasa sakit hatiku pada Gita. Aku ingin kamu juga memeras mereka." Jawab Vega.


"Makanan?" tanya Vega.


"Aku ingin anak kita tumbuh cerdas dan berpendidikkan tinggi. Jangan menjadi preman seperti ayahnya. Jadi aku mengirim steak ikan salmon dan juga kacang almond untukmu." Jawa Cokro.


Perkataan Cokro sangat menyentuh perasaan Vega. Pasalnya baru kali ini dia mendapat perhatian dari seorang laki-laki.


"Terima kasih," ucap Vega.


"Baiklah aku akan mengurus anak itu dulu," ujar Cokro.


"Emm,"


Cokro mengakhiri percakapan itu dan memerintahkan agar anak buahnya mengantar anak Ibrahim ke rumahnya. Namun hal tak terduga malah terjadi. Anak buah Cokro malah menjual anak itu dan kabur entah kemana. Lensi dan Ibrahim yang menunggu hingga larut malam, merasa dibohongi. Merekapun berencana akan datang langsung ke Markas Cokro.


"Sebaiknya kita datangi dia beok saja. Ini sudah larut malam," ujar Ibrahim yang kemudian diangguki oleh Lensi.

__ADS_1


Sementara itu di tempat berbeda, Vega tengah merenung di kamarnya. Entah mengapa dia sangat gelisah saat ini.


"Kenapa aku jadi merindukan Cokro? ini sangat tidak benar. Kenapa aku sangat ingin bertemu manusia jelek itu. Apa ini pengaruh dari hormon kehamilan?" ucap Vega lirih.


"Tapi aku benar-benar menginginkan itu malam ini. Ah...sial, sudah tahu rasa berhubungan badan aku jadi ketagihan begini. Dan aku harus bagaimana sekarang! kebutuhan itu terasa begitu mendesak," ucap Vega dengan gelisah.


Tok


Tok


Tok


Ceklek


Mata Vega terbelalak, saat melihat kehadiran Cokro dihadapannya. Dan Cokro bisa melihat, kalau mata Vega berbinar senang saat ini.


"Apa kamu sesenang itu melihat aku datang?" tanya Cokro yang membuat senyum Vega lenyap seketika.


"Jangan kepedean. Kamu tidak seganteng itu," ujar Vega dengan menyilangkan tangan di dada.


Cokro menutup pintu dan menguncinya setelah dia masuk. Dia tidak ingin berbasa basi, karena tujuannya datang memang ingin melepaskan. hasratnya. Tentu saja Vega menyambutnya dengan senang. Karena dia juga menginginkan itu terjadi.


"Oh...baby. Ini sangat nikmat," ucap Cokro saat dirinya menghujam dalam untuk yang terakhir kalinya.


Setelah percintaan itu berakhir, Cokro segera bangkit dari tempat tidur dan berencana pulang.


"Ka-Kamu mau pulang sekarang?" tanya Vega.


"Aku harus melakukannya. Aku tidak mau berada disini, dan akan memakanmu sepanjang malam. Kamu tidak tahu, betapa kamu itu sangat menggodaku. Aku tidak tahan melihatmu tanpa busana, dan ingin memasukkimu setiap waktu. Jadi tidurlah!" ucap Cokro.


Gerakkan tangan Cokro terhenti, saat Vega dengan tiba-tiba memeluknya dari belakang.


"Ta-Tapi kita baru sekali melakukannya. Aku rasa tidak masalah kalau sekali lagi," ujar Vega dengan wajah bersemu Merah.


"Kamu mau lagi?" tanya Cokro yang diangguki malu-malu oleh Vega.


"Ternyata ngidammu membuatku untung banyak," ucap Cokro sembari kembali melepaskan pakaiannya dan segera memagut ibu dari anaknya itu.


Entah mengapa Vega sangat menyukai apapun yang Cokro lakukan padanya. Hingga tanpa sadar merekapun melakukannya berkali-kali.

__ADS_1


"Apa aku menyakitimu?" tanya Cokro disela-sela hujaman lembutnya .


Cokro melakukannya dengan lembut, karena dia tidak ingin membahayakan anaknya. Sementara Vega hanya bisa mengangguk, karena dia terlalu sibuk menikmati setiap hujaman manis yang Cokro berikan.


__ADS_2