
"Kata dokter kamu harus dirawat lagi selama 3 hari, sampai lukamu cukup membaik. Nanti biar aku yang mengantarmu bertemu orang itu," ucap Ibrahim.
"Eh? tidak usah. Aku bisa sendiri kok," ujar Lensi.
"Tidak bisa. Bukankah kamu ingin memberiku kesempatan dekat denganmu? aku tidak ingin memberi pria lain kesempatan buat mencari keuntungan darimu," ucap Ibrahim yang benar-benar terbakar api cemburu.
"Eh? belum apa-apa sudah posesif. Tapi entah mengapa aku sangat senang dia posesif padaku. Rasanya ada kupu-kupu berterbangan didadaku," batin Lensi.
Sementara orang-orang yang menyaksikan kecemburuan Ibrahim hanya bisa menahan tawanya.
"Dew. Maaf ya, gue nggak bisa ngerawat loe disini. Sekarang gue sudah punya suami, kami malah berencana pengen pergi bulan madu," Okta sengaja berkata demikian, karena dia ingin memberikan kesempatan pada Ibrahim agar memiliki banyak waktu dengan Lensi.
"Kok gitu Ta? loe mentang-mentang udah kawin, jadi lupa sama sahabat yang lagi sengsara," ucap Lensi.
"Ya mau gimana lagi Dew. Bang Arman sudah tua, kami harus cepat-cepat berkembang biak. Ntar keburu kiamat. Loe juga jangan kebanyakan mikir Dew. Kawin itu enak banget ternyata." Jawab Okta yang membuat semua orang jadi melotot mendengar ucapan Okta.
"Kamu kok ngomongnya gitu yank? malu tauk," bisik Arman.
"Biarin aja. Daripada dia nyuruh aku nginep disini? emang abang mau nggak dapat jatah?" ucap Okta setengah berbisik.
"Ya udah terserah loe deh. Kan masih ada Riko, Karman ama Mawan," ucap Lensi.
"Maaf Dew gue nggak bisa juga. Bini gue bisa ngamuk kalau gue sampai nggak pulang. Gue harus jaga anak, dan nganter si jalu pergi sekolah," tolak Karman.
"Gue juga Dew. Kebun jengkol sedang panen. Ada orderan besar keluar kota. Jadi sibuk banget," timpal Riko.
"Mampus gue alasan apa ya?" batin Mawan.
"Nah...berarti mawan bisa nih," ucap Lensi.
"Aduh...maaf banget Dew gue juga kagak bisa," ujar Mawan.
"Loh kenapa? jangan bilang loe sibuk juga ya? gue tampol nih. Loe kagak punya bini, loe juga kagak punya bisnis. Kerjaan loe cuma main game sama ngitung bintang dilangit doang," tanya Lensi.
"I-InI Dew. Bokong gue kena bisul. Sumpah ini sakit banget. Mana bentar lagi mau pecah lagi bisulnya." Jawab Mawan.
"Ah bokis loe," ujar Lensi.
"Kalau loe nggak percaya loe lihat sendiri bisul dibokong gue," ucap Mawan.
"Ogah ngelihatin pantat hitam loe itu. Pantat burik mau dikasih pamer. Gue tahu itu cuma alasan loe aja kan?" tanya Lensi.
"Suwer...biar Riko disambar geledek gue mau." Jawab Mawan sembari nunjuk kearah Riko
"Kok gue?" tanya Riko.
Griyuuttttt
Karman mencubit bokong Riko, agar pria itu diam.
"Ala mak'jang pak...tempos lama-lama nih pantat," ucap Riko setengah berbisik.
"Gue baru tahu. Kalian itu jeruk nipis campur bakwan," ujar Lensi dengan wajah mendung.
"Jeruk nipis campur bakwan?" tanya Riko, Okta, Mawan, dan Karman secara bersamaan.
"Bukannya pakai cabe rawit Dew?" tanya Riko yang kemudian kembali dicubit bokong oleh Karman.
__ADS_1
"Bukan! jeruk nipis campur bakwan, tipis cara kalian berkawan." Jawab Lensi.
"Oh...pantun," ucap Riko yang kemudian kembali mendapat cubitan dibokongnya. Kali ini tidak hanya Karman, mawanpun ikut mencubit bokong Riko.
"Sekarang loe udah punya calon suami. Kan loe mau ngasih dia kesempatan dekat sama loe. Jadi biarkan saja bang Ibrahim yang jagain loe sampai loe sembuh," ujar Okta.
"Gu-Gue nggak mau ngerepotin orang asing," ucap Lensi sembari melirik sekilas kearah Ibrahim.
"Aku nggak keberatan. Dengan begitu kita punya banyak waktu untuk saling mengenal." Jawab Ibrahim.
"Terima kasih bang," ucap Lensi yang tanpa sadar sudah menyebut Ibrahim dengan sebutan abang, panggilan yang biasa dia lakukan pada Ibrahim.
"Ya sudah kalau gitu kita-kita pulang dulu ya Dew? sekalian gue mau berobat. Kepala gue sering nyut-nyutan akhir-akhir ini," ucap Okta.
"Ya." Jawab Lensi.
"Kami juga ya dew," ujar Riko.
"Emm." Lensi mengangguk.
Setelah teman-temannya pulang, tinggalah Aisyah, Ustad Gofur dan Ibrahim yang masih berada diruangan itu.
"Kamu tidak usah khawatir, Ibrahim pasti akan menjaga kamu dengan baik. Dia putra kami satu-satunya. Seorang pria yang sangat bertanggung jawab," ujar Aisyah.
"Iya Umi." Jawab Lensi.
"Besok Umi akan kesini lagi. Nanti akan Umi bawakan makanan untukmu. Katakan! kamu ingin dibuatkan apa sama Umi. Hem?" tanya Aisyah.
Lensi terdiam. Wanita itu menatap Aisyah dengan mata yang berkaca-kaca.
"Echi nggak tahu kenapa. Tapi Echi ngerasa pernah dekat dengan Umi. Umi mengingatkan Echi dengan almarhum mama," air mata Lensi meleleh begitu saja.
Ibrahin diam-diam menyeka air matanya, tapi sayangnya itu tertangkap oleh Lensi.
"Sepertinya pria ini mempunyai hati yang lembut. Dia ikut merasakan semua kesedihanku," batin Lensi.
"Sekarang Umi dan Abi pulang dulu ya? biar Ibrahim yang menjagamu," ujar Aisyah.
"Ya Umi." Jawab Lensi.
Aisyah dan Ustad Gofur kemudian kelaur ruangan. Tinggallah Lensi dan Ibrahim di ruangan itu.
"Kok jadi canggung begini sih? padahal dia kan istriku sendiri," batin Ibrahim.
"Emm...abang kerja dimana?" tanya Lensi.
"Aku mengajar di pesantren." Jawab Ibrahim.
"Abang Ustad?" tanya Lensi.
"Ya." Jawab Ibrahim.
"Matilah aku. Kenapa aku bisa menyukai seorang ustad? jelas saja sangat bertolak belakang dengan kehidupanku. Mana cocok aku sama dia? aku disuruh menghafal surat Ar-Rahman saja sudah kelimpungan," batin Lensi.
"Ngomong-Ngomong surat Ar-Rahman. Gue harus cepat nemuin sahabat kak Alex. Gue harus cepat belajar meretas. Gue sudah nggak sabar buat Surya bangkrut," batin Lensi.
"Bang,"
__ADS_1
"Hem?"
"Abang nggak keberatan menjadikan aku istri nantinya?" tanya Lensi.
"Kenapa?" tanya Ibrahim.
"Jujur ya bang. Aku ini bukan gadis baik-baik seperti yang abang pikirkan. Semua perkerjaan kotor sudah pernah aku lakukan, kecuali menjual kehormatan. Aku tukang judi, pernah mabok, pernah maling juga." Jawab Lensi.
"Maling? maling apa?" tanya Ibrahim.
"Ini ya bang. Waktu kami nongkrong di tukang jual gorengan, aku pernah makan gorengan 5. Tapi saat bayar, aku ngakunya cuma 4. Ternyata teman-temanku juga gitu." Jawab Lensi yang membuat Ibrahim menahan tawanya. Sebab dia juga pernah mendengar cerita itu langsung dari Lensi.
"Kamu kenapa ngakunya 4? kamu nggak punya duit?" tanya Ibrahim.
"Ada. Tapi iseng aja. Apalagi abang gorengannya percaya. Bikin deg-degan juga sih. Takut abangnya ikut ngitung juga." Jawab Lensi.
"Kamu ini ada-ada aja," ujar Ibrahim sembari mengusap puncak kepala Lensi dengan penuh kasih sayang. Sementara itu Lensi jadi tersipu saat menerima perlakuan itu dari Ibrahim.
"Jadi abang nggak keberatan?" tanya Lensi.
"Tidak. Karena sepertinya abang sudah jatuh cinta pada pandangan pertama sama kamu." Jawaban Ibrahim lagi-lagi membuat jantung Lensi berdebar-debar.
"A-Abang nembak aku nih?" tanya Lensi.
"Anggap saja begitu. Jadi apa jawabanmu?" tanya Ibrahim.
"Se-Sebenarnya kalau boleh jujur aku juga nggak tahu kenapa dari tadi jantungku berdebar setiap kali melihat abang. Rasanya ada sesuatu yang membuatku pengen mendekat kearah abang. Itu kenapa ya bang?" tanya Lensi.
"Mungkin kamu juga merasakan perasaan yang sama dengan abang." Jawab Ibrahim.
"Begitu ya," ucap Lensi.
Ibrahim menyembunyikan senyumnya saat melihat ekspresi lucu dari Lensi.
"Jadi apa jawabanmu? apa kamu mau jadi pacar abang?" tanya Ibrahim.
"Eh? a-apa memang harus secepat ini bang?" tanya Lensi.
"Kenapa kita harus membohongi perasaan kita, kalau kita memang saling suka." Jawab Ibrahim .
"Benar juga. Kalau gitu aku mau jadi pacar abang." Jawab Lensi.
"Saat orang baru jadian, bukankah biasanya langsung berciuman?" modus Ibrahim.
"Eh? kok gitu? lagian abang juga ustad loh," tanya Lensi.
"Ustad juga manusia biasa." Jawab Ibrahim.
Ibrahim meraih dagu Lensi yang kemudian mencium bibir istrinya itu. Namun hal yang membuat Lensi takjub adalah, dirinya tidak melakukan penolakkan sama sekali. Bahkan dia begitu menikmati dan mengalungkan kedua tangannya dileher Ibrahim.
Hah
Hah
Hah
"Perasaan jatuh cinta memang sangat menyenangkan. Dan aku ingin jatuh cinta berkali-kali denganmu," ucap Ibrahim sembari menempelkan keningnya di kening Lensi, dengan nafas mereka yang masih saling memburu.
__ADS_1
"Entah mengapa ciuman ini begitu sangat familliar. Aku seperti pernah melakukan ini dengan seseorang," batin Lensi.
Ibrahim terkejut saat Lensi meraih kedua sisi wajahnya dan kembali mengajaknya berciuman mesra. Lensi hanya ingin memastikan rasa familliar yang dia rasakan, meski lambat laun ciuman mereka semakin memabukkan.