
"Apa kamu sudah melakukan apa yang aku perintahkan?" tanya Vega.
"Sudah nona." Jawab seorang pria berseragam hotel.
"Bagus. Ini bagianmu," ujar Vega sembari menyodorkan uang sesuai yang mereka sepakati.
"Sekarang pergilah!" ucap Vega yang dijawab anggukkan oleh pria itu.
Vega kemudian kembali ke meja dan tersenyum saat matanya berseloroh dengan Iko.
"Maaf. Lama ya?" tanya Vega.
"Tidak masalah." Jawab Iko.
"Ayo kita makan," ujar Vega.
"Emm." Iko mengangguk, dan mulai makan dengan santai.
"Ayo habiskan sayang. Agar kamu bisa menjadi milikku selamanya," batin Vega.
"Enak kan?" tanya Vega.
"Ya. Apa kamu sering makan disini?" tanya Iko.
"Tidak sering juga, hanya beberapa kali." Jawab Vega.
"Eh?" Iko berpura-pura memegang kepalanya.
"Iko. Kamu kenapa?" tanya Vega.
"Aku nggak tahu, kenapa kepalaku tiba-tiba pusing." Jawab Iko.
"Ya ampun. Kamu sakit?" tanya Vega.
"Sebentar, biar aku ketoilet dulu." Jawab Iko sembari berdiri dari tempat duduknya.
"Apa perlu aku temani?" tanya Vega.
"Tidak usah. Biar aku sendiri saja, mungkin aku hanya perlu cuci muka sebentar." Jawab Iko.
Vega membiarkan Iko pergi ke toilet sendirian, karena dia yakin pria itu akan kembali untuknya.
"Pergilah Iko. Aku yakin kamu pasti akan kembali kepelukkanku," ucap Vega lirih.
__ADS_1
"Maaf Vega. Sepertinya aku harus mengubur mimpimu sebatas ini saja. Karena aku pergi tidak akan kembali lagi," Iko tersenyum sinis dari balik tembok dan kemudian pergi keluar hotel melalui pintu belakang.
"Eh? a-ada apa denganku? kenapa tubuhku terasa panas sekali? dan ini benar-benar membuatku tidak nyaman. Si-Sial, dasar pelayan bodoh! apa dia salah memasukkan obatnya?" gerutu Vega sembari memegang belakang tengkuknya.
Vega meraih ponselnya dan menelpon pelayan itu.
"Ada apa nona?" tanya pria itu.
"Ada apa, ada apa. Dasar bodoh! kamu salah memberikan obat ya? obat itu bereaksi padaku," tanya Vega dengan menekan emosinya.
"Mana mungkin? aku sudah yakin memberikan obat itu pada gelas minuman pria itu. Dan aku pastikan minumannya tidak mungkin tertukar." Jawab pria itu.
"Apa sejak awal Iko sudah tahu rencanaku dan sengaja bersikap bodoh? tapi itu nggak mungkin kan?" batin Vega.
Vega mengakhiri panggilan itu secara sepihak. Vega dengan gelisah menunggu Iko. Dia tidak ingin menyusul Iko dengan kondisinya yang merasa sangat tidak nyaman.
"Iko," senyum semringah terbit dari bibir Vega, meskipun penglihatannya saat ini sedang samar.
"Iko bawa aku ke kamarku. Kamarku ada di nomor 160. Aku benar-benar merasa tidak nyaman saat ini," ucap Vega yang kemudian berdiri dan jatuh kepelukkan pria di depannya.
Sementara itu di tempat berbeda. Gita baru terbangun dari tidurnya, saat waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Gadis itu merenggangkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Setelah itu dia meraih ponselnya dan melihat ada panggilan tak terjawab dan juga chat dari Iko.
Tubuh Gita langsung duduk seketika, saat membaca isi chat dari Iko. Namun saat dirinya membuat panggilan untuk kekasihnya itu, nomor Iko sama sekali tidak aktif.
Gita menyambar kunci motor sportnya dan pergi dengan pakaian seadanya.
"Gita. Kamu mau kemana?" tanya Susi.
"Mau ke rumah Iko ma. Ada urusan penting." Jawab Gita.
"Yang benar aja. Kamu mau ke rumah Iko dengan baju kaos, celana pendek selutut, sama sendal jepit? kamu nggak takut di cap orang tua iko gadis amburadul?" tanya Susi.
"Aduh ma. Aku nggak butuh pendapat orang lain tentang aku. Sekarang ini aku mau nyelamatin anaknya dari setan burik. Aku sudah 2 jam telatnya, dan sekarang nomor ponselnya Iko nggak aktif. Aku nggak punya waktu buat merhatiin penampilan. Dah...aku pergi ma! do'ain aku." Jawab Gita yang kemudian langsung pergi begitu saja.
Susi yang ingin bertanya lagi, jadi mengurungkan niatnya karena Gita sudah pergi jauh. Sementara itu Gita yang sudah keluar dari gerbang rumahnya, tancap gas dengan motor sportnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Hanya butuh waktu 20 menit baginya untuk tiba di rumah calon suaminya itu.
Ting tong
Ting tong
Ting tong
Gita menekan bel rumah Iko dengan tidak sabar.
__ADS_1
Ceklekkk
Nirvana merbuka pintu, karena kebetulan dia berada di ruang tamu. Wanita parubaya itu menatap Gita yang berpakaian serampangan, ditambah dengan serdal jepit buluknya. Sama sekali tidak mencerminkan wanita berkelas, apalagi anak dari seorang pengusaha besar.
"Gita sayang. Kamu kenapa?" Nirvana memegang kedua bahu Gita dengan panik.
"Aku nggak kenapa-napa ma. Apa Iko ada di rumah?" tanya Gita.
"Ada. Kayaknya dia tidur setelah pulang dari luar." Jawab Nirvana.
"Mama yakin dia sudah pulang? apa dia baik-baik aja? aku mau mastiin sendiri ma. Soalnya dia baru bertemu dengan orang berbahaya," ujar Gita.
"Ah...yang benar kamu. Ya sudah ayo kita pastiin sama-sama. Mama jadi ikutan khawatir deh," ucap Nirvana.
Nirvana dan Gita masuk kedalam rumah secara bersamaan. Dan segera mengetuk pintu kamar Iko, setelah mereka tiba diatas.
Ceklek
Iko dengan muka bantal membuka pintu sembari bersandar di daun pintu. Dia sama sekali tidak sadar, kalau ada Gita di depannya. Nirvana menepuk dahi karena kebiasaan Iko yang membuka pintu dengan mata terpejam. Terlebih saat ini pria tampan itu tidak mengenakan baju, hingga memperlihatkan tubuh indahnya.
"Ehemm...sayang. Pakai baju dulu gih, aku mau ngomong," ujar Gita.
Blammmmm
Iko langsung membuka matanya dengan sempurna, saat mendengar ada suara Gita.
"Sa-Sayang. Kamu disini? bentar aku pakai baju dulu," ucap Iko yang kemudian langsung mengambil baju yang dia sampirkan di ranjang. Setelah itu Iko keluar kamar, dan mengajak Gita ngobrol di ruang tamu setelah sebelumnya meraih ponsel dan minicam.
"Sayang kamu mau minum apa? biar aku minta buatin pelayan," tanya Iko.
"Air putih dingin aja. Ini aku bangun tidur nggak sempat minum, nggak sempat cuci muka, nggak sempat ganti baju, pakai sendal jepit, rambut acak kadul. Hanya gara-gara aku baru baca isi chat kamu."
"Jadi intinya apa kamu baik-baik aja? apa dia ngelakuin sesuatu sama kamu atau...."
"Hussstt...sebaiknya kamu diam dulu ya. Yang pertama aku ambil minum dulu buat kamu," ucap Iko yang kemudian bangkit dari duduknya dan pergi ke dapur buat ambil air minum dingin di kulkas.
"Minum dulu," ujar Iko sembari menyodorkan air dingin untuk Gita.
Gita meraih air itu dan meminumnya hingga tandas. Sementara Iko menyiapkan sesuatu hingga Gita bisa menonton tayangan yang sempat dia rekam menggunakan minicam.
"Apa ini yank?" tanya Gita.
"Tonton sampai habis. Menurutmu langkah apa yang harus kita ambil selanjutnya?" tanya Iko.
__ADS_1
Gita kemudian menonton video itu. Yang kemudian memperlihatkan berbagai ekspresi di wajahnya. Iko tahu kalau saat ini Gita sedang menahan amarah yang meledak-ledak.