MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
82. Kabur


__ADS_3

"Sudah berapa bulan ya sekarang?" tanya Ibrahim pada Fatimah yang tengah berpamitan pulang setelah menjenguk Lensi.


"sudah 19 minggu." Jawab Fatimah.


Lensi yang melihat dari celah pintu, hatinya terasa sakit saat melihat perut Fatimah sudah sedikit membuncit. Baginya tidak perlu mendengarkan obrolan itu sampai selesai, dia langsung menjauh dari pintu itu dengan air mata yang memenuhi wajahnya.


"Sepertinya aku sudah terlalu lama terbaring dirumah sakit. Sampai perut Fatimahpun sudah sebesar itu. Sepertinya mereka sangat bahagia tanpaku selama ini," ucap Lensi sembari menyeka air matanya.


"Aku harus segera menyelesaikan semuanya. Mungkin dengan segera bercerai, aku bisa melupakannya dan membuka lembaran hidup yang baru,"


Lensi kemudian membuka lemari pakaian pasien, dan menemukan ransel pakaiannya. Setelah berganti pakaian, dia segera keluar dari tempat itu dengan cara yang tentu saja tidak semua orang menduganya.


"Kami pulang dulu ya? bersabarlah, banyak-banyak berdo'a agar Lensi segera siuman. Ini sudah 3 bulan dia koma kan? feelingku sebentar lagi dia pasti akan sadar," ucap Alex.


"Terima kasih kalian sudah menjenguk," ucap Ibrahim.


Alex dan Fatimah kemudian pulang, sementara Ibrahim kembali masuk kedalan ruangan. Namun alangkah terkejutnya dia, saat melihat Lensi tidak ada lagi terbaring diatas tempat tidur. Ibrahim kemudian mencari Lensi dikamar mandi, namun sama sekali tidak menemukan istrinya itu. Namun sesaat kemudian dia melihat kearah jendela yang terbuka, dan melihat ada jejak debu sepatu dibingkai jendela.


"Cckk...istri nakal. Apa dia tidak memikirkan keselamatannya? dia pasti salah paham lagi saat melihat Fatimah diliar tadi," ucap Ibrahim.


Ibrahim kemudian menghubungi Okta dan teman-temannya. Dan terakhir dia menghubungi Arman. Arman bergegas memastikan Lensi pulang ke rumah barunya, dan ternyata Lensi memang benar-benar berada dirumah itu.


"Dia memang pulang ke rumah barunya. Kamu tidak usah khawatir," ucap Arman yang membuat Ibrahim bisa bernafas lega.


"Aku akan kesana sekarang," ucap Ibrahim.


"Jangan dulu. Suasana hatinya pasti sedang tidak baik saat ini. Akan aku kabari setelah tahu ceritanya," ucap Arman.


"Baiklah. Aku mengandalkanmu bang," ujar Ibrahim.


"Tidak masalah." Jawab Arman.


Merekapun mengakhiri percakapan itu dan Arman segera masuk kedalam rumah Lensi.


"Apa ini? kamu ingin membuat abang serangan jantung?" tanya Arman saat melihat Lensi berbaring disebuah sofa panjang.


"Bang. Abang sudah bebas? aku baru akan berpikir menyelamatkan abang dari tempat itu," tanya Lensi.


"Masih saja mikirin orang lain, padahal diri sendiri sedang menyedihkan." Jawab Arman.


"Apa kamu mau mati dengan menggunakan kemampuanmu yg ekstrim itu?" tanya Arman.


"Abang kan tahu aku ahlinya olahraga itu. Jadi aku nggak mungkin mati," ujar Lensi.

__ADS_1


"Sombong. Kamu itu sedang sakit, bagaimana kalau kamu jatuh dari gedung? bisa jadi tempe mendoan kamu," ucap Arman.


"Ya maaf bang. Bang,"


"Apa,"


"Ayo temani aku kepengadilan hari ini. Aku lihat istri baru Ibrahim sudah hamil besar, mereka pasti selama ini bahagia saat aku tinggalkan," ucap Lensi.


"Apa kamu yakin akan menceraikannya? kamu merasa kalah saing dengan istri mudanya itu?" tanya Arman.


"Tentu saja aku merasa begitu bang. Dia cantik, sholeha, dan sekarang sudah bisa menghasilkan anak. Lah aku? boro-boro beranak, selama sebulan sekamar dia nggak mau ngobok-ngobok aku." Jawab Lensi.


PLETAKKKK


"Aww...sakit bang," ucap Lensi sembari mengusap-usap dahinya yang terkena sentilan tangan besar Arman.


"Begitu caramu bicara dengan laki-laki dewasa? tidak sopan!" ucap Arman.


"Hehehe maaf. Jadi mau nemenin aku nggak nih?" tanya Lensi.


"Sepertinya Ibrahim perlu dibuat spot jantung juga. Enak aja mau Lensi semudah itu balik sama dia. Dia mau kembali, maka usaha saja sendiri," batin Arman.


"Baiklah. Abang akan temani kamu, bersiaplah!" ucap Arman.


"Dia sudah tidak tinggal disini lagi. Dia sudah menikah dengan Sammy dan tinggal dirumah suaminya." Jawab Arman santai.


"Apa?" Lensi yang terkejut langsung bangkit dari tempat duduknya.


"Duduk dulu," Arman menarik tangan Lensi agar segera duduk di sofa.


"Kok abang malah biarin Zoya nikah ama bocah tengil itu sih? meski anaknya butuh ayahnya, tapi nggak Sammy juga bang. Aku sudah menyiapkan calon buat dia," ucap Lensi berapi-api.


"Siapa? Riko? Karman? apa Mawan? ngidupin diri sendiri saja masih infus-infusan," ujar Arman.


"Abang. Aku mau jodohin sama abang." Jawab Lensi.


Pletakkkk


Lensi kembali mengusap dahinya yang kesakitan akibat sentilan dari Arman.


"Ngawur aja terus kalau ngomong. Mana mungkin aku mau bersaing dengan adikku sendiri. Lagian Zoya bukan tipeku," ucap Arman.


"Adik? apa maksud abang dengan adik?" tanya Lensi.

__ADS_1


"Sammy ternyata adikmu yang aku cari-cari selama ini. Sudah 20 tahun lebih kami terpisah." Jawab Arman.


"Sekarang dia tidak lagi memimpin geng itu. Yang sering melakukan pembantaian ditempat umum itu bukan atas perintahnya, tapi cokro anak buahnya yang sangat ingin menyingkirkan Sammy selama ini. Dia ingin Sammy keluar dari geng itu, dan dia yang menjadi penggantinya," sambung Arman.


"Hah...emang dasar dia berjodoh dengan Zoya. Batal deh pengen jodohin abang ama Zoya,"


ujar Lensi.


"Dia bukan tipeku," ucap Arman.


Lensi mencebikkan bibirnya. Sejak dulu Arman selalu mengatakan hal itu setiap dicomblangkan dengan seorang gadis. Lensi kemudian mengambil berkas-berkas yang sudah dia siapkan, dan pergi kepengadilan untuk mengurus perceraiannya dengan Ibrahim.


"Kita mau kemana setelah ini?" tanya Arman saat mereka sudah selesai dari pengadilan.


"Aku mau bertemu Zoya." Jawab Lensi.


Merekapun akhirnya mampir kerumah Sammy terlebih dahulu.


"Nanti saat bertemu dengan Zoya, katakan kalau kamu baru pulang dari luar kota. Dia tahunya kamu melakukan perjalanan bisnis ke luar kota," ujar Arman saat mereka baru tiba dikediaman Sammy.


Zoya yang tengah bersantai diruang tamu, terpaksa bangkit dari tempat duduk karena ingin membukakan pintu.


"Lensi?" Zoya terkejut saat melihat Lensi berada didepan pintu.


Lensi tersenyum kearah Zoya, terlebih saat melihat perut sahabatnya itu yang membuncit. Zoya segera berhambur kepelukkan Lensi, karena dia sangat merindukan sahabatnya itu.


"Apa kamu sesibuk itu? hingga ponselmu sampai tidak aktif selama 3 bulan?" tanya Zoya setelah pelukkan mereka terlerai.


"Aku kena musibah. Ponselku hilang, jadi aku sama sekali tidak bisa menghubungi kalian. Sepertinya kamu sangat makmur, itu sebabnya perutmu buncit," ledek Lensi.


"Kamu bisa saja meledekku. Kamu sendiri apa sungguh sesibuk itu? sampai tubuhmu jadi sekurus ini? kalau jadi bos membuat miskin sampai tidak bisa membeli makanan, lebih baik jadi tukang judi saja," ucap Zoya.


"Sontoloyo. Punya teman tukang judi kok bangga," ujar Lensi.


"Masuklah! kamu harus menceritakan banyak hal padaku. Apa yang sudah kamu bangun selama 3 bulan diluar kota. Apa kamu sudah berhasil membangun mall? resort? atau vila?" tanya Zoya.


"Sudah direncanakan semua, dan sekarang akan berjalan. Nanti setelah anakmu lahir, dia bisa langsung mengunjungi apa yang kubangun." Jawab Lensi.


"Lihat bang. Bukankah temanku ini hebat?" tanya Zoya.


"Pastinya. Adik siapa dulu dong." Jawab Arman.


Arman, Lensi dan Zoya terkekeh. Sementara ditempat berbeda Ibrahim mondar mandir menunggu kabar dari Arman dengan gelisah.

__ADS_1


__ADS_2