
"Sayang bangun. Kita subuhan berjama'ah yuk," bisik Ibrahim.
Lensi langsung bangun seketika saat mendengar bisikkan dari suaminya itu. Meski lututnya masih sedikit bergetar, Lensi memaksakan untuk masuk kamar mandi dan membersihkan diri. Setelah itu dia dan Ibrahim melakukan sholat berjama'ah.
Brukkk
Lensi kembali melemparkan tubuhnya diatas kasur setelah mereka selesai sholat berjama'ah.
"Dinda mau tidur lagi?" tanya Ibrahim sembari membelai rambut istrinya yang masih sedikit basah.
"Emm. Ngantuk banget bang." Jawab Lensi.
"Apa kamu nggak bawa hairdryer? kamu bisa masuk angin kalau tidur rambut masih basah gini," tanya Ibrahim.
"Lupa bang." Jawab Lensi.
"Ya sudah nanti kalau kita jalan-jalan mampir ke toko alat-alat kecantikan buat beli hairdryer. Sekarang kita bobok lagi aja buat ngilangin kantuk," ucap Ibrahim yang kemudian ikut berbarinng disamping istrinya.
Tidak jauh berbeda dengan kamar Lensi, di kamar Okta kedua sejoli itu masih dalam keadaan tepar. Karena dua sejoli itu baru berhenti setelah waktu menunjukkan hampir jam 4 pagi.
Arman mengerjapkan matanya saat rasa kantuknya sudah hilang. Pria itu menoleh kesamping kirinya dan mendapati Okta masih tertidur pulas dengan selimut yang tidak lagi menutupi dada istrinya itu.
"Ckk...pagi-pagi sudah disuguhi pemandangan indah seperti ini. Gimana nggak ngaceng lagi ini keponakkan," ucap Arman lirih.
Tapi Arman menahan hasratnya itu. Dia tahu Okta pasti sangat lelah, dan merasa sakit. Sebab dia menggempur istrinya sampai pagi. Arman tersenyum, saat melihat disekitar dada dan leher istrinya itu banyak sekali hasil dari karyanya. Arman menarik selimut, dan menutupi tubuh Okta hingga keleher istrinya itu.
Sementara itu Arman beranjak dari tempat tidur dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai pria itu kemudian berpakaian dan turun kebawah untuk mencari makanan. Arman tahu petugas hotel tidak mungkin lagi memberikan sarapan, karena waktu sudah menunjukkan hampir jam 11.
Setelah mendapatkan makanan, Aman kembali ke kamar. Namun saat akan masuk kamar, dia melihat Ibrahim keluar dari kamarnya.
"Wah...ganas juga bini abang," ucap Ibrahim saat melihat leher Arman ada beberapa tanda kepemilikan.
"Ada apa?" tanya Arman yang memang tidak sempat bercermin.
"Tuh," Ibrahim menunjuk kearah leher Arman.
Arman spontan memegang lehernya dan teringat dengan pertempuran panasnya semalam. Arman jadi ikut tersenyum.
"Pantas saja wanita bule itu senyum-senyum terus sambil lihatin abang. Abang udah GR aja dikirain mereka menyukai abang, ternyata karena ini jadi pusat perhatian mereka," ucap Arman terkekeh.
"Abang beli makanan?" tanya Ibrahim
"Iya. Udah laper banget ini. Sial, gara-gara obat itu jadi main sampai pagi." Jawab Arman.
__ADS_1
"Sama. Nggak mau lagilah. Pakai itu serasa nggak percaya diri dengan kemampuan sendiri. Takutnya malah jadi penyakit," ucap Ibrahim.
"Ya udah abang masuk duluan ya? mau bangunin nyonya dulu buat makan pagi sekalian siang," ujar Arman.
"Iya. Aku juga mau cari makanan dulu," ucap Ibrahim.
Arman segera masuk kedalam kamar. Sementara Ibrahim turun kebawah untuk mencari makanan.
"Sayang. Bangunlah! ini sudah sangat siang. Kita sudah melewatkan sarapan pagi," bisik Arman ditelinga Okta.
Okta menggeliatkan tubuhnya kekiri dan kekanan. Arman tersenyum melihat tingkah imut istrinya itu. Arman dengan jahil memencet hidung Okta, hingga istrinya itu kesulitan bernafas.
"Abang mau bunuh aku ya?" tanya Okta setelah tangan Arman terlepas dari hidungnya.
"Bangunlah. Ayo kita makan! abang sudah kelaparan," ujar Arman.
"Abang sudah mandi?" tanya Okta.
"Sudah." Jawab Arman.
"Oh...ya sudah. Aku mau mandi dulu kalau begitu," ujar Okta.
Namun saat Okta kan melangkah ke kamar mandi. Kakinya gemetar dan dia merasakan sakit didaerah pangkal pahanya.
Brukkk
"Kenapa?" tanya Arman.
"Nggak bisa jalan bang. Ini sakit banget. Kakiku juga lemes banget rasanya." Jawab Okta dengan mata berkaca-kaca.
"Maafin abang ya? kalau gitu kita nggak usah gituan selama 3 tahun," ucap Arman dengan jahilnya.
"Ckk...emang abang bisa tahan?" ledek Okta
"Emang kamu tahan?" Arman balik bertanya.
"Abang aja tahan. Kalau aku pasti....ya nggak tahanlah." Jawab Okta sembari tertawa.
Grepp
Arman menggendong tubuh Okta, dan membantu istrinya itu masuk kamar mandi.
"A-Abang mau apa?" tanya Okta yang panik saat Arman ingin membuka pahanya.
__ADS_1
"Abang pengen lihat, apa lukanya sangat parah?" tanya Arman setelah istrinya itu dia letakkan diatas tempat tidur.
"N-Nggak perlu bang. Malu kali bang," ujar Okta.
"Kenapa harus malu? abang sudah melihat dan merasakannya. Buat apa malu lagi," ucap Arman.
"Ya beda dong bang. Kalau lagi gituan kan nggak sadar alias terbuai. Lah ini? abang sengaja mau lihat, aku kan malu bang." Jawab Okta.
Tapi Arman tetap saja memaksa. Dan akhirnya Okta hanya bisa pasrah saat Arman melihat miliknya itu.
"Maafin abang ya? seharusnya abang ingat kalau ini pertama kalinya buat kamu. Abang jadi merasa bersalah," ujar Arman.
Okta mengalungkan tangan dileher suaminya itu.
"Nggak apa bang. Ini sudah kewajiban dan kodrat kami sebagai seorang wanita. Kan kalau nolak dosa bang. Apalagi dikasih enak juga kan?" ucap Okta sembari mengedipkan mata.
Arman tersenyum kembali saat melihat tingkah istrinya itu. Arman kemudian membantu Okta mengenakan pakaian, dan menggendong istrinya itu kembali untuk dia letakkan diatas sofa.
"Kok sarapan menunya berat amat bang? porsinya juga banyak amat," tanya Okta.
"Kita sudah nggak bisa sarapan lagi. Ini sudah jam makan siang." Jawab Arman.
"Makan siang? emang ini sudah jam berapa bang?" tanya Okta.
"Sudah hampir jam 12." Jawab Arman.
"Apa?" Okta terkejut.
"Jadi makanlah dengan cepat. Setelah itu kamu bisa beristirahat lagi," ujar Arman.
Okta menuruti perkataan suaminya. Namun saat melihat tanda merah dileher suaminya, dia jadi senyum-senyum sendiri.
"Ada apa?" tanya Arman.
"Semalam aye ganas juga yak." Jawab Okta.
Arman jadi teringat perkataan Ibrahim. Diapun jadi tersenyum dan menyuapkan makanan dimulut istrinya itu.
"Apa kita nggak pergi jalan-jalan hari ini bang?" tanya Okta.
"Emang kamu sanggup jalan?" yang langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh Okta.
"Makanya istirahat saja hari ini. Besok kalau udah agak mendingan, baru kita pergi jalan-jalan," ujar Arman.
__ADS_1
"Iya." Jawab Okta.
Sementara dikamar sebelah Lensi dan Ibrahim juga tengah menikmati makan siang mereka. Karena sangat lelah, mereka juga memutuskan untuk tidak jalan-jalan dulu. Mereka ingin beristirahat seharian.