MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
93. SAH


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu sudah tiba. Meski usia Arman terbilang sangat matang, tapi jantung pria itu masih saja berdebar kencang saat ini. Maskur dan Masminah juga sepakat pergi bersama, agar tidak saling curigai. Setelah penghulu datang, acara ijab qobul pun dilaksanakan.


Hanya dengan satu kali tarikkan nafas, Arman akhirnya berhasil menjadikan Okta sebagai istri Sahnya. Ada air mata haru yang menetes dari sudut mata Okta dan teman-temannya. Terutama Lensi. Dia tahu betul bagaimana Okta bertahan hidup selama ini. Karena nasibnya memang tidak jauh berbeda dengan dirinya, hanya saja Lensi masih sedikit beruntung karena terlahir dari keluarga kaya dan memiliki kecerdasan diatas rata-rata.


Arman dan Okta saling menyematkan cincin kawin setelah semua berkas mereka tanda tangani.


"Selamat ya nak. Babeh do'akan pernikahanmu dan nak Arman bisa langgeng," ucap Maskur.


"Makasih." Jawab Okta.


"Ayo bang pulang. Kasihan anak-anak nungguin dirumah," ucap Masminah sembari menarik lengan Maskur.


Maskur sesekali menoleh kebelakang, saat Masminah menarik tangannya menjauh. Sementara Okta lagi-lagi mendapat luka baru, luka yang mungkin selamanya tidak akan pernah sembuh.


"Menangislah kalau ingin menangis. Jangan berlagak sok kuat, kalau memang tidak bisa menahannya," ucap Arman.


"Hiks..." Okta menangis sembari berhambur kepelukkan Arman.


Lensi Jadi ikutan menangis, karena dia tahu betul rasanya jadi anak yang tersisih.


Ibrahim yang mengerti, langsung merangkul pundak istrinya untuk dia peluk.


"Kenapa abang ngerasa temanmu kurang satu ya?" tanya Arman.


Deg


Tangis Okta langsung mereda, diapun menoleh kearah Karman dan Mawan yang terlihat saling memandang satu sama lain.


"Riko nggak datang?" tanya Okta pada Karman dan Mawan.


"Dia lagi sakit, jadi kagak bisa hadir." Jawab Mawan.


Okta terdiam. Karena dia tahu betul, itu bukan alasan Riko yang sebenarnya.


"Silahkan dicicipi hidangannye," ujar Rogaya pada para tamu undangan.


Semua orang tampak menikmati hidangan yang telah disiapkan.


"Oh ya Ta, rencananya besok kami mau bulan madu ke Barcelona," ujar Lensi sembari menyendokkan puding kedalam mulutnya


"Wah...enak ya jadi orang kaya. Habis ntu kemane lagi?" tanya Okta.


"Rencananya kami akan bertolak ke belanda, Swiss, Turki dan yang terakhir ke Mekah." Jawab Lensi.


Tanpa Lensi tahu, Okta juga sangat ingin pergi bulan madu keluar negeri. Namun sebagai pria dewasa, tentu saja dia bisa memahami keinginan Okta yang terpendam itu.


"Kalau begitu kita pergi bersama saja. Hari ini aku akan mengurus tiketnya," ucap Arman.

__ADS_1


"Abang jangan gila. Biaya kesana sangat mahal. Kita pan baru mulai belajar nunas. Mana bisa kita dibandingin dengan bang Baim," bisik Okta.


"Kamu belum tahu suamimu siapa. Jangan pikirkan soal itu. Andai kamu minta kebulanpun abang masih sanggup," ucap Arman sembari mengusap puncak kepala istri kecilnya itu.


Lensi yang mengerti hanya bisa mengulas senyumnya.


"Loe belum tahu ya? kalau suami loe ini orang kaya jadul. Sawah dan perkebunan karet peninggalan ayahnya aja ratusan hektar. 7 turunan, 7 tanjakan dan 7 belokkanpun kagak akan habis hartanya," ucap Lensi.


"Bener bang?" tanya Okta.


"Ya." Jawab Arman.


"Wah...senangnya punya suami kaya raya," ujar Okta sembari memeluk Arman. Lensi dan Ibrahim hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Okta. Sementara Arman wajahnya memerah karena malu.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Okta menatap dua buah tiket yang baru mereka beli sore tadi. Sungguh dia tidak pernah membayangkan, kalau dia akan pergi ke luar negeri buat berbulan madu.


"Kamu kenapa lihatin tiket sampai segitunya!" tanya Arman yang baru keluar kamar mandi dan mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Ini seperti mimpi bang. Aye kagak nyangke, bakal bisa keluar negeri. Padahal ke negare tetangga aja kagak pernah. Ini malah pergi ke tempat yang lebih jauh dari ntu." Jawab Okta tanpa mengalihkan pandangannya dari tiket.


Arman mendekati Okta dan mengusap puncak kepala istrinya itu. Aroma wangi sabun yang menyeruak, membuat Okta menoleh kearah suaminya yang belum mengenakan baju itu.


"Woah...ada roti sobek," ucap Okta saat melihat otot perut suaminya.


Karman menyentil dahi Okta yang sama sekali tidak jaim saat menyentuh otot-otot diperutnya.


"Kamu ini," ucap Arman.


"Kenapa bang? punya suami sendiri. Ini pan udah malam. Ini pan malam pertama kite. Abang kagak mau gituan?" tanya Okta.


"Astaga. Istriku ini benar-benar," batin Arman.


"Emang kamu mau malam ini? ntar besok perginya kesiangan loh. Kita kan mesti pergi pagi-pagi," tanya Arman.


"Benar juga. Jadi kita cuma tidur aja malam ini?" tanya Okta.


"Ya." Jawab Arman singkat dan bergegas mengenakan pakaian.


"Ya udah," ujar Okta yang kemudian menyimpan tiket dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


Grepppp


Okta bisa merasakan kalau Arman memeluk tubuhnya dari belakang. Entah sengaja atau tidak, Arman menghembuskan nafas hangat ditengkuk Okta, yang membuat Okta setengah mati agar tidak mengeluarkan suara merdunya. Okta yang tidak kuat, langsung berbalik badan dan menatap wajah suaminya itu.


"Kamu belum tidur?" tanya Arman.

__ADS_1


"Belum." Jawab Okta.


Arman tersenyum, Oktapun balas tersenyum. Sesaat kemudian mereka berciuman sesuai tuntutan naluri mereka masing-masing.


Hah


Hah


"Sial. Dia bangun sayang," ujar Arman disela nafasnya yang berkejaran.


"Abang mau?" tanya Okta.


"Banget. Tapi abang takut kita kesiangan." Jawab Arman.


"Pasang alarm bang. Satu ronde saja. Takutnya ntu aer udah beku karena nggak pernah keluar selama 40 tahun," ucap Okta sembari terkekeh. Arman mencubit pipi Okta lumayan keras.


"Aku bisa menahannya sampai besok. Malam ini harus istirahat full. Tapi setelah sampai disana, jangan harap kamu bisa tidur," ujar Arman.


"Kedengarannya enak sekali." Jawab Okta sembari tertawa keras. Sementara Arman hanya bisa menggelengkan kepalanya saat mendengar ucapan istrinya itu.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Sesuai yang telah disepakati, Okta, Arman, Lensi dan Ibrahim ketemuan dibandara. Negara yang akan mereka kunjungi pertama kali adalah Barcelona. Negara yang lahirnya klub bola kesayangan Lensi. Setelah menempuh perjalanan berjam-jam, mereka akhirnya tiba juga di negara tujuan. Tidak ingin membuang waktu, mereka langsung memesan penginapan dengan kamar bersebelahan.


"Ah...capeknya," Okta membaringkan diri diatas tempat tidur yang empuk.


Arman juga ikut berbaring disamping Okta. Pinggang mereka begitu terasa pegal karena terlalu lama duduk dipesawat.


Saat malam tiba, mereka memutuskan mencari makan malam yang berada disekitar hotel.


"Kalian kembali duluan saja. Kami ada yang mau dibeli dulu," ujar Ibrahim saat sudah mengatarkan iIstrinya dan Okta di depan hotel.


"Iya." Jawab Lensi.


Lensi menarik tangan Okta. Okta yang tidak berani bertanya, hanya bisa mengikuti Lensi.


"Mereka mau beli apa ya?" tanya Okta.


"Bodo amat mau beli apa. Kita buat persiapan sebelum mereka datang," ujar Lensi.


"Persiapan? persiapan apa?" tanya Okta.


"Aku sudah banyak baca artikel. Aku juga sudah beli 10 lingerie buat persiapan tempur." Jawab Lensi.


"Astaga. Aku benar-benar lupa beli. Aku minta satu dong. Nanti pas belanja aku ganti," ujar Okta.


"Oke." Jawab Lensi.

__ADS_1


Lensi dan Okta pun bersiap-siap, sebelum para suami mereka datang. Sementara itu tanpa mereka tahu, suami-suami mereka juga membuat persiapan dengan membeli obat, agar saat bertempur mereka akan semakin tangguh.


__ADS_2