
Lensi meraih sapu tangan miliknya yang berada dalam saku celana bagian belakang. Dia kemudian menutupi wajahnya dengan sapu tangan itu, karena tidak ingin Ibrahim tahu kalau itu dirinya. Dari kejauhan Lensi bisa melihat Aisyah ketakutan saat di todong sebilah pisau. Sementara Ustad Gofur tampak tenang dan pasrah.
"Keluarin semua duit kalian. Lepasin semua jam tangan, perhiasan, dan ponsel kalian. Sekalian kunci mobil!" ucap salah seorang pria bertopeng.
"Mimpi saja kalian," ujar Ibrahim yang kembali menyerang.
Lensi dengan sigap membantu Ibrahim. Aisyah senyum semringah saat melihat ada seseorang yang membantu putranya itu. Namun Aisyah jadi familliar dengan adegan tersebut. Saat seorang wanita berpakaian sama telah membantu mereka saat dulu pernah kerampokkan.
"Sial. Ternyata mereka orang-orangnya Sammy. Kenapa Sammy melakukan hal kotor seperti ini? dia memang tidak layak untuk Zoya," batin Lensi sembari terus menghajar para pria bertato kala jengking itu.
"Brengsek! kalau harta kalian tidak dapat, nyawa kalian yang akan menjadi gantinya,"
Pria itu berlari kearah Aisyah. ibrahim yang memiliki jarak cukup jauh dari Aisyah tubuhnya bergetar, karena bayang-bayang Aisyah akan terbunuh sudah di depan matanya. Namun Ustad Gofur sempat menangkis serangan senjata tajam itu, tapi berakhir dengan mendapat tendangan dibagian dada.
Pria itu kemudian kembali mengayunkan pisaunya dan...
Jlebbbb
Lensi yang menghadang pisau itu, dirinya harus merelakan punggungnya menjadi santapan yang empuk bagi pisau pria bertopeng itu. Setelah itu pria itu kabur bersama teman-temannya.
Bibir Aisyah bergetar, tubuh Lensi perlahan merosot ke tanah, namun berhasil Aisyah tangkap. Tubuh Aisyah bergetar, terlebih tangannya yang ingin membuka sapu tangan diwajah Lensi.
Lensi dengan tangan gemetar meraih wajah Aisyah dan mengahapus air mata wanita parubaya itu.
"U-Umi...E-Echi sa-sayang Umi," ucap Lensi dengan suara lirih.
Aisyah melepas kain penutup wajah Lensi, dan wanita itu menjerit histeris, saat tahu itu adalah Lensi menantu kesayangannya yang mereka cari beberapa bulan terakhir.
"E-Echi... tidakkk...hiks...bangun nak...bangun," teriak Aisyah histeris, sementara Lensi sudah tidak sadarkan diri.
Ibrahim segera berhambur mendekat kearah Aisyah.
"Baim tolong Echi Baim...tolong dia hiks," Aisyah terisak.
Ibrahim dengan tangan bergetar segera melepas sorban yang dia miliki, dan menekan pendarahan dibelakang punggung Lensi. Ibrahim kemudian menggendong Lensi, dan memasukkan istrinya itu di kursi bagian belakang dengan kepala dipangku Aisyah.
" Ya Allah selamatkan nyawa putriku. Aku mohon selamatkan dia," ucap Aisyah disela tangisnya.
Ibrahim sesekali melihat Lensi dari kaca mobil. Dia sangat khawatir, karena Lensi sudah terlihat pucat. Ibrahim kemudian membuat panggilan pada Okta, agar segera bertemu dirumah sakit bersama teman-temannya yang lain. Setelah sampai di rumah sakit, Ibrahim segera turun dari mobil dan menggendong Lensi untuk dibawa ke ruang IGD.
"Aku mohon bertahanlah sayang. Banyak hal yang ingin aku katakan padamu. Aku mohon beri aku kesempatan," ucap Ibrahim ditelinga Lensi.
Lensi akhirnya segera ditangani oleh dokter, dan langsung dibawa kemeja operasi.
"Pasien mengalami perdarahan yang cukup banyak. Siapapun keluarganya yang memiliki golongan darah AB, silahkan untuk mendonor," ucap seorang dokter.
"Saya golongan darah AB dok. Silahkan ambil darah saya," ujar Ibrahim.
__ADS_1
"Silahkan tuan ikuti suster untuk di cek dulu darahnya ya,"
Ibrahim bergegas mengikuti suster untuk dilakukan uji kelayakkan sebagai pendonor. Setelah suter mengatakan layak, Ibrahim minta segera diambil darahnya karena dia tidak ingin memhuang banyak waktu. Suster kemudian membawa darah Ibrahim ke ruang operasi, sementara Ibrahim masih tinggal diruangan itu untuk beristirahat sejenak setelah pengambilan darah.
Ibrahim memejamkan matanya. Dia jadi teringat saat-saat kebersamaannya dengan Lensi. Saat-Saat Lensi menjahilinya, dan saat-saat Lensi suka mencuri ciuman darinya.
Ibrahim tiba-tiba melantunkan surat Ar-Rahman, dengan air mata meleleh dipipinya. Dia sangat merindukan Lensi, saat istrinya itu melantunkan surat Ar-Rahman setiap sebelum tidur.
Setelah agak mendingan, Ibrahim segera pergi ke ruang tunggu, dimana kedua orang tuanya menunggu disana. Disana juga sudah terlihat teman-teman Lensi.
"Kenapa ini bisa terjadi bang?" tanya Okta.
Ibrahim kemudian menceritakan kejadian yang menimpa Lensi dengan wajah sedih. Okta dan teman-temannya hanya bisa menghela nafas.
"Umi, Abi. Kalian pulang saja ya? biar baim yang nungguin Lensi disini," ujar Ibrahim.
"Tidak! Umi mau tetap disini. Gara-Gara mau menyelamatkan Umi, dia jadi celaka begini," ucap Aisyah.
"Umi. Kalau Lensi tahu, dia pasti akan sedih kalau Umi sampai jatuh sakit. Jangan biarkan pengorbanan Lensi jadi sia-sia. Abi masih sanggup nyetir sendiri kan?" tanya Ibrahim.
"Ya." Jawab Ustad Gofur
"Ya sudah. Bawa Umi pulang saja," ujar Ibrahim.
"Tapi kamu janji ya kabarin Umi terus," ucap Aisyah.
"Iya Umi." Jawab Ibrahim.
Setelah 4 jam di meja operasi, Lensi akhirnya selesai di operasi, namun masih dalam kondisi kritis.
Ibrahim segera bangkit dari tempat duduknya, saat melihat lampu ruang operasi sudah berubah warna.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Ibrahim.
"Beruntung pisau itu tidak mengenai jantung istri anda, dan juga cepat dibawa kerumah sakit. Namun meski demikian, kondisi istri anda saat ini sangat kritis. Sabar ya tuan, banyak-banyak berdo'a." Jawab dokter.
"Apa saya bisa menjenguknya dok?" tanya Ibrahim.
"Maaf tuan. Saat ini pasien belum bisa dijenguk siapapun. Saat ini pasien sedang dirawat secara intensif. Kami mohon bersabarlah. Setelah masa kritis sudah lewat, barulah bisa dijenguk." Jawab dokter.
"Baik. Terkma kasih dok," ucap Ibrahim.
Ibrahim hanya bisa melihat Lensi melui pintu kaca. Ada banyak alat penunjang kehidupan yang menempel ditubuhnya saat ini. Membuat Ibrahim benar-benar tidak tega melihatnya.
Sementara itu ditempat berbeda, Zoya merasa gelisah di rumah sakit. Pasalnya ponsel Lensi tidak bisa dihubungi, padahal Lensi berjanji hanya pergi sebentar.
Tok
__ADS_1
Tok
Tok
"Masuk," ujar Zoya.
Ceklek
Arman terlihat memasuki ruangan, yang membuat Zoya senyum semringah dan ingin beranjak dari tempat tidur.
"Bang...abang...."
"Stop! jangan turun dari tempat tidur. Biar abang yang kesitu," ujar Arman.
Sementara Sammy tidak langsung masuk, dia sudah sepakat dengan Arman, agar dirinya menunggu di luar sembari mendengarkan percakapan mereka. Setelah Arman mendekat, Zoya langsung berhambur kepelukkan Arman yang membuat Sammy jadi cemburu berat.
"Sialan si perjaka tua. Kesempatan dalam kesempitan kayaknya," batin Sammy.
"Abang nggak kenapa-kenapa kan? ternyata si Sammy manusia durjana itu dalang dari semua penderitaan kita. Tapi kenapa abang bisa keluar? bukankah abang juga di sandera?" tanya Zoya.
"Zoya. Apa kamu mencintai Sammy?" tanya Arman.
"Percuna saja kak. Cintaku jelas bertepuk sebelah tangan, dasar aku saja yang bodoh. Jelas-Jelas dia lebih memilih dunianya ketimbang aku dan anak kami. Tapi aku masih saja bodoh masih mengingatnya. Yah...mau bagaimana lagi, meski dia begitu dia tetap ayah dari anakku." Jawaban Zoya membuat Sammy tersenyum senang.
"Jadi kamu mau bagaimana kedepannya? apa kamu akan membiarkan anakmu lahir tanpa ayah?" tanya Arman.
"Semua ibu pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Tapi berhubung ayahnya tidak ingin yang terbaik buat anaknya, jadi aku menyuruh Lensi buat mencarikan aku seorang pria yang mau menerimaku apa adanya bersama putraku." Jawab Zoya.
Sammy terkejut mendengar ucapan Zoya. Tentu saja dia tidak akan membiarkan itu terjadi.
"Enak kali ya ngerjain si kampret," batin Arman.
"Daripada payah-payah mencari pria yang nggak jelas, mending kamu nikah sama abang saja. Bagaimana?" tanya Arman.
"Apaan perjaka tua. Tadi nggak ada ya kesepakatan kamu bilang gitu? enak aja mau nikahi wanitaku. Gue gibeng loe," Sammy tiba-tiba muncul yang membuat Zoya terkejut. Sementara Arman jadi terkekeh melihat respon dari Sammy.
"Ka-Kalian...."
"Sammy adikku tapi beda ibu. Selama ini dia kabur karena memilik sifat kekanakkan." Jawab Arman.
"Sembarangan. Itu masalah prinsip bro," ujar Sammy.
"Prinsip dengan keras kepala beda tipis," ucap Arman.
"Kamu nggak usah dengerin dia. Dia itu iri dengan ketampanan pujaan hatimu ini," ujar Sammy.
"Siapa yang pujaan hatiku?" tanya Zoya.
__ADS_1
"Aku sudah memutuskan bakal nikah dengan bang Arman," sambung Zoya yang membuat Sammy langsung berlutut di depan Zoya.
Arman dan Zoya saling mengedipkam mata. Mereka sepakat ingin mengerjai pria itu terlebih dahulu.