MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
43. Resepsi


__ADS_3

Senyum Lensi mengembang, saat melihat Okta sahabatnya masuk dan berjalan dibarisan paling depan. Teman-temannya masuk secara bersamaan, diikuti oleh orang-orangnya Arman yang berjumlah sekitar 50 orang. Rombongan itu sudah seperti akan melakukan parade, dengan menggunakan jas putih berwarna senada.


Melihat Lensi tersenyum, Ibrahim mengikuti arah pandangan istrinya itu. Kini pria itu tahu, kenapa istrinya itu terlihat bahagia. Namun senyum Lensi tiba-tiba lenyap, saat melihat seseorang yang baru masuk, tepat di belakang teman-temannya.


"Ka-Kak Alex," batin Lensi.


Sungguh Lensi seperti melihat hantu. Saat melihat kehadiran pria itu


Lensi benar-benar lupa, karena dirinya sama sekali tidak memberitahu Alex tentang pernikahannya, dan juga tentang kesepakatannya dengan Alex waktu itu.


"Kenapa kak Alex ada disini? apa Ibrahim mengenalnya? atau kak Alex merupakan murid dari Abi Gofur?" batin Lensi.


Kini giliran senyum Ibrahim yang terbit dibibirnya, saat melihat kehadiran Alex sang sahabat sejatinya. Dan senyumnya juga mendadak hilang, saat dibelakang Alex terlihat Fatimah dan keluarganya datang menghadiri resepsi pernikahannya itu.


Fatimah setegar mungkin melangkah masuk kedalam, seolah tidak terjadi apapun dalam dirinya. Dia ingin menunjukkan pada Ibrahim dan keluarganya, bahwa dirinya saat ini dalam keadaan baik-baik saja.


Fatimah dan keluarganya duduk dibarisan paling depan. Sementara Alex duduk tepat dibelakang Fatimah. Mata Fatimah sempat bersitatap dengan Ibrahim, namun secepat mungkin Fatimah memalingkan wajahnya. Sedangkan Fatimah dan Alex sama-sama tidak menyadari, kalau mempelai wanita yang ada diatas pelaminan adalah orang yang mereka kenal.


Lensi mengerutkan dahinya, saat melihat seorang gadis yang sama sekali tidak asing baginya. Namun dia takut salah, karena dia melihat dari jarak yang lumayan jauh. Setelah tamu undangan hampir memenuhi aula, pembawa acara mulai membuka acara resepsi pernikahan itu. Namun saat pembawa acara menyebutkan nama mempelai wanita, Alex seperti sedang disengat listrik.


Deg


"Le-Lensi Deva Gemilang? bukankah itu nama gadis yang ingin aku kejar?" batin Alex.


Alex kemudian menatap kearah pelaminan. Dan matanya kemudian bersitatap dengan mata Lensi.


"Le-Lensi. Itu sungguh dia?" bibir Alex bergetar. Aliran darahnya seolah terhempas.


Tidak jauh berbeda dengan Alex, Fatima pun baru menyadari bahwa nama mempelai sama dengan gadis yang penah dia temui dua kali. Gadis yang pernah mengobrol banyak dengannya. Dan setelah menatap Lensi dengan seksama, Fatima baru menyadari bahwa itu memang wanita yang sama yang pernah dia temui.


Wajah Lensi tertunduk tak kala Alex menatapnya dengan lekat. Sementara itu mata Alex sudah berkaca-kaca. Dia kecewa pada Lensi yang tidak berterus terang padanya, dan seolah dirinya sudah dua kali dikhianati oleh wanita itu.


Setelah rangkaian acara berlangsung, semua para tamu undangan satu persatu mengucapkan selamat pada mempelai. Dan ada juga yang tengah mengobrol atau sekedar mencicipi hidangan.


"Hey...bray. Selamat ya Dew, semoga pernikahan loe samawa ya?" ucap Okta.


"Ganteng banget laki loe," bisik Okta.


"Hussstttt," Lensi mengisyaratkan telunjuk dibibirnya, karena takut Ibrahim mendengar ucapan sahabatnya itu.

__ADS_1


Ibrahim mau tidak mau menerima uluran tangan para sahabat Lensi yang rata-rata memiliki tato dan berwajah seram itu.


"Bang," mata Lensi berkaca-kaca saat melihat Arman.


Arman adalah sosok yang paling dia hormati di dunia ini. Pria itu baginya sosok pengganti ayah kandungnya, yang sama sekali tidak pernah memberikan kasih sayang yang dia inginkan.


"Selamat ya Len. Maaf abang tidak membawa kado spesial buat kamu, karena abang yakin kamu sudah memiliki segalanya," ujar Arman.


"Tidak masalah bang. Echi nggak mengharap kado apapun dari kalian. Kalian datang saja sudah membuatku senang." Jawab Lensi.


"Kalian jangan pulang dulu sebelum makan ya?" sambung Lensi.


Senyum Lensi masih tetap terbit, saat melihat teman-temannya sangat menikmati acara itu. Ingin rasanya dia bergabung, tapi dia tahu itu tidak mungkin.


Namun senyum itu mendadak hilang, saat dia melihat Fatimah berjalan kearah pelaminan, dan dibelakangnya ada Alex yang juga ingin naik pelaminan. Saat Lensi ingin menyeru nama Alex, Alex tiba-tiba memberikan isyarat dibibirnya. Ternyata pria itu tidak ingin Ibrahim tahu, bahwa sahabatnya itu telah menikahi gadis pujaannya.


Sementara itu Fatimah bersitatap sejenak dengan ibrahim, dan kemudian menelan ludahnya sendiri. Agar ucapannya terdengar lancar dan jelas ditelinga mantan tunangannya itu.


"Selamat atas pernikahan kalian. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warrohma," ujar Fatimah dengan suara yang hampir tercekat ditenggorokkannya.


Lensi mengerutkan dahinya, saat melihat mata Fatimah berkaca-kaca. Sementara Ibrahim menundukkan kepalanya.


.Mendengar Lensi menyebut nama Fatimah, Ibrahim langsung menoleh kearah istrinya itu.


"Ka-Kamu mengenal fatimah?" tanya Ibrahim.


Fatima bergegas menyeka air mata kelemahannya secepat kilat


"Ya. Kami pernah bertemu dua kali. Fatimah teman kamu?" Lensi balik.


bertanya.


Fatimah dan Ibrahim terdiam. Namun Fatimah segera mengubah topik pembicaraan yang sensitif itu.


"Selamat ya Len. Semoga kalian bahagia," ujar Fatimah.


"Makasih ya Mah. Kamu cepat nyusul ya?" ucap Lensi.


Fatimah menelan ludahnya, dan sebisa mungkin menebar senyum kearah Lensi. Fatimah kemudian turun dari pelaminan secepat mungkin. Dan kemudian kini giliran Alex yang ingin mengucapkan selamat pada sahabatnya dan juga mantan tunangannya.

__ADS_1


"Hey...bro. Selamat ya? akhirnya kawin juga," ucap Alex yang berpura-pura bahagia dengan pernikahan sahabatnya itu.


"Istrimu cantik seperti bidadari," bisik Alex.


"Memang cantik. Tapi bukan tipeku," bisik Ibrahim.


"Kalau gitu malam pertama bini ente ane aja yang tidurin," bisik Alex.


Bugh


Ibrahim memukul sahabatnya itu pelan.


"Sahwat aja yang ente gedein. Bini ane itu," ucap Ibrahim setengah berbisik.


"Apapun itu ane ucapin selamat buat ente. Semoga pernikahan ente samawa, dan cepat diberikan momongan," ujar Alex sembari melirik kearah Lensi.


Sekali lagi Alex memberikan isyarat dibibirnya, saat Ibrahim tengah terpejam mengaminkan do'a-do'a yang Alex panjatkan untuknya.


"Selamat ya,"


Hanya kata itu yang mampu Alex ucapkan. Dan Lensi hanya mampu membalasnya dengan sebuah anggukkan. Saat pria itu berbalik badan dan turun dari pelaminan, maka turun pula air matanya hingga membasahi pipinya.


"Hiks...Hiks...."Alex yang berencana menenangkan diri disalah satu sudut gedung, menangkap ada suara isak tangis seorang wanita. Dan suara isak tangis itu terdengar sangat pilu.


"Permisi," ujar Alex menyapa Fatimah dari arah belakang.


Tangis Fatimah mendadak reda. Karena tidak ingin dilihat orang lain, Fatimah bergegas pergi tanpa Alex tahu seperti apa wajah gadis yang tengah menangis itu. Namun tanpa Fatimah sadari, dirinya telah meninggalkan sesuatu ditempat itu dan langsung dipungut oleh Alex


"Ini pasti milik gadis tadi. Tapi dia siapa? bagaimana caraku mengembalikannya? ah...bodo amatlah, aku lagi pusing gini," ucap Alex.


Alex menatap lampu kerlap kerlip diarah jalan raya. Saat dirinya tengah asyik menikmati sebuah minuman, tiba-tiba ponselnya bergetar. Dan dia sangat terkejut, karena itu chat dari Lensi.


"Kak. Aku janji akan menemuimu secepatnya. Aku ingin menjelaskan semuanya sama kakak, kenapa aku bisa menikah dengan tiba-tiba. Aku minta maaf ya kak?"


Alex sama sekali tidak ada niat ingin membalas chat dari Lensi.


"Ini sungguh Qodarullah. Kamu pantas mendapatkan hal terbaik dalam hidup kamu Len. Aku memang kecewa dan sedih saat tahu kamu menikah dengan orang lain. Tapi aku bisa bernafas lega, saat tahu kamu menikah dengan orang yang sangat tepat," ucap Alex lirih.


Alex kembali menyesap minumannya dengan rasa frustasi.

__ADS_1


__ADS_2