
Tangan Surya gemetar, begitu juga dengan kakinya saat pria tua itu mencoba bangkit dari kursi rodanya. Lidahnya ingin sekali menyuarakan nama putrinya, namun dia masih belum bisa. Hanya air matanya yang senantiasa mengalir deras.
Perlahan tapi pasti Lensi melangkah menuju kearah Surya. Sekuat mungkin Lensi menahan air matanya agar tidak tumpah, namun akhirnya tumpah ruah juga.
Brukkkkk
Surya yang tidak sabar ingin memeluk putrinya itu, jatuh tersungkur dari kursi roda. Ibrahim yang tidak sempat menopang tubuh Surya merasa sangat bersalah. Sementara Lensi terpekik kaget saat melihat Surya yang dulunya gagah, kini lemah tak berdaya. Surya dengan cepat menyeret tubuhnya, dan berhenti tepat dibawah kaki Lensi.
"Pa. Papa jangan begini. Hiks...." Lensi terisak saat Surya dengan sengaja memegang kedua kakinya, dan mencium kedua punggung kakinya itu secera bergantian.
"Pa jangan pa. Hiks...." Lensi menolak Surya melakukan itu, tetapi Surya dengan erat memegang kaki Lensi sembari menangis sesegukkan.
"Papa jangan begini. Echi udah maafin papa. Hiks...bang bantuin papa bangun bang!" ucap Lensi disela tangisnya.
Ibrahim yang awalnya linglung, jadi tersadar dan segera membantu Surya duduk kembali di kursi roda. Lensi berlutut di depan Surya dan meletakkan kepalanya dipangkuan pria parubaya itu.
"Kenapa. Kenapa papa memisahkan Echi dengan mama? seharusnya kalau cuma harta yang papa mau, papa bisa mendapatkannya tanpa harus membunuh mama. Echi kesepian pa, Echi sangat kesepian saat papa lebih memanjakan Vega," Lensi kembali terisak.
Sementara Air mata Surya jauh lebih deras keluar saat mendengar curahan hati Lensi. Namun dia sangat kesal, karena lidahnya sangat kaku digunakan. Dia hanya ingin mengucapkan maaf pada putrinya itu.
"Sekarang papa harus bersabar dulu. Papa harus rajin mengikuti terapi, agar kondisi papa semakin membaik," ujar Lensi yang kemudian melihat kearah Surya.
Lensi menghapus air mata Surya dengan kedua tangannya. Surya meraih kedua tangan Lensi dan menciumnya berkali-kali. Surya kemudian membawa Lensi kedalam pelukkannya. Ibrahim yang melihat pemandangan itu jadi menyeka air matanya yang tidak sengaja tumpah saat melihat adegan haru itu.
"Untuk sementara papa harus tinggal di rumah sakit dulu ya? biar papa nggak capek bolak balik ikut terapi. Nanti kalau keadaan papa sudah jauh lebih baik lagi, nanti kita pulang ke rumah," ucap Lensi yang kemudian diangguki oleh Surya.
"Sekarang Echi pulang dulu. Ada hal penting yang harus Echi lakukan," ujar Lensi. Sementara Ibrahim jadi mengerutkan dahinya. Karena seingatnya Lensi tidak memiliki pekerjaan apapun.
Suryapun menganggukkan kepalanya dan melepaskan tangan Lensi dengan begitu berat. Kini Surya baru bisa merasakan ikatan yang kuat dengan Lensi.
"Dia persis seperti Lilian. Sangat baik hati dan penyayang. Bagaimana bisa aku begitu bodoh, membuang berlian yang indah demi batu kali. Ya Tuhan...semoga engkau masih mau mengampuni dosa-dosaku yang seperti buih dilautan,"
__ADS_1
"Aku berjanji. Saat aku sembuh nanti, aku akan menebus kesalahanku pada putriku. Waktu puluhan tahun yang terbuang hanya karena aku salah mencintai dan menyayangi seseorang,"
Sementara itu Lensi dan Ibrahim yang baru keluar dari ruangan itu pergi berlawanan arah dengan arah keluar rumah sakit itu.
"Kita mau kemana sayang? ini bukan arah keluar, tapi ini arah menuju ke tempat Fatimah di rawat," tanya Ibrahim.
Lensi menghentikan langkah kakinya dan menatap lembut wajah suaminya.
"Mumpung kita berada dirumah sakit, apa tidak sebaiknya kita memeriksa kesuburan kita bang?" tanya Lensi.
"Apa kamu sudah siap?" tanya Ibrahim.
"Mau tidak mau kita harus melakukannya bukan? tapi bang ada hal yang aku takutkan sebenarnya," ujar Lensi.
"Apa?" tanya Ibrahim.
"Bagaimana kalau ternyata kalau aku dinyatakan mandul? apa abang akan meninggalkan aku dan menikahi wanita lain?" tanya Lensi.
"Tidak bang. Aku sangat mencintai abang. Aku akan menerima segala kekurangan dan kelebihan abang." Jawab Lensi.
"Begitu juga dengan abang. Aku menikahimu bukan ingin menjadikanmu mesin pencetak anak. Meski awalnya kita menikah bukan karena cinta, tapi sekarang cinta yang abang milikki untukmu sangat luar biasa besar. Abang tidak ingin kehilanganmu apapun alasannya," ujar Ibrahim.
Lensi tersenyum dan berhambur kepelukkan Ibrahim. Ibrahin mencium puncak kepala istrinya dan mengeratkan pelukkan mereka.
"Kalau begitu ayo kita berjuang bersama bang. Apapun hasilnya, kita harus menerimanya sebagai ketetapan Allah," ujar Lensi.
"Oke." Jawab Ibrahim.
Ibrahim dan Lensi pergi menuju ruangan Obgyn sembari bergandengan tangan. Mereka memutuskan untuk berdamai dengan keadaan.
"Rahim anda bagus. Sama sekali tidak ada masalah," ucap dokter saat melihat kondisi rahim Lensi lewat media USG.
__ADS_1
Mendengar itu jantung Ibrahim kini jadi berdegup dengan kencang. Pasalnya dia sangat takut, kalau-kalau dirinyalah yang bermasalah. Dan membayangkan hal itu membuat telapak tangannya berkeringat dingin. Lensi melirik kearah Ibrahim yang wajahnya sudah berubah jadi mendung. Lensi seolah tahu apa yang ada dalam pikiran suaminya itu.
"Jadi kalau rahim saya tidak bermasalah, kira-kira apa penyebabnya sehingga saya sulit hamil dok?" tanya Lensi.
"Untuk memastikan hal tersebut, kita harus mencari sumber masalahnya. Saya akan memberikan rujukkan untuk kalian, agar kalian memeriksakan spe*ma dan juga hormon. Jadi nanti pak Ibrahim memeriksakan Spe*ma, dan ibu Lensi memeriksakan hormon." Jawab dokter.
"Baik dok." Jawab Lensi sembari duduk di tepi tempat tidur pasien, setelah melakukkan pemerinsaan USG.
"Tapi nanti saat pemeriksaan Lab nya sebaiknya saat anda mendapatkan haid di hari ketiga atau keempat ya bu," ujar dokter.
"Kebetulan sekali dok. Saat ini saya sedang haid hari ke 4." Jawab Lensi.
"Kalau begitu bisa langsung melakukan pemeriksaan Lab ya bu. Nanti kalau hasilnya keluar hari ini, bisa langsung bawa pada saya untuk saya bacakan hasilnya. Tapi kalau belum, besok juga bisa datang kesini setelah menerima hasilnya," ucap dokter.
"Baik kami mengerti dok," ujar Lensi.
Dokter kemudian menuliskan surat rujukkan untuk Lensi dan Ibrahim. Setelah itu mereka langsung pergi menuju laboratorium.
"Kalau bapak kesulitan mengeluarkannya sendiri, bapak bisa meminta bantuan sama istri," ucap petugas labor sembari memberikan tabung kecil untuk Ibrahim mengisinya dengan spe*ma.
"Biar saya lakukan sendiri," ucap Ibrahim yang kemudian meraih tabung itu dan membawanya ke ruang khusus.
Sementara Lensi dibawa keruang lain, untuk mengambil sampel darahnya untuk pemeriksaan hormon. Setelah menunggu hampir 30 menit, Ibrahim keluar dengan membawa tampungan spe*ma di dalam sebuah tabung kecil.
"Ini untuk hasilnya keluarnya besok ya pak. Soalnya pasien sedang banyak sekali menunggu antrian pemeriksaan yang sama,"
"Tidak masalah." Jawab Ibrahim.
Ibrahim dan Lensi akhirnya keluar dari ruangan itu. Disepanjang perjalanan pulang, Ibrahim berubah jadi pendiam.
"Mungkin saat aku dinyatakan tidak subur, aku juga akan muram seperti bang Baim. Hah...ternyata memang tidak mudah menerima kenyataan, meskipun dimulut sangat mudah diucapkan. Bang Baim orang yang sangat tegar dan sabar, tapi masih bisa bersikap seperti ini. Lalu bagaimana denganku? apa mungkin aku akan langsung kena serangan jantung?" batin Lensi.
__ADS_1
Lensi meraih tangan Ibrahim dan kemudian mencium tangan suaminya itu. Ibrahim memberikan senyuman hambar dan mengelus pipi Lensi dengan lembut.