MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
90. Terkejut


__ADS_3

"Apa loe sudah gila? ini bang Arman loh Ta? apa nggak ada laki-laki laen?" tanya Riko.


"Iya Ta. Riko misalnya," timpal Mawan.


"Eh? kok gue?" tanya Riko gugup.


"Makanya kunyuk. Kelamaan mikir loe. Diembat orang kan?" ucap Karman.


Okta mengerutkan dahinya karena dia tidak mengerti.


"Tapi janur kuningkan belum melengkung Rik? masih bisa direbut," ujar Mawan.


"Ya meski saingannya berat," timpal Karman.


"Ini maksudnya apaan sih?" tanya Okta.


"T-Ta. Bisa nggak loe batalin aja nikah sama bang Arman?" tanya Riko yang memberanikan diri.


"Kenapa? kamu nggak setuju aku nikah sama dia?" tanya Okta yang kemudian diangguki oleh Riko.


"Alasannya? jangan bilang karena dia tua ya?" tanya Okta.


"Se-Sebenarnya gu-gue suka sama loe." Jawab Riko.


"Ap-Apa?" Okta terkejut. Tidak jauh berbeda dengan Okta, nyak Rogaya sampai menutup mulutnya saat mendengar pengakuan sahabat dari putrinya itu.


"Meski aku nggak setampan dan sekaya bang Arman, tapi aku jelas orang baik. Aku janji akan bahagiain elo Ta," ujar Riko.


"Kok jadi gini sih? kenapa loe harus ngungkapin sekarang? kan suasana persahabatan kita jadi nggak enak dan canggung kalau gini," batin Okta.


"Maaf ya teman-teman. Terutama gue minta maaf sama loe Rik. Bang Arman mungkin nggak sebaik kalian, tapi gue yakin dia bisa bahagiain gue. Lagipula perasaan gue nggak bisa diubah secepat itu. Gue suka sama bang Arman, dan itu benar-benar tulus."


"Seandainya aja gue belum jadian ama bang Arman, dan loe ngungkapin dari jauh-jauh hari, mungkin gue bisa pertimbangin loe. Tapi ini situasinya udah beda. Maaf ya Rik, gue nggak bisa balas perasaan loe itu. Gue yakin, suatu saat nanti, loe akan nemuin gadis yang jauh lebih baik dari gue," ujar Okta.


Riko terdiam. Wajah pria itu jadi murung sektika.


Puk


Karman menepuk pundak Riko dan menghibur sahabatnya itu.


"Jadikan ini pelajaran buat loe. Lain kali jangan kebanyakkan mikir. Sekarang Okta sudah nentuin pilihannya, dan kita kudu menghormati keputusannya itu," ujar Karman.


Riko menatap mata Okta, dia jadi teringat saat-saat kebersamaan mereka. Meski dia sering sekali menjahili okta dengan kata-kata yang tidak enak di dengar, tapi itu karena dia ingin mencari perhatian gadis itu. Dan kenangan untuk mereka berdua sendiri sangatlah banyak. Dia pernah menggendong Okta ditengah hujan, saat gadis itu terjatuh saat mencoba memanjat pohon jengkol. Yang paling sering kenangan mereka terkumpul saat mereka bermain judi bersama.


"Moga loe bahagia dengan pilihan loe itu," ujar Riko yang kemudian berbalik badan dan pergi.

__ADS_1


"Rik...gue mohon jangan benci gue. Rik...." seru Okta dengan air mata yang menetes dipipinya. Sementara Riko sama sekali tidak menoleh lagi dan langsung pergi dengan motornya.


"Kita cabut dulu ya Ta? loe tenang aja, dia pasti akan baik-baik aja. Dia butuh sendiri dulu. Lusa kita pasti akan datang ke acara lamaran loe itu," ujar Karman.


"Makasih pak," ucap Okta sembari menyeka air matanya.


Karman dan Mawan pergi dari rumah Okta. Sementara Okta jadi terduduk lesu.


"Apa elu emang nggak sadar ntu laki demen ama lu?" tanya Rogaya.


"Nyak juga nggak bisa lihat kan? padahal di pan sering main kemari. Mana Okta tahu kalau dia demen ama aye. Meski begitu, aye tetap nggak bisa balas perasaan dia, karena dia buka tipe aye." Jawab Okta.


"Belagu lu. Udah ada pacar, baru bisa ngomong soal tipe. Kalau nyak mah ama siapapun lu milihnye, nyak akan merestui. Asal lu bahagia, dan kagak nyesel dengan pilihan elu," ujar Rogaya.


"Makasih nyak." Jawab Okta sembari memeluk Rogaya.


"Akhirnye anak gadis nyak mau kawin juga. Laku juga meskipun buluk," ujar Rogaya sembari membelai rambut Okta. Okta hanya menanggapi ucapan Rogaya dengan senyuman.


"Nyak,"


"Hem?"


"Bukanye kalau nikah kudu ade wali pan?" tanya Okta.


"Kita akan undang babeh lu buat jadi wali. Kalau dia nggak mau, wali hakim juga boleh." Jawab Rogaya.


"Yang terpenting tentuin dulu tanggal pernikajannye. Ntar kite bisa datangin orangnye," sambung Rogaya.


"Apa nyak kagak ape-ape ketemu ntu pelakor?" tanya Okta.


"Kagak masaleh. Ntu udah lama berlalu. Sekarang kite udah punya kehidupan sendiri. Udah lebih bahagia. Kalau urusan mereka mah bodo amat." Jawab Rogaya.


"Oh ya. Apa lu udah ngubungin neng Lensi?" tanya Rogaya.


"Astaga. Belum nyak. Aye lupa." Jawab Okta.


Okta bergegas mengambil ponselnya dan membuat panggilan telpon di nomor baru Lensi yang wanita itu kirim.


"Ya Ta?" tanya Lensi diseberang telpon.


"Dew. Loe bisa datang ke rumah gue nggak lusa nanti?" tanya Okta.


"Ada apa?" tanya Lensi balik.


"Gue mau lamaran." Jawab Okta.

__ADS_1


"Apa? loe mau lamaran? sama siapa? kok gue nggak tahu loe punya pacar?" tanya Lensi terkejut.


"Gue nggak mau bilang. Kalau mau tahu, loe datang sendiri aja," ujar Okta.


"Oke gue akan datang." Jawab Lensi.


"Makasih Dew," ujar Okta.


"Ah...loe bikin gue jantungan aja tahu nggak? bisa-bisanya loe punya pacar gue nggak tahu. Apa calon loe itu tetangga loe?" tanya Lensi.


"Kepo maksimal. Gue nggak akan kepancing. Datang aja langsung," ucap Okta.


"Sialan loe Okta. Kalau deket udah gue plintir tangan loe," ujar Lensi yang dibalas kekehan oleh Okta.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Duh...gugup banget gue," ujar Okta.


"Gue jadi penasaran siapa laki-laki beruntung itu," ucap Lensi.


"Siapapun dia, dia harus membuat Okta bahagia bukan?" ujar Ibrahim.


"Itu kenapa pak Karman dan Mawan cuma datang berdua. Si Riko kemana?" tanya Lensi.


"Mungkin ada urusan." Jawab Okta.


"Eh? tumben. Urusan penting apa, sampai mengabaikan kepentingan sahabatnya?" tanya Lensi.


"Sayang. Semua orang kan punya privasi. Mungkin dia ada urusan keluarga. Sahabat emang penting, tapi keluarga harus dinomor satukan." Jawab Ibrahim.


Tidak berapa lama kemudian, sebuah mobil hitam datang dipelataran rumah Okta. Beberapa orang turun dari mobil itu. Dan sebuah mobil menyusul datang dibelakangnya. Lensi mengerutkan dahinya, saat melihat Zoya dan Sammy turun dari mobil. Dan kemudian Arman turun dengan pakaian yang terlampau rapi dan resmi menurutnya.


"Ah...sayangku terlihat gagah dan tampan," batin Okta.


"Kamu ngundang bang Arman, zoya dan Sammy juga?" tanya Lensi.


"Ya harus dong. Kalau nggak ada bang Arman, lamaran ini nggak akan terjadi." Jawab Okta.


"Kok gitu?" tanya Lensi.


"Ya kan calon suamiku bang Arman." Jawab Okta dengan senyum malu-malu.


"Ap-Apa?" Lensi sangat terkejut mendengar jawaban Okta.


Sementara Okta tampak cuek. Matanya bersitatap dengan Arman. Mereka sama-sama tersenyum penuh arti.

__ADS_1


__ADS_2