MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
114. Gempar


__ADS_3

"Hari libur gini enaknya ngapain ya?" tanya Lensi.


"Emang kamu pengen melakukan apa sih. Hem? mau jalan-jalan, atau mau nyari kuliner yang enak?" tanya Ibrahim.


"Malas keluar, pengen di rumah aja." Jawab Lensi.


"Kemarilah sayangku! kalau begitu kita habiskan bersantai diatas tempat tidur, sembari sesekali membuat anak," ucap Ibrahim sembari memeluk Lensi dari belakang.


"Abang jangan menggodaku terus. Semalam kita sudah melakukannya sampai puas. Kita jadi bagun sesiang ini setelah sholat subuh," ujar Lensi.


"Ya sudah kita nonton tv saja kalau gitu," ucap Ibrahim sembari meraih remote tv, dan kemudian menyalakannya.


"Kilas berita. Telah ditemukan seorang mantan direktur utama Gemilang Group tergeletak di rumah sederhana di jl. Indah berkelok dalam kondisi tidak sadarkan diri. Pria itu segera dilarikan ke rumah sakit, dan dirawat secara intensif."


"Belum bisa dipastikan penyebab dari kejadian tersebut. Untuk sementara hanya bisa diduga bahwa pria tersebut mengalami serangan jangung,"


Sebuah tayangan saat beberapa orang membantu menggotong Surya masuk kedalam ambulance sedang berlangsung.


"Menurut tetangga korban, sebelumnya memang terdengar ada percekcokkan dari arah dalam rumah. Namun setelah itu itu tidak terdengar lagi. Untuk saat ini anak dan istri dari korban belum diketahui keberadaannya," seorang pembaca berita panjang lebar mengabarkan insiden itu.


Sementara Ibrahim dan Lensi jadi terdiam satu sama lain. Ibrahim ingat betul baju yang Surya kenakan, sama persis dengan yang pria itu kenakan saat menemui dirinya.


"Sayang. Apa kita perlu...."


"Nggak perlu!" Lensi langsung memotong pembicaraan Ibrahim dan kemudian berbaring sembari menenggelamkan diri dalam selimut.


Ibrahim mengerti kenapa Lensi tidak ingin memastikan keadaan Surya di rumah sakit. mungkin luka yang diberikan Surya terlalu dalam untuk istrinya itu. Sehingga Lensi sama sekali tidak ingin memaafkan kesalahan orang tuanya.


Ibrahim memeluk Lensi dari belakang , setelah dirinya masuk dalam selimut yang sama.


"Mama. Mama lihat itu dari surga kan? pria yang sudah melenyapkan mama perlahan mendapatkan karmanya. Mama yang tenang disana ya? sekarang dia tidak punya siapapun lagi. Sama seperti saat dia mengabaikan aku sendirian, kini dia akan sendirian dan kehilangan segalanya," batin Lensi.


Tidak jauh berbeda dengan Lensi dan Ibrahim. Handoko juga tengah menonton berita itu. Dia mencoba mencerna kejadian itu, dengan kejadian yang menimpa Marini.


"Hey. Bukankah dia itu ayahmu?" tanya salah seorang narapidana, saat mereka tengah menikamati makanan diruang makan.


"Dia bukan ayah kandungku," jawab Vega sembari terus mengunyah makanannya.


Vega memang mendengarkan semua berita itu. Dengan tidak diketahui keberadaan Marini, dia sudah tahu apa yang sudah terjadi. Sembari mengunyah makanannya, dia jadi teringat saat dirinya masih kecil hingga dirinya dewasa. Surya memberikan semua cinta dan perhatian yang lebih padanya.

__ADS_1


"Cinta dan perhatian tidak akan cukup bukan? hidup perlu uang. Dan aku hanya perlu mengikuti angin yang berhembus saja," batin Vega.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Ibrahim melihat Lensi tengah tertidur lelap. Ibrahim membiarkannya saja, sementara dirinya segera mengenakan pakaian untuk pergi melihat kondisi Surya di rumah sakit.


"Nanti kalau nyonya bertanya tentang saya, bilang saja saya pergi ke rumah sakit ya?" ucap Ibrahim.


"Baik tuan." Jawab pelayan.


Ibrahim kemudian pergi. Bukan dia bermaksud menghianati kepercayaan istrinya, tapi itu dia lakukan semata-mata atas dasar kemanusiaan. Terlebih Surya juga masih mertuanya yang tidak bisa di pungkiri.


Setelah tiba di rumah sakit terdekat dari rumah Surya, Ibrahim tidak kesulitan mendapatkan informasi tentang keberadaan Surya. Dan tentu saja Ibrahim disambut baik disana, karena Ibrahim merupakan pengusaha terkenal di kota itu.


"Bagaimana keadaan pak Surya?" tanya Ibrahim saat melihat seorang dokter keluar dari ruangan Surya.


"Sekarang dia sudah diberikan obat dan tertidur." Jawab dokter.


"Jadi beliau sudah siuman dok?" tanya Ibrahim.


"Sudah. Tapi dengan sangat menyesal saya harus menyampaikan. Bahwa pak Surya mengalami struk berat. Jadi dia tidak bisa bergerak sama sekali. Bahka pak Surya tidak bisa berbicara." Jawab dokter.


"Apa yang bisa dilakukan agar struknya menjadi ringan, atau bisa disembuhkan?" tanya Ibrahim.


"Pak Surya harus rajin melakukan terapi, dan teratur minim obat yang diberikan. Mudah-Mudahan sakit sruknya bisa menjadi ringan atau bahkan disembuhkan." Jawab dokter.


"Baik kalau begitu saya serahkan semuanya pada dokter dan tim medis untuk menangani pak Surya," ucap Ibrahim.


"Baik pak." Jawab dokter.


Ibrahim menatap kearah Surya yang terbaring menyedihkan.


"Aku tidak menyangka siksa dunia pak Surya sudah seperti ini. Semoga saja saat sembuh nanti dia segera bertaubat, dan Allah mengampuni segala dosa-dosanya di masa lalu," batin Ibrahim.


Ibrahim kemudian pulang ke rumah. Tanpa Ibrahim tahu, Lensi menunggunya dengan gelisah di rumah.


Ceklek


"Abang darimana?" tubuh Ibrahim belum masuk sepenuhnya, tapi Lensi sudah membrondongnya dengan pertanyaan. Dan Ibrahim yakin, istrinya itu akan sedikit berdebat dengannya.

__ADS_1


"Dari rumah sakit sayang. Tadi abang ingin mengajakmu, tapi kamu sedang tidur." Jawab Ibrahim sembari mencium kening Lensi.


"Kamu sudah mandi belum?" tanya Ibrahim.


"Abang jangan berusaha mengalihkan pembicaraan. Ngapain abang pergi ke rumah sakit? mau lihat si Surya kan?" tanya Lensi yang mulai berapi-api.


"Sayang. Kecilkan nada suaramu ya! nggak baik bicara dengan suami dengan nada keras seperti itu," ucap Ibrahim.


Lensi terdiam. Tapi wajahnya berpaling kearah lain. Ibrahim paling bisa membuat dirinya tidak marah membara. Ibrahim kemudian mendekat kearah Lensi, dan kemudian merangkul pundak istrinya itu.


"Sayang. Papamu sekarang dia...."


"Dia bukan papaku!" bantah Lensi.


"Ya maksudku pak Surya. Sekarang dia mengalami struk berat. Hanya otaknya saja yang masih bekerja untuk merespon bagian anggota tubuh mana yang mau di respon. Dia sudah tidak bisa bergerak lagi, bahkan dia tidak bisa berbicara. Dia hanya bisa terbaring diatas tempat tidur."


"Sayang. Abang tahu kamu sangat marah padanya. Perbuatan yang dia lakukan memang serasa tidak pantas dimaafkan. Tapi lihatlah cara Allah bekerja. Kamu tidak perlu mengotori tanganmu, tapi Allah sudah membuat nyaris seluruh anggota tubuhnya tidak bekerja. Mungkin Allah ingin memberikan pelajaran padanya yang sudah menggunakan anggota tubuhnya dengan cara tidak baik."


"Memaafkan memang sulit. Tapi tahukah kamu? bukan dia yang terlihat kuat dalam pandangan mata sebagai pemenang. Tapi dia yang mempunyai hati baik, yang ikhlas memaafkan semua kesalahan lawannya."


Ibrahim mengusap-usap puncak kepala Lensi yang masih tampak diam dan memalingkan wajahnya. Tanpa Ibrahim tahu, air mata Lensi sudah meleleh di wajah hingga kedagunya.


"Maafkanlah dia sayang. Istriku sayang, istri sholehaku. Kamu sudah mendapatkan kebahagiaan dari buah kesabaranmu selama kamu di dzolimi. Tidak perlu menyimpan dendam lagi padanya, dia sudah mendapatkan ganjaran yang pantas. Bersihkan hatimu, bebaskan pikiranmu. Mama pasti sudah bahagia di surga, melihatmu yang sudah menjadi anak yang berbakti dan istri sholeha."


"Hiks...hiks...hiks...." tangis Lensi pecah juga akhirnya. Lensi berhambur kepelukkan Ibrahim. Ibrahim tersenyum dan mencium puncak kepala Lensi.


"Abang tahu kamu mempunyai hati yang lembut dibalik sikap dan perkataanmu yang keras. Abang sangat beruntung memiliki istri hatinya sebaik dirimu. Mungkin Allah punya alasan sendiri kenapa kamu dibuat mengalami penderitaan yang panjang. Itu agar Allah mempertemukan kita dan saling melengkapi,"


"Abang jangan berceramah lagi. Nanti hatiku lebih lumer dari kue tiramisu," ujar Lensi yang dijawab kekehan oleh Ibrahim.


"Apa dia sungguh tidak bisa bicara lagi?" tanya Lensi yang masih dalam pelukkan Ibrahim.


"Ya. Saat abang kesana, dia baru saja diberi obat tidur oleh dokter. Mungkin dia belum bisa menerima kenyataan, karena dia tidak bisa melakukan apa-apa."


"Yang harus kita selidiki adalah, kenapa papa bisa menjadi demikian. Pasti ada pemicunya. Sebenarnya kemarin papa sempat menemuiku di kantor,"


"Papa menemuimu di kantor?"


Ibrahim tersenyum tipis nyaris tak terlihat. Dia sangat senang, karena Lensi sudah mau memanggil Surya dengan sebutan Papa.

__ADS_1


__ADS_2