
Ibrahim memberikan sebuah laptop pada Lensi, dan satu buah laptop untuk dirinya sendiri. Tidak ada kata yang keluar, selama proses laptop dinyalakan..Lensi tidak mau mengambil resiko ketahuan, saat dirinya banyak mengeluarkan suara.
"Klik ini dan tekan ini," ujar Ibrahim, saat laptop mereka sudah bisa mulai di operasikan.
Lensi menuruti apa yang Ibrahim katakan.
"Apa kamu bisa mengetik tanpa melihat tombol?" tanya Ibrahim.
"Bisa." Jawab Lensi singkat.
"Bagus. Itu akan mempermudahkanmu untuk mempersingkat waktunya. Jadi apapun yang aku katakan nanti, kamu turuti saja," ujar Ibrahim.
"Apa ini akan ada semacam rumus atau kode agar bisa belajar meretas dengan mudah?" tanya Lensi.
"Tidak ada yang instan kalau kamu mau maju. Di negara kita cukup mie instan saja penjualannya yang laku keras. Kalau ilmu mau dibuat instan juga, alamat negara kita isinya orang bodoh semua karena ijazah hasil nembak." Jawab Ibrahim.
"Gini amat punya suami Ustad. Tinggal jawab ada atau tidak, ceramahnya panjang amat. Sampai mie instanpun dibawa-bawa," batin Lensi.
"Mengerti tuan," Lensi terpaksa mengalah. Dia ingin belajar dengan cepat tanpa mendengarkan ceramah suaminya yang panjang lebar.
"Oke tekan ini untuk awalnya,"
Ibrahim mulai memberi pengarahan satu persatu. Lensi yang memang memiliki otak yang encer, dengan cepat mengikuti apa yang Ibrahim katakan. Tidak butuh waktu yang lama, Lensi berhasil menguasai tehnik dasar meretas.
"Murid yang cerdas. Dia mengingatkan aku, saat aku baru belajar meretas pertama kali. Bahkan Alex saja sangat kesulitan mengimbangiku saat belajar meretas pertama kali." batin Ibrahim.
"Apa kita cukupkan disini dulu?" tanya Ibrahim.
"Apa tuan sangat sibuk hari ini?" tanya Lensi.
"Kenapa? apa ada yang tidak kamu mengerti?" tanya Ibrahim.
"Tidak tuan. Justru maksud saya, saya ingin minta pelajaran tambahan. Apa sampai pelajaran akhir bisa memakan waktu berhari-hari atau berminggu-minggu?" tanya Lensi.
"Tidak juga. Kalau kamu memang berbakat, kamu bisa menguasai seluruh tehnik meretas hanya dalam waktu 3 hari." Jawab Ibrahim.
"Benarkah? kalau begitu aku pasti bisa menguasainya dalam 3 hari. Aku membutuhkan keahlian ini secepatnya," ujar Lensi.
"Deva. Ada nasehat bijak untukmu, sebelum kamu benar-benar menguasai ilmu ini," ujar Ibrahim.
"Hemm...kena ceramah lagi deh," batin Lensi.
"Sejujurnya aku agak khawatir membagi ilmu ini dengan orang yang tidak aku kenal. Tapi berhubung kamu temannya Alex, jadi aku percaya kamu tidak akan menggunakan ini secara berlebihan," ujar Ibrahim.
"Apa kamu tahu maksudku berlebihan?" tanya Ibrahim.
__ADS_1
"Tidak tuan." Jawab Lensi.
"Sifat dasar manusia itu tamak dan rakus. Kadang kalau sudah memiliki sedikit, maka manusia itu menginginkan lebih. Punya ilmu sedikit, sudah merasa lebih pintar dari orang lain."
"Tidak semua orang berminat menjadi seorang peretas, karena memang rumit mempelajarinya. Tapi sekalinya bisa, maka ilmu ini bisa dipakai untuk kejahatan. Contohnya, banyak orang yang bisa ilmu meretas, dugunakan untuk meretas akun bank, agar bisa membobolnya. Jika berhasil, seseorang memang bisa menjadi kaya raya."
"Namun jangan kira meretas akun seperti itu tidak memiliki resiko. Jika ketahuan, hikumannya akan berat. Uang yang dihasilkanpun akan disita. Kamu mengerti maksudku kan?" tanya Ibrahim.
"Mengerti tuan." Jawab Lensi.
"Bagus. Aku tidak akan bertanya untuk apa kamu menggunakan ilmu ini. Tapi sebagai murid pertama dan terakhirku, aku tidak ingin kamu kecewakan. Aku akan mengajari ilmu meretasku tanpa ada yang tersisa, tinggal kamu mengembangkannya saja," ujar Ibrahim.
"Terima kasih tuan," ucap Lensi.
Ibrahim kembali mengajari lensi bakat meretas berikutnya. Ternyata sesuai yang Lensi katakan. Wanita itu begitu mudah menyerap semua yang Ibrahim ajarkan. Bahkan Ibrahim cukup kagum dengan kelihaian jari-jari muridnya diatas tombol-tombol laptop.
"Aku rasa pelajaran hari ini kita cukupkan sampai disini dulu ya? pokoknya kita targetkan saja 3 hari selesai," ucap Ibrahim.
"Baik tuan. Terima kasih sudah mengajari saya hari ini. Apa besok kita akan belajar pada jam yang sama?" tanya Lensi.
"Ya. Datanglah pada jam yang sama." Jawab Ibrahim.
"Baik tuan. Saya permisi dulu. " Jawab Lensi.
"Emm." Ibrahim mengangguk.
Waktu menunjukkan pukul 5 sore saat dirinya terbangun dari tidur. Lensi panik, karena dia akan pulang telat kerumah suaminya.
"Mampus. Suami Ustad pasti ngomel ini," ujar Lensi yang bergegas mengenakan jaketnya dan segera pergi dari situ.
Dengan kecepatan diatas rata-rata dia mengendarai motor sportnya, hingga tiba dirumah hanya dengan memakan waktu 20 menit saja.
"Alamakkk...mana sudah pulang dia. Matilah aku, alamat kena ocehan maut ini," gerutu Lensi sembari memarkir motornya didalam garasi
Lensi berlari saat memasuki rumah. Dirinya hampir tersungkur saat akan menaikk tangga. Namun insiden lain terjadi, saat dirinya membuka pintu kamar. Ibrahim yang akan keluar malah saling tarik menarik handle pintu dengan Lensi. Ibrahim menariknya dengan kuat, hingga Lensi tertarik kedalam, dan menabrak tubuh Ibrahim hingga mereka berdua jatuh ke lantai.
Mata Ibrahim dan Lensi melotot, saat bibir mereka tidak sengaja menempel satu sama lain. Yang membuat jantung keduanya jadi berdebar-debar. Lensi segera bangkit dari atas tubuh pria yang tengah mengenakan sarung dan baju koko beserta peci itu.
"Ma-Maaf bang," ujar Lensi dengan wajah merona.
"Bagus sekali ya? sudah pulang telat dari suami, masuk rumah nggak ngucap salam. Sekarang mau membuat suamimu celaka," ucap Ibrahim.
"Abang jangan marah-marah. Nanti tampannya hilang loh," bujuk Lensi.
"Darimana kamu? kenapa pulangnya terlambat?" tanya Ibrahim.
__ADS_1
"Abang lupa? kan dinda sudah bilang, kalau dinda ikut kursus." Jawab Lensi.
Ibrahim mengerutkan dahinya dan kemudian menaikkan satu alisanya.
"Se-Sebenarnya pulangnya sudah dari jam 3 tadi. Tapi tadi dinda mampir ke apartemen, dan ketiduran disana. Maaf ya bang? abang jangan marah ya?" Lensi memasang wajah memelas.
"Apa itu? kenapa wajahnya tambah cantik dan imut saat memasang ekspresi seperti itu?" batin Ibrahim.
"Ehemmm...jadi berapa hari kamu kursusnya?" tanya Ibrahim.
"Nggak lama bang. Aku janji cuma 3 hari kelar. Paling lama satu minggu deh." Jawab Lensi.
"Kursus apa secepat itu? ah...sudahlah, aku juga sudah terlanjur menyetujuinya dari awal. Selagi itu positif, tidak masalah," batin Ibrahim.
Ibrahim berjalan keluar pintu, namun ditahan oleh Lensi.
"Abang masih marah? dinda janji nggak pulang telat lagi bang," ucap Lensi yang mengira Ibrahim masih marah.
"Siapa yang marah? aku mau pergi ke masjid. Sholat magrib berjamaah disana." Jawab Ibrahim.
"Ah...abang baik deh,"
Cup
Lensi berhambur kepelukkam Ibrahim dengan kedua tangan merangkul leher pria itu, dan memberikan satu kecupan dipipi Ibrahim.
Deg
Deg
Deg
"Eh?" Lensi yang tersadar dengan sikap spontannya, pipinya jadi merona.Tatapan mata mereka bertemu, yang membuat jantung keduanya berdebar tak menentu.
"Ada apa dengan jantungku. Rasanya ingin meledak. Kenapa wanita ini bisa membuat perasaanku jadi tidak karuan. Bahkan perasaan seperti ini tidak aku rasakan saat bertemu dengan Fatimah," batin Ibrahim.
"Ma-Maaf bang. Abang marah lagi ya?" Lensi jadi takut saat melihat Ibrahim menatapnya dengan tatapan berbeda.
Ibrahim melepaskan tangan Lensi dari lehernya, sembari menatap kearah istrinya itu.
"Jangan terlalu sering menggodaku. Takutnya kamu akan menyesal," ujar Ibrahim dan langsung pergi meninggalkan Lensi yang mematung.
Lensi berjalan kearah ranjang. Dan duduk ditepi ranjang itu. Wanita itu kemudian tersenyum kecut.
"Segitu tidak sukanya ya dia sama aku? haruskah aku mundur lebih awal? takutnya aku jatuh cinta padanya semakin dalam, dan aku tidak bisa lagi keluar dari perangkap cinta ini," ucap Lensi lirih.
__ADS_1
"Ah...sadarlah Lensi. Tentu saja kamu itu bukan wanita tipe pandai agama seperti dia. Harusnya kamu tidak jatuh cinta padanya secepat ini. Karena sudah bisa dipasatikan, akhirnya kamu yang akan menderita,"
Lensi bergegas melepas pakaianya dan segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Karena sudah terdengar suara Adzan, Lensi menyudahi mandinya dan segera berpakaian. Setelah itu dirinya menunaikan kewajibannya sebagai mahluk tuhan.