
"Kok balik lagi? ada apa?" tanya Alex, saat melihat Ibrahim dengan wajah kusut berada di depan apartemennya.
Tanpa menjawab pertanyaan Alex, Ibrahim langsung memaksa masuk, dan duduk di sofa ruang tamu.
"Ada apa sih? kelihatannya kusut sekali," tanya Alex.
"Lensi pergi dari rumah. Dia salah paham, karena mengira yang akan melamar Fatimah adalah aku." Jawab Ibrahim.
"Ap-Apa? kok bisa? sebenarnya bagaimana hubunganmu dengan dia selama ini?" tanya Alex.
Ibrahim kemudian menceritakan duduk permasalahannya yang membuat Alex jadi geram saat mendengarnya.
"Dasar bodoh ente. Mana mungkin dia menyukaiku, kalau dia menyukaiku sudah dari dulu aku sudah menikahinya," ucap Alex yang keceplosan.
"Apa maksudmu sejak dulu?" tanya Ibrahim dengan tatapan menyelidik.
Alex yang tidak bisa mundur lagi terpaksa menceritakan semuanya, tanpa ada yang tersisa.
"Sebenarnya Lensi adalah mantan tunanganku yang kabur saat kami akan menikah. Dialah gadis yang aku cintai, dan gadis yang ingin aku perjuangkan. Tapi ternyata Allah berkehendak lain, DIA ingin Lensi agar mendapatkan imam sepertimu, bukan sepertiku."
Jawaban Alex membuat Ibrahim benar-benar syok.
"Lex...aku...."
"Tidak masalah, itu bukan salahmu atau salahnya. Tapi ini Qodarullah bukan? tapi aku kecewa padamu, karena kamu sudah menyia-nyiakan pengorbananku. Kalau tahu kamu memperlakukannya seperti itu, aku tidak akan melepaskan dia untukmu," ucap Alex.
"Sekarang tidak ada gunanya aku berkorban dengan menikahi Fatimah bukan? apa kau tahu? aku menyetujui meminang Fatimah, karena aku ingin Lensi bahagia. Agar kamu tidak menduakan dia, yang akan membuat hatinya terluka. Sekarang buat apa aku menikahi Fatimah? lebih baik aku mencari Lensi dan memaksanya bercerai denganmu, lalu aku akan menikahinya," sambung Alex.
"Alex aku tahu kamu tidak segila itu ingin merebut istri dari sahabatmu sendiri," ujar Ibrahim.
"Kenapa tidak? kamu sudah menyia-nyiakan dia," tanya Alex.
"Tapi dia Istriku. Dan aku tidak berniat menyia-nyiakan dia." Jawab Ibrahim.
"Status saja tidak cukup membuat dia bahagia," ujar Alex yang sengaja memancing Ibrahim.
"Aku juga mencintainya. Kamu ngerti nggak sih? kalau aku nggak mencintainya, mana mungkin aku sepanik ini dan meminta bantuanmu buat mencari solusinya,"
Ucapan Ibrahim membuat Alex jadi tersenyum. Akhirnya Ibrahim mengakui juga kalau pria itu sangat mencintai Lensi. Pria itu kemudian menepuk bahu sahabatnya.
"Jangan kecewakan aku. Berjanjilah kamu akan membahagiakan Lensi saat kamu sudah menemukannya nanti," ujar Alex.
Ibrahim menoleh kearah Alex, dan tersenyum kearah sahabatnya itu.
"Maafkan aku yang sudah menikahi wanita idamanmu itu. Ternyata menikahi wanita yang tidak terlalu sholeha juga tidak buruk. Mengajarinya membuat kita mengeratkan hubungan yang belum merekat disamping mendapatkan pahala. Dan akhirnya aku bisa jatuh cinta pada semua kekonyolan yang dia buat,"
"Apa kau tahu? dia itu sangat lucu sekali. Aku diam-diam selalu menahan senyum dan tawa saat melihat tingkahnya yang ada-ada saja membuatku geli. Tapi meski begitu, dia mengajariku banyak hal yang sama sekali tidak paham dengan wanita,"
"Ah...aku sangat merindukan dia Alex. Aku sangat merindukan dia yang berpura-pura manja dan mencuri ciuman dariku," sambung Ibrahim.
"Aku senang akhirnya kamu sudah menyadari kalau kamu sudah jatuh hati padanya. Sekarang apa langkah selanjutnya yang harus kita lakukan untuk menemukan dia?" tanya Alex.
Ibrahim menoleh kearah Alex, dan sesaat kemudian keduanya tersenyum. Ibrahim dan Alex pergi ke ruang kerja dan membuka dua buah laptop untuk mereka pakai secara bersama. Mereka berniat meretas semua cctv jalanan.
Sementara di tempat berbeda, Lensi tengah melemaskan semua sendi-sendi dijari tangannya. Juga melemaskan sendi-sendi di pinggangnya. Lensi baru selesai meretas semua cctv jalanan, ditemani Zoya yang tengah asyik memakan keripik kentang.
"Sudah selesai?" tanya Zoya.
__ADS_1
"Ya." Jawab Lensi.
"Hebat loe. Punya kemampuan baru lagi," ujar Zoya.
"Diajarin sama suami." Jawab Lensi
"Wisss...keren. Kapan loe pindah ke rumah baru?" tanya Zoya.
"Besok. Low mau ikut?" tanya Lensi.
"Nggak dulu lah Len. Sebentar lagi barang baru akan masuk. Bang Arman pasti repot. Dia cuma percaya ama gue soal itung-itungan. Soalnya cuma gue yang tamatan SMA." Jawab Zoya.
"Bilang aja kalau loe berat ninggalin si Sendy koki baru itu?" tanya Lensi.
"E-Enggak! lagian gue trauma dengan kejadian subuh kemaren. Sumpah, malu banget gue." Jawab Zoya yang membuat Lensi jadi terkekeh.
"Sudahalah cari aja yang lain. Dia emang ganteng, tapi kalau cinta nggak bisa dipaksakan. Lagian kamu belum mengenal dia dengan baik, dia baru dua bulanan disini kan?" tanya Lensi.
"Ya namanya juga cinta pada pandangan pertama Len. Loe juga gitu sama suami loe. Pasti sulit buat lepas gitu aja. Uuugghh...sialnya ciuman pertamaku gue sosor sama dia, mana ditolak lagi." Jawab Zoya.
Tanpa Zoya dan Lensi tahu, Sendy mencuri dengar percakapan itu yang membuat pria itu menyeringai.
"Gue keluar bentar ya?" ujar Zoya.
"Mau kemana?" tanya Lensi.
"Ambil minum." Jawab Zoya.
"Ya. Gue tidur dululah, ngantuk banget gue," ujar Lensi.
"Emm." Zoya mengangguk.
"Ada apa?" tanya Zoya terkejut.
"Aku butuh bicara sama mbak Zoya." Jawab Sendy.
"Bicara saja, aku akan mendengarkan," ujar Zoya.
"Tidak disini. Karena yang akan aku tanyakan sangatlah penting dan membuatku tidak bisa tidur," ucap Sendy.
"Dimana kamu ingin bicara?" tanya Zoya
"Di kamarku." Jawab Sendy.
"Di-Dikamarmu?" tanya Zoya.
"Tentu saja. Cuma dikamarku yang paling aman. Kalau ditempat lain takutnya ada yang dengar." Jawab Sendy.
Zoya tampak berpikir dan akhirnya setuju dengan ucapan Sendy. Merekapun ke kamar Sendy dan pria itu mengunci kamarnya.
"Kenapa dikunci?" tanya Zoya.
"Biar aman." Jawab Sendy.
"Apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya Zoya
Sendy mendekat perlahan kearah Zoya, hingga jarak mereka sangatlah sempit. Zoya jadi gugup dengan perlakuan Sendy yang tiba-tiba agresif padanya. Sendy tiba-tiba membelai pipi Zoya dengan lembut yang membuat Zoya jadi berdebar.
__ADS_1
"Apa mbak Zoya menyukaiku?" tanya Sendy yang menbuat mata Zoya jadi melotot.
"Ti-Tidak." Jawab Zoya memalingkan wajahnya.
Sendy tersenyum dan menarik dagu gadis itu.
"Aku akan memastikannya sendiri," ujar Sendy.
Sendy kemudian mencium bibir Zoya dan me**matnya dengan lembut. Zoya yang awalnya terkejut dan menolak, jadi terbuai dan membalas ciuman itu. Mereka larut dalam ciuman yang panjang dan memabukkan.
Hah
Hah
Hah
"Sebenarnya aku juga menyukaimu Zoya. Tapi aku takut aku salah menebaknya saat di dapur waktu itu. Kamu mau kan pacaran denganku?"
pertanyaan Sendy seperti mimpi bagi Zoya. Dia pun segera menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Sendy tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Dengan segala bujuk rayunya, siang itu dia berhasil merenggut mahkota berharga milik Zoya.
"Sttttt," Zoya meringis kesakitan saat dirinya akan beranjak dari tempat tidur.
"Masih sakit?" tanya Sendy.
"Emm." Zoya mengangguk tersipu.
"Tidak akan sakit lagi kalau kita sering melakukannya," ujar Sendy sembari mengedipkan mata nakal. Sementara Zoya pipinya jadi merona.
"Aku harus kembali ke kamarku. Takutnya Lensi mencariku," ujar Zoya sembari perlahan bangkit dari tempat tidur.
Punggung Zoya yang terbuka, membuat ga"rah Sendy bangkit kembali. Pria itu segera memeluk Zoya dari belakang dengan me**mas lembut kedua aset berharga milik Zoya.
"S-Sendy aku harus pergi," ucap Zoya sembari menahan gejolak saat mendapat sentuhan itu.
"Aku masih merindukanmu dan menginginkanmu," bisik Sendy dengan suara sensualnya.
Dengan gerakkan cepat Sendy membuat Zoya kembali berada dibawah kungkungannya dan kembali mencumbu gadis itu.
"Emmppttt...ah...."
Zoya sedikit menahan perih, saat Sendy kembali membenamkan miliknya yang gagah, kedalam liang basah miliknya. Sendy kembali membuat Zoya menjadi landasan pacu dan mereguk kenikmatan bersama disiang itu. Setelah mencapai puncak bersama untuk kesekian kalinya, Zoya segera bangkit dari tempat tidur karena tidak ingin Sendy kembali menggempurnya dan malah jadi ketahuan oleh orang-orang yang berada di markas.
"Kamu benar-benar harus pergi ya? malang sekali nasibku. Habis manis sepah dibuang," ujar Sendy dengan bibir mengerucut.
Cup
Zoya mengecup bibir Sendy yang tengah mengerucut.
"Aku tidak ingin mengambil resiko ketahuan yang lain," ujar Zoya sembari mengenakan pakaiannya yang terakhir.
"Malam ini datang lagi ya? aku ingin bermain sepuasnya," ujar Sendy.
"Aku nggak janji. Nggak enak ada Lensi disini soalnya." Jawab Zoya.
"Kapan dia akan pergi?" tanya Sendy.
"Besok." Jawab Zoya.
__ADS_1
"Ya sudah aku akan sabar," ujar Sendy.
Zoya kemudian keluar kamar Sendy setelah melihat situasi sekitar sudah aman. Sementara ditempat berbeda, Ibrahim dan Alex tengah putus asa karena semua cctv jalanan yang mereka retas, sama sekali tidak menemukan petunjuk. Dan Ibrahim tahu betul kenapa itu bisa terjadi. Pria itu bahkan tertawa keras, karena merasa ilmunya sudah menjadi senjata makan tuan.